
POV Eve
Tiga tahun lalu, itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Tuan muda Asher di kantor. Aku yang merupakan putri tak dianggap oleh sebuah perusahaan kelas menengah, memaksa untuk mandiri.
Aku keluar dari rumah keluarga ku, keluarga Jayandra. Aku juga tidak bekerja di Jayandra Grub. Aku memiliki seorang kakak tiri laki-laki, dan adik tiri perempuan. Ah, penasaran kenapa aku tidak dianggap? Karna aku anak haram hasil perselingkuhan pria itu, Barock Jayandra. Sayangnya, meksi aku membantahnya mati-matian, aku dan dia tetap memiliki hubungan darah. Aku membencinya, aku lebih benci diriku yang memiliki darahnya.
Entah bagaimana caranya yang jelas setelah kematian ibu ku saat usia ku tujuh tahun, aku terlempar ke keluarga Jayandra. Aku pikir itu lebih baik dari pada terombang-ambing mengikuti arus anak jalanan. Nyatanya apa? Aku menyesal? Aku berharap dengan sungguh-sungguh, kembalikan saja aku ke jalanan.
Penyiksaan fisik dan mental selalu aku rasakan dari mereka. Belum lagi ibu tiri sialan itu. Bukan omong kosong kalau mengatakan dia ibu tiri yang kejam. Aku mencoba bertahan, sampai akhirnya...,
Kenormalan dalam hidup ku sirna seketika, saat aku menginjak usia remaja. Kakak tiri sialan itu, beberapa kali mencoba menyentuh ku, hingga akhirnya aku melempar beberapa barang yang bisa membuatnya ambruk, tapi akhirnya aku berakhir di gudang yang dingin.
Tidak apa-apa, itu lebih baik daripada berada di satu ranjang empuk, beserta selimut yang hangat dengan bajingan itu. Tidak apa-apa, lantai dingin dengan ruangan yang gelap membuat ku lebih baik dan lebih nyaman.
"Kau terlalu cantik..., tubuh mu indah. Aku nyaris gila setiap saat melihat mu. Bermainlah dengan ku." Dia, kakak tiri ku Teo dengan ekspresi gilanya, lidahnya yang menjilati pinggir bibirnya terlihat sangat menjijikan! Benar-benar menjijikan, aku lebih baik melihat kotoran ayam daripada wajahnya!
__ADS_1
Apa katanya? Bermain? Apa maksudnya merenggut kehormatan ku adalah bermain untuknya? Ini adalah kehormatan ku! Satu-satunya yang aku miliki dengan hormat! Dan akan aku jaga dengan baik!
Aku memukul kepala si sialan itu sampai berdarah, dan aku pergi dari rumah itu. Akhirnya aku hidup mandiri, di sebuah apartemen biasa.
Syukurlan aku lulus kuliah, dengan predikat cumlaude. Memang agak sulit mencari pekerjaan saat ini, tapi bukan mustahil. Aku tidak ingin mengatakannya, tapi sesungguhnya aku memang cerdas, dan aku mengakui itu. Aku pintar, aku cepat menghitung, hingga akhirnya aku berada di sebuah perusahaan kelas atas namun tidak begitu ternama.
Itu adalah perusahaan milik Tuan muda Asher, tapi itu bukan bagian dari kekayaan keluarga Anumertha. Itu adalah hasil usahanya sendiri.
Aku diterima disana, awalnya hanya pegawai akuntansi biasa. Namun, setelah beberapa bulan bekerja, mendadak aku mendapat promosi dan menjadi sekretaris pribadi Tuan Muda Asher. Tentu saja aku tau, itu semua karna aku cantik dan berbakat, aku tidak ingin munafik, karna aku memang orang yang berbakat.
Aku sering bekerja dengannya, bersama dengannya, berdiskusi dengannya. Dia yang lebih sering diam dengan wajah tampannya membuat hati ku berdesir. Aku mulai membayangkan pria yang dingin ini akan sulit melepaskan jika sudah jatuh cinta. Aku ingin dicintai olehnya, aku ingin cinta! Aku ingin merasakan cinta! Seperti apa cinta luar biasa yang didapatkan wanita kantoran biasa yang sukses menarik hati bosnya. Aku ingin dicintai sebesar dan sebanyak itu, aku ingin dilindungi, aku ingin diperhatikan, aku haus akan semua itu.
"Berpacaran lah dengan ku?! Jadikan aku sebagai milik mu!" Aku mengatakan itu, semenjak dia mendapat desakan dari kakeknya, presdir Bryan Kert Anumertha.
Dia menatap ku dengan matanya yang tajam, dia memperhatikan ku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku tau dia sedang melihat fisikku, aku cukup percaya diri karna aku sering di puji, di setiap pesta yang aku datangi dengan Tuan muda Asher, kami selalu dikatakan serasi dan seperti sepasang insan yang sudah ditakdirkan.
__ADS_1
"Tidak buruk, aku setuju, kau cantik dan berbakat. Cocok menjadi istri ku. Mulai saat ini, jangan pernah kau berkencan dengan pria lain. Aku tidak suka yang menjadi milikku, dirampas orang lain. Ingat itu, kau yang mengatakan akan menjadi milikku, tetap jadilah milikku dengan baik."
Itu pertama kalinya Tuan Asher mengatakan kalimat sepanjang itu dengan ku mengenai urusan pribadi. Dan aku tidak pernah menyangka, bahwa itu yang terakhir kali.
Saat mendengar dia mengiyakan permintaan ku. Dan mengatakan bahwa aku akan menjadi istrinya, aku sangat senang, aku mulai mendambakan cinta itu lagi. Hatiku berdebar membayangkan perhatian berlebihan yang nantinya akan dia berikan pada ku.
Tapi, nyatanya apa? Tidak! Kami sudah setahun berpacaran, dia masih tetap menganggap ku sebagai sekretarisnya, tidak ada hubungan pribadi, tidak ada kencan, tidak pernah! Tidak ada telepon perhatian di malam hari yang dingin, tidak ada! Tidak ada menanyakan kabar! Tidak ada perhatian, hanya status yang aku dapatkan. Jika kami pergi ke pesta, banyak pria yang memuji ku, baik wajah, tubuh, pakaian yang dia berikan, perhiasan, Asher hanya tersenyum bangga, seolah sedang memamerkan barang koleksi miliknya. Tidak ada kemarahan disana, dia suka, dia menikmati wanitanya dipuji pria lain.
Aku lelah, bahkan saat aku sudah nyaris pingsan, di detik-detik sebelum aku kehilangan kesadaran, dia hanya mengatakan...,
"Oh? Bawa ke rumah sakit."
Hanya itu yang dia katakan, dengan dia yang masih sibuk berkutat pada berkas-berkas yang menggunung itu.
Semenjak aku menjadi sekretarisnya, bukan rumor belaka jika perusahaan yang Asher pegang semakin maju. Dan aku tau, sedikit atau banyak, itu memang berkat kehadiran ku. Dan itu sampai di telinga Morgan.
__ADS_1
Saat itu aku sudah lelah, aku menyerah untuk mendapatkan cintanya Tuan muda Asher. Memang benar, segala kebutuhan ku dia penuhi, bahkan aku yang awalnya tinggal di sebuah apartemen biasa, berakhir di sebuah rumah mewah dengan beberapa mobil berbaris rapi di garasi, aku mendapatkan pelayan, memakai pakaian, perhiasan, sepatu, dan tas branded yang dulu tidak pernah aku mimpikan. Aku terlena, aku pikir dia memberikan ku itu karna dia mencintai ku, ternyata karna aku menjadi partner yang baik untuknya.
Hubungan kami yang merenggang terdengar di telinga Morgan, dia yang tau rumor soal aku, mulai mendekati ku, dia memberiku perhatian, cinta, kasih sayang, waktu, kehangatan, yang tidak pernah aku rasakan dari Asher. Aku pikir Morgan mencintai ku dengan tulus dan serius, hingga aku terbuai dengannya dan segala bujuk rayunya.