
"Hey putri rata, hari ini datang ke kantor, cepatlah. Dan ya, minta sekalian berkas dari Kakek, cepatlah sebentar lagi dia akan pergi ke luar negri."
Berkat kalimat titah seorang presdir hebat itu, Tea harus membuang waktu tidurnya dan keluar di tengah teriknya panas matahari.
"Sumpah demi alek, ini panas bangettt!!!" Tea baru saja ingin melangkahkan kakinya keluar dari pintu mansion menuju rumah utama. Tapi matahari sudah menyambutnya terang-terangan.
"Non, apa gak bisa minta si Barant itu aja yang jemput. Panas banget Non. Saya gak sanggup, saya lelah, dunia terlalu berat untuk orang sesuci saya." Protes Noel yang sama enggannya dengan Tea.
"Berisik Noel, kemarin aja yang hujan badai menerpa kau kan tetap pergi menjemput Viocha?"
"Itu sih beda cerita, ke tempat Viocha pakai rasa, ke kantor tuan Asher nyari masalah."
"Adik ku pasti merinding dengarnya, cepatlah bawa mobil itu, pilih yang bisa menenangkan jiwa kita."
Noel menghela napasnya, dia babu saat ini, jadi harus mengikuti apapun titah atasan. Noel segera ke parkiran memilih mobil yang dirasa paling nyaman.
Dan Tea masih memandangi rumah utama yang butuh kira-kira beberapa waktu sampai sana. Tiba-tiba, ada satu pelayan mansion yang memang agak dekat dengan Tea, namanya Sheila, dia mendadak datang dengan motor berjenis matic dan berhenti dihadapan Tea.
"Hey Sheila, apa yang kau lakukan? Kau tau Asher pasti akan memaki mu habis-habisan karna kau merusak jalannya dengan motor mu. Aku yakin dia bilang begitu."
"Non mau ke rumah utama kan? Ayo naik ini Non, panas banget cuacanya, Non bisa pingsan tengah jalan." jawab Sheila yakin menunjuk bagian belakang yang kosong.
Awalnya Tea hanya melongo heran, namun sepersekian detik kemudian dia menyunggingkan senyuman penuh maksud. Entah kenapa, hanya karna melihat senyuman itu membuat Sheila merasa keputusannya salah.
"Ayo, tapi saya yang nyetir, kamu dibelakang." Tea berjalan menaiki motornya.
"Non bisa naik motor?"
Tea hanya tersenyum manis tanpa mengatakan apapun.
-
-
"Terima kasih Non, untuk tumpangannya hari ini, kedepannya lebih baik saya jalan kaki." Dia tersenyum mentap Tea. Dengan perutnya yang sudah berkecamuk ingin mengeluarkan nasi yang ia makan tadi.
"Sama-sama!" Sahut Tea enteng, ramah, tamah, dan tak merasa berdosa. Tea dengan santainya masuk kedalam rumah utama. Semua pelayan rumah utama sudah sangat mengenal Tea sangking seringnya anak itu main kesini.
__ADS_1
Astaga! Harusnya dari tadi aja aku ke sini, ah sejuknya~ aku gak mau pergi.
"Non, nyari Tuan besar?" Tanya salah satu pelayan yang memang dekat dengan kakek, lebih tepatnya dia kepala pelayan rumah utama, Wilson.
"Iya, Asher bilang ada berkas yang mau dikasih Kakek buat dia."
"Oh, berkas itu. Itu sudah ada pada Tuan muda Morgan, Non tunggu disini, biar saya yang ambilkan."
Pengennya sih gitu, cuma aku mau cari muka biar jadi Nona yang baik~ semangat Tea, demi cari muka!
"Ah, gak perlu. Biar aku saja, Paman lanjutkan saja pekerjaannya lagi. Apa Kakek sudah pergi?"
"Iya Non, sekitar dua minggu lagi baru kembali."
...***...
Setelah mengumpat dalam hati tentang Asher karna memberinya tugas ini, di tengah teriknya matahari. Akhirnya Tea sampai di depan mansion Morgan.
Tea diam, dia memperhatikan mansion itu secara keseluruhan.
Tea melangkahkan kakinya mendekati mansion, namun bahkan setelah Tea sampai di pintu saja tidak ada satu pelayan pun yang menyambutnya.
Kelewatan!
Mansion itu juga tampak sepi. Tea berjalan-jalan seolah itu rumahnya sendiri. Hingga akhirnya Tea sampai di aula. Namun, Tea melihat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Eve ngepel? Seriusan? Eve? Eve yang itu, mantan Asher?
Tentu saja Tea langsung mengenali Eve karna wajah Eve tidak mudah untuk dilupakan. Tea melihat Eve tengah mengepel disana, dengan mengenakan pakaian pelayan.
"Kau lamban sekali!"
Tea yang sedari tadi memperhatikan Eve, tidak menyadari adanya juga pria itu. Yang baru saja memekik.
Itu Morgan kan? Tunangan Eve? Dan dia dikelilingi gadis-gadis? Tanpa pakaian? Astaga!
Tea masih diam mematung, beberapa kali dia mengedipkan matanya guna memperjelas pandangannya. Tidak! Tea tidak salah, itu memang adalah Eve yang sedang mengepel, dan Morgan yang tengah dikelilingi empat wanita duduk didepannya dengan cumbuan singkat.
__ADS_1
"Ada apa? Kau mulai merasa menyesal telah memilih ku dibanding Asher? Kau ingin kembali pada Asher?"
"Tidak Tuan muda Morgan." Sahut Eve dengan nada dingin. Tidak ada Eve yang kalem dan gugup saat makan malam hari itu. Tidak ada Eve berwajah polos.
"Katakan bahwa Asher itu sampah, dan aku luar biasa."
"Tidak mau." Eve bahkan tidak ragu menjawab itu.
Morgan tampak murka, dia bangkit berdiri mendatangi Eve.
PLAK!!!
Sebuah tamparan Morgan berikan untuk Eve. Hingga meninggalkan bekas tangan diwajahnya.
"Katakan itu Eve!!"
"Tidak mau!" Tidak terlihat ketakutan dimata Eve, dia semakin lantang menggelegarkan suaranya.
"Hahahah!!" Morgan tertawa layaknya orang gila. Dia menyentuh wajah yang baru ia tampar dengan kasar itu. "Astaga sayang! Apa yang baru saja kulakukan? Sayang, pasti sakit kan? Kita akan membawa mu ke dokter paling terkenal, wajah cantik mu ini sama sekali tidak boleh rusak. Maafkan aku, aku diluar kendali. Ini semua juga salah mu, jika kau mengatakan apa yang aku perintahkan, aku pasti tidak akan kasar. Nah Eve, coba katakan bahwa Asher itu sampah dan aku luar biasa?" Suara Morgan melembut, dia mengelus wajah Eve dengan halus.
"Tidak mau." Tampaknya hari ini Eve juga sama, dia tidak ingin merubah jawabannya jika sudah keluar dari mulutnya.
"Dasar jal*ng sialan!" Morgan bersiap menampar kasar wajah Eve lagi, tepat dipipi yang merah bekas yang tadi.
"Tuan Muda Morgan! Anda sudah kelewatan!" Tea menghentikan tangan pria itu di udara, dia menatap Morgan berani bak heroine wanita di sebuah kisah.
[Heroine\=Pahlawan wanita]
"No-nona Galatea? Apa? Apa yang kau lakukan disini?" Morgan kaget, dia terkejut bukan main. Semenjak kejadian malam itu, yang paling ingin Morgan jauhi adalah Galatea yang mempunyai kekuasaan Kakek dibelakangnya. Bahkan mampu meruntuhkan tiga persen saham dari Vallen, itu bukan hal yang mudah.
"Nona Galatea? Anda? Tolong anda keluar dari sini. Ini bukan urusan anda, anda sudah terlalu banyak ikut campur, ini disebut urusan rumah tangga." Eve mulai membuka suaranya.
Ha? Balas dendam ya? Hey, ini beda konteks tau, dari yang kemarin. Aku menyelamatkan mu, dua kali! Mana terima kasih mu!
Tea hanya mampu mengumpat dalam hati. Dia tak ingin lagi melukai orang yang sudah terluka.
"Asher, meminta ku memgambil dokumen yang Kakek berikan pada mu. Dimana dokumennya? Aku datang untuk itu."
__ADS_1