Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
76. Yey!


__ADS_3

Saat Asher memberikan aba-aba itu, seorang perempuan yang sangat Tea kenal sebagai pahlawannya memasuki ruangan. Dia membawa sebuah gaun yang masih tertutupi kain putih.


"Ely!" Pekik Tea saat dia melihat perempuan itu. Mana mungkin dia bisa melupakan Ely begitu saja.


"Berisik Galea, liat ini, gaun yang aku khusus buat untuk mu. Berterima kasihilah pada ku." Ely menunjukkan pada Tea sebuah gaun yang masih tertutup itu. Wajahnya tersenyum puas melihat ekspresi terkejut sahabatnya.


Ely menarik kain putihnya, tampak sebuah gaun yang 'luar biasa' disana, gaun putih dengan renda yang berwarna putih juga, bawahan renda disulam dengan benang emas asli.


Bagian dadanya juga di sulam dengan indah, tapi kali ini dengan perak sepertinya.


Tea bahkan sampai terkejut, dia menutup mulutnya, tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Matanya berbinar sangat terharu, dia sangat menyukai gaun yang suaminya hadiahkan.


Tea maju beberapa langkah, untuk mendekati gaun itu, bahkan sampai menyentuhnya. Dia menyentuh bagian lengan.


"Lembut." Ujarnya saat dia yakin, kelembutan kain itu tak kan pernah merusak kulitnya. Masih melihat dari luar saja, Tea yakin bahwa ini akan sangat nyaman untuk di pakai.


"Aku sudah membuat ini lebih dari tiga tahun, semenjak aku bertemu dengan mu." Ely tersenyum sangat hangat menatap Tea.


"Makasih! Makasih perawan tua!" Tea ingin memeluk Ely, namun Asher menghalanginya.


"Ingat soal tubuh mu. Jangan bergerak sembarangan, aku sendiri saja berusaha setengah mati untuk menahan hasrat memeluk mu, dan kau ingin memeluk orang lain?" Asher menatap tak suka ke arah istrinya. Bagi Asher itu sebuah ketidakadilan.


"Ah iya,"


Ini membuktikan betapa senangnya Tea saat ini. Hingga bahkan dia merupakan denyutan perih yang terasa setiap kali dia bergerak.


Ely tersenyum hangat, dia tak lagi bertanya soal maksud Asher. Karna dia tau, petaka yang Tea alami kemarin. Ya, karna Asher sudah memberitahunya.


"Kau bagaimana bisa mengenal Ely?" Tea melirik ke arah Asher. Tea tidak ingat pernah memperkenalkan Ely pada Asher.


"Entahlah bagaimana ya?" Asher mengedikkan bahunya ringan.


"Itu karna aku yang ingin bertemu dengannya lebih dulu, karna aku ingin menemui mu. Awalnya aku yang ingin memberikan hadiah gaun ini untuk mu, tapi saat suami mu melihatnya, dia ingin membelinya. Tapi aku menolaknya, karna ini adalah gaun yang aku buat dengan hati dan kasih sayang."

__ADS_1


"Jadi Ely? Gaun ini pemberian mu? Bukan hadiah dari Asher?" Tea mulai agak bingung. Padahal tadi Asher bilang bahwa inu adalah gaun pemberiannya, tapi mendadak Ely bilang, ini adalah gaun darinya?


"Tentu saja hadiah dari suami mu. Karna saat aku menolaknya, dia menawarkan uang yang setara pendapatan di butik selama tiga tahun. Mana mungkin aku menolak kan?" Ely tanpa dosa menampilkan cengiran menyebalkannya.


"Kau menjual rasa persahabatan kita?!"


"Kalau bisa di jual dan menghasilkan uang? Kenapa tidak?"


"Kau jahat sekali!"


"Bodoamat, yang penting kaya."


-


-


-


Bukan hanya itu gaun ini sangat cocok di badan Tea, dan terpadu manis dengan wajahnya, jangan lupakan fakta bahwa ini gaun satu-satunya.


Dia menatap dirinya di cermin, dengan Viocha dan Ely yang berada di sebelahnya. Masing-masing memperbaiki gaun Tea dikanan dan kiri.


"Kak? Mau bawa bunga putih apa biru?" Tanya Viocha menunjukkan beberapa model buket bunga yang tertata rapi disana.


"Jika aku jadi kau, aku pasti akan memilih buket bunga yang terbuat dari uang." Timpal Ely, tentu saja bagi perempuan pecinta uang ini, uang sangat berharga.


"Ehm, apa ya?" Tea berjalan mendekati para bunga itu, tangannya perlahan menyentuh deretan buket disana. Jari-jarinya menggoyangkan kelopak bunga asli.


"Putih saja."


Tiba-tiba ada suara dari belakang Tea. Orang sialan mana yang berani masuk ke dalam ruang ganti pengantij wanita disaat seperti ini. Dan siapa yang dengan tidak sopan masuk ke dalam ruangan Nyonya Anumertha.


Tea berbalik. "Asher?"

__ADS_1


"Kau tidak lagi mengenali suara ku? Jahat sekali." Asher berjalan mendekat ke arah Tea. Dia mengulurkan tangannya pada sang istri.


"Ayo, datang bersama ku."


"Loh? Bukannya kamu harusnya nunggu di aula ya?"


"Buat apa? Kita sudah menikah, ini hanya pesta perayaan. Dimana di pesta ini, aku mengumumkan bahwa aku sudah menikah, dan istriku adalah kamu. Ck!" Asher menarik tangan Tea, saat Tea tak menerima ulurang tangannya.


"Iya juga sih." Tea menghela napasnya, dia mengambil buket bunga yang berukuran sedang, bunga yang berwarna putih bersig, dengan daun hijau tua yang indah.


Keduanya berjalan beriringan, sangat anggun dan serasi. Asher dengan kemeja hitamnya, yah biasa, dia memang selalu tampan.


Ely dan Icha mengikuti langkah Tea dan Asher dari belakang. Setelah keluar dari pintu ruangan, sudah ada Barant dan Noel yang menjaga kanan dan kiri pintu. Saat Tea dan Asher melangkah keluar. Noel dan Barant juga mengikuti mereka dari belakang.


Fokus Noel ada pada gaun Tea dibagian bawah, ah lebih tepatnya dia memikirkan sepatu Tea yang tidak terlihat saat ini. Wajah Noel sudah tegang.


"Tidak masalah, anda sudah melakukan yang terbaik. Jika bukan karna anda yang menemukan jarumnya di sepatu, mungkin kak Tea akan terluka lagi. Terima kasih, Kak Tea juga pasti sangat senang. " Bisik Viocha saat pengawal kakaknya masih merasa bersalah, dan marah pada diri sendiri.


"Ya, itu tugas saya." Noel menghela napasnya, benar adanya bahwa Noel yang membersihkan sepatu itu dari jarum. Setelah mendapat perintah dari Asher untuk menyelidiki dalang dibalik tragedi yang melibatkan Tea sebagai korban. Noel mengacak-acak kamar hotel, dan menemukan jarum itu di sepatu Tea. Syukurlah dia bisa menemukannya, karna jika tidak, pasti sudah ada darah yang tumpah dari kaki, dan lagi-lagi akan membasahi gaunnya. Kemampuan Noel sebagai mata-mata, tidak usah diragukan, dia bahkan bisa sejeli itu sampai menemukan jarum tipis di dalam sepatu.


"Tapi ngomong-ngomong Ash? Kau belum berkomentar soal penampilan ku saat ini? Apa aku terlalu cantik sampai kau tidak bisa berkata-kata?" Celetuk Tea di tengah perjalanan mereka menuju aula pesta.


"Biasa aja." Jawab Asher singkat. Yah, itu hanya di bibir, kita tidak tau apa yang sebenarnya hatinya rasakan saat dia melihat putri ratanya saat ini.


"Bukannya kau sudah kelewatan ya? Kau harusnya bersikap lebih baik pada perempuan yang kau cintai."


"Kalau itu kau sih, segini saja cukup."


"Bajumu sangat jelek!"


"Bahkan jika aku pakai pakaian gembel sekalipun, aku masih terlihat tampan."


"Kau itu menyebalkan! Tapi lebih menyebalkan karna yang kau katakan itu benar!"

__ADS_1


__ADS_2