
"Kau? Mau apa kau kesini?"
Tea menampilkan cengiran manisnya, berharap suaminya tidak akan memperpanjang masalah ini.
"Kakek minta suruh antar dokumen ini, yang katanya dokumen paling penting bulan ini, dan pai ini yang paling enak minggu ini." Tea mengangkat tangan kanan dan kirinya yang memegang kedua benda yang baru disebutkan tadi.
"Kemarilah."
"Ya...?" Tea masih diam melongo heran. Ini sangat tidak sesuai ekspetasinya yang berpikir minimal diusir maksimal dimaki, dan kini tidak keduanya yang terjadi. Tapi, bukankah Tea harusnya bahagia dan tenang? Kenapa dia malah melongo? Siapapun, sadarkan gadis rata itu.
"Non, dipanggil tuan muda Asher tuh." Berterima kasihlah pada Noel yang peka.
"Kau yakin kepala ku bakal aman kalau kesana? Kau gak liat dimejanya ada gunting?" Bisik Tea.
"Tenang aja Non, saya bakal lindungi Non. Non tau kan kalau anda tambang duit saya. Saya bisa melakukan apapun demi menjaga pendapatan tetap saya."
"Terima kasih atas kesetiaan mu dalam memuja uang."
"Dapat bonus gak Non?" keduanya terus berbisik sementara sang Presdir hebat sedang menunggu dengan tidak sabar di depan sana.
"Ck...! Apa telinga mu hanya pajangan? Kau tidak dengar aku bilang apa? Kemarilah. Dan kau supir, tetap diluar."
Tea melirik tidak suka ke arah Asher. Nada bicara yang dingin dan kasar ini baru pertama kali Tea dengar. Dia tidak suka Asher berbicara seolah memerintah kepadanya. Meskipun Tea biasa diperintah oleh Asher di rumah, tapi nadanya sangat berbeda, dan tekanannya juga tidak sama. Asher terlihat seperti orang yang sangat berbeda.
Asher menghela napasnya kasar, dia bangkit dari kursinya mendatangi Tea. Jujur saja, Tea tidak pernah merasa setakut ini di depan Asher, ini yang pertama kalinya Tea sungguh-sungguh tidak suka didekati Asher.
Asher menarik tangan Tea, menuntunnya kembali ke kursi kehormatannya. Asher ingin menarik Tea kepangkuannya, namun Tea menolaknya mentah-mentah. Tea mendekatkan bibirnya ke telinga Asher. Membisikkan kalimat yang paling ingin dia katakan.
"Jangan berani-beraninya memperlakukan aku tanpa hormat seperti itu...! Kau tau? Aku serius sekarang."
Asher tersenyum tipis hingga tak satupun dari hadirin rapat yang menyadarinya, hanya Tea, cuma Tea yang sadar akan hal itu.
"Bawa kemari kursi itu."
Asher menunjuk satu-satunya kursi kosong disana, sepertinya itu milik perempuan yang baru keluar menabrak Tea tadi. Asisten Asher dengan cepat membawakan kursi itu ke sebelah Asher.
"Duduklah, kemarikan keduanya."
Asher mengambil dokumen dan Painya. "Letakkan dimeja sana." Dia memberikan Pai itu pada asistennya, lalu membuka dokumen itu. Suasana hening saat Asher membolak-balikkan dokumen itu, tidak ada satupun yang berani bicara termasuk Tea. Tea sadar, dia bukan Asher yang dikenalnya di rumah.
__ADS_1
"Oh?"
Begitulah tanggapan Asher setelah dia puas dengan dokumen itu.
"Lanjutkan rapatnya, kau juga diam disini tunggu aku selesai rapat."
Tak ada satupun yang berani menanyakan siapa Tea dan kenapa dia diizinkan mengikuti rapat penting itu. Itu semua karna mereka takut pada Asher. Jika Asher tidak menjelaskannya, jangan bertanya atau kalian akan celaka!
Lima belas menit sudah berlalu, Tea mendengarkan rapat itu dengan seksama. Berkat ini, dia mendapat beberapa pelajaran baru, dia jadi lebih tau bagaimana caranya menjadi inverstor yang handal. Ide-ide kecil yang terinspirasi mulai muncul dikepalanya.
Rapat terus berlanjut, hanya ada sahutan persilangan pendapat yang berbobot yang terdengar disana. Tea melirik ke aras Asher.
"Kalau kau udah bosan banget, kenapa masih lanjutin rapatnya, istirahat aja dulu, terus lanjutkan lagi." Celetuk Tea dipertengahan rapat. Jangan salahkan Tea, dia juga tanpa sadar mengatakan itu. Habisnya wajah Asher benar-benar terlihat bosan hingga membuat Tea iba.
Suasana menjadi hening seketika. Seluruh hadirin menatap Tea heran, Tea yang sadar juga mendadak membeku. Dia tau dia sudah melakukan kesalahan besar, dan habislah dia akan diusir oleh Asher sekarang. Itulah keyakinan yang sudah Tea akarkan di kepalanya.
Selamat tinggal pelajaran, terima kasih telah memberiku ide yang keren. Semoga kita bertemu lagi.
Asher lagi-lagi tersenyum tipis, dan tentu hadirin rapat tidak menyadarinya, dan Tea yang sibuk dengan imaninasinya sendiri juga tidak dapat melihat itu. "Rapat diberhentikan, kalian semua keluar, datang setelah satu jam dengan pendapat menarik agar aku tidak bosan mendengarnya."
Para hadirin terdiam, mereka tidak tau itu berkah atau musibah sebelum hari ini berakhir.
-
-
-
Asher mengelap mulutnya, dia menatap Tea. Dia hanya menatap Tea tanpa mengatakan apapun. Tea yang ditatap juga ikut menatap Asher tanpa berkedip.
"Mau main tatap-tatapan? Ayolah, kita bukan anak kecil lagi." Begitulah pendapat Tea mengenai hal yang terjadi saat ini.
Asher menghela napasnya. "Kadang aku bingung, terkadang kau peka sekali, terkadang juga bodoh sekali."
"Apaansih, ngomong yang bener, gak usah berbelit-belit."
"Aku baru selesai makan, dan aku butuh kopi. Harusnya kau menyiapkan kopi dari tadi, bahkan sebelum aku menatap mu."
"Apa kau mau buat ob mu makan gaji buta?"
__ADS_1
"Apa kau mau aku laporkan pada kakek kau istri yang tidak tau apa-apa?"
Tea mendengus kesal, meskipun Tea tau kakek tidak akan marah, tapi nama baiknya akan tercoreng, tidak bisa begitu. Tea sadar dia hanya punya kakek sebagai tempatnya bersandar di kandang singa itu.
"Aku buatnya dimana?"
"Antarkan dia." Asher memerintahkan pria itu, asistennya yang sedari tadi berdiri disebelah Asher tanpa mengatakan apapun. Tea nyaris tidak menyadarinya. Tea bahkan kagum akan ke-eleganan pria itu. Sangat tenang bagai air tanpa ombak.
"Baik tuan, silahkan Nona."
-
-
-
Saat mereka sudah agak menjauh dari ruangan Asher.
"Woah! Jadi anda istri tuan muda Asher! Anda hebat sekali berani bicara pada tuan Asher begitu." Tiba-tiba seseorang yang Asher panggil asisten itu mengoceh dengan nada riang.
"Apanya yang hebat? Memangnya ngomong sama dia sehebat itu ya?" Tea sudah lesu, ekspetasi tak seindah realita. Tea membayangkan pria dingin yang keren yang akan menemaninya ke bawah, tapi sekarang apa? Asisten itu terlihat seperti anak kucing yang imut.
"Ya ampun, sudahlah, Nona gak akan mengerti. Ngomong-ngomong, gimana Nona bisa tau kalau tuan Asher bosan?"
Tea menghentikan langkahnya, dia menatap asisten itu serius. "Bukannya itu kelihatan jelas ya? Dia itu bosen banget dari tadi."
"Apa? Bukannya wajah Tuan muda itu datar, beliau selalu datar, dimanapun, kapanpun, dan berbicara dengan siapapun."
"Apanya yang datar? Dia itu menyebalkan sekali! Apalagi kalau dia tersenyum mengejek, terus menatap remeh, pokoknya dia itu menyebalkan!"
"Tuan muda Asher pernah tersenyum?" Asisten itu tampak semakin heran dan tidak percaya.
Tapi Tea jauh lebih heran,
Dia kan asisten Asher? Kenapa nanya gitu? Kayak gak kenal Asher aja? Apa dia asisten baru?
"Iya dan itu sangat menyebalkan!"
"Anda berbohong kan, tuan muda itu selalu datar tanpa ekspresi. Bahkan tidak pernah berekspresi sekalipun berbicara dengan Nona Eve!"
__ADS_1
"Kau bilang siapa? Eve? Mantannya kan? Yang paling dia cintai?"
Asisten itu langsung menutup mulutnya seketika. Dia baru sadar bahwa dia baru saja mengatakan kata-kata yang tak harusnya diucapkan. Membahas mantan di depan istri sah? Apa sebutan untuk perasaan menyebalkan yang Tea rasakan?