Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
61. Dipecat? Seriusan?


__ADS_3

"Tapi Non! Saya gak nyangka bisa ribut lagi sama Non. Beberapa hari lalu, Tuan Asher memang bilang Non udah membaik. Tapi, Non belum keluar rumah juga, saya pikir Non masih stress eh Non kan selama ini udah stress."


"Siapa yang stress?!"


"Hehe." Noel hanya menampilkan cengiran manisnya.


"Hehe ... kepalamu!"


"Fix! Non udah sehat, kita bisa ribut lagi! Oh ya Non! Gak liat Viocha? Dia mau ketemu Non, cuma takut ke sini. Maklum, rumah Anumertha emang horor,  kan?"


"Viocha? Apa Viocha, Will,  dan Mama tau soal kondisi ku?"


Tea baru mengingat hal ini, dia tidak tau soal perasaan Joselyn, tapi kalau Viocha dan Will sudah pasti sangat sedih dan menderita.


"Dua miliyar saya udah kantongi demi tutup mulut, jadi keluarga Non gak ada yang tau." Noel mengacungi jempol pada Tea. Hal yang biasa dia lakukan.


Tea menggelengkan kepalamya takjub. "Bukan main."


"Kemampuan saya dalam menjaga rahasia kan Non?"


"Kesetiaan mu terhadap uang."


Noel tidak membantah, dia hanya mengeluarkan senyum simpul. Dia juga sangat bahagia saat ini, andai Tea tau perasaan Noel yang sebenarnya. Dia juga tak akan keberatan melempar sepuluh miliyar agar Tea kembali seperti ini. Tapi, biarlah hanya Noel dan Tuhan saja yang tau.


"Non gak mau keluar kemana gitu? Non kan dah lama gak keluar."


Tea berpikir sebentar. "Ah, butik! Ayo kita ke butik Noel. Aku ingin melihat desain gaun untuk pesta pernikahan aku dan Asher."


"Sip, ayo turun Non." Noel sudah berjalan ke arah pintu namun lengannya ditarik oleh Tea.


"Yang izinin kamu keluar dari pintu kamar siapa? Turun, lompat dong. Masa bisa naik gak bisa turun. Kamu bukan kucing kan?"


"Non tega biarin saya lompat?" Noel menatap nanar Tea, matanya meminta belas kasihan.


"Iya." Sahut Tea datar tanpa rasa iba.


"Kejam banget."


"Terima kasih atas pujiannya." Tanpa dosa Tea merekahkan senyuman.


"Asal Non tau aja itu penghinaan."


"Ah, aku harus melapor pada Asher bahwa supir ku tidak sopan dan menghina ku. Dia pasti akan mencarikan supir baru ya--"


Brukhh!!


Secepat kilat Noel sudah sampai dibawah.


"POKOKNYA SAYA GAK DENGAR!!!!"

__ADS_1


"Pffttt," Tea mencoba menahan tawanya. Noel-nya memang menggemaskan kadang-kadang. Dia berteriak dari bawah seperti kucing hitam yang marah-marah.


-


-


Setelah satu jam perjalanan Noel dan Tea sampai juga, mereka agak terlambat ada macet yang karna kecelakaan.


Noel membukakan pintu untuk Tea. "Akhirnya, saya bisa buka tutup pintu mobil demi Non kesayangan saya."


Tea keluar dari mobil. "Tapi aku tidak menyayangi mu, gimana dong?"


"Anda tau kan, kalau perkataan anda barusan tidak bermoral?"


"Kau menghina ku lagi?"


"Mana saya berani!"


Tea dan Noel berjalan berdampingan, supir mana yang bisa seenak begini? Biasanya supir dan pengawal di belakang kan? Jika bukan karna seragam Noel, tidak ada yang menyangka dia supir nya Tea, sangking akrabnya mereka.


Tea dan Noel memasuki butik, Berbeda dengan terakhir kali, kali ini sudah ada pelayan yang menyambut Tea dan tidak ada pengunjung lain yang berani berbisik di dalam butik soal Tea. Siapa yang berani? Mereka ingin di usir?


"Aku mau bertemu desainer, aku ingin melihat desain gaun pernikahan."


"Baik, silahkan lewat sebelah sini Nona." Sahut pelayan itu, ingin menuntun Tea.


Tea sudah melirik beberapa desain yang masih berbentuk gambar, dan melihat beberapa contoh kain dan model, tapi belum ada satupun yang menarik perhatiannya.


"Kalau gak suka mending keluar."


"Ogah, tadi pas saya mau keluar ada Elise artis itu. Kadang saya merasa dia mata-matain saya Non." Itu benar, saat Noel keluar tanpa sengaja dia melihat Elise. Dan sialnya Elise juga melihatnya.


"Oh Elise menyukai mu?"


Tentu saja Elise tidak bisa memasuki ruangan yang sedang Tea gunakan saat ini. Ruangan sang pemilik butik memang istimewa.


"Jangankan suka, saya udah di lamar."


"Mungkin dia khilaf."


"Buk--"


Brakh!!


Suara pintu yang terbuka dengan kasar memotong ucapan Noel. Dan yang datang adalah Pria arogan yang jarang tersenyum jika bukan di depan istrinya.


"Asher? Apa yang kau lakukan di sini?" Tea langsung berdiri. Dia tau bahwa dia harusnya pergi ke butik dengan Asher. Tapi karna kelihatannya Asher sibuk, Tea memutuskan pergi sendiri.


"Kau bertanya aku disini? Padahal kau sudah berjanji kita akan pergi bersama?!" Wajah Asher sudah tidak bersahabat. Raut muka yang biasa menampilkan ekspresi datar itu, kini terang-terangan menunjukkan kekesalan yang tinggi.

__ADS_1


Bagaimana dia tidak kesal? Saat istri yang berjanji untuk pergi bersama, malah pergi sendiri bersana supir, dan itupun memilih gaun pengantin?


"Sebelum itu, apa kau saat ini marah? Atau hanya khayalan ku saja?"


Soalnya Asher tidak pernah begini sebelumnya, wajar saja Tea ragu dan curiga.


"Aku marah dengan mu!"


Wah, orang marah mesti bilang-bilang dulu.


"Kenapa kau marah?" Tea sedikit heran, ada yang aneh saat ini.


"Apa menurut mu aku harus bahagia saat kau pergi sendiri mempersiapkan pakaian kita?"


"Iya lah, kau harus bahagia dan bangga, karena aku jadi mandiri. Toh itu malah lebih baik untuk mu kan? Kau tidak perlu mengacaukan jadwal kerja mu, tidak perlu repot datang kesini, kau bisa menghemat waktu."


"Astaga, istri ku ini ...," Asher memijit kepalanya frustasi, harus bagaimana lagi dia menjelaskan. "Pesta pernikahan yang diadakan untuk kita bukan? Kita berdua dan bukan kau sendiri. Tentu saja segala persiapannya juga ditanggung jawabi kita berdua."


"Hey putri rata, pernikahan itu soal menyatukan dua insan. Kau gak akan bisa menikah kalau sendiri, jadi berhenti berpikir untuk mandiri, manjalah karna ada aku yang akan memanjakan mu." Tambahnya memperjelas segalanya, sebelum Tea membuatnya sakit kepala lagi.


"Salah sendiri sibuk kerja."


Bukan Tea, tentu saja bukan putri rata yang mengatakan itu. Kalimat sindiran halus itu keluar dari mulut lemes Noel.


"Oh? Kau lelah sibuk bekerja. Akan aku kabulkan, jadilah pengangguran. Enyah dan keluar sana, kau resmi dipecat."


Apa Noel pikir Asher akan mengampuninya seperti Tea memaafkannya? Habislah kau Noel, Asher sudah mengeluarkan titahnya.


"Tunggu saya khilaf Tuan muda! Khilaf adalah sifatnya manusia!" Noel cukup panik. Jika dia benar-benar dipecat, maka selesai sudah. Kakek bahkan tidak bisa memaksa kehendaknya karna ada Asher yang menghalangi.


"Tunggu Ash! Dia hanya main-main, kau tau kan dia anak yang suka bercanda?" Tea tentu saja membela Noel lagi dan lagi. Mana dia bisa kehilangan supir target siksaannya.


"Satu pembelaan terhadapnya, sama dengan lima gerakan tambahan di ranjang." Jawab Asher tanpa tau malu, dan lebih parahnya, Asher terlihat serius sekarang.


"Tunggu, mana bisa begitu! Noel adalah supi--"


"Pembelaan kedua sama dengan penambahan durasi di ranjang, satu jam kira-kira."


"Asher, Noel hanya bercanda! Dia--"


"Pembelaan ketiga sama dengan pergantian tempat di sofa, dengan durasi diperpanjang dua jam. Da--"


Tea langsung menutup mulut Asher dengan kedua tangannya.


"Noel keluar sekarang! Enyah dari sini, cepat!!" Tea berteriak menatap tajam Noel, dengan wajahnya yang sudah merah padam karena malu. Tapi yang mengatakan hal itu, malah dengan santainya mencium telapak tangan Tea.


"Teganya Non mengkhianati saya!!"


***

__ADS_1


Votenya kakak, bunga, kopi dan berbagai macam lainnya^^


__ADS_2