
"Sepertinya aku sedikit menyukai Asher. Yah, sedikit saja, rasa sukanya kecil sekali...! Bahkan lebih kecil dari amoeba."
Tea sebenarnya sudah sadar sejak siang tadi, tapi dia baru mengakuinya sore ini, pengakuan dari mulutnya sendiri yang di dengar satu saksi.
Jantung Tea semakin berdebar, semakin dia mengakuinya dia semakin berdebar.
Noel menghentikan mobilnya, dia menoleh menatap Tea. "Saya tidak bisa berkata-kata."
"Sudahlah, jangan ganggu aku. Aku mau menjernihkan pikiran lebih dulu." Tea keluar dari mobil, karna ternyata itu Taman yang cukup sepi karna katanya angker. Meskipun begitu, masih ada beberapa orang yang berkunjung.
"Tolong jangan perhalus kata Non, bilangnya menjernihkan pikiran, ujung-ujungnya ngesadgirl di bawah pohon."
"Dulu ada supir yang ngomong gitu sama majikannya, besoknya dia dipecat...! Tanpa bonus!"
"Apa perlu Non saya temani? Saya supir yang siap siaga dengan pasti."
"Menjauh sepuluh meter dari ku."
Tea berjalan ke kursi putih yang ada didekat pohon. Dia menatap langit biru yang perlahan memerah, seiring berjalannya waktu. Namun, mendadak awan gelap bergerak dengan cepat dari selatan.
Wah hebat, hujan pun tau aku pengen nangis.
Gerimis yang perlahan menjadi hujan yang lebat, sudah mengguyur Tea dan air matanya. Tea tidak menangis! Dia tidak menangis! Itu hanya air hujan yang hangat!
Tidak terlintas di benak Tea untuk bangkit dan pulang. Dia masih ingin disana, tetap disana, sampai dia merasa baik-baik saja. Suasana yang sempurna untuk merenungkan nasib dan takdir hidup.
"Gerimis kok nangis, hujan kok merenung, pulang dong, angkat jemuran."
Dan semua suasana itu sirna karna hadirnya Noel, memblokir hujan yang menimpa Tea karna dia memberikan payung berwarna abu-abu pada sang majikan.
Merasa tak ada lagi hujan yang mengguyur dirinya, Tea berhenti menangis dan melihat ke asal suara. "Kau pengganggu...!"
"Terima kasih atas pujiannya, ayo balik Non. Dingin nih, hujan pertama musim ini, fix katanya gak baik, bisa buat demam."
Tea menghela napasnya, dia tau, dia tidak boleh sakit. Cukup hatinya saja, badannya jangan.
"Menjauh sepuluh langkah dari ku."
"Ya ampun, apa lagi ini?"
Meski begitu keduanya berjalan dengan jarak yang Tea tentukan. Bukan apa-apa, Tea hanya tidak ingin menangis di depan Noel.
"Masuk Non, tenang aja pakaian di rumah aman, kan Non konglomerat, ada pelayan." Ujar Noel membukakan pintunya.
Tea tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, dia hanya ingin masuk ke mobil. Tapi, tanpa sengaja dia melihat gadis di sebrang jalan yang baru keluar dari toko makanan mengambil segala perhatian Tea.
"Eh Noel, katanya mata mu itu bagus. Itu Eve kan?" Tea menunjuk ke arah gadis ber-blouse biru.
"Iya, itu Non Eve. Tapi kayaknya Mobil Tuan Muda Morgan tidak ada disana."
__ADS_1
Apa mungkin dia dianiaya lagi sama Morgan? Hah~ kalau emang disakiti, kenapa dia gak putus aja sih?
Tea menghela napasnya, dia melihat kanan kiri dan semuanya baik-baik saja, dia menyebrang, berhenti tepat dimana Eve berada.
"Ayo pulang, kau mau pulang kan?"
Eve tersentak halus. "Anda? Kenapa begitu baik dengan saya?"
Tea diam, dia tidak tau harus menjawab apa, hanya saja Tea tidak suka melihat ekspresi wajah Eve yang seolah-olah dunia telah runtuh sepenuhnya, mata yang kehilangan cahayanya, jiwa yang sudah redup pesonanya. Tea hanya ingin menolongnya saja, hanya itu.
"Mungkin agar kau baik-baik saja? Kau tidak tau betapa menyebalkannya mata mu yang terlihat selalu ingin mati, kapan pun kita bertemu." Tea hanya menjawab itu, namun dia juga sedikit malu dengan jawabannya.
Eve tersenyum singkat, dia menundukkan kepalanya hormat. "Terima kasih sudah mau mengizinkan saya untuk ikut anda pulang."
"Hey, kau baru tersenyum kan?"
"Anda salah lihat."
"Jangan bicara formal dengan ku, status kita sama-sama menantu keluarga Anumertha tau."
"Saya menghormati anda bukan karna anda menantu Anumertha, saya menghormati anda karna itu anda."
Tea tidak bisa berkata-kata, atau lebih tepatnya tidak tau mau bilang apa.
-
-
-
Noel baru menjalankan mobilnya dengan isi dua orang penumpang selain dirinya.
"Dia ikut karna aku mau dia ikut. Dan Noel, jagalah sopan santun mu pada Eve."
"Oke, itu bisa diterima. Diantara banyak bangku, kenapa harus duduk di sebelah saya?! Saya keberatan!"
Noel melirik ke arah Eve yang ada disebelahnya, Eve tidak peduli, dia hanya menatap hujan yang berisik di luar sana.
"Karna aku mau selonjoran." Sahut Tea enteng memanjangnkan kakinya.
"Ini tidak adil! Saya protes!"
"Ah aku punya saran, bagaimana jika aku yang menyetir, dan kau keluar." Eve baru saja ikut campur obrolan ini, tapi sudah mengundang tensi Noel untuk naik.
"Kenapa tidak kau saja yang keluar?"
"Tidak mau!"
"Keluar!"
__ADS_1
"Gak!"
Tea tidak peduli, dia sudah tau bahwa jadinya akan ribut begini, mengingat Noel yang tidak menyukai Eve. Dan membisikkan untuk menjauhi Eve disetiap kesempatan.
-
-
-
Akhirnya mobil mereka sampai diparkiran Mansion Asher.
"Terima kasih sudah mengantar saya, saya beli lebih dari satu, ini untuk anda, tolong diterima." Entah kenapa, Eve masih kekeuh menggunakan bahasa formal, padahal secara status mereka nyaris sama kan?
"Kalau kau benar-benar berterima kasih, bicaralah informal pada ku." Tea menerima kantong berisikan makanan yang Eve beli.
"Maaf, itu sulit."
Tea hanya menghela napasnya. "Noel, antar Eve sampai ke Mansion Morgan, antar dengan baik."
"Kenapa harus saya?!" Apa yang Tea harapkan? Noel mengangguk, mengiyakan, dan mengikuti saja? Tentu saja dia akan membantah dan menolak mentah-mentah.
"Karna kau punya dua kaki."
***
Tea sudah lelah, bajunya sudah basah kuyup. Dia ingin cepat-cepat mandi. Namun, niat itu mendadak hilang dari kepala saat melihat Asher dengan kaos santai dan kacamatanya, terpaku pada laptop didepannya.
Tea menghela napasnya, dia tidak ingin berbicara pada Asher. Ya, itu yang kepalanya pikirkan, tapi hatinya ingin sekali mengganggu pria itu.
Tea meletakkan makanan yang dibawanya di meja, langkahnya menuntunnya ke arah kamar mandi.
"Kau kan bukan anak-anak lagi? Kenapa mandi hujan? Bukannya kau punya kartu yang kuberikan? Belilah pakaian sebelum kau pulang."
Tea tidak ingin bicara, tapi Asher sudah bicara lebih dulu.
"Akan aku minta Sheila membersihkan bekas airnya."
Asher menatap Tea, dia berjalan mendekati gadis itu.
"Hey, putri rata aku--" Mendadak mulut Asher kelu.
"Apa sih? Aku lagi gak ingin ngomong dengan mu, apalagi ribut. Mending jauh-jauh deh." Tea meninggalkan Asher, melanjutkan jalannya.
"Hey putri rata."
Tea menoleh, "Kau mau bilang apa?"
"Ck...! Tidak jadi!"
__ADS_1
Kekesalan Tea sudah mencapai puncaknya, dia meninggalkan Asher begitu saja.