Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
36. Eve Pov 2


__ADS_3

Hubungan kami yang merenggang terdengar di telinga Morgan, dia yang tau rumor soal aku, mulai mendekati ku, dia memberiku perhatian, cinta, kasih sayang, waktu, kehangatan, yang tidak pernah aku rasakan dari Asher. Aku pikir Morgan mencintai ku dengan tulus dan serius, hingga aku terbuai dengannya dan segala bujuk rayunya.


Aku akhirnya memutuskan untuk berpisah dari Asher dan datang pada Morgan. Awalnya Asher marah besar, dia menolak ajakan putus ku. Tapi, dia harus mengakui kami putus secara resmi, karna Morgan mengumumkan aku sebagai tunangannya resminya. Dah bahkan kakek merestui itu.


Awalnya semua baik-baik saja, Morgan juga memperlakukan ku seolah aku wanita yang paling dia cintai. Aku juga bekerja di perusahaan yang Morgan pegang, cabang perusahaan Anumertha. Tapi, bukan sebagai sekretaris atau asisten, apalagi sebagai manajer. Aku diperlakukan seperti bayang-bayang yang selalu bersembunyi dibelakangnya.


Aku yang mengerjakan segala pekerjaan Morgan, memeriksa berkas hingga larut malam, meninjau proyek hingga aku beberapa kali nyaris terluka karna ketimpahan bahan bangunan. Tapi tidak apa-apa, Morgan mencintai ku, aku akan terus melakukan apapun untuknya.


"Ini demi yang terbaik untuk kita berdua, demi masa depan kita, yang nyaman dan aman, tanpa gangguan Asher. Demi cinta kita yang suci dan mulia." Morgan mengatakan itu, dengan tatapan hangat dan lekat, dia memelukku erat seolah memberi perlindungan. Ya! Aku akui, bahwa saat itu aku bodoh, aku naif dan aku percaya saja segala kata-kata si brengsek itu.


"Aku harus jadi pewaris utama, kalau bisa tunggal, agar kita bisa hidup dalam rumah tangga yang bahagia. Kita harus menyingkirkan Asher." Dia mencium ku dengan penuh kehangatan.


Aku mempercayainya, sangat menyayanginya, juga terlalu mencintainya. Hingga itu menjadi motivasi untuk ku berkeja lebih keras, menjadi bayang-bayangnya, dan merubah sifat ku di luar, agar terlihat polos dan lemah. Biar tidak ada yang menduga, kesuksesan Morgan sampai saat ini berkat diri ku. Morgan mampu melambung tinggi, berkat aku yang menjadi bayang-bayangnya.


Aku semakin mencintainya, karna saat aku menceritakan masa lalu ku, Morgan tampak murka, dia sangat marah. Dia bilang akan meratakan Jayandra Grub. Karna itu, aku diizinkan mengakuisi Jayandra Grub dengan kekuasaan yang Morgan punya. Bukan hanya itu, ternyata ayah dan keluarga tiri ku, melakukan banyak penipuan dan penahanan gaji karyawan hingga akhirnya mereka semua berakhir di penjara. Malang sekali,  itu layak untuk mereka, aku puas, aku senang. Aku berhasil membalas dendam, dan aku memiliki cintanya Morgan. Hanya satu yang salah dan mengganggu, yaitu Asher yang berisik meminta balikan, dan memaksa ku kembali padanya. Aku tidak mau! Aku tidak sudi! Akhirnya aku menemui kakek, dan kakek memperingatkan Asher untuk berhenti dan diam.


Akhirnya Asher berhenti mengganggu ku, secara terang-terangan. Dia mencoba merampas aku dari Morgan diam-diam, melalui cara kotor seperti penculikan dan penyekapan. Aku nyaris kehilangan lengan ku saat terakhir kali di sekap oleh si gila itu. Itu karna aku menolaknya mentah-mentah untuk kembali padanya, apa dia tidak tau, saat itu aku mencintai Morgan! Syukurlah kakek bisa menemukan ku dan melepaskan ku dari cengkraman pria itu.


Semuanya baik-baik saja sampai aku melihat Morgan bermesraan dengan wanita lain, bahkan lebih dari satu. Aku hanya ingin mengunjunginya di Mansion, tidak ku sangka aku melihatnya begitu, dan mendengar perbincangannya dengan Vallen yang sudah memangku dua wanita sekaligus.


"Ah dia, aku gak mencintainya, dia pintar dan bekerja keras, namun naif dan sangat polos. Mudah sekali dimanfaatkan dengan iming-iming cinta."

__ADS_1


Aku bisa melihatnya, Morgan tertawa, dan yang dia tertawai adalah aku, tunangannya dengan segala sikap dan pengorbanan yang ku berikan padanya.


"Padahal aku cuma ingin memanfaatkannya,"


Keduanya tertawa menyebalkan. Aku benci, tubuhku bergetar menahan amarah, air mata itu jatuh begitu saja. Aku mengasihani diri ku yang masih diam dan terus mendengarkannya saja, menolak fakta bahwa yang ku katakan ini nyata.


"Oh ya, selamat atas kemenangan mu dari Jayandra Grub." Vallen menjabat tangan Morgan. Keduanya memang tampak akrab, namun aku yakin di belakang mereka sedang mencari kelemahan agar bisa saling menjatuhkan.


"Itu semua karna si bodoh Eve, dia pikir aku mau repot-repot membalaskan dendam dan segala omong kosongnya pada keluarganya? Oh ayolah, itu buang-buang waktu. Aku hanya ingin memperbesar perusahaan ku."


"Si cantik yang bodoh, cukup bagus untuk menggambarkan dirinya. Oh ya, apa kau sudah bermain dengannya?"


Morgan menggeleng. "Aku cukup merasa jijik bermain dengannya, meski wajah dan tubuhnya cantik, dia sudah bekas Asher. Ah, atau mungkin bekas kakak tirinya duluan. Tidak ada yang menjamin kan?" Morgan terkekeh geli, seolah kalimat yang dia lontarkan adalah kalimat terlucu yang ada di dunia ini.


Aku menamparnya dengan keras, sangat keras hingga menyisahkan lebam dipipinya.


Apa kata mereka? Bermain? Apa kehormatan seorang wanita hanya dianggap mainan oleh sekelompok bajingan brengsek ini? Apa mereka tidak tau antara kehormatan dan permainan?


"Kau!!! Menjijikan!!" Aku memekik, suaraku menggelegar di sudut aula. Mata ku menatap tajam bajingan sialan ini. Kesedihan ku sirna begitu saja terganti kemarahan yang memuncah, aku ingin menghajar siapa saja saat ini.


"Sayang, dengerin aku du--"

__ADS_1


"Aku mau kita putus! Aku udah dengar segalanya, kau bajingan berengsek yang paling menjijikan."


Morgan tidak marah, dia hanya tersenyum smirk dengan sangat menyebalkan, dia memegang lengan ku erat. "Gak boleh! Gak bisa! Kau lupa, kau punya kontrak dengan ku?!"


Ah ya, kontrak sialan itu. Tapi tidak apa-apa, soalnya aku sudah punya antisipasinya.


Kau tidak akan bisa mengalahkan ku Morgan, jika itu soal bisnis.


"Hanya sampai tiga bulan kedepan. Camkan itu, brengsek!!!"


Dia menarik tangan ku, mencoba menahan ku dengan paksa. Tapi aku mengancamnya dengan cara ku sendiri, dan akhirnya dia melepaskan ku.


Aku kembali ke rumah, kali ini rumah yang diberikan Morgan. Tangisan ku pecah begitu saja, aku menangis sekeras-kerasnya, hati perih, dada ku sesak, aku tidak  punya sisa harga diri yang harus aku tangisi. Aku hanya punya serpihan hati yang sudah terpecah belah, sirna dihempaskan angin.


Lebih dari satu minggu aku menangisi diri ku yang bodoh, aku bahkan nyaris mengiris pergelangan tangan ku. Aku tidak tau, apakah ini keberuntungan atau kesialan, aku menggagalkan segala upaya bunuh diri ku.


Lalu saat pesta lagi, aku masih menjadi partner bersama Morgan, menggandeng tangannya dengan menjijikan. Jangan tanyakan betapa tersiksanya aku bersama dengan dirinya. Lagi dan lagi Asher terus mengganggu ku, dia bahkan berkelahi dengan Morgan di halaman rumah orang itu.


Ah, aku seperti mendapatkan ide bagus. Aku baru ingat bahwa selama ini Asher berusaha menghancurkan Morgan secara membabi buta, begitu juga Morgan yang tak jarang merencanakan kecelakaan atau sebagainya untuk Asher. Keduanya saling menghancurkan bisnis masing-masing.


Jika aku menetap menjadi tunangan Morgan, mungkin saja mereka akan terus berkelahi dan ribut kan? Ah, aku suka keributan ini, akan lebih baik kalau ini terus berlanjut seumur hidup mereka. Aku yang menetap dengan Morgan, dan Asher yang akan terus mencoba menghancurkan hidup Morgan, ini sangat menarik, layak sekali dilihat?

__ADS_1


"Pfffttt aku suka ini."


__ADS_2