Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
68. Bajunya cakep


__ADS_3

"Kau menyukai ku sama seperti kau menyukai Eve dulu?"


Asher mendecak kesal, dia memegang kedua pipi Tea lembut. "Apa aku pernah melakukan ini padanya? Apa aku pernah selembut ini padanya? Apa menurut mu aku pernah meminta maaf padanya. Semua ini terjadi hanya pada mu. Aku melakukan ini hanya untuk mu. Apa kau masih tidak mengerti?"


Asher menatap lekat mata itu, mata jernih yang penuh ketulusan yang murni. Mata yang selama ini menyegarkan tubuhnya hanya dengan menatapnya saja.


Dia pasti mengatakan ini hanya untuk membuat ku bertahan di sisinya kan? Kali ini iya kan saja, aku tidak ingin ribut dengannya.


Tea diam dengan segala pemikirannya sendiri. Padahal biasanya dia orang yang ceplos, apa kesedihan memang membuat sifat seseorang berubah?


"Kau terobesesi pada ku?" Tea juga tidak ingin mengalihkan pandangannya dari Asher.


"Terserah lah, aku lelah. Sekarang ayo kita kembali ke kamar."


Tea hanya diam saja saat Asher menggendongnya. Kepalanya terus memutarkan masalah yang datang silih berganti.


"Ash, kau tau aku menderita karna tidak memiliki anak kan? Ash, aku butuh Noel yang bisa menemani ku dan menghapuskan kebosanan ku."


"Aswiny Elratu Anumertha."


Tea diam, apa maksud perkataan Asher berusan, dipikirkan bagaimana lagi juga Tea tidak mengerti.


"Siapa dia? Adik mu?" wanita dalam gendongan ini hanya menatap suaminya penuh selidik.


"Anak perempuan kita nanti."


Deg


Tea diam, apa sebenarnya Asher memang seingin itu memiliki anak? Bahkan sampai memikirkan nama untuk anak yang tidak pasti akan lahir atau tidak.


"Kau mencoba menghina ku yang tidak bisa memberi mu keturunan?"


"Ada darah kita atau tanpa darah kita, satu anak kita akan diberi nama itu. Jadi, berhenti berpikir seperti itu, sudah ku bilang kan? Ini bukan masalah, ini hanya cobaan."


"Oke."


Aswiny Elratu Anumertha? Namanya bagus juga, tapi kenapa dia gak diskusi dulu dengan ku! Pokoknya aku harus merubahnya!


...***...


Dua minggu sudah berlalu, dan hanya tinggal dua hari lagi pesta perayaan pernikahan untuk Tea dan Asher. Mereka memang sudah menikah sah di depan hukum, tapi belum di depan tamu. Makanya, dua hari ke depan adalah waktu dimana Asher akan menunjukkan bahwa dia sudah menikah dengan putri ratanya, dan terlepas dari cengkraman sang mantan.

__ADS_1


Dan keduanya tengah bersiap di dalam kamar saat ini. Setelah lelah dan melelahkan diri sendiri, tiba waktu mereka untuk rileks agar wajahnya glowing saat acara.


"Kau sudah siap? Ayo cepat, mulai hari ini kita akan menginap di hotel Hyunan sampai acara pernikahan nanti."


Asher sedang memperbaiki dasinya di depan cermin, namun tidak ada jawaban dari istrinya.


Asher menoleh ke belakang, menatap Tea yang masih fokus melihat gaun pernikahannya juga sepatu mereka, ah jangan lupakan mahkota kecil yang akan Tea pakai nanti.


Tea melihat nya, itu sangat cantik dengan sulaman detail yang bermotif sangat indah. Perpaduan warna dan kelembutan bahan membuat Tea tak kuasa melepaskannya, dia tidak sabar untuk memakainya.


Wajahnya dipenuhi seri dengan bibirnya yang terus terbuka lebar, senyuman tak pudar saat kebahagiaan datang sekarang.


"Kalau kau sebegitu inginnya memakai itu, pakai saja saat ini."


Asher merangkul pinggang sang istri, dan ikut menatap baju di depannya, dengan segala setnya.


Jujur saja, Asher juga penasaran bagaimana penampilan putri ratanya saat memakai gaun pernikahan mode ini. Dia juga berdebar dan tidak sabar menantikan hari dimana putri ratanya akan menjadi ratu.


Tapi, itu menyebalkan saat bukan hanya aku, tapi orang lain juga melihat putri rata memakai itu. Lumayan juga desainer itu, aku akan memberinya hadiah dan promosi untuknya nanti. Aku ingin menjadi yang pertama melihatnya memakai ini.


"Putri rata, pakai saja, sekarang. Cepatlah, aku mau lihat apa itu cocok atau tidak? Apa ukurannya sesuai dengan tubuh mu, kalau dada pasti sesuai, soalnya milik mu tidak terlalu buat sesak."


Padahal suasana hati Tea sudah membaik sejak beberapa saat lalu. Tapi sekarang semuanya hilang karna perkataan sang suami yang lantang.


"Tidak, segitu saja sudah cukup untuk mu."


Tea menarik napasnya, dia mencoba menenangkan hatinya. Dia juga bingung, kadang Asher menyebalkan dan kadang dia bisa sangat romantis dan puitis.


"Aku sudah memakainya tau, waktu pertama kali desainernya datang dan meminta ku mencobanya. Saat pertama kali mencoba ada beberapa masalah. Mungkin sudah empat kali aku mencobanya demi menyesuaikannya."


Asher sudah kelam saat ini. Impian dan harapan untuk melihat sang putri rata mengenakan itu pupus sudah.


Aku tarik kembali ucapan ku yang ingin memberikan desainer itu hadiah, dan promosi untuk nya di batalkan.


"Sudahlah, gaun nya jelek. Ayo pergi, kita sudah terlambat." Asher menarik Tea, padahal Tea sendiri masih ingin terus disana dan menatap gaun itu lagi, lagi dan lebih lama lagi.


"Kau jahat sekali! Tapi Ash, apa menurut mu aku cocok memakai gaun sebagus itu? Bagaimana jika nantinya gaun yang sangat cantik itu, menjadi jelek dan tidak bernilai saat aku yang pakai?"


Oh ayolah, sejak kapan Tea kita yang percaya diri mendadak merendah. Apa karna dia terlalu sering dihina?


"Kalau itu terjadi, robek saja bajunya, nyaris mustahil kalau kau buruk. Semuanya adalah salah bajunya."

__ADS_1


"Jadi menurut mu aku cantik?"


"Apanya yang cantik, kau itu terlalu can--"


Asher diam saat dia sadar dia masuk ke dalam jebakan seseorang.


"Aku terlalu apa?!" Tea tersenyum tipis-tipis saat dia yakin bahwa kata selanjutnya berbunyi pujian.


"Kau terlalu berisik."


"Aku terlalu cantik kan?"


"Berisik."


"Cantik."


"Berisik sekali putri rata ini."


"Bukan begitu, harusnya cantik sekali putri rata ini."


Cup


Asher secara tiba-tiba menempelkan bibirnya lagi. "Diamlah, kau berisik."


Tea memang langsung diam, cara Asher yang ini memang selalu berhasil.


...***...


Pintu ruangan kamar Asher kosong, ini hanya lima belas menit sejak Asher dan Tea keluar dari Mansion. Segera baju dan segalanya akan di bawa ke Hotel siang nanti. Termasuk baju pengantin yang kini tertata rapi di kamar Tea.


Suara pintu perlahan terbuka, tampak perempuan berpakaian pelayan masuk. Namun sayangnya, saat dia membuka maskernya, dia adalah Yelena dengan senyuman super duper jahatnya.


Dia dengan niat jahat yang sudah terpancar mendekati gaun Tea.


"Oh ayolah, bagaimana bisa si jelek dan si udik itu memakai pakaian yang sebagus ini. Ini harusnya menjadi milikku yang berjalan dengan kak Asher, tapi kenapa jadi punya si jelek ini. Kau tidak layak Tea. Kalau aku tidak bisa memakai baju sebagus ini, kau pun tidak bisa."


Yelena membuka sebuah kotak kecil yang dia bawa. Tampak banyak jarum-jarum kecil berwarna perak di kotak itu.


"Fufu, seru juga kalau ada darah dimana-mana."


Yelena secara perlahan meletakkan jarum di beberapa tempat, mulai dari bahu, punggung dan banyak tempat lainnya.

__ADS_1


__ADS_2