Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
62. Ternyata pura-pura


__ADS_3

"Teganya Nona mengkhianati saya!!"


Setelah selesai mengatakan itu, Noel benar-benar di usir dari ruangannya. Dan hanya tersisa mereka berdua disana.


Tidak akan ada yang tau betapa gundah gulananya supir tampan kita yang satu ini, membayangkan dia tidak menjadi supir Tea lagi, dan jarang mengganggu Non kesayangannya. Tidak! Noel tidak bisa hidup, jika tidak mengacaukan hari-hari orang bersama dengan Tea.


Padahal beberapa bulan terakhir, akhirnya dia bisa melenyapkan perasaan hampa dan bosan yang menyebalkan. Malah, itu semua terganti dengan hari-hari menyenangkan bersama Non kesayangannya.


Tidak pernah terbesit di kepala Noel, akan tiba hari dimana dia bisa bercanda tawa begitu. Dia di tuntut untuk selalu serius dan hati-hati oleh pekerjaannya, baik hati-hati dalam berperilaku, bertindak, dan semacamnya. Tidak pernah dia sangka bahwa bersantai dan mengobrol bisa seseru dan semenyenangkan itu.


"Bukan ngobrolnya yang seru, orang yang di ajak ngobrol asik sih. Jarang banget ada manusia kayak Non Tea, aku beneran sayang sama dia. Dan udah kebiasaan dekat sama dia. Bisa kacau kalau aku gak jadi supirnya lagi."


Noel menghela napasnya sangat berat, seolah dia sedang memikul beban seluruh dunia.


"Sekarang aja udah kecium  bau-bau kehampaan dan kebosanan yang dulu aku rasakan. Gak bisa! Aku gak boleh dipecat jadi supirnya Non Tea. Bisa-bisa aku mati karna bosan."


Noel berjalan gontai tanpa arah. Dia sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa kecuali Tea. Otaknya sudah berputar sebagus mungkin untuk mencari dalih yang bisa dia pakai untuk Asher.


"Tapi, Tuan muda Asher sialan itu terlalu sulit dikelabuhi. Kenapa dia bisa sepintar itu? Belum lagi dia yang licik bermain saham, dan wajahnya yang tampan. Kenapa ada orang sebagus dia? Dasar aib kaum pria!"


Sepertinya Noel benar-benar kesal pada Asher, hingga dia berani memaki sang pria angkuh yang sukses mengusirnya.


"Hey? Noel? Menikahlah dengan ku, sudah ku bilang akan membayar mu mahal, tiga miliyar,  menikah dengan ku selama enam bulan." Suara wanita itu masuk ke telinga Noel. Rasanya telinganya menjadi kotor seketika.


Noel memang tidak sering mendengar suara itu, tapi dia tau pemilik suara sumbang penyiksa telinganya yang baru dia dengar barusan. Tentu saja Noel kenal, dia adalah seorang agen. Apa gunanya dia menjadi agen kalau membedakan suara saja gak bisa?


"Apa lagi sih Nona artis, saya udah bilang kan? Saya menolak. Bahkan jika anda membayar saya lima milyar sekalipun, tidak artinya tidak."


Noel sedang frustasi sekarang, tolong jangan diganggu, apalagi saat ini dia baru dipecat. Dia sudah pusing memikirkan masalah dia, dan keseruan hidupnya. Tapi saat ini, lihat yang terjai, sudah ada artis hebat yang mendatanginya dan mengajaknya nikah kontrak? Tau kan jawaban Noel?


"Kenapa kau menolak ku dengan keras?" Elise masih tidak bisa menerima penolakan yang Noel lemparkan pada dirinya.


"Kenapa anda memaksa saya dengan keras?"


Bosan, Noel sudah bosan dengan basa-basi yang sudah basi dan memuakkan ini. Dia ingin segera menyelesaikan ini dan beranjak pergi.

__ADS_1


"Apa kurangnya aku? Kau tau aku cantik, berbakat, berprestasi, dan aku kaya. Di sisi mana kurangnya aku?" Elise masih tidak habis pikir dengan jalan pikir pria berstatus supir ini.


"Anda banyak kurangnya, salah satu yang paling fatal. Anda ti-dak seru." Kali ini Noel sudah tidak menjaga ucapan, pandangan, dan tekanan suara lagi. Perempuan di depannya terlalu menyebalkan dan mengganggunya. Noel sudah mengeluarkan tatapan tajam khas pengawal Anumertha, suaranya berat dan penuh tekanan, membuat Elise harus mundur beberapa langkah.


Itu benar, ada yang aneh disini. Kenapa dia berisik tapi menyebalkan? Sedangkan Non Tea berisik tapi seru. Mereka sama-sama berisik, tapi berbeda. Sudah ku duga, Non Tea memang langka. Dan aku gak boleh kehilangan dia.


"Seru, apa maksud mu?!"


"Tau ah bodo, mending keluar nyari udara segar."


Noel sudah kesal, lebih baik dia keluar sebelum ada satu tubuh yang terkapar akibat dia gagal menahan emosinya.


"Tunggu! Hey supir! Aku belum selesai berbicara!"


Apa Noel berhenti saat dia bilang tunggu? Mana mungkin. Tapi, beda cerita kalau yang bilang putri rata kita.


-


-


-


"Minta tolong Tuan besar aja ya? Tapi tunggu, ini aku benar-benar di pecat? Atau ancaman?"


Noel tampak berpikir sebentar.


"Kau resmi dipecat!"


Pekikan Asher malah terbayang di kepalanya, apalagi kalimatnya adalah kalimat yang sukses membuat supir ini galau seharian.


"Pertama, adalah benar aku dipecat. Dan--"


Puk,


Ada yang menepuk pundak Noel dari belakang, membuatnya sedikit siaga. Dia sudah kesal karna dia pikir ini adalah Elise yang mengikutinya.

__ADS_1


"Sudah saya bilang, jangan ikuti saja, menjauh sebelum saya kasar!"


Tangan itu terlepas dari pundak Noel, Noel menoleh dan dia harus menghadapi penyesalan berkata sekasar itu pada gadis ini, yang sudah berdiri dihadapannya.


"Icha? Kamu ngapain di sini?"


Benar, yang datang menghampiri Noel bukan Elise, bukan Tea apalagi Asher, tapi Viocha.


"Aku kebetulan lewat, terus liat anda. Kak Tea mana? Biasa ada anda ada Kak Tea. Saya kangen, hampir sebulan gak ketemu."


Viocha tidak bertanya, ataupun menyinggung sikap kasar Noel di awal. Wajar saja, anaknya kan memang pendiam, dan tidak tertarik urusan orang lain selagi tidak berkaitan dengan dirinya.


"Sama saya kan juga udah lama gak ketemu, gak rindu?"


Noel mencoba menggoda kan? Dengan modusnya?


"Berhenti berpura-pura, saya tau anda tidak suka sungguh-sungguh pada saya." Tapi Viocha Menjawabny dengan dingin.


"Sejak kapan kau sudah tau?"


Noel berubah, tampak agak serius.


"Sejak awal. Tapi tidak apa-apa, lanjutkan saja kepura-puraan itu. Anda melakukan itu demi menjaga perasaan Kak Tea kan? Karna Kak Tea khawatir pada saya yang sulit bersosialisasi, anda melakukan ini untuk membuktikan bahwa saya masih bisa bersosialisasi, agar Kak Tea nggak khawatir kan? Terima kasih sebelumnya, dan mohon bantuan kedepannya."


Noel tersentak halus, dia menatap tidak percaya ke arah Viocha. Baru kali ini, mata-mata kelas atas dikalahkan dalam hal kepura-puraan. Viocha tau segalanya?


Noel menerbitkan senyumannya, entah jenis apa itu.


"Tadi nanya Non Tea ada dimana kan? Non ada di dalam butik itu. Ayo saya antar." Noel bangkit berdiri, dia memimpin jalannya Viocha.


"Oke." Viocha juga mengikutinya dengan baik.


"Ngomong-ngomong, kamu menarik juga ya Cha. Gimana kalau kepura-puraan ini kita jadikan kenyataan? Dengan berakhir di pelaminan?"


"Nice akting." Sahut Viocha dingin, dan sekenanya saja.

__ADS_1


__ADS_2