
"Kau ingin bertemu dengan Asher?" Tea penasaran, dia langsung bertanya.
"Ya, Tuan muda Asher memanggil ku. Apa dia ada di dalam?" Sahut Eve dengan wajah datarnya. Setelah kepergok di Mansion hari itu, Eve tak lagi menyembunyikan ekspresi wajahnya dari Tea.
"Dia ada di ... Kamar."
"Kalau begitu terima kasih, saya akan pergi."
"Apa kau tau letak kamar Asher ada dimana?" Apa yang Tea tanyakan, Eve adalah mantannya. Tentu saja dia tau kamarnya kan?
"Iya, saya tau, lantai dua ruangan nomor tiga dari ruangan pertama."
Itu benar, memang itu ruangannya.
"Ya, pergilah."
Eve berjalan, dia mendekat ke arah Tea, membisikkan sesuatu yang tak pernah Tea duga. "Lebih baik anda cepat-cepat pergi dari kehidupan Tuan muda Asher, kalau anda ingin hidup tenang, damai, dan bahagia. Jangan hancurkan kehidupan anda, cukup hidup saya saja yang keluarga Anumertha permainkan." Eve berjalan pergi, setelah dia meninggalkan kalimat ambigu macam itu.
Tea diam membatu, rasanya dia kesal sekali. Jangankan mendengar Eve berbicara, menatap wajahnya saja Tea sudah panas.
"Non? Non sakit? Mau ke rumah sakit?" Noel sudah tiba disebelah Tea.
"Gak apa-apa, udah ayo jalan."
"Non yakin? Itu si mantan ada ngomong apa?"
"Minta aku ninggalin Asher."
Noel sadar kali ini Tea mengatakan itu bukan karna dia gadis yang ceplos, tapi karna dia merasa sudah lebih dekat dengan Noel. Dan jujur saja, Noel merasa terharu karna itu.
"Ayo jalan Non, kita pakai mobil kuning hari ini."
"Kau mengalihkan pembicaraan ya Noel?"
"Iya, karna saya gak tau mau jawab apa. Sepertinya apa yang dikatakan Nona Eve benar, anda lebih baik segera meninggalkan Tuan Asher. Untuk apa menetap pada orang seperti itu? Tapi, sepertinya juga jangan bercerai, kalian baru menikah. Entahlah, saya tidak tau."
Tea tersentak halus. Dia tidak menyangka Noel akan mengerti perasaannya saat ini. "Omo~ Astaga~ sepertinya pemikiran lajang tua sangat berguna."
"Sadboy Non sadboy!"
"Akuilah kau lajang tua."
"Serah! Saya ambil mobil dulu!" Noel menghentakkan langkah awalnya, membuat Tea menahan senyumnya.
Ah bener-bener deh bocah itu.
Terima kasih untuk Noel, berkatnya putri rata kita semua bisa mengurangi sedikit kesedihannya.
-
-
-
__ADS_1
Akhirnya mobil Lambo kuning itu berhenti di depan sebuah butik mewah, sangat-sangat mewah. Bahkan mobil keluaran baru dan harganya juga bisa membuat jantung menggebu, terpakir rapi di parkiran sana. Rentetan mobil mahal sultan terlihat menawan disana.
"Gak sia-sia kita punya mobil mahal."
Tea dan Noel sudah berjalan masuk, namun sepertinya Tea benar-benar ketiban sial double exp. Bisa-bisanya dia malah bertemu dengan Neila-kakak iparnya, dan juga Yelena-adik iparnya.
"Ya ampun, kita bertemu disini ya, adik ipar Tea~"
Tea baru masuk, namun suara menjengkelkan itu sudah menyambutnya, ya siapa lagi kalau bukan Neila?
"Adik ipar? Bukannya tunangan Morgan itu Evelina ya? Si cantik dan pintar itu kan?" Tanya salah satu teman Neila yang berkerubung disebelahnya.
"Bukan begitu Nona Diana, itu adalah Kakak ipar Galatea, istrinya Kakak Asher, dia cantik kan? Meski tidak secantik Kakak Eve." Yelena, si ular berbisa menimpali.
"Apa, Tuan muda Asher sudah menikah? Kenapa keluarga ku tidak di undang?"
"Bukan tidak di undang, tapi memang tidak ada pesta dan perayaan. Mau bagaimana lagi, Kak Asher dan dia dijodohkan, bahkan Kak Asher menolak tapi Kakek tetap memaksa, makanya tidak ada pesta. Kalian tau kan? Bahwa Kak Asher masih mencintai Kak Eve." Astaga! Mulut si Yelena ini benar-benar deh.
Orang bodoh mana yang ingin melebarkan aib keluarganya sendiri? Bodo ah!
Tea tidak peduli, dia enggan menyahuti dan hanya berjalan ke tempat resepsionis.
"Maaf, kartu akses anda?" tanya resepsionis itu.
"Ya...?"
"Kartu akses anda Nona?"
"Astaga~ apa adik ipar tidak tau? Untuk masuk ke butik khusus Anumertha ini perlu akses khusus. Bahkan jika dia bagian dari keluarga Anumertha juga butuh kartu itu. Apa Asher tidak memberikannya pada mu? Padahal dia punya dua loh." Neila datang merangkul bahu Tea.
Apa kau tidak tau aku sedang mengumpatnya habis-habisan disini?! Asher sialan!
"Kalau Kakak ipar tidak punya, terpaksa kakak juga harus keluar. Maaf ya Kak, sebagai adik ipar yang baik aku akan menendang eh maksudku mengantar mu keluar." Tambah Yelena yang kini memegangi lengan Tea, menuntunnya keluar pintu.
Bisikan-bisikan buruk sudah samar-samar terdengar. Isinya sudah jelas bukan? Istri yang tidak dianggap, pengantin bayaran, istrinya yang terbuang, dan ya begitulah. Tea sudah merutuki nasib sialnya.
Astaga, rip harga diri. Pesta belum dimulai, dan harga diri ku sudah mati. Wah...!
"Dimana sopan santun kalian? Bagaimana bisa kalian mengusir sang pemilik butik? Tidak masalah jika beliau tidak memiliki akses, karna beliau pemilik butik ini." Noel tiba-tiba angkat bicara, dan yang baru saja ia bicarakan adalah hal paling tidak masuk akal. Karna mereka tau, Neila yang selama ini bertanggung jawab saja tidak pernah mendapatkan butik cabang Anumertha, apalagi ini yang merupakan butik khusus dan butik utama.
"Hey supir, katakan yang masuk akal. Jangan karna kau ingin membela nona mu, kau mengatakan omong kosong!" Tampak Yelena sudah sedikit terprovokasi.
"Panggil penanggung jawab kesini, minta dia membawa surat dari tuan besar. Ka--"
"Nona Galatea?!" Tiba-tiba sudah ada pria setengah usia berlari berdiri dihadapan Tea. Dia mulai mencoba menstabilkan napasnya, entah sudah berapa lama dia lari di usia itu. "Apa yang kalian lakukan, bagaimana anda berdua bisa bertindak tidak sopan pada pemilik butik?"
"Apa maksud mu?!" Neila memekik.
"Presdir Bryan Kert Anumertha, secara sah memberikan butik ini pada Nona Galatea Floyena, di dalam dokumen ini. Jika Nona Galatea menginginkan, kami bisa memblack-list siapa saja yang tidak beliau sukai."
"Mana mungkin! Berikan dokumennya pada ku!" Neila langsung merampas dokumen itu. Dia membolak-balikkan isinya, dengan raut wajahnya yang kian murka.
"Ini tidak mungkin! Ini palsu!"
__ADS_1
"Anda ingin saya laporkan pada Tuan besar?" Penanggung jawab itu menajamkan matanya pada Neila.
"Pppffftttt," Tea hanya menyunggingkan senyuman provokasinya, dia melirik Yelena dan Neila secara bergantian, melemparkan pandangan dan senyuman menyebalkan.
"Aku sibuk, dari sana sampai kesana, aku ingin semua. Kirim desainer ke rumah utama untuk mengukur badan ku, sesuaikan semuanya. Noel, ayo pulang." Tea berjalan dengan keren keluar dari pintu bersama dengan Noel yang memakai kacamata hitam.
Astaga! Lihat Tea, like a big boss! Dan Noel? Dia pasti sedang merasa keren saat ini.
-
-
-
Ha~
Keduanya menghela napas lega saat mereka sudah sampai mobil.
"Non udah tau Non ternyata pemilik butik? Makanya mukanya santai aja?"
"Santai your head, aku nyaris menabur bunga karna harga diri ku udah mati. Terima kasih Kakek! Kakek yang terbaik!"
"Non Galatea?" Tea melirik ke asal suara. Tea kenal suara itu, tampak asisten Asher-Barant Shent berjalan mendekat.
"Non, menjauh darinya dia itu normal." Protes Noel saat Barant sudah semakin dekat dengan Tea.
"Apa maksud mu supir? Aku ingin berbicara dengan Non Tea. Aku sangat mengagumi beliau!" Barant menajamkan matanya menatap Noel. Astaga, aura perang mereka sepertinya sudah bermunculan. Seperti ada petir beda warna diantara mereka.
Kali ini aku harus bela Noel, karna dia udah bela aku.
"Itu benar, kau normal jadi gak bisa gabung circle kami."
"Karna yang bisa menjadi bawahan Nona hanyalah orang unik dan spesial seperti ku, Nona, ayo kita pulang." Noel membukakan pintunya untuk Tea, dan Tea juga segera masuk. Mobil mereka berdua juga berjalan begitu saja.
"Noel, kau butuh psikiater? Aku punya nomornya."
"Non pernah tau rasanya ditimpuk pakai panci? Pengen coba?"
"Kau berani?"
"Mana mungkin!"
-
-
-
"Astaga!! Aku lupa memberi Nona kartu akses butik! Habislah, Tuan muda pasti akan murka besar!" Barant memukul jidatnya sendiri. Dia bahkan sudah merinding hanya dengan memikirkan kemarahan Asher.
***
Gak ada niatan like, komen, gitu? Vote juga~
__ADS_1