Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
60. Kayak ada yang kurang


__ADS_3

" Saat melihatnya meratapi takdir, dia hidup seolah tak hidup. Aku ingin melakukan apa saja untuknya, asal dia bisa tersenyum. Rasanya tanah yang kupijak seolah runtuh saat melihat dia dipanggil tapi tidak menoleh. Aku tidak peduli dia akan bersama siapa nantinya, aku hanya ingin dia terus mengoceh berisik dan bahagia. Bahkan jika dia meminta ku melepaskannya demi kebahagiaannya, aku rasa aku juga akan melepaskannya. Dan mungkin hanya akan menatapnya dari jauh. Tidak masalah, asal dia tetap hidup dan bahagia. Aku bisa menghabiskan sisa umur ku hanya dengan menatapnya. Lalu, apakah cinta yang kau maksud begitu?"


Albert terdiam tanpa kata-kata, dia tidak tau bahwa sahabatnya punya bakat terpendam mengeluarkan kata-kata semanis ini.


"Kau belajar dimana kiasan indah begitu?"


"Tidak belajar, ini hanyalah apa yang kurasakan."


"Begitu ya, terima kasih, berkat mu aku yakin aku tidak pernah jatuh cinta. Karena aku tidak pernah merasakan yang kau katakan. Dan jika cinta adalah suatu hal yang seperti kau jelaskan, aku ragu apakah aku bisa jatuh cinta?"


Asher hanya menaikkan sebelah alisnya. "Oh Kasihan,"


"Harusnya aku yang kasihan pada mu."


"Kenapa kau mengasihani ku? Di sisi mana aku terasa kurang?"


"Kau memiliki istri yang tidak sempurna."


"Nama mu memang cukup terkenal, tapi aku jauh lebih terkenal. Tidak akan ada yang percaya kan kalau aku mencabut lidah mu sekarang? Beraninya kau mencaci istri ku. Apa nyawa mu ada sembilan?"


Asher tidak main-main saat ini, atmosfernya mendadak gelap, suasana tidak enak, udara tertekan membuat sesak. Albert sadar, dia sudah melakukan kesalahan paling besar, daripada kesalahan-kesalahan sebelumnya.


"Jangan marah! Aku tidak jadi minta rumah sakit megah!"


"Kau kira harga diri istri ku sebanding dengan rumah sakit itu?" Asher sudah memegang gunting di tangannya, matanya tajam penuh maksud ke arah dokter itu. "Ujung lidah? Tengah, pangkal? Mana yang seru untuk dipotong?"


"Aku akan menjadi pelayan istri mu setiap akhir pekan selama tiga bulan! Dia saat aku libur!"


Asher meletakkan guntingnya dimeja, dia tampak berpikir sebentar. "Pasti istri ku punya trauma dengan wajah mu yang membawa berita buruk, saat kau menjadi pelayan istri ku, pakai kostum badut, sepertinya akan seru. Aku akan beri bonus kalau istri ku terhibur dan tertawa."


"Hey! Bukannya kelwatan menjadikan dokter terbaik di kota ini sebagai badut penghibur?!"


Tentu saja dia meronta, harga dirinya sedang dipermainkan saat ini. Apalagi dia yang menyandang gelar dokter terbaik se-kota ini, harus menghibur istrinya?

__ADS_1


"Sudah aku putuskan, dari pangkal lidah lebih dulu." Asher mengambil guntingnya, dia bersiap berdiri mendekati sang sahabat dengab mulut lemesnya.


"Sepakat jadi badut!" Jawab Albert cepat, sebelum gunting itu banjir akan darah dari lidahnya. Soalnya Asher tidak suka main-main.


Dasar mulut sialan! Ini semua karna perkataan tidak berguna yang aku katakan! Jika bukan karna itu, aku pasti sudah mendapat rumah sakit termegah di kota ini. Sekarang? Hanya karna satu perkataan, rumah sakit hilang, petaka pun datang.


"Kedepannya jaga mulut mu."


"Apa yang terjadi sih sebenarnya? Kau berubah sangat drastis?!"


"Kenapa? Aku hanya menjadi tampan dan sensual, lalu ditambah impian untuk menjadi suami terbaik yang pernah ada." Sahut Asher enteng tanpa keraguan.


"Kau benar-benar bukan Asher yang ku kenal!"


"Ya, terkadang aku juga merasa banyak yang berubah dari ku, seolah aku bukan aku. Tapi, apapun itu, perasaan ini tidak buruk, ini seru dan menyenangkan saat melihatnya tersenyum. Ah, kau gak akan tau karna kau antagonis yang tidak memiliki cinta."


Asher memang mengakui bahwa dia berubah, bahkan banyak. Tapi, dia juga menyukai perubahan yang hadir dalam dirinya.


...***...


Meski belum kembali ceria sepenuhnya, tapi sekarang sudah jauh membaik. Memang, hanya waktu yang bisa meringankan luka.


"Asher bilang dia akan datang, baru ke butik buat desain gaun pengantin? Tapi dia lama banget."


"Tapi, Apa Asher emang selembut ini? Atau karna aku gini makanya dia jadi baik? Pepatah bilang, orang akan melembut saat menemui orang yang lemah. Mungkin Asher cuma kasihan kan?"


Tea hanya bisa mengambil kesimpulan begitu, dia mau berpikir bagaimana lagi? Asher jatuh cinta? Itu mustahil. Dan apa lagi, Asher juga tidak pernah mengatakan cinta pada Tea kan?


"Gak apa-apa Tea! Yang penting kan dia gak ceraiin aku! Dia gak usir aku, dia gak akan punya anak selain dengan ku. Pokoknya sekarang semuanya lagi baik-baik aja, jangan merusak mood dengan berpikir aneh-aneh. Toh dia juga gak bakal kembali sama Eve kan?"


Wanita itu, mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Tea merenung, dia cukup kesepian. Entah kenapa rasanya ada yang kurang dalam hidupnya, ada yang aneh.

__ADS_1


"Non Tea!!!"


Suara menggelegar datang dari halaman tepat di bawah balkon Tea. Tea sudah bisa melihatnya, supir yang akhir-akhir ini jarang dia lihat, jarang dia ganggu, dan jarang dia siksa.


Oh, aku tau apa yang kurang. Mengganggu bocah nakal ini. Tidak ku sangka, ternyata dia juga bagian dari hidup ku, yang akan kucari keberadaannya jika gak kelihatan oleh mata.


"Ntar, aku turun!" Tea ingin turun. Namun dicegah oleh Noel.


"Gak usah Non turun! Biar saya aja yang keatas." Noel dengan cukup ahli, memanjat dinding dengan apa yang bisa dia capai, entah itu pipa, celah  jendela, hingga akhirnya dia sampai di balkon Tea, berdiri di hadapan Non kesayangannya.


"Apa kabar Non?"


"Aku gak tau sebelumnya kau keturunan kera sakti." Tea masih tidak percaya Noel-nya,  supir berisiknya bisa memanjat itu. Wajar saja, Tea kan tidak tau bahwa supir yang selama ini dia ganggu, adalah mata-mata kelas atas.


"Non tau kan kalau itu nggak sopan?"


"Oh oke aku ganti, aku baru tau kau pernah jadi maling?"


"Kalau saya maling, pasti saya udah sukses besar."


"Sukses besar membobol rumah ini?"


"Bukanlah, tapi sukses mencuri hatinya Viocha. Tapi sayang, saya belum berhasil nyuri. Minta baik-baik juga gak dikasih."


"Kan sudah ku bilang ...." Tea menatap Noel datar, dia sudah menduga bahwa Viocha pasti menolaknya mentah-mentah.


"Tapi Non! Saya gak nyangka bisa ribut lagi sama Non. Beberapa hari lalu, Tuan Asher memang bilang Non udah membaik. Tapi, Non belum keluar rumah juga, saya pikir Non masih stress eh Non kan selama ini memang udah stress."


"Siapa yang stress?!"


"Hehe." Noel hanya menampilkan cengiran manisnya.


"Hehe ... kepalamu."

__ADS_1


"Fix! Non udah sehat, kita bisa ribut lagi!"


__ADS_2