Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
44. Permintaan!


__ADS_3

Berkat kejadian siang tadi, sukses membuat Tea gagal tidur malam ini. Dia berusaha mati-matian menyangkal bahwa dia dan Icha beda ibu, namun, apa yang bisa Tea lakukan? Itu sudah terjadi, tidak ada yang bisa Tea lakukan untuk merubahnya.


Bahkan, jika aku bisa memutar waktu. Aku bakal biarin ayah selingkuh, karna dengan begitu. Viocha bisa lahir, kan?


Entah harus disyukuri atau dirutuki, yang jelas fakta ini sangat mengganggu hati.


"Kenapa kau berisik sekali? Kau mengganggu orang tidur." Wah, berkat Tea, Asher juga ikut terbangun, ah atau mungkin Asher memang belum tidur?


"Berisik apanya? Aku bahkan belum ngomong." Tea tidak salah kan? Yang dia lakukan hanya berpikir dan membatin.


"Benar juga, jadi kenapa kau belum tidur?"


"Kenapa kau cukup perhatian hari ini?" Tea kadang peka sama hal-hal tertentu saja. Yang jelas, dia sadar, Asher sedikit berbeda hari ini.


"Entahlah, kenapa ya? Menurut mu kenapa?"


Tea diam sebentar, dia nampak berpikir serius. "Mungkin bahagia karna aku tidak memiliki keluarga bahagia? Dan ternyata aku bukan putri rumah kaca yang banjir akan cinta?"


"Tidak bisa menjadi putri rumah kaca, kau masih bisa menjadi putri rata. Bahkan itu adalah jati diri mu." Padahal pembicaraan nya tadi asik, sampai Asher menyinggung itu lagi.


Tea sudah menatapnya kesal, menyebalkan memang.


Ah, tapi. Dia masih perlakuin aku sama? Aku kira karna aku bukan putri tersayang, dia bakal semena-mena? Ternyata cuma ketakutan ku aja.


"Bukannya kau selalu menyentuhnya?" Ya, tentu saja Tea tidak akan lupa, nyaris setiap pagi dia bangun, tangan Asher masih berada di dalam piamanya. Ah, itu adalah salah satu kejadian yang sukses membuat Tea berdebar, bahkan meski terjadi pada pagi yang berulang. Ini terjadi sejak mereka sudah sah melakukan hubungan suami istri.


"Maksud mu seperti ini?" Asher dengan santainya, menempelkan tangannya pada dada putri rata.


"Jauhkan tangan mu." Tea masih ingin menikmatinya, namun gengsinya masih cukup tinggi. Meskipun bibirnya berkata seperti itu, hatinya masih tidak rela.


"Oke." Asher tidak menolak, ataupun membantahnya. Dia menjauhkan tangannya sesuai perintah Tea.


Dih, dijauhin beneran dong!


Tea hanya bisa meronta dalam hati, dia harus diam demi harga dirinya yang tersisa.


Asher memang menjauhkan tangannya, tapi dia malah menempelkan wajahnya di sela-sela daging yang lembut itu. Piama tipis Tea benar-benar mengganggu, Asher ingin segera merobeknya.


Jangan tanyakan reaksi Tea, pipi bahkan telinganya sudah memerah karna malu. Namun, dia juga senang sepertinya. Tea tidak lagi ingin mengusir Asher dari tempatnya saat ini, takut jika Asher benar-benar mengganti posisinya.

__ADS_1


"Jadi, sekarang katakan, kenapa kau menangis?" Asher yang berbicara dengan psoisi seperti itu, sukses menggetarkan tubuh Tea, itu geli sekali. Nafas Asher seolah bisa menembus piama itu, dan menyapa langsung kulit wanita ini.


"Aw! Sakit!" Tea memekik saat Asher malah menggigit sebagian daging lembut itu.


"Makanya, kalau orang nanya itu dijawab. Kalau kau masih gak jawab, aku bakal terus menggigitnya."


"Iya! Jadi sebenarnya aku punya dua adik--- ...," Tea sudah mulai menceritakan soal keluarganya, sekaligus problema yang menimpanya saat ini. Dan Asher juga mendengarkannya secara seksama. Dia hanya diam menempel di dada sang istri, tanpa melakukan pergerakan lainnya.


"Ah, aku punya solusinya." Tampak Asher serius.


"Apa?" Tea bertanya penasaran.


"Tidurlah, semuanya akan tertunda jika kau tidur."


"Boleh ku pukul kepala mu?"


"Pukul saja, kau tidak akan bisa tidur malam ini, kalau sampai itu terjadi, dan jelas pinggang mu juga akan nyeri."


"Aku akan tidur!" Tea langsung memejamkan matanya cepat, dan Asher sama sekali tidak tertarik untuk merubah posisinya.


...***...


"Non? Non sadar gak sih? Non punya sebuah butik besar sekarang. Non udah lama banget gak kesana, Non gak ada niat kesana lagi? Non harus periksa sesekali. Jadilah bos yang rajin." Wah, ternyata itu masalah yang Noel pikirkan.


"Ternyata soal butik, aku pikir kau mengeluh soal lajang tua."


"Jadi, Non mau ke butik gak hari ini?"


"Enggak, aku udah kaya, nanti aja kesana pas lagi gak ada kerjaan."


"Songong banget, harta dikasih juga."


Tea melirik Noel dengan tajam. "Yang penting kan kaya, kenapa, iri ya?"


"Iya! Itu masalahnya! Saya iri, Non duduk anteng ayem aja dapat butik sebesar itu, saya ya--"


"Astaghfirullah Noel, berhentilah mengeluh, kau diberi kesehatan saja sudah harus bersyukur."


Noel langsung diam, dengan wajahnya yang cukup kesal. Dan Tea sangat menikmatinya, dia memang suka menyombongkan kekayaan dirinya, hanya di hadapan Noel. Cukup di depan Noel saja.

__ADS_1


Namun, senyuman yang terbit itu harus pupus saat Tea melihat, Barant, asisten Asher.


"Nona Tea? Saya kesini ingin bertemu dengan Nona. Bagaimana keadaan anda? Apa anda sudah lebih baik, saya khawatir dengan anda sejak kemarin." Wah, Barant bawahan yang sopan sekali, berbeda dengan seseorang di sebelah Tea.


"Jangan percaya Non, dia itu cuma penjilat handal." Duh, Noel, diem bentar kek. Berisik amat, punya siapa sih.


Tea mengabaikan ocehan Noel, dia berdiri menatap Barant. "Makasih ya, udah ikut kesana, dan nolongin aku. Kau, memang Asisten hebat yang bisa diandalkan." Tea tulus sekarang loh.


"Apanya yang hebat, saya saja masih belum bisa menjadi bawahan Nona, Nona tidak mengakui saya sama sekali. Padahal saya sangat berharap bisa menjadi bawahan anda yang bisa di percaya dan diandalkan." Wajah Barant juga sama seriusnya, sepertinya dia benar-benar ingin menjadi bawahan Tea.


"Kau hebat, aku mengakui mu, aku bahkan berterima kasih pada mu."


"Kalau anda benar-benar berterima kasih, tolong akui saya sebagai bawahan anda. Dan tolong mengobrol juga dengan saya!"


Oke, aku gak bisa nolak, dia udah nolongin aku.


"Oke, kalau kamu maunya begitu, kamu diterima jadi bawahan ku."


"Yes!" Barant mengepalkan tangannya, seolah dia sudah berhasil mendapat nilai A dalam ujian.


"Non, saya kan kemarin juga nolongin Non. Saya juga minta satu permintaan dong." Noel ikut memaksa masuk dalam pembicaraan itu.


"Benar juga, baiklah, karna aku majikan yang adil. Aku akan menyetujui permintaan mu, jadi kau mau apa?"


"Permintaan saya gampang, tolong pecat dia." Noel dengan entengnya, menunjuk Barant yang baru saja bahagia karna diterima. "Oke, fix, Barant kau dipecat, kau bukan lagi bawahan Non Tea, sekarang enyah sana."


"Tunggu! Itu tidak adil!" Tentu saja Barant protes.


"Apanya yang gak adil? Kau kan punya permintaan, aku juga punya, adil dong!" Noel juga tak mau kalah.


"Maaf Barant, aku harus adil. Noel, aku menuruti permintaan mu."


"Yes!" Kali ini bukan Barant, melainkan Noel yang berteriak bahagia. Dia tidak punya saingan.


"Nona Tea!!!!"


...***...


Hari ini sampai sini dulu ya, besok mungkin bakal Up Asher POV. Semoga besok bisa up sekalian banyak.

__ADS_1


Ada yang penasaran gimana Asher dan pikirannya, juga perasaannya yang sebenarnya selama ini? Tungguin ya^^


__ADS_2