Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
30. Ayo berdansa?


__ADS_3

...***...


Tea sudah duduk di sofa ruangan istirahat. Hebatnya hanya ada dia sendiri disini, karna ruang istirahatnya tentu VIP.


Tea memegang dadanya, hatinya masih berdenyut perih. Kepalanya selalu menampilkan Asher dan Eve yang berdansa bersama, semua itu beeputar-putar di kepalanya seperti bianglala.


"Aku baik-baik saja! Aku tidak terluka! Harga diri ku oke!" Tea mengeraskan suaranya, menghasut dirinya sendiri. Tapi hati tidak bisa berbohong, semakin Tea mengatakan itu, semakin hatinya berdenyut perih.


Tea mengingat kembali segala tindakan Asher yang menyebalkan semenjak mereka menikah, tapi anehnya Tea suka. Dia suka Asher yang mengganggunya, Tea merindukan Asher yang meledeknya.


Padahal sejujurnya saat belajar berdansa bersama Sheila, Tea memang sedikit berharap bahwa nantinya dia akan berdansa dengan Asher. Tapi apa sekarang?


"Dia malah dansa sama mantannya. Padahal aku udah siapin hati, tapi kenapa sesakit ini?"


Bukankah Asher memang sudah bilang bahwa dia akan berdansa bersama Eve? Tea yang payah, padahal dia sudah tau.


Tes...,


Teteasan pelan, tanpa suara, menorehkan luka yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


Terdengar suara pintu yang terbuka.


Noel?


Hanya nama supir menyebalkannya yang ada dikepalanya saat ini. Pasalnya hanya Noel dan Kakek yang tau dia kesini.


Ia mengusapnya, dia masih ingin baik-baik saja. Atau lebih tepatnya, Tea ingin terlihat baik-baik saja, di depan siapa saja.


"Kenapa kau ini suka sekali kabur-kaburan, aku lelah mencari mu." Diluar dugaan, ternyata pria yang datang adalah pria yang sengaja atau tanpa sengaja sudah membuat Tea meneteskan air mata.


"Apa? Udah puas dansa sama mantan?" Tea mencoba menatap mata Asher berani. Dia tidak ingin beralih, Tea baik-baik saja, dia harus baik-baik saja.


"Ya tidak buruk, kau sudah beristirahat?" Asher berjalan mendekat, dia berdiri di depan Tea.


"Belum."


"Kalau begitu, ayo berdansa." Asher dengan santainya mengulurkan tangannya pada Tea.


Tea tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, dia menjadi sensitif, mudah tersinggung jika itu di depan Asher. Darahnya mendidih di ubun-ubun, dia menatap tajam pria tampan dengan pakaian yang senada dengan dirinya.

__ADS_1


"Hey, harga diri ku sudah hilang setengahnya karna kau dansa pertama dengan Eve. Jangan hancurkan lagi, aku sudah menjaga harga diri ini sejauh ini. Terima kasih berkat Kakek aku baik-baik saja." Napas Tea tidak baik-baik saja, sesaknya seperti muncul lagi. Tea mengambil gelas jus yang ada di depannya, dia minum dengan harapan semoga panas di dirinya turun sendiri.


Asher menghela napasnya. "Apa kau bodoh? Aku kesini justru karna ini. Aku ingin menyelamatkan harga diri mu, ayo berdansa dengan ku. Jika kita tidak berdansa, kau yang akan terluka. Mereka semua akan mengatai mu, maka berterimakasihlah, pada--"


Prangg!!!


Tea sudah melemparkan gelasnya di lantai. Dia tidak lagi peduli Asher itu siapa, entah dia psikopat atau orang gila, Tea sudah tidak peduli. Dia berdiri di depan Asher.


"Lucu? Apa menurut mu lucu mengajakku berdansa setelah kau dansa pertama dengan mantan mu? Dan kau berkata semua demi harga diri ku, seakan-akan kau sangat peduli pada harga diri ku yang sudah mati! Dan dengan santainya kau mengajak ku berdansa setelah dia? Mengajak istri sah setelah mantan tercinta? Ya, itu lucu Asher, tertawalah." Tea menghentakkan langkah pertamanya, dia berjalan keluar dari ruangan itu. Dia tidak peduli apa yang orang itu pikirkan. Tea sudah mengatakannya, dia sudah mengatakan sebagian hal yang ingin ia ketakan sedari tadi.


Dia bahkan gak manggil!


Apa yang kau harapkan Tea! Janga lihat kebelakang, Asher tidak akan menghentikan mu.


...-...


...-...


...-...


Tea sudah berada di mobilnya dengan Noel, setelah dia merengek minta kembali. Akhirnya Tea tidak kembali bersama dengan Asher.


"Non gelud sama Tuan muda Asher?"


"Kalo kami beneran gelud, aku pasti udah di rumah sakit nyantai-nyantai makan obat."


"Bukannya ke akhirat Non?"


"Kalau itu terjadi, aku pasti sudah menggandeng tangan mu."


"Kalau saya bareng Non, berarti nanti kita nyantai-nyantainya di rumah aja."


"Kan...,"


Tea hanya tersenyum tipis, setidaknya menyahuti ocehan Noel ada bergunanya. Noel benar-benar supir multitalent.


...***...


Saat Tea sudah kembali ke rumah, dia langsung masuk ke kamarnya untuk tidur. Dan yang paling menyebalkan bagi Tea saat bangun pagi, adalah Asher yang tak ada di tempat.

__ADS_1


Dan Tea juga merasakan bahwa Asher tidak pulang semalaman ini.


"Bodo ah! Mau pulang, mau enggak! Mau ghosting! Mau iblis, bodo amat!" Tea melemparkan bantalnya, dia kesal sekali hari ini. Masih pagi tapi dia sudah naik tensi.


-


-


Waktu berjalan dengan cepat, Tea menjalani hari-hari pengangguran kayanya seperti biasa. Tapi yang tidak biasa hanya otaknya yang terus terpaku pada Asher. Bahkan saat dia diajak ngobrol oleh Viocha, dia sudah tidak baik-baik saja.


Bahkan saat sudah sore seperti ini, dan dia sudah dalam perjalanan pulang setelah gabut menjelajah, berusaha mengeluarkan Asher dari pikirannya. Tapi malah terus nempel tuh Asher.


"Noel, kayaknya hari ini otak ku sakit dan lelah deh."


"Non baru gitu doang udah sakit, lha? Saya yang tiap hari Non siksa gimana ceritanya?"


"Hey, aku ngomong gitu untuk cerita tau! Bukan malah ngajak adu nasib! Aku tau nasib lajang tua memang selalu mengenaskan."


"Saya punya boneka Voodo di rumah Non, saya juga punya foto Non di Hp saya. Kalau disatukan, dan dipakukan, keren kan?"


[Boneka Voodo\= boneka santet]


Tea hanya menatap Noel dengan enggan. Moodnya tidak baik untuk bercanda.


Noel menghela napasnya. "Saya tau, ini pasti karna Tuan muda Asher. Saya sengaja gak peka dan bahas itu, biar Non gak mikirin dia. "


"Hey, kau beneran cuma supir? Rasanya berlebihan banget orang seperti mu cuma supir."


"Ya kan Non? Harusnya saya model, saya kan gan--"


"Ntung diri."


"Astaghfirullah!"


Tea nyaris tertawa namun tidak jadi, sepertinya bebannya berat hari ini.


"Sepertinya aku sedikit menyukai Asher. Yah, sedikit saja, rasa sukanya kecil sekali...! Bahkan lebih kecil dari amoeba."


Tea sebenarnya sudah sadar sejak siang tadi, tapi dia baru mengakuinya sore ini, pengakuan dari mulutnya sendiri yang di dengar satu saksi.

__ADS_1


Jantung Tea semakin berdebar, semakin dia mengakuinya dia semakin berdebar.


Noel menghentikan mobilnya, dia menoleh menatap Tea. "Saya tidak bisa berkata-kata."


__ADS_2