Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
18. Pfffttt...!


__ADS_3

Tea baru saja ingin duduk di dekat Neila, karena disebelah Asher sudah ada Yelena dan Eve. Ah kesal sekali rasanya, harga dirinya terkoyak rabak, namun...


"Tea, Nak, kemarilah, duduk disamping Kakek." Suara itu, Tea kenal, suara hangat Kakek.


Semua orang disana membatu, apa mereka tidak salah dengar? Itu Kakek loh? Kakek Bryan Kert Anumertha memanggil seseorang dengan sehangat itu?


"Ya...?" Tea melirik ke arah Kakek.


"Kenapa kamu diam saja? Bukannya kau sudah sering main kesini, kemari Nak."


Tea tidak tau bagaimana, tapi sepertinya dia dalam kondisi yang menguntungkan. Oh tidak, mana bisa dia menolak, ini adalah tali emas pengendali harga dirinya. Tea dengan wajah sumringah berjalan ke arah Kakek.


"Kedepannya makan disebelah Kakek, dan kenapa kemarin sore kau tidak datang? Padahal teh yang kau buat sebelumnya sangat enak, Kakek sangat menantikannya."


"Baik Kek," Tea ceria dia bahagia, sang ksatria datang menyelamatkan dia dan sisa harga dirinya.


Semua orang masih membatu kecuali Asher, dia tentu tau Kakek melakukan banyak hal untuk Tea. Termasuk memberikannya saham diam-diam agar tidak berkata kasar pada Tea.


Asher melanjutkan makannya, begitu juga Tea dan Kakek yang menikmati waktu menyenangkan. Tea dan Kakek mengobrol ringan, mereka tidak memperdulikan adanya manusia lain di sisi lain meja. Defenisi dunia milik berdua, ah harmonis sekali memang Kakek dan cucunya ini.


Tea bisa merasakan tatapan tajam nan menusuk dari sisi sebrang, mereka pasti sedang super duper iri dan terbakar.


"Kakek, sebe--"


"Jangan bicara pada ku, aku tidak ingin bicara dengan mu." Potong Kakek Bryan cepat saat Dia-Neila baru saja ingin bicara. Astaga, beruntungnya Tea.


"Kakek, bagaimana kesehatan Kakek? Yele sangat khawatir." Tambah satu gadis lainnya yang sedari tadi sibuk mengganggu Asher. Oh Tea tidak peduli, dia sibuk mengamankan harga diri dan posisinya di sebelah Kakek.


"Aku akan lebih sehat kalau kau tidak mengkhawatirkan ku. Sudah ada Tea, cucu ku disini. Dan jika ada dari kalian, berani merendahkannya, atau menghinanya, aku akan mengusir kalian dari sini, dan ku coret dari ahli waris." Kakek menatap tajam Vallen dan Neila, Kakek tentu tau jelas ulah siapa ide penyambutan Tea menggunakan Eve.


"Ternyata Kakek benar-benar sangat menyayangi adik ipar. Tentu saja Asher pasti juga sangat menyukai ad-ik ip-par yang baru." Neila menatap Asher, lalu melirik ke arah Eve. Lalu mereka semua tertawa menyebalkan.


"Ah Eve, makan ini, ini sangat baik untuk kesehatan mu, buka mulut mu dan katakan Aaaa~" Morgan mengambil sepotong daging dipiringnya, dia menyuapi Eve dengan sangat romantis. Eve juga menerimanya dengan senyuman yang membahagiakan.

__ADS_1


Tea diam-diam melirik ke arah Asher, tampaknya Asher tidak murka, tidak panas, tidak cemburu dan tidak marah. Tea tidak tau prediksinya salah atau tidak. Mungkin saja Asher sudah sempurna dalam mengendalikan ekspresi. Ya bisa jadi, Asher kan memang seperti itu.


"Beruntungnya Asher, memiliki istri yang sang~at cantik." Vallen melirik ke arah Eve. Lagi-lagi senyumnya menyebalkan.


Prangg!!


Kakek melemparkan piring yang semulanya anteng ayem di atas meja.


"Padahal sudah ku peringatkan jangan main-main seperti ini. Apa kalian pikir aku bodoh? Aku sudah tua makanya tuli? Sudah ku bilang, jangan berani menghina Tea baik di depan maupun di belakangnya. Vallen, aku memotong saham tiga persen dari jatah mu, dan Neila, aku memberhentikan mu mengurus butik keluarga Anumertha. Kalian semua keluar, aku tidak ingin melihat wajah kalian. Jangan tunjukkan wajah kalian itu selama seminggu. Tidak ada pengecualian! Tea Nak, ayo antar Kakek ke kamar. Kakek akan memberikan mu hadiah." Kakek dengan perlahan berdiri. Dua pria berjas dan berkacamata hitam


di belakang membantu Tea menuntun Kakek.


"Kakek! Tiga persen, itu terlalu banyak! Aku bahkan hanya memiliki sepuluh persen saham Anumertha grub saat ini. Kakek, to--" Vallen langsung terhenyak dari tempatnya, dia berdiri protes dengan kekutannya.


"Kalau kau tau saham mu sedikit, harusnya kau mengikuti seluruh perkataan ku." Sahut Kakek enteng. Wah wah, si anak pertama kehilangan bermiliar uang dalam satu malam.


"Kek, selama ini Neila yang mengurus butiknya Kek, bi--"


Mereka semua itu musuh kan? Ah, kalian pikir aku takut? Yang benar saja!


Saat Tea dan Kakek berjalan melewati mereka. Tea melirik ke arah mereka semua.


"Pffftttt....!" Tea menyunggingkan senyuman meremehkan, merendahkan, tentu disempurnakan dengan pandangan mengejek, ah itu sukses besar memprovokasi mereka semua. Tea bisa melihat dengan jelas Yelena menggeram dengan menggenggam kuat sendoknya. Dan bibir Neila yang bergerak namun tak bersuara, jelas dia mengumpat di dalam sana. Dan Eve? Tea tidak tau bagaimana ekspresi Eve karna dia tidak punya banyak waktu.


Ah puas banget~ M-A-M-P-U-S!


Tea bangga pada dirinya sendiri dengan kembalinya harga diri, dan dia keluar ruangan dengan keren.


-


-


-

__ADS_1


Setelah agak lama berjalan, akhirnya mereka sampai di kamar Kakek. Tea juga membantu Kakek duduk dikasurnya.


"Nak, ambilkan kotak kecil di nakas itu." Kakek menunjuk sebuah meja berwarna putih. Tea yakin itu terbuat dari perak asli mengingat kilauannya bukan main-main.


Tea mengangguk, dia berjalan, saat dia sampai di depan nakas itu, dia memang melihat kotak kayu berwarna coklat tua dengan ukiran klasik tapi menarik.


"Cantik kan? Itu hadiah untuk mu. Pulanglah, ajak Asher juga. Jangan bosan untuk main dan menemui Kakek disini. Dan, Maafkan Kakek. Padahal Kakek berjanji untuk menjaga mu, tapi kau malah mendapat perlakuan seperti itu, ma--"


Tea langsung berlari ke arah Kakek, tanpa dia sadari air bulir hangat keluar dari mata indahnya. Untuk pertama kalinya Tea menangis bukan demi William atau Viocha, tapi dia menangis bahagia karna Kakek sangat menyayanginya. Kakek yang tau bahwa Tea adalah gadis kuat yang jarang menangis, juga terharu karna Tea menangis didepannya.


"Tea sangat sayang sama Kakek. Tea gak tau kenapa Kakek sayang sama Tea. Tapi sekarang, Tea bener-bener sayang sama Kakek!"


"Tea dari dulu sampai sekarang memang selalu tegar ya, Kakek selalu takjub dan bangga."


-


-


-


Setelah puas menangis dan berterima kasih pada Kakek yang baru dikenalnya selama dua minggu, Tea berjalan untuk mencari Asher dan pulang. Tapi, ada satu hal yang mengganjal di kepala Tea.


Tea yang asyik menangis tidak begitu mengerti perkataan Kakek tadi.


Dulu, dulu kapan maksudnya? Dua minggu lalu tidak dalam artian dulu kan?


Biarkan Tea berpikir keras, dia masih ingin berkonsentrasi, tapi...


"Putuskan hubungan mu dengan Morgan! Dan kembalilah pada ku Eve!"


Tea kenal suara dari dalam ruangan yang pintunya tidak terkunci dan sedikit terbuka. Tapi suara Asher terdengar sangat dingin dan kasar. Tea tidak tau kenapa, dia penasraan, dia mengintip kedalam.


"Aku gak mau...," sedangkan Eve hanya diam menunduk dengan wajah penuh air mata. Tea bisa melihat dengan jelas ketakutan yang Eve rasakan. Eve benar-benar takut pada Asher, bahkan takut melihat wajahnya. Badan Eve gemetar. Keduanya persis terlihat seperti srigala dan kelinci.

__ADS_1


__ADS_2