
"Aku akan tunggu dia di sini kayaknya dia bakal kan ke sini? Viocha Floyena? Adik Galatea dan Adik ipar Asher.
Morgan sudah begini tak jauh dari halaman Mansion Asher, dia sudah bersembunyi di balik pohon, dengan niat mengagetkan Viocha saat dia akan datang.
Setelah mengawasi Mansion Asher, Morgan mengetahui satu hal bahwa Viocha sering datang ke sini. Sudah satu minggu Morgan terus mengawasi Viocha.
"Semoga hari ini akan datang, dan aku akan menemuinya lalu tebar pesona dan mengatakan pura-pura tidak sengaja dan ini adalah takdir, dia akan percaya kan?"
Morgan membuka kamera hp nya, tampak wajah tampan nya deangn rambut yang sudah tersusun rapi dan apik. Ya ampun, dia benar-benar mempersiapkan banyak hal untuk bertemu dengan Viocha.
Lima menit....
Lima belas menit....
setengah jam...
Satu jam....
Viocha belum juga datang, tampaknya kali ini Viocha tidak datang kan?
"Ck! Lagi-lagi gadis itu tidak datang, mau apa sih dia? Padahal aku sudah berbaik hati ingin menemuinya sekarang. Dia harusnya beryukur dan merasa beruntung, aku tunggu begini."
Morgan memijit kepalanya frustasi. Dia sudah kehilangan waktu satu jam secara sia-sia. Waktu untuk menunda rapat, hanya dia habiskan untuk menunggu Viocha yang tak kunjung datang. Harapannya pupus sudah, yah semua perbuatan buruk tidak selalu berjalan baik kan?
Drett drettt
Ponsel Morgan berbunyi, ah, di sertai getaran. Dia langsung mengambil ponselnya. Matanya langsung mengernyit saat dia menatap nama sang pemanggil, raut wajah nya tidak suka dan cukup kesal.
"Mau ngapain lagi sih perempuan ini? Apa dia akan mati kalau tidak menelpon ku sehari saja? Yah, wajar sih aku kan tampan."
Morgan segera beranjak pergi dari sana guna mengangkat telepon, panggilan dari sang gadis yang selalu ia cumbu.
Tubuh nya luar biasa sempurna, wajah nya juga, status nya sebagai artis lumayan. Tapi sayang, dia sangat bodoh. Akan lebih baik kalau dia punya kepintaran Eve walau hanya setengah.
Ah, apa aku nikahi saja dua-dua nya? Aku butuh Eve untuk mengurus Anumertha nanti, dan aku juga butuh Elise, selain pemuas nafsu, aku membutuhkan nya untuk menaikkan status ku di pandangan masyarakat, dengan begitu, bukan hanya kaya, aku juga akan terkenal.
__ADS_1
Ya ampun, indah nya kehidupan orang tampan.
"Halo Elise sayang? Ada apa? Kau merindukan ku? Baiklah aku akan ke rumah mu, setelah sarapan kita akan bermain, jangan sampai berhenti di tengah-tengah ya?"
Morgan berbincang-bincang sedikit bersama Elise, jangan di lanjutkan apalagi dijabarkan, kebanyakan percakapan mereka kotor dan kawasan orang dewasa. Tidak ada romantis, hanya ada nafus yang balut bujuk rayu.
Morgan mematikan teleponnya.
"Lebih baik aku pergi bersama Elise, menghabiskan waktu ku bersama nya di banding menunggu gadis yang tidak jelas di sana."
-
-
-
Tea masih sibuk duduk diam merenung di taman belakang dengan teh, kopi, dan dessert yang tersaji di hadapan nya.
Tea berakhir di taman belakang karna dia menolak ajakan Asher ke kantor, bukan hanya itu, pinggang nya sakit, paha nya tegang, dia tidak kuasa jalan, malas jalan, dan sulit berjalan. Pokoknya Tea malas gerak karna kondisi tubuhnya sangat tidak mendukung.
"Aku gak punya bukti, gimana dong? Laporin Asher? Kasih tau Noel? Aku butuh teman curhat. Kayak nya aku beneran harus cerita ke Asher deh nih."
Setelah menimbang-nimbang keputusan nya, Tea sudah berpikir bahwa dia akan melaporkan semua yang dia dengar kepada Asher. Tea yang sekarang sulit mengerti, pasti dengan bantuan Asher semuanya cepat selesai kan?
"Non Tea!!!"
Wah, suara sumbang itu berhasil menghancurkan sebagian konsentrasi Tea. Tea tentu tau, siapa pemilik suara yang semakin lama teriakannya semakin dekat.
"Non Tea!!! Gawat!!"
Oh, satu kata terakhir berhasil mengubah kekesalan Tea menjadi sebuah kekhawatiran. Tea tidak jadi marah pada supirnya, dia malah berbalik dan langsung menyambut Noel yang sudah berlari sangat kencang.
"Ada apa Noel? Apa yang bahaya? Katakan pada ku se--"
Noel melewatkan Tea begitu saja dia langsung menuju meja kecil di depan Tea. Tanpa izin dan tanpa permisi langsung meminum teh sang majikan, yang bahkan belum Tea minum seteguk pun.
__ADS_1
"Oke, tarik napas, atur napas, posisikan wajah, nah sekarang katakan, apa berita yang sangat penting yang kau bawa saat ini? Hingga harus membuat mu berlari dan meminum teh khusus untuk ku?" Tea tidak jadi marah, karna Noel datang dengan tergesa - gesa dan larian begitu, pasti penting bukan?
"Itu Non, kata Sheila dan beberapa pelayan lainnya saya lebih ganteng dari Barant. Menurut Non gimana? Saya lebih ganteng kan?"
Pede gak ada obat, entah dimana Noel mendapatkan kepercayaan diri seperti ini. Tea yang melihat nya hanya bisa mengernyit heran. Ah tapi harusnya Tea tidak begitu heran kan? Karn supirnya memang begitu sih.
"Kau tuh gak lebih ganteng dari Barant, cuma lebih mending aja." Sahut Tea sekenanya.
"Lebih mending? maksudnya saya dan dia jelek gitu Non?"
"Kau serius kau berpikir kau tampan dengan usia tiga puluh dua?"
"Astaghfirullah, Non--"
"Nona Tea, ada yang mencari anda. Beliau memaksa ingin bertemu dengan anda."
Suara dari belakang Tea memotong ucapan Noel, Tea yang kenal suara gadis itu langsung berbalik. Dia tau bahwa itu adalah suara Sheila, tapi siapa tamu tak di undang yang memaksa masuk ke rumah nya, tanpa izin dari nya?
"Siapa?"
"Saya Nona Galatea, saya ingin bertemu dengan anda."
Ujar perempuan itu, perempuan yang memakai blouse biru di balut jas hitam yang sangat elegan, rok hitam selutut dengan sepatu flat nya. Wajah cantik yang tidak akan bisa di lupakan hanya dengan sekali lihat.
"Eve? Ada apa kau ke sini?" Tea mengusung senyuman manis se adanya dan ala dirinya saja. Jangan katakan itu tulus, karena senyum Tea adalah senyum formalitas.
"Saya merindukan anda, jadi saya ingin berbincang-bincang sedikit dengan anda. Apakah boleh?" Eve bersikap sopan, meski tanpa senyum namun matanya tulus mengharapkan obrolan dengan Tea.
Tea yang tau dan sadar mereasa tidak enak untuk menolak, apalagi status mereka adalah hampir keluaega? Tidak akan ada gosip baik jika Tea menolak kunjungan Eve. Bisa-bisa gelar perempuan baik hati menawan dan tidak sombong yang sudah Tea terima dari para pelayan, bisa-bisa hilang begitu saja hanya karna satu kesalahan. Tea tidak mau! Dia suka gelar itu, jadi dia tidak akan melepaskan gelar kehormatan nya.
"Tentu saja boleh!" Tea mengangguk.
"Gak boleh, Non ada urusan sama saya!" Sambung Noel seketika. Entah lah, rasanya melihat Eve mendekati Tea lebih menyebalkan daripada melihat Barant mendekati sang Non.
"Siapa kamu? Nona Tea aja mengizinkannya kok. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan." Eve masih kekeuh, dia jarang mendapatkan kesempatan begini, sekali nya mendapatkan tak kan dia lepas kan?
__ADS_1
Hal penting ya? Aku juga punya hal penting yang dari tadi aku pikirkan. Ah! Morgan! Ya, dia adalah salah satu target tersangka ku! Mungkin saja aku bisa mengorek beberapa informasi dari Eve.