Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
34. Hah, ga asik demam ah


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu sejak malam itu, dan Tea saat ini jadi lebih baik. Tea nyaris berbaring di rumah sakit karna saat kakek mendengar kabar itu, pagi-pagi sekali beliau sudah datang ke Mansion dan berisik ingin membawa Tea.


Syukurlah Tea langsung sadar, dan membujuk kakek untuk tidak terlalu berlebihan.


Tapi pada akhirnya karna Tea demam, saham Asher dipotong tiga persen total karna dia juga berdansa dengan Eve saat itu. Jadi, sisa saham Asher tinggal tujuh belas persen. Wah, meski begitu dia yang paling banyak karna Vallen cuma memiliki tujuh persen, dan Morgan sepuluh persen.


Tapi Asher tidak peduli, dia bahkan tidak memberontak. Dia malah sibuk mengawasi dokter Albert yang memeriksa  Tea tiga kali sehari, seperti jatah makan.


Dan saat ini, Tea hanya berdua dengan Noel yang duduk di sofa kamarnya. Itu semua karna titah langsung kakek meminta Noel menjaga Tea selalu disisinya.


Harusnya penjaga seperti Noel berdiri di sebelah Tea?  Namun apa yang dilakukan oleh pengawal satu ini? Dia dengan entengnya meminum kopi, memakan cemilan, dan mengunyah buah yang harusnya semua itu milik Tea, catat ya ges ya, itu semua milik Tea.


"Padahal bukan wonder woman, maksa banget pengen ngesadgirl hujan-hujanan, dibilang mending angkati jemuran juga." Apakah Noel tidak mengerti? Nonanya sedang sakit kepala, disertai hidung tersumbat.


"Kau adalah supir paling tulus Noel." Tea menatap Noel datar, Noel yang menikmati begitu banyak makanan yang orang berikan pada Tea.


"Padahal udah ada saya yang memperingatkan. Lihat kan? Kalau Non sakit? Siapa yang susah? Saya juga kan? Saya harus habiskan makanan ini demi pelayan yang udah kerja keras." Noel dengan lahapnya, tanpa rasa bersalah memakan cemilan itu.


"Wah, aku liat kau tersiksa sekali disana." Tea menatap Noel datar. Jika dia tidak sayang pada ponselnya, dia pasti akan melayangkannya ke kepala manusia itu.


"Non kenapa gak mau ke rumah sakit aja? Menghemat uang? Atau takut aroma kematian?"


"Sekali lagi ngomong, ribut kita? Kalau sekadar lempar-lemparan aku masih sanggup kok." Tea menghela napasnya, dia saat ini hanya mampu duduk bersandar dikasur. "Hey, bagaimana Viocha? Kau mengantar dan menjemputnya tepat waktu kan? Dia ada bertanya soal aku?"


"Pwas dwia nonya kha--"


Plak!

__ADS_1


Tidak ada ponsel, jam tangan pun jadi. Tea tidak tahan dia melemparkannya begitu saja pada Noel, syukurlah itu sama sekali tidak mengenai wajah Noel kita yang sempurna.


"Bisa ga sih? Nelen dulu baru ngomong?"


Noel segera meneguk air mineral dibotolnya. Dia menghela napasnya, setelah nyaris tersedak. "Gegara Non sih, gak lucu kan kalau pengawal meninggoy gegeara cemilan."


"Jadi gimana soal Viocha?"


"Aman lah, ada calon suami tampan, mapan, dan keren seperti saya yang mengayomi, menjaga, dan mengantarnya juga menjemputnya. Dan pas dia nanya soal Non, saya bilang Non sibuk. Saya memang calon adik ipar langka, dan supir yang sempurna, apalagi calon suami yang bertanggung jawab."


"Apa aku pernah bilang kalau Viocha menyimpan nomor mu dengan nama jailangkung?"


Noel menatap Tea datar. "Anda tepat menusuk hati saya di bagian inti yang paling dalam."


"Wah, sepertinya aku lupa."


"Terima kasih sudah mengatakannya, anda merenggut kepercayaan diri saya."


Tiga kali ketukan itu sukses mengalihkan perhatiannya keduanya. Noel membereskan segala makanan dimejanya, dia merapikan pakaiannya, membuka pintu itu dengan kesan pengawal yang sempurna.


"Ck...!" Tea hanya berdecak kesal.


"Lah? Nona Eve ngapain di sini? Gak ada Tuan Asher tau." Begitulah reaksi Noel saat menatap wanita yang sangat cantik, berambut lurus yang saat ini diikat satu, dengan membawa sebuah botol dan keranjang buah.


Eve menatap Noel tidak suka. Dia memang sudah tidak suka pada Noel sejak lama, karna Noel selalu menempel pada Tea.


"Aku memang gak mau ketemu Asher tuh. Aku memang mau ketemu Nona Tea, jadi minggir deh." Eve menerobos masuk, namun dihalangi oleh Noel. Botol yang Eve pegang dia tempelkan ke pipi lajang tua itu.

__ADS_1


"Aw panas!" Noel tidak salah, isi dari botol itu adalah air hangat.


"Lebay amat, ini hangat tau!"


"Iya itu maksudnya! Tadi kan reaksi aja karna kaget."


Eve memutar bola matanya jengah, dia tidak tertarik untuk bermain dengan Noel lagi. Dia masuk dan meletakkan keranjang buahnya di meja.


Noel tidak peduli dengan dua gadis itu, dia hanya melirik dan memutar keranjang buahnya, menerka dan menebak buah apa yang tidak kelihatan, dan rasa buah yang nantinya akan dia nikmati.


"Kenapa gak ada buah durian sih? Itu kan enak? Apa mereka gak tau Durian itu enak?" Gumam Noel terus memutar keranjang buahnya. Ya ampun, urat saraf anak ini benar-benar putus. Siapa yang akan bawa durian saat menjenguk orang yang sakit? Syukurlah kedua gadis disana tidak mendengarnya, kalau dengar, wah, terancam keributan lagi. Pantas saja Noel lajang tua.


"Bagaimana keadaan anda Nona? Dan kenapa anda tiba-tiba sakit?" Eve duduk disebelah Tea, dia mengukur suhu badan Tea yang sudah lebih baik.


"Yah, begitulah yang terjadi." Apa yang harus Tea katakan? Dia harus bilang dia demam karna gak kuat mantap-mantap? Oh ayolah, jangan begitu, kasihani Tea dan segala harga diri yang ia punya.


Eve menunduk sedih, itu tulus, wajahnya murung, demi apapun Tea jamin segala tingkah yang Eve perlihatkan hari ini untuknya adalah tulus.


"Padahal sudah saya bilang untuk mengakhiri saja pernikahan paksaan ini, lihat kan? Anda disakiti seperti ini, jangan katakan tidak. Saya kenal betul siapa itu Tuan Asher. Dia bahkan tidak akan berkedip saat mencekik saya, dia tidak akan ragu dalam melukai anda." Mata Eve berbinar, dia khawatir saat ini.


"Asher gak akan melakukan kekerasan, karna dia takut sama sahamnya yang bakal disita sama Kakek. Kau kan tau, aku cucu kesayangannya kakek?" Tea tidak salah kan? Dia punya amplop ajaib, item khusus yang dia punya dan Eve tidak punya.


"Bukan begitu Nona, dia itu psikopat, selama apapun anda bertahan dengannya, dia tidak akan berubah, yang ada hanyalah obsesi semata. Dia ingin memiliki apa yang orang-orang incar, dan orang lain inginkan. Dia hanya memandang seseorang karna dia sempurna, lalu ingin menjadikannya sebagai miliknya, memonopolinya sendiri, seolah orang itu adalah koleksi pribadi miliknya yang akan membuat orang lain iri padanya."


Jelas sekali kan? Saat ini Eve sedang menjelaskan soal dirinya?


Tea diam, dia menatap mata Eve lekat-lekat, seolah masuk kedalam diri gadis itu, mencoba mengerti keadaannya dan perasaannya saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kau lebih memilih Morgan daripada Asher? Bukankah lebih baik jika kau bersama Asher?"


"Mereka berdua sama-sama menjijikan. Tidak ada yang baik diantara mereka, membandingkan dua hal buruk tidak akan menjadikan salah satunya baik, Nona."


__ADS_2