
Tanpa Tea sadari sudah ada Asher di hadapannya. Menghadang jalannya saat ini. Ehm? Melihat Asher menjawab gumam-an Tea, tampak nya dia mendengar segala keluh kesah istrinya kan?
"Ash? Kau mencoba menghibur ku?"
"Bukan menghibur mu, tapi ini lah yang sebenarnya. Itulah bakat, dan kau bukan perempuan biasa saja. Kau sangat istimewa. Apa menurut mu aku akan mencintai perempuan yang biasa aja? Hmm? Kau sangat menarik kau tau?"
"Apa mendapatkan cinta adalah bakat? Kau sedang menghina ku di balik pujian kan?" Tea menatap Asher datar, oh Ayolah Tea kita yang manis sedang marah sekarang. Tea yang selalu berpikir positif, kini memiliki sindrom negatif thingking?
"Kenapa kau semarah ini? Apa yang supir lama mu itu katakan? Haruskah aku kembali memecatnya dan mencari supir baru untuk mu? Aku bisa aku bisa melakukannya." Tentu saja Asher bisa, dia bahkan sangat senang jika istrinya mau dengan senang hati melepas sopir menjengkelkan itu.
"Jangan! Jangan pecat Noel lagi, atau aku akan marah! Sudahlah, aku lelah mau tidur." Tea menepikan Asher, dia ingin ke ruangan tidur favoritenya jika berada di kantor Asher.
Oh astaga, nikmat sekali memang kalau berbaring di sana saat ini, menenangkan pikiran yang sempat kalut memikirkan kehidupan.
"Gigih sekali kau membelanya di depan ku? Kapan kau akan membela ku se gigih inu di depan orang lain?"
Tadi, tadi aku baru saja membela mu dan menghina Noel habis-habisan, puas kau? Lebih baik simpan dalam hati aja, kalau dia tau, ke depannya dia pasti lebih sering meledek ku.
Wah, seperti yang Tea katakan, Asher benar-benar sudah di bela loh oleh sang istri. Aduh sayang sekali yang di bela tidak menyaksikannya.
"Apa? Kenapa kau menatap ku begitu? Bercermin melalui pantulan mata ku? Aku tau mata ku bagus dan mata ku juga indah. Tapi bukan berarti melihat pantulan diri mu di mata ku, akan merubah wajah jelek putri rata ini, menjadi putri yang cantik."
Hobi baru Asher kayaknya. Kenapa semua orang suka sekali mengganggu Tea saat ini, padahal dulu yang paling sering mengganggu dia, dia adalah oknum perusuh paling pro, tapi Tea sekarang malah menjadi korban kerusuhan orang lain? Ah, ini kah yang dinamakan karma.
"Terkadang aku heran, apakah kau benar-benar mencintai ku? Saat aku memikirkan nya dan mengkaji nya, semakin aku yakin ada yang aneh di sini. Suami mana yang memperlakukan istri nya begini padahal dia sangat mencintai nya. Ash, apa kau benar-benar mencintai ku? Aku jadi ragu sekarang."
"Pfttt, kau lucu sekali, kenapa kau bisa sangat menggemaskan begini?"
Bukannya marah, kesal, atau bingung, Asher malah tersenyum. Harusnya Asher yang bingung, tapi malah Tea yang sekarang bingung.
"Ash? Kau?"
__ADS_1
"Lupakan, ayo tidur. Kau ingin tidur kan?"
"Tunggu, bukan nya pekerjaan mu banyak ya? Ngapain tidur bareng aku? Demi mempersempit gerak diri ini?"
Tea sudah tidak habis pikir. Dia baru sakit kepala karna sopirnya, kini suami gilanya mulai beraksi.
"Benar kok, kerjaan ku banyak dan kau akan tidur di pangkuan ku."
Asher segera mengangkat Tea, dia membawanya ke bangku kehormatan.
Perdebatan dan pemberontakan Tea keluarkan sebagai aksi perlindungan diri, tapi harus gagal karna kali ini Asher berhasil menahan Tea dan pergerakannnya.
-
-
-
Tea sudah bebaring di kamarnya sendirian, tidak ada Asher untuk menghangatkan malam yang dingin ini. Ya, Asher masih sibuk cari nafkah soalnya. Bukan hanya itu, kali ini Tea merasa aneh.
Tea diam sebentar, dia masih mencoba memastikan ingatannya lagi, ada yang salah atau tidak.
"Iya! Gak salah kok. Aku yakin, Noel beneran bilang gitu. Besok aku bakal tanyain lebih pastinya. Dan, masih ada satu teka-teki yang gak aku mengerti. Apa tujuan Elise buat mendekati Noel? Merebut harta Noel? Noel seorang supir."
Wah Tea, dia tidak tau berapa gaji seseorang yang dia panggil supir itu.
"Dan apa hubungannya memanfaatkan Noel dan akan menjadi nyonya Anumertha dan menguasai Anumertha. Terus hubungan nya sama Noel apaan? Noel anak haram Anumertha gitu? Astaghfirullah!"
Tea mengusap wajahnya, menepis pikiran buruk yang ada di kepalanya. Aneh sekali kalau sampai itu terjadi kan? Anumertha dan Noel?
"Ini bahkan tidak lucu kalau menjadi sebuah plot twist, bukan! Noel tidak mungkin anak haram dari keluarga Anumertha."
__ADS_1
-
-
-
Setelah menggundah gulana kan hati sendiri melalui pikiran tak berdasar. Akhirnya Tea bangun juga, dia saat ini bangun di bawah bimbingan lengan kekar sang suami. Entah kapan Asher pulang, yang jelas dia sudah di sini sekarang.
"Bangun, lepasin aku, aku sibuk, kepala ku masih punya banyak tugas untuk di pikirkan oke?" Tea mendorong lengan Asher sekuat tenaga, tapi sayang hasilnya nihil. Tidak ada yang berubah.
"Tidak selamanya usaha akan membuah kan hasil, seperti nya kali ini sia-sia." Tea ingin menyerah sekarang juga, namun dia punya banyak aktivitas untuk di selidiki.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal pikiran. Aku kemarin malam juga memikirkan sssuatu." Celetuk Asher yang tiba-tiba sudah membuka mata.
"Apa yang kau pikirkan? Telur apa ayam lebih dulu?"
"Tidak, bagusnya mana dulu, bagian atas apa bawah? Hmm, coba sekaligus bisa tidak ya?" Asher menatap istrinya dengan penuh hasrat, dia seperti serigala kelaparan yang siap menyantap tupai di depannya.
"Kau tau matahari sudah naik? Pagi yang cerah telah tiba? Dan kau harus ingat, kau juga harus bekerja. Ash, jangan jadi pengangguran yang tidak disiplin. Melakukan nya pagi-pagi, itu tidak lucu. Pagi-pagi tuh, harusnya lari dan olahraga."
"Ya udah bener dong, ini kan olahraga. Olahraga pagi, lagi pula aku sudah mengimajinasikan banyak gerakan baru, tenang, kita tidak akan bosan." Asher mengusap bibir bawahnya, matanya tajam dan lekat menatap retina sang istri.
Seolah terhipnotis Tea pun menurut saja. Dia diam saat sang suami dengan perlahan melepas kancing piamanya satu per satu. Asher tidak melepas tatapannya dari sang istri.
Tidak! Tidak ada di jadwal Tea hari ini, bahwa pagi-pagi dia akan melakukan ini dan itu dengan Asher.
*Cup
Asher mengecup pelipis Tea, satu tangannya mengusap telinga sang istri. Tea tanpa bisa dikendalikan lagi juga menyambut baik niat sang suami, dia mengalunkan tangannya.
Asher menatap Tea penuh cinta dan nafsu, keduanya bukan lagi hal yang bertolak belakang sekarang.
__ADS_1
Gerakan intim terus terjadi pagi itu, seperti biasa Asher yang selalu memimpin, dan menuntun Tea. Tea bisa mengikuti, dia terkadang juga ingin melakukan gerakan baru, tapi otak nya buntu untuk berimajinasi dalam hal itu.
Pagi itu adalah pagi yang tidak di rencanakan untuk membuat bayi. Namun, apakah bayi itu akan benar-benar hadir suatu hari nanti? Atau itu hanya mimpi?