Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
52. Duh


__ADS_3

"Ayo Non pulang." Noel sudah ingin mengarahkan Tea ke mobil yang mereka gunakan tadi. Tentu saja mereka harus pulang, karna Asher sudah menarik Tea dengan keren tadi. Kalau sampai dia masuk lagi, harga dirinya pasti sudah tersakiti.


"Dia akan ikut dengan ku." Asher menarik Tea untuk mengikutinya.


"Oke, kalau gitu Non naik mobil sama saya, nanti saya ikutin dari belakang."


"Kenapa istri ku harus pisah mobil dengan ku?"


"Karna kan tadi Non ke sini sama saya, pulangnya juga sama saya. Apalagi Tuan besar bilang, saya sekarang bukan cuma supir melainkan pengawal pribadi Non Tea. Jadi saya harus ada dimanapun Non Tea berada."


"Ada aku di sisinya, enyahlah sana."


"Tidak bis--"


"Meskipun kau dipekerjakan oleh kakek tua itu. Kekuasaan yang kumiliki masih bisa memecat mu."


Noel terdiam, dia tau benar seberapa hebat Tuan Muda Asher itu, dan seberapa besar pengaruhnya untuk Anumertha Grub, dia tidak bisa main-main dengan bos junior disana. Apalagi dia tau, bahwa Asher terkenal tidak main-main dengan perkataannya.


"Ayo masuk Tea, dan kau ikuti saja dari belakang dengan mobil berbeda." Asher membuka kan pintu untuk Tea. Dan jujur sana Noel kesal, itu adalah tugas yang biasanya mengundang perdebatan singkat mereka.


"Ikuti dari belakang, dengan mobil yang ber-be-da, ber-be-da." Tegas Barant yang sudah senang saat ini. Jangan tanyakan sebesar apa kebahagiaannya melihat Noel menderita dan menjauh dari Tea. Dia merasa senang, seolah gangguan hidup hilang.


"Ternyata benar, kebahagiaan seseorang bisa saja hadir akibat kesedihan orang lainnya." Noel sudah memutar otak, entah bagaimana caranya dia harus ikut dengan Tea dan satu mobil bersama, bahkan jika dia harus berada di bagasi sekalipun.


"Tunggu dulu! Kenapa aku harus pisah mobil sama Noel?! Dia kan bisa satu mobil dengan kita?! Kau kan punya banyak bawahan, suruh saja salah satunya mengambil mobil yang aku dan Noel gunakan. Noel akan ikut dengan ku, bersama ku, di satu mobil yang sama." Tea sudah angkat bicara,  siapa yang mau memotongnya? Tentu saja Tea harus menjawab kesetiaan bawahannya. Kan selama ini hanya Noel yang ada di sisinya, Tea tidak boleh mencampakkan Noel begitu saja.


"Kau maunya begitu?" Asher melirik ke arah Noel yang sudah kegirangan.


"Iya, dia kan pengawal ku."


Asher tampak berpikir sebentar. "Baiklah, dia akan ikut dan satu mobil, jika kau menginginkannya."


"Apa kau salah makan? Kenapa hari ini baik sekali?"


"Masuk."


"Non Tea emang yang terbaik, hey asisten, kau dengar itu? Bukan hanya dibela oleh Non Tea, aku juga akan satu mo-bil, di mobil yang sa-ma." Keberuntungan memang selalu memihak supir tengil ini, dia tidak akan melewatkan kesempatan membuat Barant kesal.


"Bagaimana bisa kau begitu di sukai Nona Tea?!" Kebahagiaan yang sempat menyapa Barant, sudah hilang dan melambai pergi. Kasihan sekali memang nasib asisten Asher ini.


-


-

__ADS_1


Pada akhirnya mereka hanya kembali ke kantor Asher. Noel ingin berkomentar, mulutnya sudah gatal ingin mengatakan sesuatu, namun dia menahannya, dia nyaris berpisah dari Tea tadi.


Sejak turun dari mobil, Asher terus memeluk Tea, tanpa melepaskannya sedetik pun.


"Kenapa aku harus ikut ke kantor mu? Aku gak ada urusan tau." Protes Tea. Soalnya kantor Asher itu tidak seru, tidak ada yang menghibur disana, lebih baik dia nontom drakor di rumah.


Asher melirik Tea sebentar, "Kau punya urusan."


Deg!


Berbeda dengan saat pertama kali datang, atau kedua kali, para staff kantor banyak yang tidak mempeehatikannya, tapi saat ini mata mereka semua sudah terarah pada Tea.


Tea tidak tau apa yang mereka pikirkan, apapun itu jauhkan pandangan kalian dari Tea. Tea tidak suka dipandang begitu.


"Tuan Asher!" Satu gadis cantik ber-style fashionable menghampiri Asher.


Loh? Elise?


Tentu saja Tea kenal, artis cantik papan atas yang akhir-akhir ini namanya sedang melambung tinggi. Bukan hanya kemampuan aktingnya yang bagus, tapi wajahnya juga sangat mendukung dalam kesuksesannya. Wajah yang terkenal dengan sebutan wanita yang tidak akan bisa dilupakan jika sudah melihat wajahnya walau hanya sekali, dia adalah Elise, artis yang berada di depan Tea saat ini.


Buat apa artis cantik, tinggi, sempurna ada disini?


"Kau? Kenapa disini?" Asher jujur tidak mengenal perempuan ini.


"Oh begitu? Tunda rapatnya sampai dua jam lagi, aku ada urusan lebih penting, ayo pergi." Asher tidak peduli pada apapun lagi, dia menarik  Tea dan melanjutkan jalannya.


Noel menepuk bahu Elise yang masih diam mematung. "Mba, dari sini kita tau, kalau yang cantik, bukan pengecualian buat dighosting." Setelah dengan santainya meninggalkan kata-kata itu untuk perempuan yang tidak dikenalnya, dia melenggang pergi dengan santainya.


-


-


Barant sudah membuka pintu ruangan kerja Asher, dan bahkan sampai sekarang Asher tidak melepaskan pelukannya sedetik pun.


"Hey Asher, bagaimana bisa kau biasa aja di depan wanita secantik Elise. Itu Elise loh! Artis terkenal dengan bakatnya! Dan di--"


"Cantik apanya, dia seperti papan."


"Papan? Seorang Elise seperti papan? Kalau dia papan aku apa? Getah kayu?!"


Asher menghentikan langkahnya, dia melepas rangkulannya. "Kau? Tentu saja putri rata ku."


Tea tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Sudahlah, duduk disana dan tunggu aku selesai. Kita akan makan malam di luar hari ini." Asher kembali duduk di kursi kehormatannya, dan Tea juga tidak ingin melanjutkan perdebatan tidak penting itu.


Dia memilih diam dan duduk di sofa karna dia sudah lelah.


"Non, saya bosen, kan di bawah tadi ada artis, biasanya artis punya scandal, dan Non kan tadi udah jadi pusat perhatian. Ke bawah yuk, cari keributan." Bisik Noel yang agak membungkuk di sebelah Tea.


"Gak mau masuk Tivi, dan gak mau Viral."


"Menjauh darinya!" Tentu saja pekikan itu Asher berikan untuk Noel yang bisik-bisik menyebalkan dengan istrinya.


"Saya hanya bi--"


"10 meter." Tukas Asher lagi.


"Tapi saya pengawal No-"


"20 meter."


"Jauh banget, gak sekalian aja ke luar ruangan?" Wah, Noel sepertinya sudah sangat kesal hingga dia mengutarakan isi hatinya.


"Bagus, Barant, seret dia keluar."


"Baik~" Akhirnya Barant bisa kembali tersenyum.


"Tenang Non! Keluarnya saya gak akan sia-sia! Pasti bakal bawa gosip hebat!"


-


-


Suasana akhirnya hening setelah Barant sukses mengusir Noel. Tea berpikir begitu sampai akhirnya ketukan itu datang.


"Biar aku yang bukain, aku bosan duduk."


Barant tidak jadi membuka pintunya karena Tea sudah membukanya lebih dulu.


"Loh? Kamu kayaknya masih anak sekolahan? Buat apa kesini? Kamu model ya?" Tentu saja Tea bertanya begitu, soalnya gadis mungil dengan wajah yang sangat cantik sudah berdiri di hadapannya.


"Bukan, di sini saya mau minta duit. Dokter itu bilang, sisa pembayarannya minta ke presdir ini." Sahut gadis itu dengan wajah yang super tidak ramah.


"Pembayaran apa?" Tea sedikit penasaran.


"Keperawanan saya."

__ADS_1


__ADS_2