
Dia masih marah pada ku? Entahlah, aku juga tidak tau, kami sudah tidak berbicara lebih dari satu hari.
Aku masih menunggunya di kamar. Kenapa sebenarnya dia dan supir sialan itu pergi? Supir ini benar-benar mengganggu, sepertinya aku harus mencari cela serius untuk mengusirnya.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian ku, disana ada putri rata yang baru datang dengan keadaan yang basah kuyup.
Ck! Ini hujan pertama di musim ini? Kenapa dia malah seperti itu? Apa dia tidak takut sakit?
"Putri rata ...,"
"Jangan bicara dengan ku karna aku tidak ingin bicara dengan mu!"
Dia pergi begitu saja ke kamar mandi, meninggalkan ku sendiri.
Sudah ku duga, dia marah, tapi apa masalahnya? Kenapa dia marah padaku adalah hal yang tidak bisa ku mengerti.
Aku terus berpikir, bagaimana cara berdamai dengannya. Tapi pada akhirnya aku tidak menemukan cara apapun. Akan lebih baik jika aku tau, apa yang dia inginkan.
Aku masuk ke dalam kamar mandi. Sial! Apa dia sebelumnya memang secantik itu? Dia yang berendam di bathup? Kulit bahunya yang terlihat berkilau, aku ingin menggigitnya sekarang juga.
Busa-busa sialan kenapa harus ada?! Sejak saat itu, aku membenci busa. Mungkin saja aku bisa melihat dadanya yang rata tanpa busa yang banyak itu.
Sial, apa yang kupikirkan?
"Kenapa kau masuk ke sini?!"
Pertengkaran kecil akhirnya terjadi, dia marah-marah dan lagi mengungkapkan masalah pesta dan dansa.
"Maaf!"
Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, seumur hidup ku, aku yang tidak peduli sekejam atau sefatal apa kesalahan ku pada orang lain, aku tidak pernah meminta maaf. Dan tidak tertarik untuk mengatakam itu bahkan jika aku bersalah. Tapi, hari ini, saat ini, aku meminta maaf, tanpa tau kesalahan ku. Aku minta maaf, hanya agar dia berhenti marah padaku.
Dia adalah manusia pertama yang mendengar kata maaf dari mulut ku. Aku pastikan ini akan jadi yang pertama dan terakhir kalinya aku meminta maaf.
Setidaknya, tidak sia-sia aku menurunkan ego dan meminta maaf padanya, dia memaafkan ku. Dia lucu, aku bahkan tidak bisa menemukan sisi elegannya, tapi anehnya dia menarik dengan caranya sendiri.
Aku menyentuh busa yang sudah menempel diwajah ku, berkat putri rata.
Sepertinya tidak buruk kalau mandi bersama?
Aku memaksa masuk ke dalam, untuk berendam berdua saja dengannya, namun dia menolaknya, hingga akhirnya kedua bibir kami tidak sengaja bersentuhan. Ini lembut, sangat lembut.
Aku tidak akan membiarkannya begitu saja, aku memaksanya untuk menerima ciuman dari ku. Sepertinya dia masih pemula, dia bahkan tidak bisa mencari celah untuk mengambil napas, hingga aku sendiri yang harus melepasnya dan memberinya jeda waktu bernapas.
__ADS_1
"Manis ...," gumamnya, sembari memegangi bibirnya.
Aku tau itu ciuman dan pengalaman pertamanya, tapi kenapa dia harus se-imut itu? Apakah dia tidak tau hal yang dilakukannya saat ini terlihat menggemaskan?
Aku ingin segera menempelkan lagi bibir itu.
"Hey putri rata? Kau bilang, kau ingin punya anak kan? Ayo kita lakukan."
Sejujurnya sejak awal menikah, aku tidak tertarik memiliki anak. Atau bahkan sejak dulu aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang ayah. Memiliki anak adalah sesuatu yang tidak aku pedulikan. Tapi, berkat alasan ini mungkin akhirnya aku bisa menyentuhnya? Ini cukup menarik.
"Balik badan! Aku mau pakai handuk!"
Aku memang bik badan. Tidak ku sangka dia percaya begitu saja, tentu saja aku mencuri pandangan melihatnya, tanpa dia sadari. Fokus ku hanya pada dadanya, itu tidak sekecil yang aku duga.
"Ayo...,"
Hey putri rata! Berhentilah bertingkah imut dan menggemaskan! Bisa-bisa aku melahapmu hanya dalam sekali gigitan.
Bibirnya sangat manis, aku jadi ingin terus melahapnya, bahkan saat aku menggendongnya. Aku meletakkannya di atas ranjang, dan membuka handuknya.
Pfttt, dia langsung menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Itu lucu sekali, dia terlihat seperti marmut yang galak.
Aku tidak tau, bahwa berhubungan badan akan senikmat ini. Aku bahkan tidak pernah membayangkannya.
Semoga tidak ada anak di sekali percobaan.
Ada angin dingin yang berdesir dihati ku, ini perasaan tidak mengenakkan, itu tidak nyaman. Dia yang pingsan di depan mata ku, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Sial! Apa aku berlebihan?
"Putri rata, bangunlah, kita akan hentikan ini jika kau tak suka."
Melihatnya yang terbaring menutup mata, membuat kepala ku penuh dan ingin marah.
Aku memanggil Albert untuk datang. Jika dia lama, aku pastikan menutup rumah sakitnya apapun yang terjadi.
Aku turun ke bawah, memanggil semua pelayan yang masih tersisa di Mansion.
"Kalian! Siapa yang pernah merawat orang sakit?! Jika kalian salah rawat, aku pastikan kalian jadi pengangguran seumur hidup."
Apa mereka semua bodoh! Mereka hanya diam dan menunduk, bukan saatnya kalian takut! Kalian harus takut kalau terjadi sesuatu pada putri rata! Itu tidak asik, pasti tidak akan seru kalau dia sakit.
"Ayo Tuan muda!"
__ADS_1
Dia adalah pelayan ku yang Albert taksir, aku tidak tau namanya dan tidak tertarik untuk tau. Tapi dia sudah siao dengan handuk kecil di bahunya dan air di dalam wadah.
"Kalian tolong buatkan bubur atau sup buat Nona Galatea."
Dia kembali memerintahkan yang lainnya, aku tidak peduli, asal putri rata bisa kembali sehat dan berbicara, lakukan apa saja.
"Kalau kau gagal, kau dipecat."
"Baik~"
Aku tau kenapa dia begitu percaya diri akan tetap mendapat pekerjaan meskipun aku bilang begitu, karna pelayan itu adalah mata-mata kakek tua yang diletakkam di Mansion ini. Kakek tua itu pikir aku bodoh seperti cucunya yang lain.
-
-
-
Pelayan itu mengompres kening Putri rata.
Oh, begitu caranya?
"Menyingkir, aku yang akan lakukan."
Dia harus sehat agar aku tidak bosan, dia sudah cukup menarik untuk dilihat, tidak asik kalau dia sakit.
Aku tidak pernah merawat seseorang sebelumnya, ya aku melakukan ini agar dia sembuh dan aku tidak bosan. Yah, semuanya demi aku tidak bosan, hanya itu.
Ck! Kenapa wajahnya pucat sekali sih? Aku benci melihatnya terbaring lemah.
"Tunggu! Apa kau benar-benar Tuan Muda Asher Vinchete Anumertha? Kau yang seperti itu merawat seseorang?"
Albert datang, bukannya langsung memeriksa putri rata dia malah mengoceh dulu, ingin sekali ku hantam kepalanya.
"Jika dia tidak membaik sampai besok pagi, rumah sakit mu aku tutup."
Dia langsung memeriksa putri rata.
"Tidak bisa dipercaya, kau bahkan hanya mengatakan oh saat Eve pingsan."
"Oh? Dia pernah pingsan ya?"
Aku benar-benar tidak ingat Eve pernah pingsan di hadapan ku.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyangka akan tiba hari dimana kau mengkhawatirkan seseorang, merawat dan menjaganya seperti ini."
Aku? Mengkhawatirkan seseorang? Apa perasaan takut, sesak, dan tidak nyaman yang menyebalkan ini adalah rasa khawatir?