Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
25. Tetesan pertama!


__ADS_3

...***...


"Apaan tuan Asher yang dingin, tanpa air mata dan darah. Kau itu sangat menyebalkan, bisa-bisanya kau menyuruh ku melakukan ini. Aku Galatea Floyena, putri rumah kaca."


Sudah banyak hari berlalu, dan entah bagaimana Tea tidak begitu takut pada Asher yang bahkan nyaris membunuh keka-ah maksudnya mantan kekasih.


Dan hari ini, Tea putri rata kita semua dipaksa mencukur janggut tipis-tipis milik Asher. Hari ini, bertepatan hari minggu, Asher tidak masuk kerja dan Tea ya begitulah, mengerjakan hal seperti ini.


"Duduk diam, dan urus itu dengan baik."


"Hey Asher, ayolah pindah tempat, ini sulit kau tau? Salah-salah aku malah mencukur alis mu." Protes Tea serius. Bagaimana tidak? Tea yang saat ini duduk dipangkuan Asher yang sedang bekerja dimeja kesayangannya, yang berada di kamar mereka, ia harus menahan sabar karna ulah suaminya. Apa Asher tidak pernah berpikir bahwa mencukur di posisi itu sulit? Tea harus bekerja keras dan ekstra hati-hati.


"Entahlah, aku rasa aku yang tanpa alis masih tampan."


"Bukan itu maksud ku, kau tidak takut pada tuyul?"


Asher menghentikan kegiatan tangannya, dia menatap Tea serius. "Mulai sekarang, bicaralah hal yang masuk di akal. Dan aku yang merasa takut itu mustahil."


"Bukan itu! Apa kau tidak iba pada tuyul saat melihatnya ketakutan melihat mu?" Kata-kata Tea absurd banget, tapi yang lebih mengherankan, bisa-bisanya perempuan cantik ini mengatakan itu dengan ekspresi serius.


"Aww! Kenapa kau itu suka sekali menggigit!" Tea memegangi telinganya yang baru saja dilahap oleh suami yang memangkunya. Itu sakit Asher, apa dia tidak tau?


"Diamlah, dan lanjutkan itu."


Asher kembali membolak-balikkan dokumennya, dan Tea juga kembali mencukur pelan dan lembut. Sesekali Tea meniup dagu Asher, guna menerbangkan bulu-bulu yang sudah terpotong.


"Oh ya, kau tidak menghilangkan kartu premium yang kuberikan pada mu kan?"


"Tidak, ada di tas tuh. Mau kau ambil kembali?"

__ADS_1


"Minggu depan, tepat saat 'orang tua' itu kembali. Akan diadakan pesta besar Anumertha Grub, dimana bawahan, staff, dan kolega-kolega semua akan di undang. Pesta ini terjadi setahun sekali."


"Aku gak mau datang! Pokoknya enggak! Nanti ujung-ujungnya aku disana dipermalukan lagi! Kau akan pergi dengan mantan mu, dan aku sendiri lagi! Harga diri ku terluka tau! Mending tiduran dikamar." Tea jujur, meski ada Kakek nantinya tetap saja, perasaan terluka itu masih terasa dan terus menjadi kenangan yang melukai rasa.


"Kau peka sekali, tau apa yang akan ku perbuat disana. Setiap tahunnya saat pesta aku memang selalu berdansa dengan Eve, bahkan saat dia sudah menjadi tunangan Morgan. Dan tahun ini juga sepertinya akan sama."


"Nah kan! Ya sudah jangan ajak aku! Aku juga gak ada niat untuk datang!"


Tea tidak tau kenapa, tapi yang jelas dia rasa, ada sebuah sudut dihatinya yang berdenyut perih, meringis pilu, dadanya sesak. Namun tidak apa-apa Tea! Semangat!


"Sayangnya aku gak minta persetujuan mu tuh, ini perintah, datanglah."


"Gak mau!" Sahut Tea lantang,


"William Zayn Floyena, satu-satunya putra keluarga Floyena, adik kesayangan mu, dan dia juga sakit, saat ini sudah di rawat di rumah sakit Amerika, dan biaya di tanggung oleh Kakek. Bahkan perusahaan Ayah mu, juga di tanggung oleh Kakek. Tapi karna Kakek saat ini sedang pergi, aku rasa aku bisa mencabut semua itu." Asher menatap Tea datar, tidak terpancar rasa kemanusiaan disana. Jelas sekali bahwa Asher tidak main-main dengan perkataannya. Dia serius sekarang.


"Pergilah, ke salah satu butik Anumertha, minta supir mu itu yang mengantar. Jika dia memang bawahan orang tua itu, dia pasti tau butik Anumertha mana yang ku maksud." Asher mendorong tubuh Tea untuk berdiri. Tea masih diam, dia hanya menatap Asher datar.


"Pergilah,"


Tea tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya melangkah keluar kamar dengan jiwanya yang lesu. Dia tau apa yang akan terjadi di pesta itu nanti, sudah jelas, harga dirinya akan dilucuti habis-habisan, dia akan menjadi gunjingan di setiap perkumpulan di sudut-sudut ruangan. Bisikan dan rumor soal dirinya pastinya akan meramaikan aula pesta. Belum lagi fakta bahwa mereka hanya suami istri berdasarkan kertas dan tinta, tidak ada pesta, tidak ada perayaan. Dan tidak ada Asher untuk membelanya. Apakah masih mungkin untuk Tea baik-baik saja disana? Apa Tea masih bisa semangat datang kesana? Setelah segala prediksi mengerikan yang ada dikepalanya?


Sepertinya staff kantor bukan beromong kosong kalau dia pria tanpa air mata dan darah.


Tes!


Tea meneteskan satu bulir hangat itu, ini adalah tetes air mata pertama yang ia tuangkan atas keributannya dengan Asher. Biasanya Tea tidak perduli apapun yang Asher katakan, tapi sepertinya hari ini hatinya berdesir perih. Seperti ada sengatan listrik yang membakar sebagian hatinya.


Dia langsung mengusapnya, berjalan turun dari tangga menuju dapur. Biasanya jam segini Noel sedang merayu Sheila untuk membuatkannya beragam makanan.

__ADS_1


Ya sudahlah, nanti aku akan berdiri di sebelah Kakek. Aku masih punya Kakek, semoga saja Kakek benar-benar akan datang. Yah, meskipun ada Kakek gak ada jaminan bahwa harga diriku aman di pesta kelas atas berskala besar itu.


Tea sudah sampai dapur, tebakannya benar, Noel, Sehila dan beberapa pelayan lainnya sedang bergosip ria.


"Hey Noel, ayo antarkan aku ke butik Anumertha." Tea sedang tidak bersemangat basa-basi. Jadi dia langsung ke intinya saja. Padahal jika itu Tea yang biasanya, pasti dia sudah mengganggu Noel dengan segala perkataan absurdnya.


"Ntar dulu lah, nanggung gosipnya. Penting Non, Non tau? Wariem pembantu tetangga sebelah, hamil Non! Padahal belum nikah!" Astaga! Noel punya banyak sekali bakat. Terutama bakat beradaptasi dengan para wanita jenis apapun itu.


"Selesaikan itu cepat, aku akan menunggu mu diparkiran." Tea tidak peduli, dia hanya berbalik dan langsung berjalan pergi. Padahal Tea yang biasanya, pasti akan langsung mengacaukan waktu panas mereka dengan menyeret Noel secara paksa.


Noel menatap Tea aneh. Mana mungkin Noel tidak sadar bahwa ada yang aneh pada Nonanya.


"Saya jalan duluan ya, kayaknya Non buru-buru."


Noel langsung mengambil langkah panjang mengikuti Tea dari belakang.


-


-


Wah, sepertinya Tea sudah ketiban sial berturut-turut. Baru saja dibahas dan orangnya sudah muncul di depan mata. Tea yang ingin keluar dari pintu saat ini sudah dihadapkan dengan Eve yang ingin masuk.


Sejak tragedi Mansion Morgan minggu lalu, Tea tidak lagi melihat Eve. Dan dia tidak ingin terlalu ikut campur urusan Eve dan Morgan, tapi apa sekarang?


"Kau ingin bertemu dengan Asher?" Tea penasaran, dia langsung bertanya.


"Ya, Tuan muda Asher memanggil ku. Apa dia ada di dalam?" Sahut Eve dengan wajah datarnya. Setelah kepergok di Mansion hari itu, Eve tak lagi menyembunyikan ekspresi wajahnya dari Tea.


"Ya dia ada, di..., kamar."

__ADS_1


__ADS_2