Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
42. Kok gini?


__ADS_3

Tea menghela napasnya. Memang, walau Will masih kecil, dia benar-benar seorang pahlawan dimata Tea.


"Kak Vio datang." Will tersenyum bahagia, sangat bahagia. Dan Tea menyedarinya, Tea juga bahagia sangking bahagianya dia tidak sadar, bahwa panggilan 'Vio' yang Will lontarkan, sukses menggetarkan tubuh Viocha. Panggilan itu mengingatkan sang gadis atas kejadian menyedihkan yang menimpa ia dan harga dirinya.


Viocha langsung mendorong Will dengan kasar, hingga sang adik mundur beberapa langkah.


"Viocha!!!" Dorongan itu mengundang amarah Joselyn, tentu saja, mana dia bisa melihat putra kesayangannya disakiti.


"Mama! Jangan bentak Kak Viocha!" Will juga meninggikan suaranya. Joselyn langsung diam seketika. Ya ampun, dia hanya menuruti kata-kata Will ya?


"Cha? Kamu gak apa-apa, mau pulang aja istirahat?" Tea memegangi kening sang adik. Tea bahkan tidak sadar kenapa Viocha bergetar.


"Gak apa-apa Kak, Icha oke kok." Tentu saja, Viocha sudah dewasa, dia merasa harus menyembunyikan sifat aslinya.


"Kak..., Makan bareng Will ya? Kak Icha Kak Tea?" Will sungguh-sungguh meminta dengan segenap hatinya. Tidak perduli betapa bencinya Viocha pada dirinya, Will akan selalu menyayanginya. Tidak peduli berapa kali Icha akan mendorongnya, Will tetap akan mendekatinya. Karna bagi Will, Tea dan Icha adalah keluarganya yang berharga.


Tea tersenyum, "Ayo." dan Viocha hanya diam dan mengangguki saja.


-


-


-


Siang itu mereka makan siang bersama, semuanya menyenangkan menurut Will. Dan yah, hanya mereka berlima disana, tanpa adanya Noel. Tentu Noel yang berstatus supir ataupun pengawal itu, hanya berjaga di luar saja.


Semuanya damai, kecuali Viocha dan kakinya saat ini. Soalnya Bambang sudah mulai menyentuh kaki Viocha.


"Vio sayang, bagaimana kabar mu? Kenapa kau keluar dari rumah?" Bambang terus menggesek kakinya, Viocha berusaha mati-matian untuk menahannnya dibawah sana.


"Jangan berakting, itu menjijikan, kami semua sudah tau tabiat buruk mu." Tea menyahuti dengan jelas dan kesal. Tea, ayolah peka akan keadaan adik mu dibawah sana. Kaki mulusnya sudah diganggu oleh pria kurang ajar disana.


"Jauhkan kaki mu ...," William yang kini sudah berusia empat belas tahun juga mampu mengeluarkan suara menyeramkan penuh ancaman. Rupanya bocah tengil itu peka akan penderitaan kakaknya dibawah sana.

__ADS_1


"Apa ibu mu tidak mengajari mu sopan santun? Kau harus tau biaya yang ku keluarkan untuk mu, bukan sedikit." Bambang menatap anak tirinya dengan benci.


"Kalian harusnya bersyukur aku menikahi janda ini, dan kalian akhirnya mempunyai ayah tiri. Bukan hanya Viocha harusnya aku meniduri keduanya." Bambang menatap penuh nafsu kepada Tea. Dia bahkan menaikkan kakinya hingga lutut Viocha.


Prang!!!


William sudah melemparkan piringnya tepat di wajah Bambang, hingga membuat kening pria itu luka, dan wajahnya dipenuhi darah. "Tidak apa-apa, kalau begitu aku bisa membuat ibu ku menjadi janda lagi."


Brakhh!!


William menendang kursinya kasar, dia berjalan ke arah pria itu. William masih ingin menghajar sang ayah tiri, namun terhalangi oleh bodyguardnya. Tea juga ingin ikut membantu, namun tangannya sudah dikunci.


Bukhhh!


William meronta, akibatnya dia mendapat pukulan keras dikepalanya.


"Will!!" Tea menjerit, meronta pedih. Padahal adiknya baru saja membaik, tapi dia harus menerima pukulan keras dikepalanya. "Lepasin dia brengsek!!!"


"Kurang ajar! Jose! Bagaimana kau mendidik anak-anak mu, menjadi kurang ajar begini!"


"Apa yang kau katakan?! Dia itu putri mu!" Tea masih mencoba menolak bahwa dia beda ibu dengan Viocha. Perkataan Jose itu bahkan sangat jahat, bukan hanya hati, itu bisa saja merusak mental.


"Dia putri ayah mu dan wanita rendahan itu! Aku tidak sudi menjadi ibunya! Padahal ibu kandungnya menjual diri dengan harga rendah, putrinya menjijikan sok jual mahal!" Joselyn menatap Viocha benci, dia berjalan ke arah Will yang pelipisnya sudah membiru.


"Lepasin anak ku."


Bodyguard itu menuruti perintah Jose, dia melepaskan Will begitu saja. Bahkan Bambang juga tidak membantahnya. Entah kesepakatan macam apa yang mereka jalin.


"Bawa Viocha ke dalam kamar!" Bambang terang-terangan mengumumkan bahwa dia akan merenggut kesucian gadis itu. "Aku niatnya menahannya dengan cara yang baik, tapi sepertinya kalian ingin terjadi hal buruk ya?"


"Sejak awal ini sudah direncanakan? Kau ingin mengeksploitasi Viocha untuk dirimu sendiri?" Tea masih tidak percaya. Jika benar begitu, pastinya Joselyn ikut terlibat kan? Soalnya dia yang meminta Tea menjenguk Will bersama Viocha. Dan dari Joselah Tea tau berengsek itu tidak di rumah, tapi faktanya dia malah datang menyambut.


"Mengetahuinya sekarang tidak akan membawa perubahan apapun." Bambang menyahutinya dengan enteng, dia mengusap darahnya dengan sapu tangannya.

__ADS_1


Apa yang Viocha lakukan? Dia bahkan tidak meneteskan air mata. Dia hanya diam, wajahnya sendu, dan arah pandangannya jadi ke bawah. Entah bagaimana perasaan Viocha saat ini. Apa ada yang bisa mendeskripsikan pedih yang Icha rasakan?


"Lepasin dia! Kurang ajar! Aku bisa membayar mu lebih banyak dari bajingann itu, aku kaya! Aku menantu Anumertha!" Tea berteriak sungguh-sungguh. "Cha! Maafin Kakak, harusnya Kakak gak bawa kamu kesini! Cha! Liat Kakak Cha!"


"Lepasin Kak Vio!! Kak Vio!!!" Will juga meronta keras.


Rontahan keduanya terdengar menggelegar di aula sana. Jose hanya diam mengurung anaknya. Tea sudah putus asa, dia kecewa, pada dirinya dan keputusannya. Pada dia yang lemah dan tak bisa menjaga sang adik. Begitu juga Will, dia menangisi langkah kakaknya yang pedih, seolah berjalan di bara api penderitaan. Penyesalan mulai merayap dikepala Will, kalau saja dia tidak meminta waktu Viocha, ini tak kan terjadi.


"NOEL!!!!" Tea berteriak sekeras-kerasnya, dia yakin Noel tidak jauh darinya. Dan entah kenapa dia yakin Noel akan datang.


"Harusnya kau meneriaki nama ku, suami mu, kenapa malah nama supir itu?"


Wah, ini diluar dugaan Tea. Asher datang dengan pakaian formalnya, bersama Bara dan Noel dibelakangnya.


"Asher?" Tentu saja Tea terkejut.


"Jika gagal, kalian dipecat." Empat kata itu, sukses membuat Noel dan Barant bergerak menghajar habis para bodyguardnya.


Asher dengan santainya berjalan ke arah Tea, dia menutup mata pada pertengkaran yang terjadi di sebelahnya.


"Lepas!" Satu kata Asher, seolah sihir yang membuat pria yang mengunci Tea diam membatu. Mendadak Noel datang dan menghajarnya, menyeretnya menjauh dari Tea.


Bambang diam, seolah seperti orang bodoh yang kebingungan, dia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi sekarang.


"Semua udah beres Tuan muda, janji naik gaji, terus bonus akhir pekan dua kali lipat, sah kan?" Noel menggesek tangannya, seolah membersihkan dari kotoran menjijikan.


"Ku kira keras, ternyata kertas. Ku kira hebat, ternyata cepat sekarat. Ku kira pegulat, ternyata badut." Noel bahkan dengan santainya menggoyangkan tubuh yang sudah pingsan itu denhan kakinya. "Woy, kalian gak mati kan? Jangan dong, males ngurus mayat."


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kau malah menyebut supir itu, daripada nama suami mu sendiri?" Asher menggeser rambut Tea, menyibakkannya ke belakang telinga.


Tea masih diam, dia melihat sekeliling, mencoba mengerti situasi sekarang.


"Katanya putri rumah kaca? Apa ini yang namanya keluarga bahagia?"

__ADS_1


Wah Tea, kau ketahuan.


__ADS_2