Baret Biru

Baret Biru
100. Ketika Tugas Memanggil


__ADS_3

Sebenarnya untuk Galih bukan berpamitan pada Kirana yang sulit melainkan pada putrinya. Dia dengan langkah yang berat menuju ke rumahnya. Dia berboncengan dengan kakak iparnya kemudian menurunkan Adnan di halaman rumah baru dia melajukan kembali motornya sampai ke rumah. Selama perjalanannya menuju ke rumah yang sebenarnya tidak seberapa jauh itu dia terus saja melamun. Otaknya terus berusaha menyusun kata-kata untuk dia ucapkan pada Amira agar gadis kecilnya itu tidak menangis.


Ketika dia sampai di rumah, Galih dengan secepat kilat meraih ransel di atas lemari. benar kata istrinya, debunya banyak. Padahal dia ingat baru meletakkan ransel itu selama beberapa minggu di atas sana. Kirana mengiriminya beberapa pesan yang bisa memandunya untuk cepat berkemas. Kirana mendikte Galih dari awal hingga akhir secara detail sehingga tidak perlu banyak waktu untuknya berkemas dia sudah bisa meninggalkan rumah kembali.


Galih lebih dulu menjemput kakak iparnya sekalian berpamitan dengan putrinya. Ketika sampai di sana, Amira sudah mulai mengantuk. Dia baru selesai meminum susunya dan mulai berbaring di sebelah Daffa.


Galih memilih untuk mendekati Amira dan dengan perlahan berkata padanya, “Mimi…, Papa mau ngomong sama kakak. Boleh?” tanya Galih.


“Besok saja Pa, Mimi sudah ngantuk,” jawabnya sambil mengucek mata.


“Jangan dikucek nak,” cegah Galih.


“Mi, Papa mau pergi kerja dulu. Boleh ya?”


“Lama Pa?”


“Lama, nggak papa kan? Maaf ya Papa belum bisa nemani kakak sama Mama,” kata Galih yang masih setia menempel pada putrinya.


Setengah hatinya tidak rela untuk pergi. Kirana istrinya saat ini sedang dalam kondisi dimana membutuhkan dirinya 24 jam penuh sedangkan putrinya juga pasti masih membutuhkan pengawasan dari kedua orang tuanya. Tidak enak juga jika Amira selalu dititipkan pada kedua kakeknya atau pada Papa Adnan dan Mama Lucy.


Galih dan istri saja sudah cukup khawatir karena Amira bisa menjadi begitu dewasa melebihi anak-anak seusianya. Hal itu bukan hanya karena faktor tidak memiliki ayah dan ibu yang lemah hati di masa kecilnya, tapi juga karena Galih Papanya saat ini begitu sering meninggalkannya untuk bertugas keluar.


Selain Amira, kekhawatiran Galih juga mengarah pada istrinya. Posisi di luar sana pelaku yang pernah menyakiti Kirana masih berkeliaran dan dari apa yang terjadi beberapa hari lalu Galih sudah cukup bisa mengambil kesimpulan bahwa pelaku itu mendendam pada Raihan dan Kirana.


“Kak, Papa nggak pengen pergi,” gumam Galih pada putrinya.


Dia masih sempat memeluk Amira agar putrinya itu tertidur sembari menunggu Adnan bersiap. Toh mereka baru akan berangkat lepas jam 1 dini hari ini.

__ADS_1


“Ami juga maunya Papa nggak berangkat. Papa temenin Mama sama adek di sini, sama kakak juga,” kata Amira.


“Tapi…, Papa kan tugasnya menjaga perdamaian. Kalau Papa nggak berangkat kerja nanti siapa yang menjaga perdamaian. Kan kata Mama kalau kita nggak damai juga nggak bisa sekolah. Ami suka sekolah Pa, jadi Papa harus berangkat kerja biar damai, biar Ami bisa sekolah,” kata Amira.


Galih lagi-lagi termenung. Dia tidak menyangka jika kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut putrinya, “Ami diajari siapa bilang begitu?” tanya Galih.


“Diajari Mama, Mama selalu bilang sama Amira kalau Amira itu adalah anak seorang penjaga perdamaian jadi Amira tidak boleh minta Papa hanya untuk Amira saja. Karena Papa Galih dan Papa Raihan adalah penjaga perdamaian untuk semua orang. Buat temen-temen Amira juga,” kata Amira lagi.


“Pinternya anak Papa. Tidur yuk, Papa temenin. Tapi maaf ya Papa nggak bisa temenin sampai kamu bangun nanti," kata Galih sambil tersenyum.


Galih dengan berat hati harus menitipkan Amira pada akung-utinya. Dia berpamitan pada Lucy dan meminta bantuannya untuk menjemput Kirana besok bersama Ayah mertua mereka. Galih dan Adnan kembali berangkat dengan berboncengan. Keduanya sudah siap menggunakan seragam hitam kebanggaan Brimob dengan atribut yang lengkap juga sebuah tas ransel besar yang berisi keperluan mereka selama beberapa minggu di tempat penugasan.


Mendekati pukul 12, Galih memerintahkan driver untuk mengeluarkan kendaraan yang akan mereka pakai. Galih dibantu oleh empat orang ajudannya memeriksa seluruh kelengkapan kendaraan, memastikan bahan bakarnya penuh, remnya aman, dan tidak ada kerusakan sekecil apapun itu.


“Gimana siap?”


“Ok.”


Galih beralih menyiapkan kompinya. Di sampingnya ada Adnan yang mengawasi barisan dari tempatnya berdiri. Baik Galih, Adnan, dan seluruh pasukan lainnya sudah siap menggunakan rompi anti peluru, helm, dan persenjataan lengkap.


Tidak sampai 10 menit kemudian, absen selesai. Galih langsung mengarahkan pasukannya untuk memasuki truck dan mereka semua mulai berangkat. Terakhir di barisan paling depan Galih dan Adnan memasuki mobil dinas. Mobil itu melaju sembari membunyikan sirine menjadi pemimpin seluruh pasukan yang ada di belakangnya.


Galih menyempatkan untuk mengangkat tangannya dan berdoa dengan khusyu dia mendoakan seluruh pekerjaannya lancar dan tidak lupa dia juga mendoakan agar anak istrinya tetap aman dan baik-baik saja di Jogja.


“Ya Allah aku harap aku ada ketika Kirana akan melahirkan nanti, aamiin,” batin Galih dalam doanya.


...***...

__ADS_1


Beberapa jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di TKP. Tidak sampai mereka melapor ke Mabes mereka langsung diminta untuk membuat barikade dan membantu brimob dari polda lainnya untuk menghalau masa yang mulai rusuh. Di bawah komando Galih Arsa Shiddiq mereka maju ke depan, membuat barikade untuk menekan masa. Tak gentar dipukuli, bahkan tidak takut dilempari pasukan Galih terus menekan masa hingga tanpa terasa malam telah tiba.


Sekitar pukul 11 malam, Galih membantu timnya untuk membuat tenda sedang sisanya membuat makan malam bersama ndan Adnan di dapur umum. Mereka mendirikan tenda di dekat bundaran HI, tidak jauh dari lokasi kerusuhan. Galih menyempatkan memberi kabar pada anak istrinya kemudian meletakkan kembali handphonenya agar dia bisa maksimal memakai kedua tangannya untuk bekerja.


Begitu selesai, Galih meminta timnya untuk segera beristirahat. Ada sebagian yang tidur namun ada pula yang berjaga jikalau terjadi satu dan lain hal yang tidak diinginkan. Galih sebenarnya sudah dipersilahkan untuk tidur, namun entah kenapa matanya tidak mampu terpejam. Pikirannya terus melayang-layang.


Untuk menghilangkan pikirannya itu, Galih memutuskan untuk berjaga bersama beberapa anggotanya. Dia duduk di dekat tenda paling depan, melepaskan rompi dan helmnya sejenak kemudian ikut menyeruput kopi yang baru saja dibawakan oleh ajudannya.


“Ndan kenapa tidak tidur? Kalau untuk berjaga kami saja sudah cukup,” kata ajudannya.


“Nggak papa lah, masih banyak pikiran aku. Nggak akan bisa tidur,” jawab Galih.


“Komandan kepikiran ibu di rumah ya?”


“Kurang lebih begitu. Ibu di rumah sendirian dan tidak ada yang menemaninya. Dia merawat Amira padahal dia sendiri juga butuh dirawat,” curhat Galih tanpa sengaja.


“Ndan, maaf sebelumnya. Saya dulu pernah mendengar cerita dari Komandan Aji soal perjuangan seorang brimob yang terpaksa mengadzani putrinya melalui telepon karena ketika itu beliau sedang menjalankan tugas di daerah timur,” jelasnya.


“Iya kalau itu sih aku tahu. Bahkan aku juga sempat berkenalan dengan beliau. Cuma kan aku tidak expect akan begitu juga. Nggak peduli setakut apa lihat istri kesakitan tapi mending aku nemenin,” kata Galih.


“Sudah berapa bulan kandungan Ibu ndan? kok kayaknya risau amat,” tanya satu yang lainnya.


“Masuk bulan ke-8,” kata Galih.


“Waduh, udah mau lahiran dong ndan,”


“Ya makanya itu.”

__ADS_1


__ADS_2