
Haii, untuk teman-teman yang menunaikan ibadah puasa author mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa ya semoga dengan puasa ini akan menjadi ladang berkah untuk kita semua aamiin 🙏
Jangan lupa untuk terus like dan comment ya biar author semangat untuk update terus setiap harinya 🤗🤗
...🌱Ji🌱...
Kirana baru usai dengan kegiatannya. Baru dia akan membuka handphone dan menelepon suaminya, dia melihat Raihan berdiri di depan. Kirana kembali memasukkan handphonenya dan berjalan mendekati suaminya yang tampak sedang mengobrol dengan seseorang.Â
“Abang…,” panggil Kirana begitu jaraknya dan sang suami sudah dekat.
“Dek? Sudah selesai?” tanya Raihan.
“Baru selesai. Itu tadi bukannya anggota brimob? Kok ke sini?” tanya Kirana pada suaminya.
“Iya ada urusan. Kamu nggak perlu tahu, nanti kamu takut buat ke sini lagi,” kata Raihan.
“Apaan sih, aku nggak sepenakut itu kali. Kalau cuma pencuri sih aku masih sanggup ngebanting,” kata Kirana.
“Ampun deh mbaknya jangan galak-galak. Kasihan pencurinya,” kata Raihan menggoda istrinya.
“Gimana Bang, kerjaan sudah selesai atau masih ada urusan? Boleh antar Kirana pulang dulu nggak sebentar? Atau kalau nggak ada kerjaan anterin belanja. Mama minta kita belanja bulanan,” kata Kirana.
“Yaudah yuk, Abang sudah nggak ada kerjaan kok. Tak anter kamu maunya kemana. Mau ke cafe nggak?”
“Nggak Bang, hari ini shiftnya Ningrum,” kata Kirana.
“Ok, Abang ambil jaket dulu bentar,” kata Raihan diangguki oleh Kirana.
Begitu dia masuk ke dalam ruang kerjanya, dia menghela nafas. Untung saja Kirana tidak mengetahui siapa yang tadi datang. Selain dia tidak mau Kirana kembali bersedih, dia juga sebenarnya takut. Dia tahu kenyataan yang sebenarnya. Keenan dan Kirana itu masih saling mencintai. Namanya masih terukir di hati masing-masing. Mereka hanya memaksakan diri untuk berpisah. Jika suatu saat nanti Keenan tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri, bisa saja laki-laki itu mengharapkan Kirana lagi.
Raihan mungkin egois, tapi wajar kan dia ingin memiliki wanita yang dicintainya. Tapi andai Raihan tahu sejak awal dia mungkin akan memilih untuk mengalah seperti sebelumnya. Sebesar apapun keinginannya untuk memiliki Kirana, dia tetap tidak akan tega memaksa Kirana menerima dirinya yang tidak dia cintai. Apalagi Raihan tahu di dalam hati gadis itu masih ada nama laki-laki lain yang memiliki rasa yang sama.
Seharian ini Raihan jadi banyak melamun. Selama menemani Kirana berbelanja, dia juga hanya diam sambil mengamati satu per satu produk yang tertata di rak. Kirana sibuk berjalan kesana kemari sedangkan Raihan hanya berjalan pelan mengikuti dari belakang dengan mendorong troli belanja yang mulai terisi ini dan itu.
“Bang, shampomu masih ada?” tanya Kirana tapi tidak segera mendapatkan atensi suaminya.
“Bang…!”
__ADS_1
“Eh iya?”
“Abang ngalamun.”
“Maaf, iya gimana Dek? Ada yang perlu dibantu?” tanya Raihan.
“Abang shamponya masih atau nggak?” tanya Kirana.
“Kayaknya masih sih,” jawab Raihan.
“Ok,” Kirana tetap memasukkan satu botol shampo yang tadi sudah dia pegang ke dalam troli. Dia mulai hapal suaminya ini tidak teliti orangnya. Dia tidak begitu mengamati apa yang ada di sekitarnya. Makanya untuk berjaga-jaga dia lebih memilih untuk membelinya saja.
...***...
Kirana langsung menyimpan semua belanjaannya ke tempat penyimpanan. Dia juga langsung mengganti tisu di dalam kotak yang sudah habis, memasukkan sabun cuci yang dibelinya tadi ke dalam botol lalu meletakkannya kembali ke atas mesin cuci. Kirana juga memasukkan beberapa bahan makanan yang dibelinya ke dalam kulkas dan sisanya langsung dia olah untuk makan malam nanti.
“Abang mau makan apa?” tanya Kirana pada suaminya yang dia tahu hanya duduk di sofa sejak tadi.
“Abang?”
“Abang? Abang kenapa sih?”
“Nggak Dek, nggak papa,” kata Raihan.
“Nggak mungkin lah Abang nggak kenapa-napa. Abang aneh. Abang lagi ngerasain apa? Cerita dong Bang, jangan dipendam sendirian. Kirana juga pengen Abang berbagi cerita sama Kirana,” kata Kirana.
“Maaf Dek, untuk yang satu ini Abang nggak sanggup ceritakan sama kamu. Biar ini jadi beban Abang sendiri. Yang penting kamu selalu baik-baik saja di sini Abang sudah senang. Selain yang satu ini Abang janji akan ceritakan semuanya padamu,” kata Raihan.
“Kalau begitu Kirana mau tanyakan sesuatu pada Abang,” kata Kirana.
“Apa?”
“Abang sama Bang Adnan berantem? Kenapa Bang?” tanya Kirana.
“Nggak kok Dek, kita nggak berantem,” kata Raihan berdalih.
“Kalau Abang berdua nggak berantem terus kenapa Bang Raihan nggak pernah mau Kirana ajak ke rumah Mama? Abang…, aku kangen Bang Adnan, kangen Mama Papa juga. Ayo kita ke sana, sehari saja,” kata Kirana.
__ADS_1
“Iya Abang ajak kamu ke sana, udah cup jangan nangis. Cengeng banget sih istrinya Abang,” kata Raihan sambil mengusap pipi Kirana yang sudah berkaca-kaca siap menangis.
Kirana kembali memeluk Raihan dan menyembunyikan wajahnya dalam pundak Raihan. Raihan tersenyum lalu mencium ujung kepala Kirana yang masih tetap wangi walau seharian tertutup oleh kerudung.Â
“Adek…, nggak usah masak bisa nggak?” tanya Raihan.
“Terus? Kita mau makan apa kalau Kirana nggak masak?”
“Kita jalan-jalan yuk sekalian cari makan di luar. Mumpung masih sore,” ajak Raihan.
“Hmm…, boleh. Boleh banget. Kebetulan lagi pengen banget makan bakso,” kata Kirana.
Kirana mengurungkan niatnya untuk memasak. Dia masukkan kembali sayuran yang dibelinya tadi ke dalam kulkas kemudian melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju. Setelah lelah berkeliling kota, Kirana dan Raihan menuju ke salah satu warung bakso langganan Kirana. Di sana menjual bakso jumbo isi sambal makanya Kirana suka sekali ke sana.
Baru melangkah masuk, Kirana langsung melihat ada tante Ratna dan om Aji yang juga baru selesai memesan. Keduanya duduk di meja pojok dekat dengan jendela. Kirana dan Raihan berjalan mendekatinya karena kebetulan juga meja yang kosong hanya yang ada di sebelah tempat om Aji dan tante Ratna duduk.
“Tante…,” sapa Kirana.
“Hai cantik, lama nggak ketemu. Apa kabar,” kata tante Ratna sambil menerima jabat tangan dari Kirana.
“Hai Kirana, Raihan, apa kabar?” tanya Om Aji.
“Baik om alhamdulillah. Om sama tante kok berdua aja? Dek Aksa sama Nusantara nggak diajak?” tanya Kirana.
“Mana mau diajak jalan sama orang tuanya. Aksa lagi udah berapa hari nggak pulang ke rumah. Malah betah dia tidur di mess,” curhat tante Ratna.
“Ahahaha iya juga ya, Aksara sekarang di brimob. Kerjanya bareng om dong?” kata Kirana.
“Ya begitulah.”
“Eh Kirana, besok kamu kalau mau berangkat kabarin tante dulu ya. Takutnya tante lagi di IGD atau gimana kasihan kamu nunggunya kelamaan,” kata Ratna.
Kirana mungkin mengiyakan, tapi dalam hatinya dia sudah ketakutan. Takut Raihan akan bertanya ada apa dan kenapa sampai Kirana membuat janji dengan seorang dokter. Kirana tidak mau bilang pada Raihan karena jika Raihan sampai tahu Kirana kembali menemui psikiater dia akan melarangnya.Â
Bukan karena tidak ingin Kirana sembuh sih, tapi Raihan pernah bilang terapi yang dilakukan oleh psikiater itu tidak cocok untuk Kirana. Dia tidak mau Kirana mengingat kejadian itu lagi walau dokter bilang cara terbaik untuk sembuh hanya ketika Kirana sudah bisa memaafkan dirinya sendiri dan mengikhlaskannya.Â
“Iya tante, besok Kirana kabari. Kalau begitu silahkan dilanjut tante, om,” kata Kirana kemudian pamit untuk menuju ke tempat duduknya.
__ADS_1