Baret Biru

Baret Biru
23. Pernikahanku


__ADS_3

Bagi sebagian orang, pernikahan bisa diartikan sebagai akhir dari perjuangan, tapi untuk sebagian yang lainnya pernikahan menjadi gerbang awal dari perjuangan cintanya. Sebagian menganggap pernikahannya adalah suatu momen yang membahagiakan tapi ada segelintir yang merasakan pernikahannya sama seperti langkah awal menuju kesengsaraan.


Semua momen yang terjadi dalam hidup ini akan menjadi positif ketika dimaknai dengan cara yang positif pula. Jika sebaliknya, manusia hanya akan merasa tertekan dan terpaksa menjalani semua yang ada di depan matanya. Tidak akan bisa menemukan kebahagiaan sejatinya dan hanya akan terkungkung dalam pemikirannya sendiri yang sebenarnya tidak selalu benar akan terjadi.


Sebelumnya Kirana juga memiliki pemikiran yang sama. Luka masa lalunya, juga masalah yang tidak selesai akibat kepergian Keenan yang terlalu mendadak membuat Kirana tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Dia bahkan sampai menutup diri dan nyaman dengan semua luka dan traumanya.


Hingga akhirnya ada satu sosok yang dengan berani menembus badai dalam hatinya dan membawakan sebuah matahari kecil untuknya. Lambat laun badai di hati Kirana berlalu, tergantikan dengan warna-warni pelangi yang membuat harinya jauh lebih indah dari yang sebelumnya pernah dia rasakan. Raihan memberikan harapan hidup yang baru untuk Kirana. Dengan segala kelemah lembutannya, juga dengan semua perhatiannya Kirana akhirnya luluh. Hingga dia akhirnya memutuskan untuk membuka hatinya kembali dan menyambut kedatangan Raihan dalam hidupnya.


Mentari pagi bahkan belum sempurna menampakkan diri, tapi Kirana sudah duduk dengan tenang di depan cermin. Dua orang MUA sedang mendandaninya saat ini. Satu memoleskan riasan di wajahnya, dan satu lagi memasangkan sanggul dan menghias rambutnya. Di sampingnya ada Mama Hasna dan Mama Cecil yang asik mengobrol entah apa yang menjadi bahan pembicaraan. Keduanya sibuk membantu Raihan memakai pakaiannya. Mama Cecil juga terlihat begitu memperhatikan detail terkecil dari pakaian putranya itu.


Bang Adnan juga baru selesai memakai beskapnya kemudian berjalan keluar bergabung dengan Papa Nandar dan Papa Bagus untuk menyambut para tamu. Atasan Papa juga ikut hadir di kediaman keluarga Bagus Wijaya pagi ini. Rumah dengan halaman yang luas ini telah disulap menjadi tenda pernikahan dengan warna biru yang mendominasi.


Tepat pukul 8 pagi, semua saksi, penghulu, dan wali nikah sudah duduk di tempatnya masing-masing. Raihan dengan tangan sedikit gemetar mulai menjabat tangan Papa. Di dalam rumah, Kirana mulai menggenggam erat kedua tangannya begitu mendengar suara Papa mengucap ijab yang segera dijawab oleh Raihan.


“Alhamdulillah Mas Raihan dan Mbak Kirana sudah sah menjadi suami istri. Nah sekarang, silahkan Mas Raihan untuk memanggil Mbak Kirana keluar dari rumah agar bisa duduk di sini,” kata Penghulu pada Raihan.


Raihan mulai menggenggam micnya kembali. Entah kenapa, sekarang ini malah rasanya jauh lebih menegangkan dibanding ketika dia mengucapkan ijab tadi. Dia harus memanggil Kirana yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya. Raihan bingung dia harus memanggilnya seperti apa hingga Pak penghulu yang greget kembali membuka suara.


“Mas, kok malu-malu. Dipanggil saja, biasanya manggil apa sama Mbak Kirana?”


“Dek Kirana…,” kata Raihan begitu lirih.


“Nah dipanggil dong ‘dek Kirana sini’ gitu lho. Tadi pas ngucap ijab muantepe pol sekarang kok malah isin-isin,” kata Penghulu itu menggoda Raihan membuat Kirana yang saat ini berada di dalam rumah tertawa tidak terkecuali Mama yang ada bersamanya.


“Haduh Raihan Raihan,” kata Mama Cecil sambil geleng-geleng.


“Mirip Papanya to mbak, jadi ingat waktu Mbak Cecil menikah sama Mas Nandar dulu juga begitu. Habis selesai ijab Mas Nandar kaku, pegang tangan saja nggak berani,” kata Mama mengingat dulu ketika menghadiri pernikahan sahabat suaminya.

__ADS_1


“Hahaha iya juga. Bapak sama Anak nggak ada bedanya,” kata Mama Cecil.


“Dek Kirana…, kemari Dek. Abang mau ketemu, bismillah mulai detik ini hingga seterusnya Abang akan selalu ada disini untukmu. Abang janji akan selalu membahagiakanmu. Disaksikan oleh semua yang hadir di sini abang berjanji. Jika sampai Abang ingkar, biar Allah yang memberi hukuman pada Abang,” kata Raihan membuat pengakuan secara tiba-tiba membuat Kirana kembali meneteskan air matanya.


Mama Cecil dan Mama Hasna perlahan menuntun Kirana keluar dari dalam rumah dan membawanya berdiri di hadapan Raihan. Raihan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Kirana yang langsung mencium punggung tangan imam keluarganya itu.


Acara pada hari pertama berjalan lancar. Setelah Lucy dan Ningrum pamit undur diri, Kirana dan Raihan kembali masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Kirana membuatkan kopi untuk Raihan baru dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Tak lama kemudian Raihan mengetuk pintu meminta izin pada Kirana untuk ikut masuk.


“Kok mukamu pucet Dek? Kamu sakit?” tanya Raihan.


“Karena nggak pake make up kali Bang, bukan karena pucat. Aku nggak papa kok,” kata Kirana sambil tersenyum.


Raihan berjalan mendekati istrinya yang sedang duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Dia menempelkan punggung tangannya pada dahi Kirana dan merasakan jika suhu tubuh istrinya memang agak tinggi.


“Kamu kelelahan ini namanya. Setelah ini langsung tidur ya. Kamu sudah makan kan?” kata Raihan hanya digelengi oleh Kirana.


“Maaf, aku memang sengaja nggak makan banyak biar perutku nggak gede. Soalnya kan pakai kebaya kelihatan banget kalau perutnya buncit,” kata Kirana membuat Raihan terkekeh.


“Memangnya kenapa kalau perutnya buncit? Kamu tetep cantik kok. Abang nggak peduli dengan bentuk fisikmu, karena menurut Abang kamu cantik dengan caramu sendiri,” kata Raihan sambil menangkup kedua pipi bulat Kirana.


“Abang, menurut Abang Kirana kelihatan cantik karena apanya?” tanya Kirana.


“Maksudmu?”


“Ya karena rambut Kirana, atau karena badan kurus, kulit putih, atau apalah. Kirana pengen tahu. Habis Bang Adnan dan Papa kalau ditanya tidak pernah menjawab jujur,” kata Kirana.


“Penting banget ya?”

__ADS_1


“Kepo aja sih. Soalnya dari jaman sekolah dulu banyak cowok yang katanya suka sama Kirana,” kata Kirana.


“Pede amat neng,” kata Raihan.


“Jawab aja sih Bang,” rengek Kirana.


“Menurut Abang kamu itu cantik bukan karena fisikmu. Mungkin banyak laki-laki yang suka sama kamu karena mereka memandang kalau kamu adalah wanita yang tangguh. Kamu mandiri, tidak lemah, tapi juga tidak sombong. Sejak Abang kenal sama kamu Abang tahu kamu adalah orang yang cerdas dan dewasa, tapi tidak membohongi usiamu. Tapi kalau kamu tanya bagian tubuhmu yang membuatmu terlihat cantik maka Abang akan bilang kalau kamu cantik karena wajah bulatmu ini. Apalagi kalau sedang tersenyum, pipimu yang bulat ini akan terangkat dan membentuk senyum di matamu juga. Abang suka sekali, kamu jadi kelihatan imut dan manis,” kata Raihan membuat Kirana tersipu.


“Dih Abang gombal,” kata Kirana.


“Tadi kan kamu yang tanya. Abang cuma menjawab. Kok sekarang malah Abang dikatain gombal sih,” kata Raihan tidak terima.


“Tapi makasih ya Bang. Makasih sudah menerima Kirana. Kirana janji Kirana akan jadi yang terbaik untuk Abang,” kata Kirana.


“Kalau gitu sekarang makan yuk. Jangan sampai besok waktu resepsi kamu malah pingsan,” ajak Raihan.


...***...


Selama resepsi, Kirana tambah bahagia. Agak berbeda dengan kemarin ketika akad nikah. Wajahnya cerah sekali. Kirana bahkan terus tertawa walau candaan Raihan garing. Dari dekat stand minum Lucy dan Ningrum memandangi Kirana yang tampak begitu bahagia. Keduanya ikut tersenyum melihat sahabatnya itu akhirnya bisa melupakan masa lalunya dan kembali mengukir masa depannya.


“Aku berharap Kirana dan Bang Raihan akan selalu bahagia,” kata Lucy.


“Kamu juga Cy, semoga kamu dan Bang Adnan bahagia,” goda Ningrum.


“Apaan sih Ning,” kata Lucy malu-malu.


“Sekarang Kirana sudah menikah, dia sudah bukan tanggungan Bang Adnan lagi. Kalau kamu mau maju ya sekarang ini waktunya,” kata Ningrum dengan wajah yang lebih serius.

__ADS_1


“Nanti Ning, aku harus yakinkan kedua orang tuaku dulu,” kata Lucy.


__ADS_2