Baret Biru

Baret Biru
90. Perasaan Bersalah


__ADS_3

Galih sudah tidak ingat berapa lama dia berkutat dengan semua pekerjaannya. Membuat laporan bulanan memang melelahkan tapi mau bagaimana lagi, dia harus melakukannya apa lagi seminggu ini sempat terjadi kerusuhan dan otomatis Galih harus melaporkan peralatan apa saja yang dipakai dan kondisi masing-masingnya.


Galih yang mulai merasakan lelah berdiri sejenak dan meregangkan tubuhnya. Karena malam sudah begitu larut dan istrinya meminta Galih untuk tidak pulang jika lelah alhasil Galih menginap di mess. Dia lebih dulu membereskan semua pekerjaannya dan mematikan lampu tidak lupa juga mengunci pintu. Dia mengembalikan kuncinya ke pos jaga kemudian berjalan ke arah mess perwira tempatnya tinggal sebelum menikah dulu. Saat ini tempat yang dia pakai pasti sudah ditempati oleh seseorang itulah kenapa dia tidur saja di kursi yang ada di ruang tengah. Beralaskan busa kursi, berbantal seragam yang dia lipat Galih pergi tidur.


***


Galih tidak menghiraukan ponselnya sejak semalam makanya ketika dia terbangun pagi ini dengan kondisi pegal-pegal Galih menemukan begitu banyak chat mulai dari grup hingga pesan pribadi. Galih menyempatkan menghubungi istrinya yang kemarin dia tinggalkan dalam kondisi tidak begitu sehat. Alih-alih diangkat oleh Kirana, malah putrinya yang mengangkat panggilan Galih dan mulai bicara.


“Hallo Papa,”


“Lho Mi? Kok kamu yang angkat?” tanya Galih.


“Mama masih bobok Pa, badan Mama panas dari semalam. Apa adek nakal ya Pa makanya Mama sampe sakit?” tanya Amira dengan polosnya.


“Demam? Terus sekarang Mama gimana? Mi, itu kamu sama siapa?” tanya Galih ketika mendengar suara di belakang putrinya.


“Sama Mama Lucy,” jawab Amira kemudian menyerahkan handphone Mamanya pada Mama Lucy.


“Hallo Galih?”


“Teh, gimana Kirana katanya sakit?” tanya Galih.


“Iya, demam dari semalam nggak bisa tidur. Tapi ini udah mendingan habis dikompres semalaman,” kata Lucy.


“Kok sampe gitu ya…,” gumam Galih.


“Naturalnya begitu, kan badan Kirana sedang adaptasi juga menerima janinnya. Mual-mual sama demam itu hal biasa kalau lagi trimester pertama. Nggak usah khawatir ya,” kata Lucy.


“Nanti kalau Kirana udah bangun tolong titip pesen ya, aku baru bisa pulang habis maghrib nanti. Biar dia istirahat dulu juga,” kata Galih.

__ADS_1


“Iya, dia biar di sini dulu aja. Kalau di rumah kan dia sendirian, kasihan nggak ada yang bantuin. Amira juga kan harus berangkat sekolah,” jawab Lucy.


“Astagfirullah aku lupa, teh seragam Amira ada di rumah,” jawab Galih.


“Gampang, nanti aku anter ke rumah untuk ganti seragam baru berangkat ke sekolah.”


“Ok deh, hatur nuhun teh. Kalau gitu aku mau lanjut tidur dulu bentar,” pamit Galih.


Galih memang pamit untuk tidur tapi nyatanya dia tidak sama sekali bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus memikirkan Kirana yang tengah sakit.


“Bang, dulu waktu Kirana hamil terus sakit Abang ngapain?” batin Galih tanpa sadar telah menyebut nama Raihan.


Seharian itu Galih tidak konsentrasi. Bukan karena memikirkan istrinya yang sedang sakit, tapi memikirkan orang lain. Di dalam hatinya mulai ada perasaan bersalah yang entah datang dari mana. Dia tiba-tiba begitu merasa bersalah dan merasa telah merebut sesuatu yang berharga dari Raihan.


Galih memang mengenal Raihan walau tidak akrab, tapi Galih tahu jika Raihan adalah tipe orang yang akan selalu menjaga dan menyayangi apapun yang menjadi miliknya dengan sebaik yang dia bisa. Nyatanya Galih dengar sendiri dari Keenan bagaimana Raihan menjaga perasaan Kirana padahal dia tahu jika Keenan ada di jogja dan sama-sama telah menjadi anggota. Dia juga dengar dari Keenan jika Raihan pernah mengancam akan menghabisinya jika dia berani mengambil alih Kirana dari genggamannya.


Sore harinya, Galih yang sudah tidak mampu berkonsentrasi bukannya kembali ke rumah Mama dimana Kirana dan Amira berada malah pulang ke rumahnya sendiri. Dia bahkan heran kenapa Kirana pada jam segini belum juga menyalakan lampu. Dia dengan polosnya membuka pintu dan mencari kemana anak dan istrinya berada.


Tidak ada jawaban tidak peduli berapa kali Galih memanggil. Setelah dia menyerah dan mengira Kirana dan Amira mungkin sedang pergi ke suatu tempat dia duduk dan meminum segelas air putih. Dia sempat terdiam sebelum akhirnya menyadari jika Kirana dan Amira berada di rumah Papa Bagus. Bahkan Galih sendiri yang mengantarkan mereka ke sana kemarin sore setelah Galih mendapatkan kabar kehamilan istrinya.


“Ya Allah mikir apa aku,” kata Galih yang kembali memakai jaketnya kemudian meraih kunci mobil.


Ketika sampai di rumah Mama, hari sudah menginjak malam. Galih memilih untuk memarkir mobilnya dengan rapi agar tidak menghalang pengguna jalan yang lainnya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Ketika dia sampai, Amira tengah belajar menulis bersama Kirana sedangkan yang lainnya entah kemana.


“Ma? Kok sepi pada kemana?” tanya Galih.


“Orang tua Lucy pulang, makanya mereka ke sana,” kata Kirana sambil menggeser duduknya agar Galih bisa ikut duduk di sampingnya.


“Kamu gimana kondisinya?” tanya Galih.

__ADS_1


“Alhamdulillah baikan. Papa gimana? Ada masalah? Kok kayak nggak fokus gitu?” tanya Kirana.


“Ha? Nggak kok,” dalih Galih.


“Aku tahu Pa, matamu nggak fokus,” kata Kirana.


Galih menyerah. Dia tidak mau mendebat Kirana. Lagi pula Pak Aji juga mengajarinya untuk tidak mendebat perempuan atau kita sendiri yang akan kalah telak. Galih hanya memilih untuk meletakkan kepalanya pada pangkuan Kirana dan tubuhnya dia rebahkan sepanjang sofa. Kirana tidak menolak, dia justru mengelus kepala Galih agar suaminya bisa rileks dan sedikit lebih tenang.


“Capek ya?” tanya Kirana.


Galih mengangguk dengan mata yang sudah tertutup. Kirana meletakkan punggungnya bersandar pada sofa terus mengelus kepala Galih sambil mengajari putrinya yang duduk di lantai sambil belajar menulis angka dan huruf.


“Papa, kalau capek jangan bobok di pangku Mama, kasihan adek nanti,” kata Amira.


Galih sempat tersenyum sebelum dia menjatuhkan tubuhnya dan duduk di lantai bersama dengan Amira, “oh gitu ya Mimi sekarang, mentang-mentang udah mau punya adek. Masa Papa nggak boleh manja ke Mama? Papa kan kangen sama Mama,” kata Galih.


“Papa kan sudah besar masak masih manja,” jawab Amira menghadirkan tawa di wajah Kirana.


“Kata siapa Papa sudah besar? Papa masih kecil kok,” kata Galih.


“Nggak. Papa sudah besar.”


“Masih kecil.”


“Sudah besar.”


“Masih kecil,” Galih tidak berhenti menggoda.


“Papa sudah besar. Pokoknya Papa sudah besar Amira nggak mau tahu,” gadis kecil itu akhirnya ngambek dan bangkit dari duduknya. Dia naik ke sofa kemudian memeluk Mamanya dengan posesif.

__ADS_1


Galih masih bertahan di tempatnya tadi. Dari bawah dia menatap Amira yang bermanja di pelukan Mamanya sedangkan Kirana berusaha memberikan pengertian pada putrinya. Galih tersenyum namun lagi-lagi dia merasakan bersalah hingga memutuskan untuk bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.


__ADS_2