
“Kamu jangan asal mengambil keputusan Keenan. Kamu pikir menjadi polisi itu gampang?” murka Ayah begitu mendengar keputusan si bungsu.
“Aku nggak asal Ayah, aku sudah memikirkannya. Tolonglah Ayah, ini adalah satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan buatku sendiri,” kata Keenan.
“Terus bagaimana sama Bunda? Lihat kamu tergores sedikit saja hati Bunda sudah sakit, apalagi harus melihat kamu menjalani pendidikan sekeras itu nak?” kata Bunda yang sudah menangis.
“Bunda nggak perlu tahu. Bunda cukup doakan saja aku bisa menggapai tujuan hidup Keenan. Setahun ini saja Bunda, aku minta Bunda tahan. Nanti setelah aku lulus dari akademi aku akan kembali menjadi kebanggaan Bunda. Aku janji,” kata Keenan mencoba meyakinkan Bunda.
“Keenan benar Bunda, biarkan dia mengusahakan apa yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Bunda, dia punya mimpi yang begitu besar dan mulia. Jangan karena ketakutan Bunda jadi penghalang untuknya menyelamatkan banyak orang. Siapa tahu kan memang disinilah jalannya Keenan. Bunda juga selalu bilang sama aku kalau kita hidup mengikuti takdir yang berjalan. Biar Keenan belajar memahami takdirnya,” kata Mbak Ayu yang ikut membantu meyakinkan Ayah dan Bunda.
“Kamu sudah yakin betul dengan keputusanmu?” tanya Ayah sekali lagi.
“Yakin ayah.”
“Ok. Kalau begitu Ayah setujui keputusanmu. Lakukan semua yang kamu bisa, kerahkan semua yang kamu punya untuk bisa meraih cita-citamu itu,” kata Ayah membuat senyum Keenan mengembang.
“Bunda punya satu syarat untukmu Keenan. Bunda akan menyetujui keinginanmu, tapi kamu harus janji sama Bunda kalau kamu tidak akan membunuh Bunda dengan mendengar kabar buruk tentang dirimu,” kata Bunda.
“Janji Bunda. Keenan akan selalu ingat kata-kata Bunda,” kata Keenan.
Di satu sisi, Adnan yang mendengar keputusan Keenan ikut bangga padanya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan selalu mengingat Keenan sebagai adiknya. Dia akan menjaga dan membantu Keenan, sampai kapanpun. Dia bahkan sudah berniat untuk mengusahakan bisa berada di satu divisi yang sama dengan Keenan agar dia bisa mendukung tujuan mulia yang Keenan punya. Bahkan jika dia harus diturunkan pangkatnya karena ini dia sudah tidak peduli.
Adnan sendiri yang mengantar Keenan melakukan semua tes yang dibutuhkan. Bahkan dia juga yang mengantarkan Keenan berangkat ke akademi untuk menjalani tes terakhir. Adnan adalah alumni akademi kepolisian, jadi dia banyak tahu tentang akademi elit yang menjadi incaran banyak orang ini. Dia mengenalkan banyak hal seperti proses pendidikannya, tempat-tempat yang mungkin akan sering dia datangi dan lain sebagainya.
“Nggak usah grogi. Lo pasti bisa kok,” kata Adnan yang ikut menemani Keenan sampai ke hall tempat akan dilaksanakannya ujian wawancara.
__ADS_1
“Grogi banget Bang serius. Aku nggak kenal sama sekali soal kepolisian dan ini tiba-tiba nekat daftar,” kata Keenan.
“Nih dengerin Abang. Kamu itu hasil tes tertulisnya aja ada di 10 besar. Tes fisikmu hasilnya juga bagus. Kalau tes wawancara ini kamu lancar kamu pasti akan diterima. Nggak ada kebahagiaan yang datang tanpa perjuangan Kee, percaya sama Abang. Setelah kamu lulus dari sini, kamu akan jadi orang yang lebih baik. Kamu akan punya kebanggaan besar terhadap tri brata. Dan negara akan bangga bisa punya bhayangkara hebat sepertimu,” kata Adnan membuat Keenan semakin yakin dengan dirinya sendiri.
...***...
Lucy dan Ningrum sudah dengar berita diterimanya Keenan di akademi kepolisian. Walaupun mereka hanya sebatas tahu tanpa memberitahu Kirana, tapi keduanya ikut bahagia karena pada akhirnya dua sahabat mereka itu bisa sedikit demi sedikit kembali menatap hari esok. Kirana juga sudah mulai baik-baik saja, dia mulai mendapatkan keberaniannya kembali untuk bisa berinteraksi dengan orang.
Lucy dan Ningrum menerima Kirana kembali di cafe. Tapi mereka sudah tidak meminta Kirana di meja bar. Kirana dan Lucy bertukar peran. Kirana yang mengurus dapur bersama Ningrum sedangkan Lucy akan mengurus pelanggan di depan. Walaupun Kirana akan sesekali memback up pekerjaan Seno jika dia sedang tidak berada di station.
“Eh ada Abang ganteng, sore Bang,” kata Lucy pada Bang Adnan yang datang bersama Bang Raihan.
“Gatel banget bocah,” kata Bang Adnan sambil menyentil dahi Lucy.
“Kirana mana Cy?” tanya Bang Raihan.
“Eciee nyariin Kirana mau apa hayo~” goda Lucy.
“Nyesel aku tanya. Dahlah balik aja aku, nggak jadi ngelarisi,” kata Raihan.
“Ehh tunggu Bang. Udah masuk dilarang keluar sebelum memesan. ice latte ya sama burger kaya biasa, ya kan?” kata Lucy.
“Nggak. Udah bosen. Ganti jadi ice americano sama rainbow crepes aja,” kata Bang Raihan.
“Terus Bang Adnan pesan apa?”
__ADS_1
“Ice americano triple shot sama beef burger ekstra telur. Bilang sama Kirana Abangnya dateng biar dia yang buatin,” kata Bang Adnan.
“Orangnya udah tahu kalau Abang dateng,” kata Kirana yang mengintip dari dalam dapur melalui lubang yang sengaja dibuat tembus untuk mempermudah pendistribusian pesanan. “Hai Abang,” sapa Kirana sambil melambaikan tangan pada Abangnya.
Raihan ikut gemas dengan tingkah Kirana yang menurutnya memang menggemaskan. Raihan paham kondisi Kirana, namun dia sendiri terus terdorong untuk mencoba mendekati Kirana. Dia sering sekali sengaja mengunjungi rumah sahabatnya itu untuk bisa bertemu barang sebentar dengan adik dari sahabatnya. Walaupun Kirana tidak pernah mau menatap langsung ke matanya, tapi gadis itu sudah tidak takut lagi padanya.
Raihan dengar sendiri dari Adnan, jika Kirana bisa tetap santai berbicara dengan seorang laki-laki hanya jika dia sudah percaya jika laki-laki itu tidak akan menyakitinya. Hal itu sudah lebih dulu dipraktekkan oleh Seno dan Dimas yang akhirnya bisa bercanda kembali dengan salah satu bosnya itu walau memang benar Kirana tidak akan berani bersentuhan atau menatap mata laki-laki manapun kecuali Abangnya.
“Lucu banget sih Dek, gemes deh,” gumam Raihan yang sambil membalas lambaian tangan Kirana.
Adnan mendengarnya. Dia tanpa basa basi langsung bertanya pada sahabatnya tentang bagaimana dia memandang adiknya. Bukan bermaksud menjodohkan, tapi siapa tahu Raihan memang benar mencintai adiknya. Biar dia bisa membantu Raihan mendapatkan atensi Kirana dan memenangkan adiknya. Toh Adnan tahu jika Raihan bukan orang yang suka main-main. Kedua keluarga besar mereka juga sudah saling kenal satu sama lain.
“Lo suka ya Han sama adek gue?” tanya Adnan membuat Raihan hampir menyemburkan minumannya.
“Bisa nggak lo kalo mau tanya basa basi dulu? Kaget gue anjir,” kata Raihan.
“Tinggal dijawab aja iya apa nggak?”
“Kalo gue bilang iya lo bakal marah nggak?”
“Tergantung. Kalo lo punya niat jelek sama adek gue belum sampe kalian berdua deket lo udah mati duluan di tangan gue,” kata Adnan.
“Kalo gue punya niat ngelamar adek lo?” tanya Raihan.
“Gue pasrah. Kalo adek gue mau lo boleh ngelamar dia,” kata Adnan.
__ADS_1