
Kirana saat ini bersama dengan Galih dan Amira, duduk di salah satu meja di kantin. Galih membantu Amira untuk membelah ayamnya agar segera dingin sedangkan di hadapannya Kirana berjuang menahan mual sembari mengunyah makanannya.
Beberapa kali Kirana meletakkan tangannya untuk menutupi mulut kemudian terdiam sebelum kembali mengunyah makanannya. Istrinya tidak sesensitif ini kemarin, sehingga Galih mulai berasumsi ada yang tidak beres tengah terjadi pada istrinya.
“Suasana hatimu lagi berantakan banget ya Ma?” tanya Galih.
Kirana tidak sanggup menjawab. Dia hanya mengangguk kemudian berusaha menyendok kuah soto di hadapannya lalu memasukkannya ke dalam mulut berharap kuah hangat soto ayam ini bisa menenangkan gejolak di perutnya.
Galih jadi teringat kalimat-kalimat buruk yang Kirana dapatkan tadi. Sebenarnya Kirana baik-baik saja. Banyak yang menerimanya dengan tangan terbuka apalagi semuanya tahu dia adalah adik perempuan komandan Adnan dan istri komandan Galih. Banyak yang tidak berani macam-macam padanya.
Jika bukan karena Mamanya Gigi tiba-tiba datang ke Jogja, mengacaukan segalanya dengan menyebarkan gosip buruk tentang Kirana hal ini pasti tidak akan terjadi. Galih juga tahu banyak yang mulai bicara tidak-tidak soal Kirana berawal dari gosip itu. Aneh memang, di awal mereka memuji Kirana namun hanya dengan satu kabar burung yang tidak diketahui kebenarannya mereka langsung percaya dan mulai menjudge.
“Papa…,” panggil Kirana pada Galih.
“Hmm?”
“Malam ini sempatkan anter aku ke rumah sakit bisa nggak?” tanya Kirana.
“Aku beneran takut, Seharian aku udah capek banget denger yang jelek-jelek terus,” kata Kirana lagi karena Galih tidak segera menjawab.
Bukannya tidak mau, kalau ditanya sebenarnya Galih lebih memilih untuk menemani Kirana ke rumah sakit tapi pekerjaannya juga tidak bisa ditinggalkan. Laporan yang harus dia kerjakan menggunung, belum lagi proposal pengadaan dimana dia harus berkutat dengan alotnya bagian keuangan sampai revisi berkali-kali hanya karena anggaran dana.
“Nanti aa usahakan ya,” kata Galih hanya diangguki oleh Kirana.
...***...
Semakin sore semakin Galih larut dalam pekerjaannya. Dia berjanji akan pulang sebelum jam 5 tapi Galih sendiri baru sadar waktu ketika mendengar adzan isya’ dikumandangkan dari masjid markas. Dengan terburu-buru Galih segera meninggalkan markas dan pulang ke rumah. Dia sampai tidak mengindahkan apakah handphone dan dompetnya terbawa atau tidak.
Ketika dia sampai, suasana rumahnya begitu sunyi. Bahkan lampu depan saja tidak menyala. Dia juga tidak menemukan mobilnya di garasi. Sepertinya Kirana sudah pergi ke rumah sakit, namun karena handphonenya mati dia jadi tidak bisa segera menghubungi Kirana.
“Ahh, bodoh banget kan,” kata Galih menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Galih sedang bingung harus bagaimana ketika dia mendengar suara mobilnya memasuki garasi. Tak lama kemudian Galih melihat Amira masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang cemberut, “Papa ingkar janji,” katanya.
“Duh, kak maafin Papa ya. Papa salah,” kata Galih.
“Mama tadi nangis Pa, tapi nggak ada Papa,” kata Amira.
Galih semakin merosot turun. Dia meninggalkan Amira untuk mencari tahu kenapa Kirana tidak segera masuk ke dalam rumah. Dia menemukan Kirana masih duduk di balik kursi kemudi. Seperti yang Amira katakan tadi, Kirana menangis. Entah apa yang terjadi padanya, entah apa yang dia dengar dari dokter, tapi yang jelas terlihat saat ini adalah istrinya itu menangis sambil menunduk.
“Ma, keluar yuk,” kata Galih membujuk Kirana untuk turun dari mobil.
“Mama…,” katanya lagi setelah tidak mendapatkan respon.
“A…,”
“Dokter bilang apa sampai kamu nangis kayak gini?” tanya Galih.
“Mamanya Bang Raihan masuk rumah sakit,” katanya.
Galih lebih dulu membantu Kirana keluar dari mobil, kemudian memintanya untuk duduk di ruang tengah bersama dengan Amira. Galih mengambilkan segelas air putih hangat dan dia berikan pada Kirana agar dia bisa sedikit lebih tenang.
“Kalau sudah tenang kamu ceritakan pelan-pelan. Aa dengarkan sampai selesai,” kata Galih yang sudah duduk di sebelah Kirana sembari mengelus rambut Kirana.
“Mama tadi ketemu sama seseorang Pa, habis itu Mama nangis,” kata Amira.
“Kak, kamu ada tugas nggak? Dikerjakan dulu sana atau kalau kakak sudah nggak ada tugas, kakak tidur. Ini sudah malam, maaf ya Mama harus ngobrol sama Papa,” minta Kirana membuat Amira mengangguk patuh dan masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan selamat malam pada kedua orang tuanya.
“Tadi kamu bilang Mamanya Bang Raihan masuk ke rumah sakit, kamu ketemu sama beliau?” tanya Galih.
Kirana menggeleng, “Aku ketemu sama Papa dan Mama, juga Papanya Bang Raihan di rumah sakit. Katanya Mama masuk rumah sakit karena tekanan darah tinggi. Semalam Mama pingsan dan langsung dibawa ke UGD sama Papa,” curhat Kirana.
Hati Galih agak tersayat melihat istrinya saat ini, tapi logikanya memahami. Kedua orang tua Raihan juga sudah seperti orang tua kandung untuk Kirana. Wajar jika Kirana menjadi sedih terlepas dari apa yang terjadi diantara mereka.
__ADS_1
“Kamu mau jenguk? Aa antar kalau iya,” kata Galih.
“Kayaknya nggak bisa a,” tolak Kirana.
“Kenapa?”
“Mama benci sama aku, Mama juga benci sama Amira. Mama menganggap aku dan Amira adalah penyebab kematian Bang Raihan. Karena ketika itu Bang Raihan menolak pengobatan demi bisa menemaniku dan menjaga Amira selama aku koma. Sejak kematian Bang Raihan, beberapa kali aku coba meminta maaf pun Mama tidak mau memaafkan. Makanya aku terpaksa menjaga jarak dari mereka. Aku paham a, Bang Raihan adalah anak tunggal kebanggaan mereka. Aku juga seorang ibu a, membayangkan kehilangan anak saja sudah mengerikan apalagi jika sampai terjadi seperti Mama kehilangan Bang Raihan,” Kirana kembali menangis.
“Sudah Mama, istighfar. Semua itu sudah ada jalannya. Mau sebaik apa kita menjaga anak, kalau Allah sudah berkehendak kita tidak akan bisa lari. Doakan saja Mama kondisinya membaik. Andai mendapatkan maaf dari Mama bisa menenangkan hatimu, aa akan bantu mengusahakan. Kalau perlu aa juga akan ikut meminta maaf atas namamu,” kata Galih.
“Lebih baik jangan a, Mama sedang sensitif sekali. Ketika Mama dengar pernikahan kita saja aku tahu Mama mengamuk, apalagi kalau aa sampai berani mendekat,” cegah Kirana.
“Ya sudah nggak. Aa nggak akan ngapa-ngapain deh. Tapi cantiknya aa jangan nangis lagi dong, jelek tuh mukanya bengep,” Galih mencoba menggoda Kirana berharap moodnya akan membaik.
“Gara-gara aa sih,” kata Kirana.
“Lho kok jadi aku yang salah.”
“Aa kan ingkar janji. Katanya mau nemenin ke rumah sakit, mana? hp aja nggak aktif,” kata Kirana.
Sontak Galih turun dari sofa dan berlutut di hadapan Kirana kemudian mengangkat kedua tangan persis seperti seorang siswa yang dihukum oleh guru karena tidak mengerjakan tugas. Kirana melihat apa yang Galih lakukan akhirnya tertawa. Galih melihat sendiri istrinya itu mulai tertawa padahal air mata di pelupuk belum mengering. Bekasnya di pipi saja masih belum hilang.
“Aa,” panggilnya.
“Iya?”
“Aku butuh aa malem ini, nanti tidur aku minta peluk boleh?” tanya Kirana.
“Lebih juga boleh, dengan senang hati lho aa kabulkan apapun permintaanmu,” jawab Galih dengan semangat mampu mengembalikan senyum Kirana yang kini berdiri di hadapannya kemudian langsung memeluk dirinya.
Galih membalas pelukan Kirana. Tangan kanannya dia letakkan di belakang kepala Kirana kemudian bibirnya mencium ujung kepala Kirana untuk menenangkan suasana hati istrinya yang dia tahu bergejolak sepanjang hari ini, “ragaku mungkin tidak selalu ada bersamamu, tapi kamu harus percaya jika hati dan jiwaku akan selalu ada padamu. Kuyakinkan padamu Kirana Dwi Dhanastri, kau adalah yang pertama dan terakhir untukku,” bisik Galih tepat di telinga Kirana.
__ADS_1