
Bu Ratna beberapa saat memeriksa kondisi Kirana. Galih melihat kerisauan di wajah ibunya apalagi Galih melihat ibunya itu menggigit bibir bawahnya tanda keraguan, “Bu, Kirana kenapa? Istriku baik-baik aja kan? Gimana sama bayiku?” tanya Galih.
“Sabar dulu. Kita bawa Kirana ke rumah sakit dulu buat di USG. Masalahnya Ibu nggak bisa menemukan detak jantung bayimu,” kata Bu Ratna dengan perlahan.
Walaupun Bu Ratna mengatakannya dengan teramat pelan, namun Galih yang mendengarnya sudah terlampau syok. Genggamannya semakin erat pada Kirana dan Galih mulai menangis. Dia menyatukan dahinya dan sang istri kemudian menciumi wajah istrinya yang masih terus mengigau.
“Ya Allah lindungi anak istriku, tolong,” batin Galih sembari mengecup kening Kirana penuh makna dan pengharapan.
***
Bu Ratna membawa Kirana ke rumah sakit dengan mobilnya. Pak Aji yang menyetir dan membawa mereka ke rumah sakit tempat Bu Ratna bekerja. Begitu di sana sudah ada rekan kerja Bu Ratna sekaligus dokter penanggung jawab Kirana yang stand by menunggu di depan pintu UGD.
Butuh waktu lebih dari 2 jam lamanya hanya untuk memastikan Kirana dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Walaupun sementara Kirana harus dirawat tapi setidaknya Kirana dan bayinya tidak terluka. Hanya saja kondisi psikis Kirana harus segera diobati. Jika tidak, kandungannya akan langsung terpengaruh.
Mendengar penuturan dokter membuat hati Galih mencelos. Seluruh tenaganya hilang begitu saja bak tersapu angin. Galih yang sudah tidak mampu untuk berdiri mulai berjalan pelan dan mendudukkan dirinya di deretan kursi ruang tunggu. kedua orang tua Galih masih tetap berada di sana. Bu Ratna menemani Kirana sembari mencarikan ruang inap untuk menantunya sedangkan Galih diajak Pak Aji untuk menenangkan diri di luar ruangan.
“Kamu belum makan kan?” tanya Pak Aji berniat mengajak Galih untuk makan. Kebetulan Pak Aji juga belum makan dan warung kaki lima yang menjual bakso di seberang jalan terlihat menggoda.
“Nggak napsu makan lagi Pak, Bapak saja aku di sini sendiri nggak papa,” kata Galih.
“Sudah ikut saja sama Bapak. Sini Bapak kasih tahu kenapa istrimu bisa kayak gitu dan gimana kamu harus menghadapinya,” kata Pak Aji.
Dengan iming-iming itu akhirnya Galih mau diajak makan. Dia dengan secepat kilat menghabiskan baksonya dan langsung menuntut Pak Aji untuk bercerita.
“Nggak sabaran kamu persis banget kaya ibumu,” kata Pak Aji.
Pak Aji lebih dulu menyeruput kuah baksonya dan melahap kerupuk di tangan hingga tersisa hanya separuhnya. Pak Aji sengaja membuat Galih menunggunya mengunyah, “gini gini, tadi Bapak sudah dengar ceritanya dari kakak iparmu. Adnan bilang Kirana bertemu lagi dengan pelaku yang pernah menyakitinya dulu. Dia baru saja keluar dari penjara beberapa waktu lalu dan Adnan bilang dia mendendam,” kata Pak Aji.
“Ya Allah pantas saja dia selalu mengeluh badannya kotor,” kata Galih.
__ADS_1
“Istrimu itu pernah trauma begitu mendalam dan Bapak jadi yakin setelah melihat yang terjadi hari ini. Trauma itu tidak pernah sembuh. Dia hanya lupa karena ada banyak orang-orang yang membantunya. Tapi karena pemicunya hadir dia jadi teringat kembali,” jelas Pak Aji.
“Kalau gitu aku balik saja Pak, nggak tega ninggalin dia sendirian,” kata Galih.
“Ehh sabar dulu. Dengar dulu Bapak bicara. Benar-benar kaya Ratna kamu nggak sabaran,” kata Pak Aji.
“Apalagi sih Pak,” kata Galih.
“Bapak mau bilang. Bapak tadi menyadari sesuatu. Kirana itu dulu tidak pernah mengingat laki-laki manapun. Dia bahkan tidak mengingat ayah dan abangnya sendiri. Bahkan tadi juga sama. Dia menolak kehadiran Adnan dan Ayahnya tapi dia bisa menyebut namamu. Dia mengingat dirimu,” kata Pak Aji.
“Kata siapa Pak, dia bisa masuk rumah sakit gini juga karena aku,” kata Galih.
“Dia kan manggil kamu ‘aa’ tadi. Masa kamu nggak dengar,” kata Pak Aji.
“Ya terus hubungannya apa Bapak dia tetap saja sakit,” Galih akhirnya greget juga.
Galih jadi menyadari jika dia sudah membuat Kirana semakin panik dengan sikapnya. Galih yang tadinya sudah beranjak kini duduk kembali. Dia sengaja memesan satu gelas teh hangat lagi dan menyesapnya secara perlahan-lahan. Pak Aji yang duduk dihadapannya tersenyum kemudian kembali melanjutkan makannya.
“Jadi laper lagi aku Pak,” kata Galih.
“Makanlah lagi. Bapak wis yang traktir.”
“bener ya Pak?”
“Iya. Wis sana makan o sak puasmu,” kata Pak Aji.
Galih semakin bersemangat karena menerima telepon dari Bu Ratna. Bu Ratna bilang Kirana sudah baik-baik saja dan saat ini dia mengeluh lapar. Bu Ratna juga meminta Pak Aji dan Galih membawa makan malam untuk mereka sekembalinya nanti.
***
__ADS_1
Kirana sedang menerima ocehan dari Lucy melalui telepon ketika Galih dan Pak Aji sampai di ruang inap Kirana. Melihat kehadiran suaminya, Kirana langsung menutup teleponnya dan meletakkan handphonenya begitu saja.
“Bunda keluar dulu sebentar ya,” pamit Bu Ratna pada Kirana mengingat Kirana pasti masih panik jika melihat ada laki-laki lain di sekitarnya.
“Bunda sini aja,” kata Kirana.
“Ma, kasihan Bapak sendirian di luar,” kata Galih.
“Bapak suruh masuk lah,” kata Kirana.
“Kamu benar nggak papa?” tanya Bunda.
“Iya.”
Galih semakin lebar tersenyum. Dia meletakkan dulu bungkusan yang dibawanya kemudian berjalan mendekati Kirana. Tidak lupa dia meminta izin pada istrinya untuk memeluknya baru Galih memeluk erat istrinya itu. Kirana berusaha mendudukkan dirinya dan membalas pelukan Galih juga meletakkan kepalanya bersandar pada Galih.
“Jangan kemana-mana ya, aku takut,” kata Kirana pada Galih.
“Iya aku nggak akan pergi kemana-mana kok,” jawab Galih.
Tak jauh dari sana Bu Ratna dan Pak Aji mengamati. Keduanya merasa lega karena Kirana sudah baik-baik saja. Keduanya menjadi lebih tenang dan Pak Aji secara sengaja memfoto Kirana yang tengah dipeluk oleh suaminya kemudian mengirimkannya kepada orang tua Kirana. Dia yakin rekan kerja sekaligus besannya itu pasti menunggu kabar dari rumah sakit walaupun dia tahu pasti mereka sudah mendengarnya dari Bu Ratna.
“Dek, Mas jadi kangen kamu,” bisik Pak Aji di telinga istrinya.
“Aku jadi teringat dulu, waktu kak Putri nggak ada, kamu juga pernah memperlakukanku semanis Galih memperlakukan istrinya. Aku jadi kangen sama suamiku,” jawab Bu Ratna.
“Yasudah karena kita sama-sama kangen kita kangen-kangenan yuk,” ajak Pak Aji.
“Yaudah Bapak sama Ibu pulang saja. Aku yang jaga Kirana di sini,” Galih ternyata mendengarnya dan dengan tersenyum dia bicara, “Pak, Bu, nggak papa kok kalau mau pulang. Makasih ya sudah bantu aku dan istriku,” kata Galih sambil tersenyum.
__ADS_1