
Hari ini Pak Aji akan resmi melepaskan seragamnya. Sebagai penghormatan terakhir atas pengabdian tiada batasnya diadakanlah sebuah upacara perpisahan yang dihadiri oleh semua anak buah beliau baik di pelopor maupun di gegana. Dalam upacara kali ini seluruh anggota keluarga Pak Aji hadir. Jika seluruh anak buah menghormati Pak Aji sebagai komandan yang memiliki jiwa pengabdian tinggi dan pengayom yang baik, anak-anak beliau mengenal sosok Pratama Aji Saputra sebagai seorang ayah yang hangat, tidak semena-mena dan kasar apalagi pada anak-anak perempuannya.
Selain dikenal sebagai ayah yang baik dan pemimpin yang hebat, Bu Ratna juga mengenal sosok beliau sebagai suami yang pengertian, perhatian, dan selalu menyayanginya sepanjang hayat. Sebagai suami yang siap mengorbankan segalanya bagi istri dan anak-anaknya. Suami yang begitu lembut namun tegas di waktu yang bersamaan.
Kirana, Kaori dan Tara berjalan maju untuk memberikan buket bunga pada Pak Aji dan Bu Ratna, orang tua dan mertua mereka ini. Sedangkan Galih, Aksara, dan Nusa berdiri di belakangnya sembari bertepuk tangan sebagai apresiasi tertinggi untuk sosok berjasa dalam hidup mereka ini.
Setelah selesai acara, keluarga besar Pak Aji diberikan kesempatan untuk makan siang bersama. Walaupun Aksara dan Galih harus kembali ke kantor setelah jam makan siang, tapi itu sudah lebih dari cukup karena kapan lagi anak-anak termasuk cucu dan menantu bisa berkumpul semua begini. Buat Pak Aji dan Bu Ratna yang sudah mulai menua, momen seperti ini jadi begitu terasa berharga.
Selama perjalanan ke rumah makan yang sudah mereka booking Kirana mengantuk dan mulai jatuh tertidur padahal lamanya tidak seberapa. Amira saja sampai bingung ketika kepala Mamanya tidak sengaja terbentur kepalanya.
“Mama ngantuk?” tanya Amira membuat Galih menoleh.
“Tumben Ma jam segini ngantuk?” tanya Galih.
“Nggak tahu nih, beberapa waktu ini rasanya gampang ngantuk aku,” keluh Kirana.
“Kecapekan kali kamu. Habis ini pulang terus istirahat dulu aja ya, toh sudah ada Lucy di cafe. Besok kalau kamu sudah sehat kan bisa gantian shift,” kata Galih.
“Iya deh, habis ini aku mau pulang aja,” kata Kirana.
Selama acara makan siang berlangsung, Bu Ratna selalu saja memperhatikan Kirana yang gerak-geriknya agak aneh dan tidak seperti biasanya. Bukan hanya dia kelihatan seperti mengantuk, tapi juga Bu Ratna beberapa kali mendapati Kirana menutupi mulutnya seperti menahan mual.
“Yah,” bisik Bu Ratna pada suaminya.
“Hmm?”
“Mantumu kayaknya isi,” kata Bu Ratna.
“Maksudnya?” Pak Aji yang sedang tidak peka malah bertanya balik.
“Itu Kirana dari tadi gelagatnya aneh, apa habis ini Mama ajak periksa aja ya?” tanya Bu Ratna membuat atensi Pak Aji ikut ke arah Kirana yang tengah meutupi mulutnya menahan mual.
“Coba aja, kalau memang iya kan alhamdulillah biar bisa segera siap-siap,” kata Pak Aji.
Begitu mendapatkan persetujuan dari suaminya, Bu Ratna langsung tersenyum dan mulai merencanakan untuk mengajak Kirana ke dokter kandungan kenalannya.
Selesai acara makan siang, Bu Ratna yang harusnya pulang bersama dengan suaminya malah ikut masuk ke dalam mobil Galih. Begitu saja Bu Ratna duduk di samping Amira yang ikut bingung kenapa nenek malah ikut masuk ke dalam mobil Papanya yang akan pulang ke rumah.
__ADS_1
“Bu, kok malah di sini? Aku nggak ke rumah dulu lho Bu,” kata Galih yang bingung.
“Antar ibu ke rumah sakit dong,” kata Bu Ratna.
“Ibu ada jadwal?” tanya Galih.
“Nggak ada,” jawab Ibu.
“Terus ngapain ke rumah sakit?” Galih kembali bertanya.
“Mau meriksain istrimu,” kata Bu Ratna membuat Kirana ikut kaget. Dia tidak merasa sakit selain mual yang tiba-tiba dia rasakan, itupun dia menduga karena adanya asap rokok yang sempat terhirup olehnya ketika mereka baru sampai tadi.
“Mama sakit?” tanya galih pada Kirana karena dia juga tidak tahu kalau istrinya ini sedang sakit.
“Nggak,” jawab Kirana.
“Ah udah kalian berdua nih ikut aja. Nanti kan tahu sendiri,” kata Bu Ratna.
Mau tidak mau Galih mengiyakan permintaan Ibunya. Begitu sampai di rumah sakit dan mobilnya sempurna terparkir, Bu Ratna langsung menggandeng Kirana ke poli dan masuk dalam salah satu ruangan yang sukses membuat pikiran Galih melayang-layang hanya karena membaca tulisan di sebelah pintu.
“Papa, Mama sakit apa kok dibawa ke rumah sakit?” tanya Amira.
***
Sepulangnya mereka dari rumah sakit, Galih mengantar Kirana dan Amira ke rumah kedua orang tuanya. Walaupun hari sudah mulai sore, tapi Galih masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sedangkan dia tidak sanggup meninggalkan Kirana seorang diri di rumah bersama Amira yang pasti repot mengurusnya seorang diri dalam kondisi setengah sakit.
“Akung…, Uti…,” teriak Amira berlari mencari kakek dan neneknya.
“Amira jangan lari-lari…,” kata Kirana yang saat ini berjalan pelan dibelakang putrinya.
“Ada apa sih, tuan putri kok kayaknya happy banget,” tanya Uti yang menyambut Amira.
“Kayaknya ada yang punya kabar baik deh,” kata Lucy yang sudah lebih dulu tahu kabarnya dari Kaori.
“Apa? Kirana hamil?” tanya Adnan yang tengah bermain dengan putranya di ruang tengah.
“Tepat,” jawab Galih.
__ADS_1
“Uti, Amira mau jadi kakak. Amira mau punya adek,” kata Amira masih tetap berjingkrak senang.
Mama yang baru mendengar kabarnya langsung memeluk Kirana saking bahagianya. Mama juga memeluk Galih dan mengucapkan selamat pada keduanya. Lucy dan Adnan juga tidak ketinggalan. Amira apa lagi, dia langsung pamer pada Dek Daffa kalau sebentar lagi mereka akan punya adik baru lagi.
“Berapa minggu usianya Ki?” tanya Lucy.
“11 jalan 12,” jawab Kirana.
“Hoo, 11 jalan 12 ya…,” gumam Adnan yang mulai berdiri mendekati Galih.
“Kenapa sih?”
“Perasaan kalian nikah baru 3 bulan, hmm…, tancap gas kan lo pasti,” Adnan masih saja menggoda junior sekaligus iparnya itu.
“Bodo sih Bang, sama istri sendiri ini. Udah sah, legal, secara hukum agama maupun hukum negara. Apa salahnya? Kirana juga mau kok,” jawab Galih tidak kalah rusuhnya membuat Kirana geleng-geleng.
“A, dari pada cuma debat sama Bang Adnan mending aa sekarang balik ke kantor, selesain kerjaannya biar nanti pulang nggak kemaleman,” kata Kirana.
“Iya iya mau otw nih,” kata Galih yang langsung berpamitan.
Kirana lebih dulu mengantar Galih pergi baru kembali masuk ke dalam rumahnya dan langsung menjatuhkan diri di sofa. Tepat di sebelahnya Amira bermain bersama Dek Daffa dan Papanya. Kirana yang merasa tubuhnya berat sejak pagi tadi mulai kehabisan tenaganya saat ini.
“Pucat banget Kirana? Istirahat aja sana,” kata Mama.
“Ma, kenapa ya pas hamil Amira nggak sampai segininya lho,” tanya Kirana.
Mama dengan perhatiannya mendekati Kirana, memeriksa suhu tubuh putrinya dengan punggung tangan, “kamu mulai demam nih, udah sana istirahat aja,” kata Mama.
Amira yang mendengar penuturan Uti kemudian mendekati Mamanya dan memeluk Mama yang duduk di sofa sambil menyadarkan tubuhnya. Amira dengan wajah sedihnya menatap Mama, “Mama, adek nakal ya kok Mama sampai sakit?” tanya Amira.
“Nggak sayang, kata siapa adek nakal?”
“Ini badan Mama jadi panas, adek jangan nakal dong kasihan Mama. Adek kakak peluk ya, biar nggak marah-marah lagi,” katanya kali ini pada perut Kirana kemudian memeluknya.
Kirana tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh putrinya ini. Tadinya dia sempat takut jika Amira akan menolak kehadiran adiknya karena sejak kecil dia selalu mendapatkan semua perhatian. Kirana juga selalu mengamati jika Amira ini tidak mau kalah. Kalau seisi rumah sedang memperhatikan Daffa saja dia akan mulai mencari perhatian. Tapi melihat bagaimana Amira memperlakukan adiknya di dalam perut Kirana sudah membuat satu kekhawatiran Kirana hilang.
“Mi, sekalian aja sama Mama bobok di kamar sana. Sekalian peluk adek sekalian peluk Mama,” kata Adnan.
__ADS_1
“Iya juga ya Pa,” jawab Amira sok mikir.
“Mama ayo, kita bobokan biar Amira bisa peluk Adek sama Mama,” Amira kemudian menarik Mamanya untuk masuk ke dalam kamar.