
“Aa apaan sih, nggak lucu bercandanya,” kata Kirana.
“Neng, sejak kita ketemu di tempat Gigi aa belum pernah bercanda lho. Semua yang aa katakan itu benar adanya. Coba saja kamu pikir, mana ada orang yang mau disebut papa sama anak yang bukan darah dagingnya sendiri kalau memang nggak sayang?”
“Awalnya aa gemes banget sama Amira. Dia baru 4 tahun tapi pinter banget. Dia dewasa, nggak rewel, tapi juga masih suka main-main seperti anak kebanyakan. Anak itu persis seperti yang sering kali aa impikan. Aa juga sudah pernah bilang kan sama kamu, aa pengen punya anak cewek yang seperti Amira.”
“Ditambah sekarang ada kamu, aa jadi semakin yakin untuk menetapkan pilihan. Aa bilang begini juga nggak sembarangan neng. Aa itu sudah dikejar-kejar untuk segera nikah sejak lama. Aa sampai sholat istikharah lho hanya untuk mengambil keputusan apakah menunggu atau minta ditaarufkan. Sudah beberapa kali aa taaruf Ki, tapi tidak ada satupun yang nyantel. Tapi sama kamu, hanya dengan satu kali lirik rasanya udah kebawa kemana-mana. Beneran aa nggak bohong. Senyumanmu, caramu bicara, candamu sama Amira, membuat aa jatuh cinta sama kamu,” jelas Galih panjang lebar.
“Aa sekarang sudah percaya cinta?”
“Hampir. Karena kamu aa mau belajar apa itu cinta, belajar cinta yang saling mengerti, saling memahami, dan saling menguatkan. Ini jujur ya, aa tuh sampai datang ke rumah Pak Aji, bapaknya Aksara demi menetapkan hati,” kata Galih.
“Kenapa malah ke Om Aji?”
“Soalnya sejak aa masuk brimob Pak Aji yang selalu mendampingi aa. Mungkin karena aa ada satu divisi sama putranya, tapi aa merasa nyaman. Pak Aji memperlakukan aa tidak seperti bawahan dan atasan tapi seperti anak sendiri. Begitu sih setidaknya yang aa rasakan,” kata Galih.
“Memang begitu kok. Aku jadi paham kenapa aa nyaman sama Om Aji dan Tante Ratna. Keduanya memang sering dijadikan contoh oleh anak buahnya termasuk papaku, yang junior om Aji saja mengadaptasi cara Om Aji dalam memperlakukan Tante Ratna. Aku dengar juga Om Aji sama Tante Ratna disebut pengantin baru lupa umur saking langgengnya rumah tangga mereka, puluhan tahun tanpa cekcok.”
“Dan aku mau membangun rumah tangga yang seperti itu sama kamu dan Amira,” kata Galih.
“Aa, aku ini janda lho. Kenapa sih aa tidak membangun rumah tangga semacam itu dengan gadis yang masih perawan saja? Aa akan punya anak dari perempuan itu, anak yang darah daging aa sendiri. Amira itu putrinya Bang Raihan, bukan putrimu a. Kenapa aa ngebet banget harus sama aku?”
“Ya karena cewek yang aku mau hanya kamu. Nggak ada yang lainnya. Jangan tanya kenapa, aa sendiri juga nggak tahu kenapa soalnya. Kalau kata Aksara, cinta itu nggak butuh alasan. Nggak peduli bentuk fisik, apalagi sampai menuntut sesuatu dan aa sekarang lagi merasakan itu ke kamu makanya aa inginnya kamu bukan yang lain,” kata Galih.
“Aa, hidup berumah tangga itu nggak kenyang makan cinta doang. Kalau misalkan aku nggak sesuai ekspektasi aa gimana? Apa aa akan memintaku berubah, atau aa yang akan berubah demi bisa bersamaku? Jawab a dengan jawaban yang realistis,” kata Kirana.
“Tergantung situasinya. Kalau pendapatmu lebih baik dibanding pendapat aa ya kita pakai pendapatmu, begitupun sebaliknya,” jawab Galih.
“Nggak sesederhana itu a.”
__ADS_1
“Komunikasi Kirana. Kita punya mulut bukan hanya sekedar untuk bicara, kita harus terus menyamakan pendapat satu sama lain. Setiap masalah mau besar mau kecil harus segera diselesaikan. Begitu sih yang Pak Aji katakan padaku,” jawab Galih lagi.
“Kamu itu sudah pernah menikah dan mengalami sendiri pasang surutnya pernikahan makanya nggak peduli apa yang aa katakan kamu nggak akan percaya. Aa kayaknya pernah bilang aa nggak akan mengumbar janji, aa hanya meminta kesempatan untuk membuktikan. Andai kamu nggak cocok, kamu bebas ninggalin aa kapan saja,” jawab Galih.
“Kesepakatan awalnya aa berjanji akan membuat Amira nggak benci sama papanya. Keputusanku selanjutnya juga ada sama Amira, kalau anakku itu bisa menerima papanya aku akan menerima aa. Itupun bukan demi aku a, tapi demi Amira. Jika nanti setelah Amira tidak membenci Papa Raihan Amira jadi tidak mengharapkan aa menjadi papanya lagi, jangan salahkan aku kalau aku pergi,” final Kirana.
“Insyaallah aa siap. Apapun keputusanmu, syaratnya satu. Kamu harus bilang sama aa kapan aa harus pergi. Biar aa nggak terus berharap dan aa bisa menyiapkan hati untuk pergi,” jawab Galih kemudian.
“Aa bikin perasaanku jadi tambah campur aduk,” kata Kirana.
“Maaf ya neng, padahal kan aa nggak bermaksud. Kamunya sih ngegas.”
“Ih apaan orang aa yang mulai duluan. Tadi yang bilang suami suami siapa hayo?”
“Habis kamunya susah banget cuma disuruh nyender aja.”
“Terus maunya apa? Mau dipeluk?”
“Tuh kan aa ngegas lagi,” kali ini Kirana bukannya menangis malah tertawa. Entah kenapa dia merasakan lagi ada satu kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan. Terakhir kali dia mendapatkan kehangatan ini hanya dari mendiang suaminya dan kali ini dia merasakannya lagi dari Galih. Laki-laki yang entah jatuh dari mana tiba-tiba bisa berdiri di hadapannya dan dengan entengnya berkata akan menjadi ayah dari putrinya.
“Kirana, izinkan aa ketemu sama orang tuamu. Setelah itu sama suamimu juga,” kata Galih membuat Kirana lepas dari lamunannya.
“Kenapa?”
“Pertama, aku akan sering ke rumahmu kan pasti, demi melakukan pendekatan ke tuan putri. Kalau aku nggak kenalan bisa dikira maling nanti. Yang kedua aku harus minta izin dulu sama suamimu. Boleh nggak nih istri tercintanya diambil sama aa,” kata Galih.
“Boleh a.”
“Ok kita pulang sekarang ya, aa sudah nggak sabar mau ketemu Papa sama Mama,” jawabnya dengan begitu semangat.
__ADS_1
“Aa ngegas lagi,” kata Kirana.
“Nggak papa lah yang penting kenalan dulu. Besok aa nggak akan ngegas-ngegas lagi,” kata Galih.
“Ok, kuhitung ya kalau aa ngegas lagi sampai 10 kali wajib traktir makan,” kata Kirana.
“Siapa takut. Atau aa ngegas aja terus ya biar bisa cepet-cepet traktir kamu makan,” kata Galih malh menggoda Kirana dengan duduk mendekat ke Kirana dan meletakkan kepalanya di bahu Kirana.
“Aa apaan sih. Nggak asik. Ayo kita pulang aja, bisa habis aku di sini kelamaan,” kata Kirana.
“Eii, cuma minta dielus doang pelit amat si eneng,” gerutu Kirana.
“Memangnya boleh?”
“Kenapa nggak? Nih elus aja, rambut aa walaupun minim tapi halus lho. Coba aja pegang,” kata Galih menyerahkan kepalanya di hadapan Kirana.
“Nggak a, nggak sekarang. pegang-pegangnya nanti aja ya, jangan sekarang,” kata Kirana sembari menjauhkan Galih darinya.
“Yaudah iya, ayo kita pulang. Aa mau beli es dulu soalnya. Kamu suka nggak es nira? Tahu kan air nira yang suka dibuat gula, di sini ada yang jual tapi kalau kesorean udah habis jadi sebelum kehabisan ayo kita beli,” kata Galih tiba-tiba terdengar seperti Amira kalau menginginkan sesuatu.
“Iya iya pulang nih. Dasar, nggak anaknya nggak papanya sama aja,” kata Kirana tanpa sadar tapi sudah terlanjur didengar oleh Galih.
“Apa tadi? Bilang apa neng aa nggak denger,” tanya Galih kembali mendekatkan telinganya ke Kirana.
“Nggak. Nggak ada.”
“Ayolah neng, diulang sekali lagi aja nggak susah kok. Aa pengen denger dengan lebih jelas, cepetan,” kata Galih.
“Nggak. Tadi udah dengar kan, nggak terima pengulangan,” kata Kirana mulai berjalan lebih dulu dari Galih yang masih sok-sokan merajuk.
__ADS_1