
“Assalamualaikum…,” sapa Kirana ketika mendapatkan telepon dari seseorang.
“Waalaikumsalam Mamanya Amira…, hari ini apakah ada waktu? Aa mau ajak neng berkeliling jogja sambil menikmati suasana sore kalau neng mau,” katanya dari seberang.
Saat ini Kirana sedang duduk bersama Ningrum dan melihat ekspresi wajah sahabatnya Ningrum paham apa yang dikatakan oleh orang dari seberang. Ningrum dengan hebohnya mengode Kirana untuk menjawab iya dan bahkan berjanji akan mengantar Amira pulang agar Kirana bisa bersantai.
“Maaf a, boleh saya ajak Amira?” tanya Kirana.
“Oh tentu. Baru aa mau bilang ajak Amira ya,” kata Galih.
“Kalau boleh ajak Amira Kirana mau a, tapi jangan kemalaman pulangnya ya,” kata Kirana.
“Diusahakan sebelum jam 9 kamu dan Amira sudah sampai di rumah. jadi aa harus jemput kemana?”
“Aa tahu cafe YellowSun?” tanya Kirana.
“Hmm…, kok terdengar familiar ya. Tapi nggak neng kayaknya aa nggak tahu tepatnya dimana,” kata Galih lagi.
“Di daerah pandega a, tidak jauh dari hoka hoka bento. Kalau dari arah GSP Kiri jalan, plangnya warna hitam tulisannya putih ada gambar mataharinya. Warna cat dari luar kuning. Nanti kalau aa sudah otw beri tahu Kirana ya, biar Kirana tunggu aa di depan pintu,” kata Kirana.
“Ok. Nanti sore aa kabari lagi ya. Aa selesai shift sekitar jam 4 sore kalau apelnya nggak molor,” kata Galih.
“Ya a,” jawab Kirana singkat.
Sudah tidak kuasa dia menjawab kalimat-kalimat Galih. Kirana tidak pernah meminta Galih bercerita tentang kesehariannya padahal tapi entah kenapa laki-laki ini dengan senang hati menceritakan semua yang dialaminya seharian pada Kirana. Pada akhirnya Kirana juga secara reflek menceritakan kesehariannya juga itulah kenapa dalam waktu singkat mereka bisa akrab. Hanya akrab, tidak lebih. Tapi Kirana bersyukur Amira jadi lebih sering tersenyum ketika bersama dengan Galih.
“Gembrot!” teriak Aksa persis di telinga Galih yang hanya tersenyum memandangi ruang obrolannya dengan Kirana di handphonenya.
“Monyet! Kurang ajar lo teriak di telinga orang!” bentak Galih tidak terima.
__ADS_1
“Salah lo sendiri dipanggil nggak denger,” jawab Aksa enteng. Dia memberikan kode dengan dagunya hanya agar Galih menyadari ada seseorang yang berkacak pinggang di hadapannya.
“Lo jadi Danki kerjanya gimana sih?” tanya Adnan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Apasih soal Leo lagi? Kick aja kick. Nggak bisa dibilangin orang kayak dia mah,” kata Galih malas.
“Belum selesai perkaranya dia?” tanya Keenan yang sejak tadi hanya menjadi pengamat.
“Kelar kagak makin parah iya. Anjing banget tuh orang bikin rusuh aja. Bang, kalau Abang mau kasih punisment ke dia aku setujui. Aku nggak suka sama orang yang sombong setengah mati mentang-mentang berseragam terus seenaknya sendiri begitu. Bang, ini sudah bukan kali pertama aku dapat laporan dari pak Lurah tempat dia tinggal makanya segala sesuatu yang berhubungan sama Leo Ginanjar kupasrahkan sama bagian propam. Mau dia dipecat mau dia turun pangkat atau dimutasi aku udah nggak peduli bang. Jujur aku gagal jadi Danki yang baik karena bisa ada orang mental tempe kaya gitu di kompiku tapi aku sendiri juga nggak diam Bang, sampe berbusa mulutku ngasih tahu dia tapi omonganku mental semua,” kata Galih.
“Paham. Tapi masalahnya dengan berat hati saya harus hukum anda. Iptu Galih Arsa Shiddiq, ambil perlengkapan anda dan lari keliling lapangan 100x ditambah kewajiban maintenance kendaraan selama 3 bulan,” kata Adnan dengan mode komandan.
“Siap. Laksanakan,” jawab Galih tanpa membantah.
Galih langsung meraih seragamnya dan mengenakannya dengan rapih. Membetulkan posisi sabuk dan memakai kembali sepatunya kemudian berjalan ke gudang senjata untuk mengambil ransel dan senjatanya.
“Ndan, siap laksanakan perintah. Mau diawasi nggak?” tanya Galih yang masih sempat menyembulkan kepala ke arah ruangannya tempat Adnan masih bertahan mengobrol dengan Keenan, Aksa dan beberapa yang lainnya.
“Lagi jatuh cinta dia kayaknya Bang,” kata Keenan setelah Galih pergi.
Adnan sempat terdiam baru dia berani menjawab Keenan setelah menyiapkan poker facenya, “biarin lah biar nggak jadi bujang lapuk, kasihan seumur hidup belum pernah ngerasain pacaran,” kata Adnan.
...***...
“Papa~,” panggil Amira begitu melihat Galih melangkah masuk ke dalam cafe.
“Aa? Kok sudah sampai? Ih Aa bohong ya, tadi bilangnya apel molor,” kata Kirana.
“Neng, kamu percaya polisi sekelas brimob bakal molor? Apalagi provostnya galak-galak,” jawab Galih.
__ADS_1
“Ya…, nggak sih…,” kata Kirana yang baru menyadari kalau ternyata dia polos juga.
Galih tertawa melihat Kirana seperti protes pada dirinya sendiri yang dengan polosnya masuk dalam jebakan Galih, “neng, aa boleh pesan sesuatu nggak? Aa laper beneran nggak bohong,” kata Galih.
“Papa…, papa suka spageti nggak? Spageti bakso buatan Mama enak lho,” kata Amira memberikan rekomendasi pada Galih.
“Ok, seperti rekomendasinya tuan putri. Spaghetti meatball 1 sama ice boba matcha latte 1. Ekstra boba, ekstra es,” kata Galih pada Kirana yang tersenyum menyadari ternyata ada juga yang memiliki selera sepertinya.
“Nih,” Galih menyodorkan selembar uang 100 pada Kirana.
“Nggak usah bayar Bang, Kirana yang traktir,” jawab Kirana.
“No, Kirana. Jangan bikin aa hutang budi sama kamu,” kata Galih.
“Nggak a, beneran Kirana yang traktir. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih karena aa akan ngajak aku dan Amira jalan-jalan hari ini,” kata Kirana.
“Oh itu beda perkara neng. Soal yang satu ini kan aku yang minta jadi aku harus bertanggung jawab. Kamu belum siapa-siapaku, jadi aku nggak mau kamu bayarin aku hanya karena hal sepele,” kata Galih.
“Nggak a, nggak papa…,” kata Kirana.
“Ok gini aja biar gampang. Terima kasih ya sudah memiliki niat baik traktir aa, sekarang ini uangnya diterima terus masukkan dalam kotak amal itu. Harus kamu yang masukin sejumlah pesanan aa tadi,” kata Galih.
“Memangnya boleh A?”
“Boleh saja, toh aku nggak mau dorong-dorongan sama kamu terus. Sama-sama ikhlas kan? Niatmu terlaksana dan aa tidak merasa terbebani,” katanya sambil tersenyum.
Kirana akhirnya membalas senyuman itu kemudian mengangguk. Setelah membuatkan notanya dia memberikan kembalian pada Galih sedang uang yang seharusnya masuk ke dalam laci dia masukkan dalam kotak amal. “Bismillah, ku pasrahkan diriku pada-Mu. Andai memang orang ini yang akan menjadi muara hatiku semoga jadi awal yang baik untuk aku dan a Galih,” batin Kirana sambil memasukkannya ke dalam kotak. Tidak disangka, Galih mengikuti. Kembalian yang tadi Kirana berikan dia masukkan juga dalam kotak amal dengan entengnya.
“Aa jangan bercanda deh, kenapa uangnya dimasukkan semua?!” kata Kirana.
__ADS_1
“Nggak papa,” jawabnya sambil tersenyum kemudian meninggalkan Kirana untuk duduk bersama dengan Amira.. Kirana tidak tahu saja jika dalam hati Galih juga mendoakan hal yang sama dengan Kirana barusan.
“Bismillahirrahmanirrahim, atas restu Allah aku ingin wanita sholehah bernama Kirana Dwi Dhanastri ini jadi milikku seutuhnya. Semoga aku bisa menjadi suami yang baik untuk Kirana dan ayah yang baik untuk Amira,” batin Galih ketika memasukkan uang itu dalam kotak amal.