
Raihan berjalan keluar dari hotel dan memilih duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Dia merasakan tubuhnya saat ini terasa berat. Ketika Kirana lagi-lagi menyebutkan tentang kondisinya entah kenapa ada denyut menyakitkan dalam hatinya. Dia tahu Kirana tidak bersalah, tapi dia juga tidak mampu membohongi dirinya sendiri soal keinginannya. Wajar seorang laki-laki mengharapkan keperawanan istrinya di malam pertama mereka, Raihan juga sama.
Raihan hanya menekan keinginan itu agar tidak menyakiti hati istrinya. Raihan sudah memilih Kirana, jadi dia harus menerima semua konsekuensinya. Dia juga sudah puluhan kali ditanya oleh kedua orang tuanya, oleh mertuanya, dan terkhusus oleh Adnan Dzaki yang saat ini menjabat sebagai kakak iparnya. Raihan sudah menjawab iya. Dia sudah menerima Kirana, jadi dia harus memendam keinginannya itu sesegera mungkin.
“Ya Allah…, semoga hamba-Mu ini kuat menghadapi semua cobaan-Mu. Berilah kesabaran dan ketabahan agar aku bisa memberikan kekuatan padanya. Aku mencintainya, dan aku menginginkannya. Aku ingin gadis bernama Kirana Dwi Dhanastri yang saat ini sudah menjadi istriku itu bisa kembali bangkit menatap masa depannya,” batin Raihan sambil memandangi luasnya hamparan langit yang cerah dengan awan putih menghiasinya.
...***...
Setelah Raihan meninggalkan kamar, Kirana melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak lupa untuk mengunci pintu seperti pesan Raihan tadi. Beberapa lama Kirana menangis di bawah guyuran air dari shower. Kirana sesungguhnya belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Boleh saja banyak orang yang berkata jika hal itu terjadi bukan karena kesalahannya, tapi Kirana sendiri tahu jika dia bersalah.
Andai ketika itu dia memaksa Keenan untuk menjemputnya, atau dia tidak takut menghubungi Bang Adnan hal mengerikan itu tidak akan terjadi padanya. Keenan juga tidak akan pergi dari sisinya. Hatinya juga tidak perlu berkecamuk seperti ini.
“Abang, Kirana harus gimana? Maafin Kirana Bang,” kata Kirana yang mulai jatuh terduduk.
...***...
“Hallo Nan? Kenapa telepon?” tanya Raihan pada Adnan yang tiba-tiba menghubunginya..
“Nggak tahu tiba-tiba aja kepikiran kalian berdua. Gimana Kirana? Dia baik-baik aja kan?”
“Orangnya lagi mandi,” kata Raihan sedikit berbohong.
“Dia nggak nangis kan?”
“Iya dia nangis,” batin Raihan. “Nggak kok. Dia lagi mandi terus habis ini mau aku ajakin cari makan sekalian jalan-jalan. Lo nggak perlu khawatir. Dia baik-baik aja kok,” kata Raihan. Dia terpaksa membohongi kakak iparnya itu karena Raihan mencurigai gelagat Adnan. Seperti ada rahasia yang sedang menggerogoti hatinya dan hal itu berkaitan dengan Kirana. Raihan tidak ingin memaksanya menceritakan apa yang terjadi, tapi dia juga tidak mau Adnan menyimpan perasaan bersalah itu terus menerus.
Setelah teleponnya dimatikan, Raihan berjalan kembali ke dalam kamar. Seperti yang tadi dia katakan, Raihan lebih dulu mengetuk pintu dan memanggil Kirana yang masih ada di dalam entah melakukan apa. Kirana membukakan pintu kemudian memaksakan seutas senyum untuk menyambut suaminya.
“Nih, Abang belikan susu strawberry buat kamu,” kata Raihan menyerahkan satu kantong kresek berisi beberapa kotak susu.
“Ya ampun Bang banyak amat?”
__ADS_1
“Kamu masukkan ke kulkas saja biar dingin,” jawab Raihan.
Kirana memasukkan kotak susu itu ke dalam kulkas kecil yang menjadi salah satu fasilitas kamar. Dia menyisakan dua kotak susu untuknya dan Bang Raihan. Kirana dan Raihan saat ini melakukan hal yang sama. Membuka lipatan bagian atas kemasan, kemudian mengguntingnya. Keduanya tidak meminum susu itu dengan menggunakan sedotan yang ditempel di bagian belakang kemasan tapi meneguknya begitu saja.
Kirana sempat tersenyum begitu juga dengan Raihan. Sudah lama mereka menyadari kebiasaan lucu ini. Jika umumnya orang meminum susu atau minuman dalam kemasan menggunakan sedotan, Raihan dan Kirana tidak. Keduanya tidak sesabar itu menunggu minumannya berjalan masuk melalui celah sempit sedotan. Mereka lebih memilih untuk menenggaknya. Keduanya beranggapan jika meminumnya sampai memenuhi rongga mulut akan mendapatkan kenikmatan dari rasanya dengan maksimal.
“Bang, hari ini kita akan kemana?” tanya Kirana.
“Hari ini tidak ada agenda khusus sih. Paling setelah ini kita makan siang di restoran di bawah sekalian jalan-jalan di sekitaran sini. Tidak jauh dari hotel ini ada hamparan sawah yang hijau. Abang mau ajak kamu ke sana, mau?” tanya Raihan.
“Mau Bang. Ih suka deh, udah lama aku nggak lihat sawah,” kata Kirana.
“Anak kota banget kamu kayaknya,” kata Raihan.
“Ya karena Kirana dari kecil memang nggak pernah keluar dari kota Bang. Kalaupun pergi mentok-mentok ke pantai, ke Kaliurang, paling jauh ke rumah kakek,” kata Kirana.
“Kalau Abang beda Dek, Abang dari kecil sudah sering pindah-pindah. Bahkan Abang pernah ada di satu titik dimana Abang nggak mau punya teman karena percuma juga punya teman toh nantinya Abang akan pergi juga,” curhat Raihan.
“Abang pasti akan ceritakan. Kamu mau tahu tentang apa semua akan Abang beri tahu. Tapi sekarang siap-siap dulu yuk. Abang laper banget nih,” kata Raihan membuat Kirana segera bersiap dan menyusul Bang Raihan yang sudah lebih dulu siap.
...***...
Ketika Raihan dan Kirana selesai makan, awan mendung berbondong-bondong datang dan langsung menjatuhkan hujan yang cukup deras. Kirana langsung cemberut, pasalnya dia jadi gagal berjalan-jalan di sawah. Bukan karena dia tidak mau terkena air, tapi dia malas berbecek-becek ria apalagi dia hanya bawa satu sepatu dan satu sandal saja.
Akhirnya Raihan dan Kirana hanya bisa menarik kursi dan duduk memandangi hujan dari kaca kamar hotel mereka. Kirana tadi membuatkan dua gelas kopi hangat untuknya dan Raihan kemudian keduanya duduk mengobrol. Tadinya Kirana dan Raihan hanya membicarakan tentang hal-hal sepele, tapi lama kelamaan mereka mulai membicarakan soal masa lalu keduanya. Kirana tidak banyak bercerita tentang masa lalunya karena Raihan memang sudah tahu tentang Kirana bukan hanya dari cerita Adnan tapi juga dia lihat sendiri.
“Kalau Abang sendiri punya mantan tidak?” tanya Kirana.
“Tidak ada.”
“Yang bener Bang? Kasihan amat,” ledek Kirana.
__ADS_1
“Eh Abang memangnya kelihatan kaya orang bohong? Kamu itu yang pertama buat Abang. Walaupun Abang akui kamu bukan cinta pertama Abang tapi kamu yang terakhir buat Abang,” kata Raihan.
“Gombal ih,” kata Kirana. Dia kembali meminum kopinya dan menutupi wajahnya dengan gelas untuk menyembunyikan rona di wajahnya.
“Beneran ya, nggak percayaan banget sih.”
“Terus cinta pertamanya Abang siapa?” tanya Kirana.
“Mama.”
“Yang bener kenapa sih Bang. Masa Mama,” protes Kirana.
“Bener. Yang pertama Mama yang terakhir kamu. Abang berani sumpah nggak akan ada wanita lain selain kamu,” jawab Raihan.
Kirana berhenti tertawa. Dia tersenyum dan berterima kasih pada Raihan. Kirana tidak mengira jika laki-laki yang sebelumnya hanya dia kenal sebagai kawan Abangnya ini akan berakhir mencintainya dan menjadi suaminya sekarang. Kirana juga berterima kasih karena berjuta pengertian yang dia berikan pada Kirana yang penuh dengan kekurangan.
“Abang…, boleh Kirana tahu sejak kapan Abang suka sama Kirana?” tanya Kirana.
“Sejak kita kemah beberapa tahun lalu. Mungkin kamu masih ingat, Abang pernah curhat sama kamu soal lagi suka sama orang. Ya, orang itu kamu sebenarnya,” jawab Raihan.
“Jadi alasan Abang tidak mengatakannya bukan karena Abang takut?”
“Bukan. Abang menyimpan rasa yang Abang punya agar Abang tidak menyakiti banyak orang. Tapi nyatanya Allah membawamu pada Abang kan? Walaupun kita harus merasakan pahit terlebih dahulu tapi Abang percaya kalau di masa depan nanti kita bahagia. Lagi pula kamu juga pernah bilang kan, tidak akan ada rasa manis jika kita tidak ada rasa pahit,” kata Raihan.
“Kenapa Abang percaya sekali sama kata-kata Kirana?”
“Karena kata-katamu itu berbeda dengan kata-kata orang di luar sana. Kata-katamu itu memang indah tapi tidak mengada-ada. Sederhana tapi langsung mengena di hati Abang. Abang juga percaya karena kamu selalu memegang kata-katamu. Kamu adalah wanita yang tegas dan berpendirian kuat itulah kenapa Abang bisa menyukaimu,” kata Raihan yang untuk pertama kalinya menyatakan perasaannya dengan yang sebenar-benarnya.
“Makasih ya Bang sudah sayang sama Kirana,” kata Kirana.
“Sama-sama sayang. Abang juga makasih karena kamu mau menerima Abang,” kata Raihan diangguki oleh Kirana.
__ADS_1