Baret Biru

Baret Biru
95. Maaf dari Mama


__ADS_3

Kirana pada akhirnya mencoba mendekati Mama Hasna kembali. Jika bukan karena mimpi buruk yang selalu menghantuinya dan Galih setiap malam, Kirana juga tidak akan memaksakan pada Mama Hasna untuk menerimanya. Kirana memahami bagaimana sakitnya seorang ibu ditinggalkan oleh putranya. Apalagi Raihan Dhananjaya merupakan anak satu-satunya.


Bang Raihan pernah bercerita pada Kirana, jika Mama mengalami komplikasi hingga terpaksa melakukan pengangkatan rahim tidak lama setelah melahirkan bang Raihan. Itulah kenapa sebesar apapun keinginan Mama Hasna untuk memiliki anak lagi, hal itu sudah tidak akan mungkin terjadi.


Kirana malam ini datang bersama Galih dan Amira. Mama masih berada di rumah sakit dan kondisinya terus melemah setelah diagnosa dokter menyatakan adanya penyumbatan pembuluh darah di otak. Bukan hanya Mama yang syok, jelas saja semua orang ikut kaget. Bagaimana Mama merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Bang Raihan dulu.


“Kamu yakin mau masuk ke dalam Ki?” tanya Papa yang ada di depan ruang inap Mama untuk menemui Kirana yang datang bersama Amira dan Galih.


“Pengen banget Pa, Kirana pengen ada sama Mama,” kata Kirana.


“Mamamu kondisinya lagi nggak baik sayang. Tadi sore dokter melakukan tindakan dan Mama masih belum sadar sekarang. Kalau kamu mau ketemu Mama boleh, tapi baiknya Amira biar sama Papa ya. Karena Papa yakin kamu nggak mau menangis di hadapan putrimu,” kata Papa.


“Biar Amira sama saya saja,” kata Galih.


Papa menggeleng, “Tidak nak, kamu temani Kirana.”


“Mama…, Amira mau sama Mama,” kata si kecil.


“Kak, sama Akung sebentar ya. Mama mau ketemu Uti. Uti lagi sakit dan Ami masih kecil dan gampang sakit jadi Ami tunggu di luar saja ya. Ami tahu rasanya sakit itu nggak enak, kan?” Kirana mencoba memberi pengertian pada putrinya.


“Mi, sebentar sama Akung ya. Papa sama Mama nggak akan lama kok,” kata Galih.


Papa mengajak Amira pergi keluar. Dengan iming-iming membeli ice cream di minimarket dekat pintu masuk, Papa berhasil membawa Amira menjauh dari ruang inap istrinya.


Kirana mulai melangkah masuk bersama dengan Galih yang lebih memilih untuk diam berdiri di dekat pintu. Dia tidak ingin mendekat dan mengganggu momen Kirana dengan mantan ibu mertuanya. Dia hanya berdiri di dalam karena memastikan Kirana tidak akan kenapa-napa. Galih takut jika Kirana yang fisiknya tidak begitu sehat tiba-tiba pingsan atau sesak nafas karena menangis.


Galih menatap lurus ke arah Kirana yang duduk di samping Mama dengan perlahan. Perutnya sudah mulai besar dan menghalangi pergerakannya, ditambah adanya luka bekas sayatan caesar ketika dia melahirkan Amira dulu pasti terasa tidak nyaman. Galih hanya mengernyit ketika Kirana berusaha untuk duduk di kursi kecil yang disediakan.


“Mama…, ini Kirana Ma,” katanya.


Ini sih sudah pasti Galih yang tidak sanggup. Dia tiba-tiba teringat pada Mamanya. Dia pernah melihat satu pemandangan yang sama ketika Mamanya terbaring sakit di atas bed dengan selang oksigen di hidung dan infus menembus punggung tangannya.


Galih juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Kirana saat ini. Menggenggam tangan Mama, kemudian meletakkannya di pipi. Merasakan kehangatan tangan seorang ibu walaupun tangan itu tidak lagi sehangat sebelumnya.


“Galih….”

__ADS_1


Galih semakin berhalusinasi. Dia memutuskan untuk duduk dan mencoba berkonsentrasi. Menghilangkan segala pikirannya. Tangan kanannya meraih tabloid yang entah kenapa tergeletak begitu saja di atas meja kaca kecil di depannya. Dia membukanya asal dan membaca apapun berharap suara itu tidak lagi dia dengar.


“Mama? Mama nggak papa kan?” tanya Kirana membuat Galih tersadar dari lamunannya.


“Aa, bantu aku panggilkan dokter,” katanya.


Galih langsung melangkah keluar untuk memanggil dokter meninggalkan Kirana yang masih berusaha menangkap apakah Mama benar-benar tersadar atau tengah kesakitan. Mama tergagap seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak mampu, tangannya juga menggenggam erat tangan Kirana dan matanya seperti menggambarkan sesuatu yang Kirana sendiri ingin sekali tahu apa artinya.


“Kondisi Ibu membaik, jadi sementara waktu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami akan mengamati perkembangan Ibu selama beberapa hari lagi dan jika kondisinya terus membaik Ibu bisa kembali ke rumah,” jelas dokter.


“Alhamdulillah, syukurlah Mama baik-baik saja,” kata Kirana.


Galih terus bersama dengan Kirana, bedanya dia saat ini berada di luar ruangan dan memasrahkan Kirana pada Papa. Galih memangku Amira yang mulai kelelahan, sesekali dia bangkit berdiri dan berjalan-jalan kecil agar Amira tetap merasa nyaman walaupun tertidur dalam gendongan.


“Kirana…,” panggil Mama.


“Ya Ma?”


“Kirana….”


“Iya Mama, ini Kirana,” kata Kirana.


Runtuh sudah tembok pertahanan Kirana. Dia mulai meneteskan air mata dan menelungkupkan kepalanya di bahu Mama yang ada dalam posisi setengah duduk. Kirana menangis begitu pula Mama yang memberanikan diri untuk mengelus tangan Kirana yang terus menggenggamnya.


“Kirana, maafin Mama nak,” kata Mama.


“Nggak Ma, jangan minta maaf dong.”


“Mama salah, wajar Mama minta maaf. Mama takut Raihan akan menghukum Mama kalau Mama tidak mendapatkan maafmu,” kata Mama lagi.


“Mama ngomong apa sih, Mama nggak akan nyusul Abang Ma, Mama akan sehat kok,” kata Kirana.


“Tetap saja cepat atau lambat Mama akan menyusul Raihan. Anak kebanggaan Mama itu sudah menunggu Mama,” kata Mama.


“Mama jangan bilang gitu Kirana takut.”

__ADS_1


“Sayang, mana putrimu dan Raihan? Mama mau ketemu,” minta Mama.


“Ada bersama suami Kirana. Akan aku panggil,” kata Papa kemudian berjalan keluar untuk mengajak Amira dan Galih masuk.


Galih masuk ke dalam ruangan. Dia masih setia menggendong Amira yang sudah jatuh tertidur. Mama perlahan menggeser posisinya agar terdapat cukup tempat untuk Amira, “tidurkan dia di sini nak,” kata Mama.


Perlahan Galih menidurkan Amira. Entah sadar atau tidak anak itu langsung memeluk Mama Hasna. Seperti kebiasaan Amira setiap kali tidur, dia juga melakukannya padahal terakhir kali dia bertemu dengan Utinya ini dia ketakutan. Dia selalu berkata jika uti Hasna bukan utinya.


“Sayangnya Uti, kamu cantik sekali,” kata Mama Hasna.


“Dia mirip sekali sama Papanya Ma,” kata Kirana ikut memandangi Amira yang akhirnya bisa tidur dengan begitu lelap.


“Nak, siapa namamu?” tanya Mama kali ini pada Galih.


“Galih Tante, Galih Arsa,” jawab Galih yang jujur saja merasakan kecanggungan yang besar sekarang.


“Jangan panggil tante, panggil saja Mama.”


“Iya…, Ma…,” jawab Galih.


“Titip Kirana dan Amira ya. Titip cucu saya. Sayangi dia, Mama harap kamu mau menerima Amira walaupun sebentar lagi kamu akan mempunyai anak kandungmu sendiri.”


“Pasti Mama, akan saya jaga Amira seperti saya menjaga darah daging saya sendiri,” kata Galih.


“Terima kasih, Mama berhutang budi padamu,” kata Mama lagi.


Semalaman Kirana tidak mau diajak kembali ke rumah. Dia terus bersikeras untuk menemani Mama di rumah sakit. Dia ketakutan akibat ucapan Mama semalam. Alhasil Galih ikut menemani Kirana di sana sementara Amira dijemput Papa Adnan untuk pulang ke rumah.


“Kirana…,” kata Galih.


“Hmm?”


“Sholat dulu yuk, sudah adzan,” ajak Galih mendengar adzan subuh.


“Aa duluan saja, kasihan Mama kalau tidak ada yang menemani.”

__ADS_1


“Kamu pasti menunggu dokter datang dan memberikan kabar padamu kan? Kirana, kamu dengar ucapan dokter semalam. Mama baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan. Kasihan badan kamu,” kata Galih.


“Nggak papa a, aku baik-baik saja kok,” Kirana lagi-lagi menolak.


__ADS_2