Baret Biru

Baret Biru
91. Kusut


__ADS_3

Galih masih termenung di dalam kamar ketika Kirana menyusul masuk setelah selesai beberes. Galih memang merebahkan dirinya di bawah selimut, namun matanya masih terbuka. Dengan tubuh terlentang, kedua tangan dilipat di belakang kepala dan mata yang menatap lurus ke langit-langit. Dia melamun, bahkan sampai tidak menyadari jika Kirana berjalan masuk ke dalam kamar.


“Kirain udah tidur,” kata Kirana.


“Belum,” jawab Galih tanpa menoleh dia bahkan tidak menggerakkan pandangannya.


Kirana bingung karena suaminya ini terlihat seperti sedang melamun atau memikirkan sesuatu, “lagi kenapa a?”


“Nggak papa, lagi kepikiran sesuatu aja,” kata Galih.


“Nggak mau cerita?” bujuk Kirana.


“Aku mau tanya sama kamu. Sekarang perasaanmu gimana?” tanya Galih.


“Apa sih?”


“Perasaan kamu, ya happy atau apa gitu,” kata Galih malah membuat Kirana semakin bingung.


“Happy dong, Amira sehat, ada aa di sini, udah gitu hadirnya si kecil ini bikin aku bahagia banget,” kata Kirana dengan senyumnya.


Galih terdiam, dia tidak merespon apa yang Kirana katakan barusan membuat Kirana mulai merasa ada sesuatu yang terjadi pada suaminya. Kirana ikut merebahkan dirinya, kemudian masuk ke dalam selimut yang sama agar dia bisa memeluk Galih yang masih terdiam. Dia meletakkan kepalanya di atas dada Galih membuat laki-laki itu memeluk Kirana dengan sebelah tangannya.


“Aa nggak seneng ya?” tanya Kirana dengan hati-hati.


“Nggak sayang, kenapa kamu mikir begitu? Aa juga sudah nunggu kehadirannya sejak lama.”


“Habis aa jadi aneh. Aa diem banget sejak tadi. Dari raut wajah aa juga seperti ada sesuatu yang lagi aa pikirkan. Aa kenapa? Jangan diem aja dong, aku takut a,” kata Kirana.


“Nggak ada yang perlu kamu takutkan, Ki. Udah ah jangan mikir yang macem-macem,” kata Galih mencoba menenangkan Kirana.


“Kalau gitu jawab pertanyaanku a, aa nggak akan beda-bedakan anak kandung aa dengan Amira kan?”

__ADS_1


“Nggak akan Kirana. Hal itu nggak akan pernah terjadi. Kalau sampai Amira merasa dibedakan, salahkan aa. Kamu boleh hukum aa bagaimanapun kamu mau,” kata Galih.


“Janji a?”


“Janji,” jawab Galih.


Malam itu Galih meminta Kirana untuk tetap berada di dalam pelukannya. Galih terus mendekap Kirana, sembari mendoakan agar semuanya lancar dan tidak ada kendala juga untuk menenangkan pikirannya yang mulai berantakan.


Sekitar pukul 1 pagi Galih tersentak bangun. Kirana yang tadinya berada dalam pelukannya sudah lepas dan saat ini tidur memunggunginya. Dia seharusnya tahu jika Kirana memang selalu bergerak mencari posisi nyaman setiap kali tidur tapi rasanya kali ini dia tidak bisa berpikir jernih. Terlebih setelah dia mendapatkan mimpi yang barusan juga wajah Raihan yang seperti berdiri di hadapannya sembari menatap dingin ke arahnya.


“Astaghfirullah hal adzim…, kenapa sih,” kata Galih mencoba menenangkan pikirannya sebelum berusaha untuk kembali tidur.


***


Kirana langsung menuju ke cafe setelah mengantar Amira ke sekolahnya. Kirana sudah baikan tapi hatinya merasa terganjal sesuatu. Apalagi setiap kali melihat Galih yang seperti memikirkan sesuatu. Kirana bekerja dengan setengah melamun pagi ini dan lamunannya itu membuahkan kelalaian. Ujung meja yang tengah dilapnya menusuk masuk ke dalam tangannya dan membuat telapak tangan Kirana terluka. Saat itulah Ningrum datang dengan diantar oleh Keenan. Keduanya yang kaget dengan rintihan Kirana sontak mendekatinya dan melihat tangan Kirana sudah berdarah.


“Ada serpihan kayunya masuk ke tanganmu,” kata Ningrum.


“Kotak P3K-nya masih disimpan di tempat biasa kan?” tanya Keenan yang langsung berjalan mencari kotak P3K.


Keenan menggantikan Ningrum, dia duduk di hadapan Kirana dan meraih tangannya. Dia meminta Ningrum memegangi handphone yang flashnya dinyalakan agar fokus Keenan bisa lebih akurat. Ketika dia tengah melepaskan serpihan kayu yang menusuk ke dalam kulit Kirana dengan menggunakan pinset, Kirana menangis. Keenan sempat meliriknya sebelum kembali melanjutkan usahanya.


“Sakit banget?” tanya Keenan.


“Ki, kamu lagi ada masalah ya?” tanya Ningrum membuat Keenan ikut pasang telinga.


Kirana menggeleng namun Ningrum tahu jika sahabatnya ini hanya pura-pura tidak terjadi apa-apa. Walaupun Ningrum itu tidak sedekat Kirana ke Lucy, tapi Ningrum juga termasuk mengenal Kirana dengan sangat baik.


“Kamu nggak lagi berantem kan sama suami?” tanya Ningrum.


“Galih nyakiti kamu?” tanya Keenan.

__ADS_1


“Nggak. Aa nggak pernah menyakiti aku sedikitpun,” kata Kirana.


“Terus kenapa? Kamu pikir bisa bohong ke aku sama Ningrum?” tanya Keenan yang lebih berani menekan Kirana untuk bercerita.


Karena sepertinya Kirana tidak mau membuka suara, Keenan memutuskan untuk meninggalkan Ningrum dan Kirana berdua. Dia membalut luka Kirana dengan plester kemudian membereskan kotak P3K dan mengembalikannya ke tempat semula.


"Aku pergi dulu ya," pamitnya.


Ketika Keenan sampai di kantor, Galih terlihat berdiri di hadapan seorang bintara yang sedang push up. Wajah Galih menyeramkan dan terlihat sekali dia sedang badmood. Keenan tidak ingin ikut campur sebenarnya tapi karena Galih masuk ke dalam ruangan dengan penuh emosi akhirnya Keenan memberanikan diri untuk bertanya.


“Mbul, jangan kaya gitu lah. Kasihan Kirana,” kata Aksara yang lebih dulu membuka suara.


“Kirana luka tadi. Tangannya kena serpihan kayu waktu ngelap meja. Gue tahunya nggak sengaja, waktu nganter Ningrum ke cafe,” adu Keenan.


“Serius? Terus sekarang gimana kondisinya?” tanya Galih sambil mengguncang bahu Keenan dengan tidak santai.


“Santai Mbrot!” kata Keenan sembari menjatuhkan stop map ke atas meja dengan agak kasar.


“Mbul, kalau ada masalah jangan disimpen sendiri. Apalagi sampe marah-marah nggak jelas, lo punya istri gunanya buat apa?” tanya Aksara.


“Kasihan istri lo Mbul, dia lagi hamil anak lo. Buat nahan mual aja udah capek setengah mampus jangan lo tambah-tambahin pikiran nggak jelas lo,” tambah Keenan.


“Kalian nggak usah komentar kalo nggak ngerti apa-apa,” jawab Galih justru membuat Keenan emosi.


“Lo maksa gue buat kasar ya? Lo lupa seberapa putus asanya elo karena takut ditinggal Kirana hanya karena dia ketemu sama gue lagi? Lo sendiri yang bilang ke gue kalau gue brengsek udah ninggalin Kirana, terus sekarang apa bedanya gue sama elo? Lo bahkan suaminya bukan cuma pacar. Lo bikin istri lo nangis, kepikiran, sampe kerja nggak fokus dan terluka gitu hanya karena pikiran nggak penting lo itu, tahu nggak?!” Keenan tiba-tiba kehilangan kesabarannya.


Aksa berdiri kemudian berusaha melerai Galih yang hampir baku hantam dengan Keenan. Dia menyeret Galih ke gedung olahraga dan menjatuhkan Galih ke tumpukan matras yang ada di sisi lapangan.


“Lo itu anaknya Pratama Aji, tapi sekasar ini tabiat lo ke Keenan jangan-jangan lo kasar juga sama Kirana. Siapa yang ngajarin elo kayak gini? Jangan karena Bapak kandung lo suka mukulin ibu lo jadi lo ikut begitu juga sama Kirana,” kata Aksara.


Galih semakin naik pitam karena disalahkan apalagi setelah mendengar Aksara menyebut tentang ayahnya. Dia bangkit berdiri kemudian hampir memukul Aksara jika bukan karena Adnan datang dan menahan tangan Galih. Maklum dia provost, dia tidak bisa diam saja melihat ada personil yang hampir berkelahi semacam ini.

__ADS_1


“Iptu Galih berhenti atau kamu saya hukum,” kata Adnan dengan tegas.


Galih langsung menurunkan tangannya. Entah kenapa pikirannya begitu kusut saat ini. Tidak kuasa menahan pikiran-pikiran negatifnya, Galih akhirnya absen dan langsung menemui Raihan. Dia duduk di nisan Raihan dan diam di sana selama beberapa saat. Hujan mulai mengguyur namun Galih tidak berniat untuk berteduh. Dia biarkan seragamnya basah hingga tubuhnya dingin menggigil kedinginan.


__ADS_2