
“Ya terus kalo kalian pengen ke salon ngapain minta Abang buat nganterin? Naik motor sendiri aja elah,” kata Adnan yang protes karena diminta mengantar Kirana dan Lucy yang akan pergi ke salon.
“Abang nggak peka banget sih, diajakin kencan itu,” kompor Mama.
“Kencan dari mana? Mereka mau ke salon perawatan terus aku sama Raihan udah kaya kang ojek duduk ngemper di depan salon. Mending disawer ini kagak,” kata Adnan masih saja protes.
“Oh jadi Abang nggak mau ikut nih?” kata Kirana.
“Nggak.”
“Ok fine. Abang acara besok sabtu batalin aja ya. Males ah lucy mau rebahan aja di rumah,” kata Lucy membuat Adnan langsung beranjak menuju kamarnya untuk ganti baju.
Dari pada acara besok sabtu batal dia sendiri yang repot. Mungkin acaranya sepele, hanya Adnan ingin main ke rumah saja kok berkenalan dengan kedua orang tua Lucy. Yang jadi masalah adalah kedua orang tua Lucy kan tidak menetap di Indonesia makanya kalau sampai besok sabtu batal paling tidak dia harus menunggu setahun lagi untuk bisa bertemu dengan kedua orang tua Lucy.
Benar saja firasat Adnan. Ketika kedua gadis itu sedang asik spa di dalam, Adnan dan Raihan hanya bisa duduk menunggu di depan. Untung tidak jauh dari sana ada sebuah cafe. Letaknya berjarak beberapa ruko dari salon tempat kedua gadis itu bersenang-senang. Raihan yang mengajak Adnan untuk duduk di cafe itu saja sembari menunggu dibanding harus terlihat seperti kang ojek yang menunggu orderan atau sopir yang tengah menunggu nyonya-nya akan lebih baik mereka nongkrong ditemani segelas kopi atau es.
“Hah…, cuti gue yang berharga. Padahal harusnya gue bisa rebahan sambil males-malesan di rumah,” keluh Adnan.
“Ngeluh aja lo. Udahlah demi ibu negara ini,” kata Raihan.
“Ibu negara kan elo udah jadi ibu negara, nah gue belum. Belum jelas juga bakal direstui apa kagak,” kata Adnan.
“Emang kalau nggak direstui lo bakal mundur?”
“Nggak sih.”
“Nah kan. Eh cinta itu diperjuangkan bro, jangan cuma nunggu dikasih. Keburu diembat orang,” kata Raihan.
“Mentang-mentang udah nikah lo,” kata Adnan.
“Nan, sebenernya gue mau minta maaf. Sorry gue kebangetan sama elo. Harusnya gue tau lo pasti nggak bakal kaya gitu kalau nggak ada alesannya,” kata Raihan.
“Gue yang harusnya minta maaf. Maaf karena udah bikin lo bingung,” kata Adnan.
“Ngomong-ngomong tempo hari gue ketemu Keenan,” curhat Raihan.
“Ketemu dimana?”
“Di polres. Dia ambil tahanan ke sana,” kata Raihan membuat Adnan terdiam.
“Keenan sendiri bilang dia sama Kirana udah nggak ada apa-apa lagi. Aku sih ambil kesimpulan dia udah nggak mau lagi sama Kirana. Nggak peduli secinta apa dia sama Kirana tapi Kirana punya gue sekarang. Gue berhak untuk menjaga dia dan mempertahankan hubunganku sama dia,” kata Raihan membuat Adnan lebih diam lagi. Dia bahkan tidak berani bergerak dan hanya bisa memandangi permukaan kopi susu di dalam gelas di hadapannya.
__ADS_1
“Kalau suatu saat Kirana tahu kenyataannya dan dia membenciku aku nggak masalah. Aku ikhlas,” kata Raihan lagi.
“Semudah itu? Lo tadi bilang cinta itu diperjuangkan. Gue bakal bantu lo memperjuangkan cinta lo ke adek gue. Gue udah nggak mengharapkan yang lain. Cuma elo yang gue restui buat jadi suami adek gue,” kata Adnan kemudian.
“Ouww, geli gue dengernya. Tapi makasih ya,” kata Raihan lagi.
“Tapi ada syaratnya….”
“Apa?”
“Lo harus panggil gue abang. Kan sekarang gue kakak ipar lo. Nggak sopan lo manggil nama doang,” kata Adnan membuat ekspresi Raihan berubah datar.
“Jijik gue manggil elo pake bang. Kirana aja manggil lo monyet, ngapain pula gue manggil elo pake panggilan bang,” kata Raihan membuat Adnan tertawa.
Keduanya sudah berbaikan sekarang. Walaupun sempat salah paham dan membuat keduanya jauh, tapi untuk dua bersahabat ini komunikasi dan pengertian sudah cukup untuk memperbaikinya. Raihan dan Adnan percaya, jika apa yang terucap tidak adalah benar adanya. Lagipula persahabatan mereka terlalu berharga untuk berakhir hanya karena masalah sepele.
***
Double date mereka sudah usai. Setelah mereka selesai menonton film terbaru di bioskop, mereka pulang ke rumah. Adnan lebih dulu mengantar Lucy pulang sedang Kirana dan Raihan langsung kembali. Kirana dan Raihan tidak ikut makan malam bersama Papa dan Mama karena mereka sudah makan tadi. Raihan hanya meletakkan onde-onde pesanan Mama ke atas meja kemudian melangkah masuk ke dalam kamar menyusul Kirana.
“Abang aku mandi duluan boleh nggak?” tanya Kirana.
“Kamu mandi di bawah Abang mandi di atas gimana? Abang juga pengen cepet-cepet rebahan nih,” kata Raihan.
“Makasih Dek,” kata Raihan.
Malam itu Kirana dan Raihan langsung merebahkan diri begitu selesai membersihkan diri. Raihan sudah hampir tertidur ketika tiba-tiba dia merasakan dari sebelah kanan Kirana bergerak mendekatinya.
“Abang…,” panggil Kirana dengan nada manja.
“Ada apa?”
“Pengen peluk dong,” katanya lagi.
“Tumben banget manja. Kamu lagi bahagia ya,” tanya Raihan sambil mencubit gemas hidung Kirana.
“Bukannya Abang yang lagi bahagia ya?” tanya Kirana balik. Pasalnya sejak pulang dari double date tadi mood Raihan jauh lebih baik. Dia juga tersenyum begitu lebar. Berbeda dari biasanya yang terkesan seperti sedang tertekan oleh sesuatu.
“Tau aja kamu nih,” kata Raihan yang membalas pelukan Kirana.
“Tau lah. Senyum Abang lebar banget gitu. Abang pasti udah baikan sama Bang Adnan kan makanya bahagia?” tebak Kirana.
__ADS_1
“Kok kamu tahu?”
“Tahu lah…, Kirana gitu lho. Apa sih yang Kirana nggak tahu,” jawab Kirana.
“Iya nona cantik. Kamu memang paling ngerti deh,” kata Raihan lagi.
“Hehe…, jangan marahan lagi ya Bang. Apapun itu masalahnya, Abang berdua kan sahabat dan yang namanya sahabat itu saling memahami. Seperti halnya aku Lucy dan Ningrum, Abang dan Bang Adnan juga sama. Kuharap persahabatan Abang berdua nggak akan lekang oleh waktu. Apalagi sekarang kan udah jadi ipar. Nggak enak ah marah-marahan, nanti jadi canggung lagi,” kata Kirana.
“Kamu memang bener Dek. Kalau bukan Abang siapa lagi yang akan memahami Adnan. Dia sudah terlalu banyak menyimpan bebannya seorang diri. Tapi mulai sekarang kamu nggak perlu khawatir lagi. Kamu juga nggak perlu ngatur rencana untuk pura-pura minta dianter kaya tadi,” kata Bang Raihan.
“Ketahuan ya?”
“Iya lah Dek. Abang tuh tahu kamu nggak doyan nyalon. Ini sok-sokan mau ikut Lucy nyalon pasti ada apa-apanya. Nyatanya bener kan?” kata Raihan.
“Yang penting berhasil,” jawab Kirana.
“Sukses besar Dek. Makasih ya sayangku, istriku yang cantik. Makasih kamu sudah bantuin Abang. Sebagai hadiahnya kamu boleh minta apa aja dari Abang deh,” kata Raihan.
“Kalau begitu…,” Kirana menggantung kalimatnya, tapi sedetik kemudian dia sudah mendaratkan bibirnya di pipi Raihan. Mumpung dia sepertinya sedang baik-baik saja. Sesekali menggoda suami kan tidak masalah.
“Nakal ya kamu,” kata Raihan sambil tertawa.
“Ya sekali-kali lah. Nggak ada salahnya juga kan,” kata Kirana.
“Jangan nyesel ya.”
“Nggak akan,” jawab Kirana membuat Raihan lebih berani.
Dia berusaha menekan dirinya sebisa mungkin jangan sampai membebani Kirana. Pada akhirnya, malah Kirana merasakan begitu pengertiannya Raihan pada dirinya. Baru pertama kali ini mereka bisa sedekat ini dan Raihan meninggalkan kesan yang begitu baik di hati Kirana. Alih-alih merasakan takut atau mengingatkannya pada masa lalu, Kirana malah dibuat terkesan.
“Abang….”
“Hmm?” jawab Raihan dengan begitu lembut.
“Makasih ya.”
“Buat?”
“Buat segalanya. Abang pengertian banget ke Kirana. Mulai sekarang Abang nggak perlu lagi menahan diri. Insyaallah Kirana sudah baik-baik saja Bang. Kirana mau hubungan kita bisa membaik juga. Persis seperti hubungan Abang dan Bang Adnan. Abang kan suaminya Kirana. Apapun yang terjadi Kirana ini milik Abang,” kata Kirana.
“Abang akan mengusahakan yang terbaik untukmu. Tapi Abang minta kamu bilang kalau Abang sudah kelewatan atau mulai membebani kamu ya, pokoknya jangan ada rahasia-rahasia lagi. Janji?”
__ADS_1
“Janji.”