
Galih hanya melepaskan sabuk dan rompi anti pelurunya kemudian mengamankannya di dalam loker kecil yang ada di sebelah bed Kirana. Dia datang kemari tanpa persiapan, bahkan Kirana juga belum sempat mengemas perlengkapan bayi dan hanya membawa ala kadarnya. Beruntung Bunda dan Mama gesit membantu jadi persiapan melahirkan terbawa semua, hanya satu yang tidak terbawa adalah perlengkapan Galih.
“Aa sudah berapa lama nggak mandi sih?” tanya Kirana tiba-tiba.
“Ha?”
“Aa bau banget,” kata Kirana sambil merengek.
“Waduh Ma, gimana aa nggak bawa baju ganti,” kata Galih mulai bingung.
“Menjauh sana, bikin mual a,” Kirana melepaskan genggaman tangannya dari Galih dan memintanya agak menjauh.
Galih tidak bisa menolak. Dia langsung menjauh namun masih tetap ada di jarak pandang Kirana. Jam menunjukkan baru pukul 4 pagi dan Galih tidak mungkin meminta seseorang membawakan baju ganti dan peralatan mandi sepagi ini. Galih hanya melepaskan seragam hitamnya dan menyisakan kaos bertuliskan Brimob besar di punggung.
“Aa jangan dibuka seragamnya, baunya makin kemana-mana,” rengek Kirana.
“Astagfirullah…,” Galih hampir saja mengeluh jika saja dia tidak ingat Kirana tengah merintih menahan sakit yang terus datang dan pergi.
“Aa keluar aja ya neng, aa lihatin dari balik pintu deh,” kata Galih yang mulai kehabisan akal.
“Nggak mau, aa sini aja jangan kemana-mana,” tolak Kirana.
“Apa aa harus pake parfum biar bau keringatnya agak berkurang?”
“Bodoh aa kalau pake parfum malah aku makin mual nyiumnya, ihhh. Pengertian dikit kenapa sih sama istri,” kata Kirana sambil menangis.
“Astagfirullah neng geulis yang sabar, jangan marah-marah ah, iya iya aa diam nih. Aa nurut aja maunya kamu gimana sekarang,” kata Galih mulai memakai seragamnya kembali.
__ADS_1
“Duduk aja diem di situ,” kata Kirana sambil menunjuk sofa tempat Mama duduk.
Beruntungnya selepas subuh Lucy dan Adnan datang menggantikan Mama untuk menemani Kirana. Adnan membawakan seperangkat alat mandi dan pakaian ganti untuk Galih setelah itu mengantar Mama untuk pulang. Kini Galih sudah kembali wangi, dengan bau sabun yang biasa dia pakai-yang jelas tidak membuat Kirana mual- dan baju yang bersih.
Galih kembali mendekati Kirana dan kali ini dia membantunya merilekskan badan dengan memijat kaki Kirana. Dengan telaten dia terus memijatnya kanan dan kiri. Tidak peduli tubuhnya sendiri sudah selelah apa karena sudah puluhan jam dia tidak memejamkan mata, tapi selama Kirana bisa tidur dengan nyenyak dan menyimpan energi sebanyak yang dia bisa Galih tidak masalah.
Sesekali Galih juga akan memijat tangan Kirana, dia juga membantunya dengan merelaksasi kepala Kirana. Beruntung dia belajar dari ibunya beberapa waktu lalu. Dia bertanya secara khusus pada Bunda dan Ayah bagaimana caranya dia bisa membantu Kirana dalam proses melahirkan yang panjang dan menyakitkan ini.
Tangan Galih terus tergerak namun matanya mulai terpejam hingga kemudian dia berhenti dan sempurna tidur.
“Eumhh…,” rintih Kirana akhirnya membangunkan Galih kembali.
Dokter kembali memeriksa kondisi Kirana dan memindahkannya ke ruang bersalin tidak lama setelahnya. Galih terus mengikuti. Dia memakai pakaian khusus dan ikut masuk menemani Kirana yang kontraksinya semakin menjadi. Beberapa kali Kirana jatuh pingsan dan kehabisan tenaga. Dia bahkan sampai harus mengenakan selang oksigen di hidungnya demi memasok oksigen ke dalam paru-parunya.
Galih memeluk Kirana, dia meletakkan tangan kirinya di tengkuk Kirana yang tidur setengah duduk. Tangan kanannya terus menggenggam tangan Kirana dan membiarkan istrinya itu meremasnya sekuat yang dia mau. Beruntung prosesnya tidak sulit. Hanya dengan beberapa kali mendorong saja tangisan bayi laki-laki seberat 2,8 kg itu terdengar. Suaranya begitu nyaring menghapus keheningan seisi ruangan, beradu dengan tangis sang ibu yang terharu dengan usahanya sendiri juga sang ayah yang begitu bersyukur atas kelahiran putranya.
Bayi laki-laki itu diberi nama Bachtiar oleh ayahnya. Bachtiar Panji Chandika nama panjangnya. Setelah menyapa Papa Mamanya dan tidak lupa diadzani, Tiar kecil dibawa ke inkubator dan dirawat oleh tenaga medis. Dokter kembali fokus pada Kirana. 1 jam kemudian, Kirana dipindahkan kembali. Dia sudah tidur ketika sampai di ruang inapnya sedangkan Galih lebih dulu ikut ke ruangan dokter penanggung jawab Kirana untuk mendengar penjelasan perihal kondisi Kirana dan putranya.
Sepulang sekolah, Amira dijanjikan akan bertemu dengan adik laki-lakinya juga dengan Papa dan Mamanya. Papa Adnan yang berjanji, dan Amira langsung berlari mencari Papa Adnan di kantor begitu pulang sekolah. Dengan cerdasnya dia meminta bu Guru mengantarnya masuk ke dalam markas dan sesampainya di gerbang Amira langsung bertanya pada yang berjaga.
“Amira mau ketemu sama Papa Adnan om, boleh?” tanya Amira pada yang berjaga di pos jaga.
“Hai adik manis, siapa namamu? Kok sendirian saja? Orang tuamu mana?” tanya si penjaga yang bingung.
“Namaku Amira om, Papa Galih dan Mama Kirana masih di rumah sakit karena adik baru lahir. Aku mau ketemu sama Papa Adnan soalnya Papa Adnan janji mau ajak Amira ketemu sama Papa sama Mama sama adek juga,” kata Amira menjelaskan dengan begitu detail.
“Istri Ndan Galih melahirkan? Kok nggak ada kabar apa-apa,” kata satu yang lainnya.
__ADS_1
“Hes piye koe ki. Kamu nggak dengar yang dibicarakan oleh yang baru datang dari mabes? Ndan Galih cepet-cepet pulang sampe ninggalin pasukan di belakang demi ngejar istrinya yang mau lahiran,” jawab yang lainnya.
“Bukannya belum ada 9 bulan? Bu Galih kan usia kehamilannya jarak 1 bulan sama istriku,” katanya masih penasaran.
“Mana kutahu. Bu Galih kan sebenarnya nggak begitu sehat.”
“Om kok Amira dicuekin sih. Papa Adnannya boleh ketemu Amira enggak?” tanya Amira yang mulai protes.
“Oiya maaf Dek, yuk om antar ke kantornya Papa Adnan,” kata salah satu yang berdebat di hadapan Amira barusan.
Amira diantar ke ruang kerja Adnan dimana komandannya itu masih tertidur pulas di sofa. Satu kakinya naik ke atas, dua tangannya dipakai untuk memeluk badan dan tidur dengan mulut sedikit terbuka. Amira yang melihat Papanya masih tidur dengan pulas langsung heboh membangunkannya.
“Papa…!”
“Siap Ndan, 86,” igau Adnan.
“Ah Papa bangun…,” kali ini Amira bukan hanya berteriak tapi menggoyangkan tubuh Papa Adnan juga.
“Hmm? Ya Allah tuyul…, eh tuyul. Astagfirullah Amira! Bikin kaget Papa aja kamu,” kata Adnan yang terhentak bangun dari tidurnya sampai mengira jika Amira adalah tuyul.
“Ah Papa jahat masa Ami cantik begini dibilang tuyul,” rengeknya.
“Maaf ya maaf tuan putri.”
“Papa jahat,” katanya sambil menyilangkan tangan di dada dan buang muka.
“Hadeuh, kalo ngambek persis Mamanya,” gumam Adnan.
__ADS_1
“Ndan, maaf mengganggu. Ini non Amira tadi diantar sama guru kelasnya. Berhubung sudah sama Ndan Adnan saya pamit dulu untuk lanjut jaga,” kata yang mengantar Amira tadi.
Adnan hanya memberi isyarat dengan tangan dan memintanya kembali ke pos jaga. Kemudian Adnan kembali fokus mencari cara untuk membujuk Amira yang marah karena disebut tuyul tadi. Tertebak sudah, Amira nanti akan mengadu pada Papa Mamanya dan Adnan akan mendapatkan hadiah dari Kirana, ya andai Kirana masih punya tenaga.