Baret Biru

Baret Biru
80. Siapa Gadis Itu


__ADS_3

Galih baru melangkah dari ruangan dokter. Baru hatinya merasa lega karena kondisi nenek membaik tapi kemarahannya sudah dibuat memuncak hanya dalam waktu hitungan menit saja. Galih mendapatkan pesan dari sepupunya yang mengatakan Kirana menangis karena Mamanya. 


Gina tidak mengatakan kemana persisnya Kirana pergi tapi Galih berani bertaruh jika Kirana tidak akan pergi jauh dari area rumah sakit. Dia kan buta arah di sini. Kemarin saja dia cerita ketika ditanya oleh sopir taksi dia tidak menjawab karena tidak paham dengan bahasanya.


Galih akhirnya menemukan Kirana duduk di dekat air mancur yang terletak di halaman depan. Dia tampak murung hanya duduk sendirian dan hanya bermain-main dengan kakinya. Semakin Galih mendekat, semakin dia bisa melihat wajah sedih Kirana.


“Geulis, ngapain kamu di sini?” tanya Galih dengan perlahan karena takut mengagetkan Kirana, itupun Kirana tetap saja kaget karena pada dasarnya Kirana sedang melamun.


“Cari angin,” kata Kirana.


“Kamu teh sengaja cari angin biar masuk angin ya?” tanya Galih lagi.


“Nggak kok,” jawab Kirana.


“Ini punggung kamu sampai basah gini. Padahal habis mandi kan. Neng, kalau mau nangis jangan di sini. Mentang-mentang di sini berisik suara air tapi kan rame, orang tetap saja tahu kalau kamu lagi nangis,” kata Galih.


“Siapa juga yang mau nangis a, nggak kok,” kata Kirana berusaha setengah mati menyembunyikan tangisannya.


“Terserah kamu deh…,” kata Galih.


Galih menarik tangan Kirana kemudian membawanya ke basement. Dia meminta Kirana masuk ke dalam mobil dan tidak memberikan kesempatan apapun untuk Kirana menolak. Sudah biasa Galih membawanya ke suatu tempat setiap kali Kirana sedang merasakan sedih. Lagi pula dia sudah percaya jika Galih tidak akan berbuat buruk padanya, itulah kenapa Kirana tidak takut ataupun menolak. 


“Nah kalau mau nangis di sini sekarang boleh,” kata Galih sesaat setelah mobil yang mereka naiki keluar dari area rumah sakit. Kirana hanya diam.


“Kamu nggak papa kan?” tanya Galih.


“Sakit a,” akhirnya Kirana mengutarakan perasaannya.


“Aku nggak tahu pasti kamu dikatain apa tapi mengingat kepribadian tante pasti kamu disebut yang aneh-aneh.” kata Galih. 

__ADS_1


“Tante tadi datang sama seorang gadis kan?” tanya Galih mmebuat Kirana tercengang.


“Kok aa tahu? Aa kenal?” tanya Kirana.


“Lumayan. Namanya Tia, teman aa waktu sekolah. Katanya dia dulu ngefans banget sama aa. Ibunya dosen, sedang Bapaknya camat. Dia anak tunggal dan sangat dimanja sama orang tuanya. Kalem sih orangnya, nggak neko-neko juga. Tapi aa nggak suka,” kata Galih.


“Kenapa a?”


“Bosenin,” jawab Galih.


“Ha?”


“Bayangin aja kalau aa sama dia. Dia itu orangnya pendiem, nurut banget orangnya. Mungkin kalau aa nyuruh dia nyebur sumur juga diiyain kali. Satu lagi yang aa nggak suka, dia itu terlalu bergantung sama pasangannya,” kata Galih.


“Memangnya aku nggak?”


“Bukannya kalau kaya gitu malah nggak bagus ya? Aa nggak merasa gimana gitu? Dulu aja Bang Raihan selalu minta aku buat bergantung sama dia. Katanya kalau istri nggak bergantung sama suami buat apa Abang ada sama Dek Kirana gitu,” kata Kirana. Galih tersenyum dan hanya manggut-manggut tapi Kirana kini mulai mengutuk dirinya yang salah bicara. Tidak seharusnya dia membahas Bang Raihan di hadapan Galih yang -semoga- akan menjadi suaminya.


“Neng, aa nggak akan minta kamu melupakan Bang Raihan kok. Setidaknya buat rasa terima kasih aa karena sudah diberi kesempatan menjagamu yang begitu berharga buat dia,” kata Galih.


“Tapi apa aa nggak sakit hati? Maaf a harusnya Kirana nggak gitu,” kata Kirana.


“Nggak papa sayang, aa kasih izin kok. Asal nggak terlalu sering. Aa paham, melupakan itu adalah hal yang sangat sulit apalagi melupakan orang terkasih, hampir tidak mungkin. Jangan merasa bersalah neng,” kata Galih.


“Maaf ya a,” kata Kirana menyadari jika dia salah.


“Ok, kembali ke topik. Intinya aa milihnya kamu, jadi nggak peduli apa yang dibilang sama keluarga, aa akan tetap milih kamu. Yang akan menjalani pernikahan kan kita berdua. Toh selama ini aa mampu hidup tanpa bantuan mereka. Aa akan lebih senang kalau aa yang gabung ke keluargamu ketimbang kamu aa paksa untuk berada di satu tempat yang sama dengan keluarga aa. Keluargamu hangat Ki, aa suka dan aa pengen banget bisa jadi bagian dari itu,” kata Galih.


“Aa kapan pulang? Aku tiba-tiba jadi nggak sabar buat aa lamar,” kata Kirana.

__ADS_1


“5:2,” jawab Galih.


“Ih apa kok tiba-tiba 5:2 nggak ya. 5:1 yang bener,” protes Kirana karena dia paham yang dimaksud oleh Galih. Ini soal traktiran makan yang sempat mereka bicarakan di pantai ketika itu.  


“Nggak sadar diri kamu ya, aa bilang apa di email? Tunggu aa pulang, malah kamu susulin ke sini. Itu kalau bukan ngegas terus namanya apa geulis,” gemas Galih.


“Ya habis aa bikin kaget aja. Lagian kalau aku nggak ke sini terus kapan lagi aku kenalan sama nenek sama keluarga aa yang lain juga. Ya kali kita nikah tapi aku nggak kenal sama keluarga aa sama sekali,” Kirana tidak mau kalah.


“Kan kamu udah kenal sama Gigi.”


“Gigi doang elah. Itu juga aku kenal bukan karena aa ya.”


“Ya kan kamu kenal sama Pak Aji sama Bu Ratna, Aksara, Kaori, Nusantara, udah banyak itu.”


“Nggak. Itu nggak masuk hitungan.”


“Aa lebih seneng dibilang anggota keluarga Aditama ketimbang dibilang anggota keluarga aa di sini,” kata Galih. Kirana hanya manyun karena dia akhirnya kalah debat dengan Galih.


“Lah manyun dia, jadi mau makan nggak?”


“Jadi lah laper,” jawab Kirana walau masih tetap dengan wajah yang cemberut.


“Di depan ada bubur ayam tuh. Kamu harus nyobain bubur ayam Bandung. Beuh rasanya nggak ada dua,” kata Galih.


Selama sarapan mood Kirana membaik. Dia sudah lupa dengan sakit hatinya karena mamanya Gina tadi. Selain itu Kirana juga merasa dikuatkan. Galih juga tidak menuntut dia untuk dekat dengan keluarganya padahal Kirana sudah mencari cara untuk membuat keluarga Galih mau menerimanya walaupun dengan kekurangan yang dia punya.


Karena dia sudah terlanjur berniat, akhirnya dia meminta bantuan pada Galih untuk mengantarnya ke tempat dimana dia bisa membeli bingkisan. Dia ingin berkenalan dengan lebih baik lagi pada kedua orang tua Gina yang saat ini tengah menemani nenek di rumah sakit juga pada Tia yang katanya adalah calon yang dipilihkan oleh mereka untuk Galih.


Kirana membeli beberapa makanan yang merupakan favorit Mama. Galih bahkan menawarkan pada Kirana barang kali dia mau memasak karena walaupun Mamanya Gina adalah orang Sunda tapi beliau suka sekali dengan cita rasa khas Jogja yang pedas manis. 

__ADS_1


__ADS_2