Baret Biru

Baret Biru
40. Hai Keenan


__ADS_3

Selama sidang nikah Adnan berlangsung, Raihan juga sama tegangnya dengan Adnan. Matanya terus kesana kemari berharap Keenan tidak akan tiba-tiba muncul di hadapan Kirana yang sejak tadi duduk tenang di sampingnya tanpa tahu jika penyebab sakit hatinya selama ini bekerja di sini. 


“Abang? Abang kenapa sih kayaknya gelisah banget?” tanya Kirana.


“Anu Dek, bentar ya Abang mau ke toilet bentar. Tapi kamu jangan kemana-mana ya. Kamu tunggu sini,” kata Raihan yang terpaksa berbohong.


“Kalau mau ke toilet ya sana Bang, ngapain pake ditahan segala sampe grasak grusuk gini,” kata Kirana sambil tersenyum.


Raihan langsung keluar dari ruangan. Dia berjalan menyusuri lorong menuju ke toilet. Begitu sampai, dia langsung menuju ke salah satu wastafelnya dan mencuci wajahnya dengan tidak santai. Kecemasan yang dia alami akhirnya membuat Raihan tidak tenang jadi untuk membantunya meredam emosi dia memilih untuk membasuh wajahnya dengan air sebanyak yang dia bisa.


“Permisi,” kata satu suara dari arah belakang.


“Ya?”


“Maaf, apakah anda masih ingat saya? Saya yang waktu itu bertemu anda di bandara,” katanya.


“Oh iya saya ingat. Galih. Benar kan?”


“Ya saya Galih,” katanya.


“Iya iya saya ingat. Anda dinas di sini?” tanya Raihan basa basi.


“Ya saya dinas di sini. Senang bisa bertemu lagi dengan anda. Saya tidak menyangka akan bertemu lagi di sini,” kata Galih.


“Senang juga bisa bertemu kembali. Tapi maaf sepertinya saya harus segera undur diri. Permisi,” pamit Raihan.


Dia segera pamit dan memilih untuk kembali ke ruang sidang pernikahan. Tak lama setelah dia kembali, sidang telah selesai. Pengajuan pernikahan Adnan dan Lucy diterima. Lucy yang sudah lega meminta izin untuk ke toilet. Adnan hanya menunjukkan di mana letaknya karena dia sedang mengobrol dengan atasan.


Ketika dia baru berbelok di lorong, dia berpapasan dengan seseorang. Dia adalah salah satu sahabatnya. Sahabat yang lama hilang kabarnya. Dialah Keenan Raditya yang dulu dia kenal sebagai kekasih Kirana.


“Eh Keenan? Oh iya bener kamu Kee….”


“Shtt jangan teriak…,” kata Keenan membuat Lucy langsung terdiam.

__ADS_1


    Keenan menyeret gadis itu ke tempat yang dirasa lebih aman. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, Keenan tersenyum dan menyapa Lucy.


“Oh my God kamu sekarang polisi? Beda banget lo sekarang,” tanya Lucy yang tidak percaya.


“Hmm, aku brimob. Perwira nih,” kata Keenan sambil menepuk-nepuk dada kiri dengan bangganya.


“Sombong lo…,” kata Lucy. Dia tiba-tiba terdiam, “sejak kapan lo kerja di sini?” tanya Lucy dengan wajah lebih serius.


“Sejak aku hilang kabar. Setelah kejadian itu aku mendaftar di akademi dan lulus setahun kemudian. Setelah itu aku kerja di sini,” kata Keenan.


“Kee, kamu tahu kabar Kirana?” tanya Lucy.


“Tahu. Aku tahu dia sudah menikah dengan Bang Raihan. Jadi aku minta tolong sama kamu, jangan pernah katakan pada Kirana kalau aku ada di sini. Aku tidak mau dia mengingatku. Lagi pula aku sudah brengsek menyakiti dan meninggalkan dia,” kata Keenan.


“Kamu benar-benar meninggalkannya atau kamu terpaksa meninggalkannya?”


“Aku benar-benar meninggalkannya. Aku tidak mau bersamanya. Maaf ya Cy aku memang brengsek, tapi kalau aku sampai muncul di hadapan Kirana sekarang dia akan terluka kembali. Aku menghindarinya hanya agar dia bisa bahagia dengan suaminya. Kuharap kamu mengerti,” kata Keenan.


“Kalian…, apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Lucy.


Lucy kembali ke ruang sidang dengan tatapan yang hampir kosong. Lucy melamun karena pikirannya terlalu fokus untuk mencerna apa yang baru saja dia hadapi. Dia bertemu dengan Keenan yang selama ini hilang kabar, dan dia bilang dia meninggalkan Kirana dengan sengaja? Lucy sangsi dengan pernyataannya. 


“Ay, kamu kenapa?” tanya Adnan.


“Anu Bang, barusan aku…,” Lucy terhenti karena melihat Kirana yang sedang tertawa dengan Raihan.


Adnan mengerti maksud dari pandangan Lucy pada adiknya. Adnan kemudian berbisik, “kamu ketemu Keenan?” Tentu saja Lucy kaget. Ya, dia baru sadar Adnan dan Keenan bekerja di tempat yang sama. Lalu kenapa calon suaminya ini tidak pernah bercerita? Kenapa Adnan selalu diam dan pura-pura tidak tahu?


“Abang tahu?”


“Shtt, jangan di sini ya. Nanti Abang ceritakan, tapi nanti,” kata Adnan dimengerti oleh Lucy.


...***...

__ADS_1


Kedua orang tua Lucy sudah pulang, begitu pula dengan keluarga Adnan. Kini hanya tinggal Adnan dan Lucy yang masih menunggu sesuatu. Setelah semuanya pulang dan melanjutkan kegiatannya masing-masing, Lucy meminta izin pada Adnan untuk sekali lagi menemui Keenan. Sayangnya laki-laki itu terlalu pintar bersembunyi. Ketika dicari di ruangannya hanya ada Galih dan Aksara. Mereka bilang Keenan sedang keluar dan entah kapan kembalinya.


“Abang…, kenapa Abang diam saja kalau Abang tahu Keenan ada di sini?” tanya Lucy.


“Lucy, kamu bisa percaya kan sama Abang?” tanyanya balik.


“Tentu saja.”


“Abang sudah tahu semuanya sejak awal. Keenan menyembunyikan kondisi mentalnya. Dia trauma. Setiap kali menatap atau bahkan hanya mendengar nama Kirana disebut, dia akan teringat kejadian itu. Kalau kau mungkin membuka lengan bajunya, kau pasti juga akan menemukan bekas luka yang dia gores dengan sengaja,” kata Adnan dengan perlahan.


“Setelah keputusan keluarga kedua belah pihak yang membatalkan pertunangan mereka, Abang yang tawarkan padanya untuk mencoba lembaran baru. Dia akhirnya memutuskan untuk mendaftar ke akademi dan berakhir di sini. Abang selalu ada sama dia karena Abang nggak mau dia berjuang seorang diri. Kirana di sini sudah punya kamu, Ningrum, bahkan Raihan, sedangkan Keenan sendirian. Keenan sudah Abang anggap seperti adik sendiri, Abang tidak tega padanya,” jelas Adnan.


“Tapi kenapa Abang nggak cerita sama aku?” tanya Lucy.


“Abang memang tidak ingin cerita Cy. Karena Abang nggak mau kamu merasakan beban yang Abang rasakan. Ini masalah Abang, jadi Abang nggak mau membebanimu. Berusaha meyakinkan kedua orang tuamu untuk merestui kita saja sudah sulit. Abang hanya nggk mau nambah berat pundakmu,” kata Adnan menenangkan Lucy.


“Tapi Abang ngerasain semuanya sendirian.”


“Nggak masalah. Abang kuat kok. Demi orang-orang yang Abang sayang, Abang akan kuat menghadapi apapun,” kata Adnan sambil tersenyum.


“Aku yang masalah Bang. Baru kita keluar dari ruang sidang pernikahan. Ucapan selamat juga masih menggema di telingaku. Aku istrimu Bang. Kalau kemarin-kemarin Abang tidak mau menceritakannya padaku aku mengerti karena aku belum siapa-siapa. Tapi semuanya sudah berbeda sekarang. Kalau Abang nggak bagi sama aku mau sama siapa lagi? Jangan buat aku merasa nggak berguna dong Bang,” kata Lucy.


Adnan kembali tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi Lucy, “Tahu nggak Abang sekarang lagi nyesel banget,” kata Adnan.


“Abang nyesel nikah sama Lucy?”


“Bukan sayang, Abang nyesel kenapa nggak dari dulu aja Abang menyatakan perasaan Abang ke kamu. Kamu bahkan di luar ekspektasi Abang. Kamu baik banget Lucy. Makasih ya,” katanya membuat Lucy tersipu malu.


“Adikmu adikku juga Bang. Lagipula aku dan Kirana bersahabat sudah bertahun-tahun lamanya. Aku juga peduli padanya, sama seperti Abang,” kata Lucy.


“Makasih ya, Abang janji Abang nggak akan pernah menyakitimu. Kalau sampai Abang ingkar, kamu boleh hukum Abang. Kalau kamu mau kamu juga boleh tinggalkan Abang,” kata Adnan.


"Aku akan hukum Abang, tapi tidak dengan meninggalkan Abang. Karena aku juga nggak bisa hidup tanpa Abang," kata Lucy.

__ADS_1


__ADS_2