Baret Biru

Baret Biru
62. Antara Iya dan Tidak


__ADS_3

Amira sedang bermain di halaman rumahnya bersama dengan Akung, Uti, dan Mama Lucy. Amira begitu lahap makan jajanan yang dibelinya bersama Mama Lucy tadi. Sambil bermain masak-masakan dia disuapi sosis bakar dan beberapa potong dimsum.


“Amira, tadi yang ngajak Amira jalan-jalan siapa sih?” tanya uti basa basi.


“Namanya Papa Galih. Katanya Papa Galih keljanya balengan sama Papa Adnan,” kata Amira.


“Oh ya?”


“Iya ti, Papa Galih olangnya baik. Papa sayang sama Mama,” kata Amira dengan riang.


“Amira kok panggil papa memangnya om Galih nggak marah? Om Galih kan bukan papanya Amira, papamu kan Papa Raihan,” kata Akung.


“Nggak. Papa Laihan itu jahat. Papa tinggalin Amila sama Mama sendilian di sini, Amila maunya sama Papa Galih aja yang baik dan nggak tinggalin Amila sama Mama kemana-kemana,” protes si kecil.


“Yaudah iya, terserah Amira deh. Sekarang Amira beresin dulu mainannya ya, sudah malam nih, nanti Mama marah lho kalau mainan Amira masih berantakan,” kata Lucy membuat Amira membereskan mainannya.


Belum sampai dia selesai beres-beres, mobil yang membawa Mama sampai di depan rumah. Begitu melihat mobil Jazz berwarna hitam itu terparkir di halaman rumahnya, Amira langsung berjingkrak, “itu papa, itu mobilnya papa,” katanya.


Apalagi ketika Amira melihat Kirana dan Galih keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gerbang, Amira berlari dan segera memeluk Galih yang sudah lebih dulu merentangkan tangan siap untuk menerima pelukan gadis manis itu. Dia bahkan tidak segan menggendong Amira di hadapan keluarga Kirana yang tengah berkumpul.


“Om, Tante, sesuai janji saya tadi. Ini anaknya saya kembalikan, aman tanpa goresan. Selamat lahir batin,” kata Galih mencoba mencairkan suasana.


“Baru jam segini kok sudah pulang?” tanya Papa.


“Hus. Papa kok malah nanya begitu, ngawur,” koreksi Mama.


“Aduh, sekarang belum berani Om. Nanti saja deh ngajak main malamnya kalau saya sudah diterima jadi Papanya Amira,” kata Galih dengan gamblang.


“Gercepnya, baru jalan sekali udah jadian,” julid Lucy.


“Ehehe, gercep dong Bu Adnan. Takut digondol kucing,” jawab Galih.

__ADS_1


“Nggak usah manggil gitu, ini kan di rumah bukan di kantor. Panggil aja pake nama. Sebagai gantinya aku panggil namamu juga boleh kan? Calon adik ipar,” kata Lucy yang terus-terusan menggoda Kirana yang hanya bisa diam di tempatnya berdiri.


“Papa…, papa beneran mau jadi papanya Amila?” tanya Amira yang masih setia di gendongan Galih.


“Insyaallah, kalau Akung-Utinya Amira kasih izin dan Mamanya Amira mau Papa akan jadi Papanya Amira beneran. Tapi Amira harus janji satu hal,” kata Galih menggantung kalimatnya.


“Apa Pa?”


“Amira nggak boleh nakal ya, Amira harus bisa bantuin Mama. Nanti kalau Amira pinter bantu Papa jagain Mama, Papa akan kasih hadiah yang gede banget buat Amira,” kata Galih.


“Benelan ya Pa?”


“Iya beneran,” kata Galih.


“Amira…, sudah malam tidur yuk. Kamu nggak ngantuk?” tanya Kirana mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Mau bobok sambil dibacain dongeng sama Papa boleh nggak?” tanya Amira.


“Maaf ya, next time kalau Papa sudah pulang papa akan bacain dongeng buat Amira sampe Amira tidur,” kata Galih.


“Papa mau kemana emangnya? Papa nggak mau pelgi kan? Papa nggak mau tinggalin Amila sama mama kaya Papa Laihan kan?” tanya Amira.


“Nggak cantik, Papa cuma mau pergi kerja ke luar kota,” kata Galih mencoba memberikan pengertian.


“Lama nggak?”


“Tergantung, kalau Amira bilangnya lama papa perginya jadi lama tapi kalau Amira bilangnya sebentar, papa pulangnya jadi cepet,” jawab Galih.


“Kalo gitu papa pulangnya besok ya,” kata Amira.


“Nggak begitu konsepnya Amira, maksud Papa kalau Amira nunggu Papa dengan hati yang senang, senantiasa mendoakan papa sehat-sehat di sana perginya papa nggak akan kerasa lama, tapi kalau Amira nungguin terus ngitungin waktu terus dan nggak ngapa-ngapain ya akan kerasa lama. Udah ya Amira sama Mama sini, Papa biar pulang. Besok pagi Mama ajak nganter Papa berangkat kerja,” kata Kirana.

__ADS_1


“Benelan ya Ma?”


“Beneran. Masa Mama bohong sih,” jawab Kirana yang akhirnya membuat Amira mau turun dari gendongan Galih. Mereka bersama-sama mengantar Galih pulang dan ketika mobil itu berbelok di ujung gang barulah Amira dan Kirana melangkah masuk menyusul yang lainnya yang sudah lebih dulu melangkah ke dalam rumah.


Kirana yang belum sempat membersihkan badannya menyempatkan mandi sebelum masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian yang lebih nyaman untuk tidur. Di sebelahnya Amira juga mengikuti kegiatan Mamanya. Dia berdiri di depan lemari bergambar Keropi miliknya dan sedang sibuk memasang kancing pakaiannya. Keduanya bersiap tidur, Kirana lebih dulu menata tempat tidur mereka sebelum mengajak putrinya naik ke atas kasur dan mematikan lampu.


“Amira, sini bentar sayang Mama mau ngomong,” kata Kirana.


“Apa Ma?”


“Amira beneran mau punya Papa?” tanya Kirana setelah putrinya naik ke atas kasur.


“Mama nggak mau sama Papa Galih ya?” tanya Amira dengan raut wajah yang sedih.


“Sayang, Mama kan sudah sama Papa Raihan. Kalau Mama sama Papa Galih itu jahat namanya. Mama nggak mau ninggalin Papa,” jawab Kirana perlahan.


“Papa yang jahat duluan. Papa yang tinggalin Amila duluan. Mama juga jahat. Amila mau sama Papa Galih,” katanya dengan mata mulai berkaca-kaca.


“Shtt…, nggak gitu sayang. Papa nggak pernah ninggalin Mama makanya…,”


“Kalo papa nggak tinggalin mama telus kenapa papa nggak pulang-pulang? Mama bilang papa ada di sulga, tapi kenapa Amila nggak boleh ketemu Papa? Papa nggak mau ketemu Amila kalena Amila sakit kan? Papa Laihan jahat ma nggak kaya Papa Galih baik,” jawab Amira.


“Amira berhenti jelek-jelekin Papamu. Papa Raihan itu papanya Amira dan akan terus seperti itu sampai kapanpun,” kata Kirana.


“Nggak mau! Papa Laihan jelek. Papa Laihan jahat.”


Amira sudah menangis membuat Kirana langsung memeluk dan menenangkannya, “tapi Amira harus izin papa dulu kalau Amira mau sama Papa Galih, kalau Papa Raihan kasih izin baru deh Amira boleh nyebut papa ke papa Galih,” kata Kirana tidak lagi mendapatkan respon dari putrinya yang masih menangis dalam dekapannya.


Amira sudah tidur. Karena di luar sedang hujan deras, Kirana sengaja mematikan AC kamarnya agar Amira tidak kedinginan. Kirana masih terjaga saat pesan selamat malam dan mimpi indah dari Galih masuk. Kirana segera membalasnya kemudian meletakkan ponselnya ke atas nakas sebelum berusaha menyusul Amira yang sudah lebih dulu lelap di dalam mimpinya.


“Abang…, apakah keputusanku ini benar? Semuanya akan aku pasrahkan pada yang kuasa. Andai Amira bilang iya aku akan menerimanya, tapi jika tidak aku akan berusaha bertahan di sini. Maaf Bang, kuharap Abang mengerti. Aku melakukan ini bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk Amira putri kita,” batin Kirana.

__ADS_1


“Abang, bantu Kirana mencari jalan keluarnya,” gumam Kirana sebelum memejamkan mata sambil memeluk putrinya.


__ADS_2