Baret Biru

Baret Biru
71. Kecurigaan


__ADS_3

Amira sudah keluar dari ruang operasi, tapi belum dari ICU. Dia masih belum juga sadar padahal sudah lewat 12 jam sejak operasinya selesai. Tidak peduli dokter Hengki berkata semuanya baik-baik saja, Kirana tetap saja takut. Dia takut jika Amiranya tercinta akan diambil oleh Bang Raihan. Apalagi Kirana baru saja mengkhianati suaminya itu.


Dengan Kirana menatap mata Galih saja dia sudah merasa bersalah bukan main, apalagi ini dia bukan hanya mulai menerima Galih sebagai calon suaminya. Dia mulai berharap Galih menjadi muara hatinya.


Kirana saat ini ada bersama Lucy yang tengah mencoba menggendong si kecil. Lucy hanya seorang diri karena Mama dan Papa tengah makan siang di lantai bawah. Kirana melihat Lucy tidak canggung sama sekali menggendong putranya yang diberi nama Daffa.


“Wah, jadi begini ya rasanya jadi kamu Ki,” kata Lucy.


“Jadi aku gimana?”


“Caesar. Sakit parah. Jangankan duduk, buat geser dikit aja rasanya sakit,” kata Lucy.


“Lucy jangan bar-bar, kebuka lagi jahitanmu nanti,” kata Kirana.


Dia ingat, ketika itu dia sering mengamuk membuat jahitan di perutnya sulit sembuh. Bahkan Kirana sampai dilarang duduk selama seminggu hanya agar luka sobekannya tidak semakin parah.


“Waktu berlalu begitu cepat, kuharap kamu bisa bahagia dengan yang sekarang,” kata Lucy.


“Namanya Galih, dia seumuran sama kita kok. Kamu boleh panggil dia dengan nama, aa juga bilang pengen bisa lebih akrab sama kamu sama Mama juga. Dia bilang mau menyempatkan ke sini sepulang kerja nanti,” kata Kirana sambil tersenyum.


“Syukur deh, kamu dapat laki-laki yang begitu baik. Jadinya kan aku sama Bang Adnan bisa tenang,” kata Lucy.


“Dia baik karena belum tahu masa laluku,” jawab Kirana.


“Maksudmu apa sih, jangan diinget-inget lagi Kirana. Kan kita semua juga sudah sepakat akan menguburnya dalam-dalam,” kata Lucy.


“Semalam waktu dia menemaniku dia sempat menyebut nama Keenan Cy,” curhat Kirana.


“Aku takut aja, masa laluku akan menghancurkan apa yang sedang aku bangun saat ini. Masalahnya nggak sesepele sebelumnya. Kalau sampai aku pisah dari a Galih, Amira pasti akan sangat sedih. Anak itu sudah membayangkan akan jadi putrinya a Galih. Untuk pertama kalinya aku dengar dia mau ketemu sama Papa Raihan dan minta izin buat jadi putrinya a Galih, Cy,” kata Kirana.

__ADS_1


“Anakmu itu hatinya memang lembut banget. Persis kayak Papanya,” jawab Lucy.


“Itulah kenapa aku menjaga dia baik-baik. Jangan sampai dia terluka, poros duniaku ada sama dia. Kalau ada apa-apa sama dia aku juga bisa remuk,” kata Kirana hampir meneteskan air matanya.


Mendengar penuturan Kirana, Lucy bergerak menatap Daffa yang mulai tertidur dalam pelukannya. Tangannya mengelus pipi Daffa yang masih kemerahan. Bibir kecilnya masih bergerak-gerak walaupun dia tidak lagi menyusu. Lucy tersenyum memandang putranya yang dia miliki setelah perjuangan berat dan panjangnya ini.


“Aku paham sekarang, setelah jadi ibu aku jadi paham semua perasaanmu,” kata Lucy meneteskan air matanya.


“Jangan nangis Cy, jadikan saja tangisanmu sebagai penyemangat. Untuk menyemangati dirimu agar bisa kuat menghadapi kehidupan demi putramu,” kata Kirana.


“Aku harus kuat demi anakku,” jawab Lucy.


“Pasti. Demi melindungi anak-anak dari beratnya beban dunia kita pasti akan berusaha kuat. Terkadang juga sampai mengorbankan perasaan kita sendiri hanya agar anak-anak tidak bersedih. Buat aku jadi Ibu itu berat, tapi aku tetap senang menjalaninya. Karena anakku adalah sumber kekuatanku. Apalagi sekarang aku nggak punya suami,” kata Kirana.


“Sebentar lagi kamu akan punya. Satu yang begitu menyayangimu dan mau menerima Amira dengan segenap hatinya. Aku mendoakan hubunganmu dengan Galih, Ki,” kata Lucy.


“Makasih ya, makasih karena kamu nggak pernah pergi dari sisiku,” jawab Kirana dengan senyum yang agak dipaksakan.


Galih saat ini sedang gusar, kakinya bahkan tidak berhenti bergerak membuat Keenan heran bukan main. Ketika dia melirik laptop Galih, dia semakin bingung melihat artikel apa yang sedang dibacanya.


“Mbul, kaki lo bisa diem nggak?” tanya Aksara. Ketiganya saat ini sedang berada di ruang rapat dan sedang menunggu kehadiran komandan.


“Lo kenapa sih?” tanya Keenan.


“Mot, Le, gue mau tanya ke kalian berdua. Menurut lo kalau mau jenguk orang lahiran bagusnya bawa apa ya?” tanya Galih.


“Bawain baju bayi kek, peralatan bayi atau apa. Kenapa gitu aja bingung,” jawab Keenan.


“Masalahnya tantenya si bayi bilang jangan beliin apa-apa buat bayinya. Soalnya peralatannya udah bejibun kagak bakal kepake semua,” jawab Galih.

__ADS_1


“Lo mau jengukin saha sih?” tanya Aksa.


“Anaknya Bang Adnan,” kata Galih.


“Lucy udah lahiran? Kok Bang Adnan dari kemaren masih ngantor?” tanya Keenan.


“Lo kenal sama istrinya Bang Adnan?” tanya Galih membuat Keenan sadar dia keceplosan.


“Ya kenal nggak kenal. Cuma karena gue akrab aja sama Bang Adnan, makanya jadi kenal istrinya juga. Kebetulan seumuran kan sama gue,” kata Keenan ngeles.


“Iya sih bener juga, lo asli Jogja kan. Nggak menutup kemungkinan lo kenal sama teh Lucy,” jawab Galih.


“Lo manggil dia pake teh?”


“Calon kakak ipar, nggak peduli dia lebih muda dari gue apa seumuran gue bakal tetep manggil dia teh. Menghormati lah, dia kan istrinya Bang Adnan. Kalau gue jadi nikah sama Kirana, aamiin. Bang Adnan sama Lucy bakal jadi kakak ipar gue sedangkan di kantor Bang Adnan senior,” jelas Galih.


“Lo udah yakin banget kayaknya,” kata Keenan.


“Insyaallah,” jawab Galih sambil tersenyum.


“Gue saranin lo mundur aja kalau memang belum siap, jangan pernah main-main sama Kirana,” kata Keenan.


“Kalimat lo barusan nggak kedengeran kayak saran mot, tapi lebih kayak ancaman. Gue paham kalau lo kenal sama Kirana, tapi kenapa lo bisa sepeduli itu sama dia?” tanya Galih.


Keenan semakin mematung. Dia mulai menyadari dia sudah salah bicara. Sedangkan Aksara yang duduk di hadapan keduanya hanya bisa diam. Dia sudah menduga hari ini akan datang juga. Selama ini Aksara selalu berdiri ditengah-tengah. Bahkan tidak jarang Kirana bertanya padanya tentang Galih. Pagi tadi bahkan dia menanyakan soal Keenan.


“Bakal panjang nih urusannya,” batin Aksara.


Galih terus terbayang dengan kata-kata Keenan barusan. Otaknya semakin berkelana jauh membayangkan apa yang pernah terjadi antara Keenan dan saudara perempuan Adnan Dzaki. Dia mulai curiga jika sebenarnya Keenan bukan berteman dengan Bang Adnan melainkan berteman dengan adiknya, dan karena itu dia akhirnya bisa berteman dengan Adnan juga. Kemungkinan itu diperkuat dengan pernyataan Keenan barusan. Keenan juga mengenal Lucy.

__ADS_1


Sebenarnya Galih juga menyadari sesuatu, semalam ketika dia menyebut nama Keenan ekspresi wajah Kirana sempat berubah. Sayangnya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk Galih bertanya. Mereka sedang berdoa untuk kesembuhan Amira, Kirana juga sedang terpuruk dan takut karena perkembangan Amira tidak sebagus yang seharusnya.


Galih mencoba untuk memendam rasa penasarannya sementara waktu. Dia tidak ingin Kirana sedih karena dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi diantara Kirana dan Keenan lagi pula ini baru kemungkinan dari hatinya, belum tentu apa yang dia kira benar terjadi, semoga saja tidak.


__ADS_2