Baret Biru

Baret Biru
109. Meledak


__ADS_3

Seharian Mamanya Bang Raihan di sana, bermain dengan Amira dan Tiar. Bahkan ketika Galih pulang dari kantor, Mamanya Bang Raihan masih ada di sana dan ikut-ikutan ke dapur memasak bersama Bu Ratna. Ketika keduanya tengah berada di dapur, Galih melihat ada Pak Aji, Amira, dan Tiar tengah duduk bersama di sofa. Amira yang melihat Papanya pulang langsung berlari mendekat dan mencium tangan Papanya baru kembali ke dekat kakeknya yang masih menyusui Tiar dari sebotol dot.


"Pak, Kirana mana?" tanya Galih.


"Di kamarnya," jawab Pak Aji.


"Papa, kayaknya Mama sakit deh. Dari tadi siang waktu Ami pulang Mama di kamar terus nggak keluar-keluar," curhat Amira.


"Papa cek Mama dulu ya," kata Galih kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.


Ketika dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam. Galih mengira Kirana sedang tertidur, jadi Galih memutuskan untuk masuk perlahan-lahan. Dia berjalan mendekati tempat tidur dimana Kirana tertidur dengan posisi memunggunginya. Galih perlahan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur. Baru dia akan mencoba membangunkan istrinya, dia merasakan ada yang aneh dari Kirana.


Bajunya basah, tubuhnya berbalut keringat dingin di bawah selimut yang cukup tebal. Terlebih lagi suhu tubuh Kirana panas. Galih segera membangunkan Kirana dan ketika tubuhnya berguling, dia melihat wajah Kirana sudah pucat pasi dengan garis bekas air mata jelas terukir di pelupuknya.


"Mama..., kamu kenapa?" tanya Galih.


"A, kepalaku pusing," keluh Kirana.


Galih bergegas keluar dari kamar untuk menganggil Bu Ratna. Jujur Galih panik ketika termometer itu menunjukkan suhu tubuh Kirana yang mendekati 40. Kirana diberi obat penurun panas dan Bu Ratna membantu Kirana berganti baju.


"Mama, Tiar mana? Amira juga mana?" tanya Kirana.


"Tiar sama Amira ada di luar, kenapa?" tanya Bu Ratna yang sesekali menyeka keringat Kirana.


"Kamu sehatkan dulu badanmu. Amira dan Tiar biar sama Mama dulu ya," jawab Mamanya Bang Raihan pada Kirana.

__ADS_1


Kirana menggeleng, "aku mau sama mereka," kata Kirana.


"Ki, nanti mereka ketularan. Amira kan gampang sakit, sedangkan Tiar juga masih kecil," kata Mamanya Bang Raihan bersikeras.


"Mama! Mereka anakku Ma, anak-anak aa Galih bukan anak Bang Raihan. Stop ganggu aku Ma, aku capekkkk!!!!"


Tiba-tiba Kirana meledak. Dia berteriak dan membuat seluruh isi rumah mendengar suaranya. Terlebih setelah itu Kirana menangis dengan begitu keras. Galih di luar kamar tengah menggendong Tiar dan di sebelahnya Amira langsung merapatkan diri ke Papanya karena takut jika dia ikut dimarahi oleh Mama Kirana. Ini juga kali pertama Amira melihat Mamanya marah, itulah kenapa dia ketakutan.


"Papa, Amira takut," kata Amira yang semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Papa.


"Nggak papa, kak. Udah jangan nangis," kata Galih.


Dia mulai kebingungan karena di sebelah tangannya Tiar terus menangis sedangkan Amira juga minta dipeluk. Galih melihat Mama Cecil berjalan keluar dan tidak lama kemudian Galih juga mendengar suara mobil yang mulai berlalu pergi.


"Bu, Kirana baik-baik saja kan? Kok nangisnya sampai begitu?" tanya Galih ketika menyerahkan Tiar ke gendongan neneknya.


"Namanya baby blues itu pada dasarnya adalah penyakit mental, kalau meledak ya begitu makanya sana kamu masuk ditenangkan itu kasihan nafasnya juga sampe kesengal-sengal," kata bu Ratna.


Galih masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk Kirana yang menangis di atas tempat tidurnya. Galih tidak berani berkomentar, dia hanya mampu diam sembari menepuk-nepuk pundak istrinya. Sesekali dia mencium kening Kirana, juga mengelus rambutnya. Sebisa mungkin Galih segera menenangkan Kirana apa lagi dia masih merasakan suhu tubuh istrinya masih tinggi.


Tak lama setelah Galih berada di dalam kamar, Kirana jatuh pingsan dan Galih kembali memanggil Bu Ratna. Galih yang merasa tidak sanggup akhirnya keluar. Dia lebih memilih untuk duduk di sofa bersama Bapak yang entah kenapa sejak tadi hanya diam tanpa melakukan banyak hal.


"Bapak kenapa? Apa Bapak sakit juga?" tanya Galih.


"Ndak, Bapak cuma tiba-tiba teringat masa lalu. Dulu ibumu juga pernah begitu. Ketika kehilangan kak Putri," kata Bapak.

__ADS_1


"Kak Putri..., kakaknya Aksara?"


"Iya, anak pertama Bapak yang nggak sempat dilahirkan. Ibumu dulu terpukul sekali, ya salah Bapak juga sih waktu itu. Bapak yang nggak becus kerjanya. Lha kok ya sekarang, Bapak harus lihat menantu Bapak yang begitu," kata Pak Aji.


"Apa sebenarnya Kirana kebeban ya Pak? Saya jujur kasihan banget sama Kirana," kata Galih.


"Kebeban atau tidak kan tetap harus dijalani. Jangan bilang begitu apalagi ada Tiar dan Amira. Anak itu bukan beban Galih, mereka adalah anugerah. Begitupun kamu buat Bapak. Kamu bukan anak kandung Bapak tapi kamu sudah seperti anak kandung buat Bapak. Kamu juga anugerah buat Bapak. Sama seperti Aksara dan Nusantara. Bapak berharap kamu juga akan begitu pada Amira dan Bachtiar. Jangan sampai mereka merasa dibedakan," nasehat Pak Aji.


"Masalahnya bukan di situ Pak, masalahnya saya sama Kirana itu takut kalau dengan kehadiran Mamanya Bang Raihan yang hampir setiap hari ke sini. Saya merasa seperti Mamanya Bang Raihan akan meminta Amira dan Kirana dariku," kata Galih.


"Itu tidak akan terjadi, kalaupun kamu tidak berani bicara Bapak yang bicara, Papanya Kirana juga pasti akan angkat bicara. Kamu sudah tidak perlu khawatir. Fokus saja sembuhkan istrimu, kasihan Bapak lihatnya," kata Bapak.


"Iya Pak sama, paling nggak tega lihat perempuan sampai menangis," kata Galih.


Pak Aji tersenyum kemudian menepuk pundak Galih dengan bangga, "kamu memang benar anak Bapak," katanya.


...***...


Hari berikutnya Galih mengusahakan datang ke rumah orang tua Bang Raihan. Dia mendapatkan alamatnya dari kedua mertuanya dan datang ke rumah ini sengaja untuk meminta maaf sekaligus mengatakan ketidaknyamanannya atas perilaku Mama Bang Raihan padanya dan Kirana.


"Saya sudah paham dengan maksud kedatanganmu ke sini. Tapi sebelum kamu bicara, izinkan saya untuk meminta maaf lebih dulu," kata Pak Nandar.


"Sebenarnya saya tidak masalah apabila Bu Hasna datang berkunjung ke rumah. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak begitu senang kalau kunjungan beliau membuat istri saya sedih. Benar Kirana adalah menantu Bapak dan Ibu, tapi saat ini statusnya adalah istri saya. Dia adalah menantu dari Pak Aji dan Bu Ratna. Saya pahami betul jika maksud dan tujuan Bu Hasna datang ke rumah saya adalah untuk menemui cucu. Amira adalah putrinya Bang Raihan dan saya sendiripun tidak bisa mengelak. Jadi sebagai gantinya saya akan sering datang kemari, mengajak Amira bermain dengan kakek neneknya, tapi saya mohon untuk tidak terlalu sering berkunjung ke kediaman saya dan Kirana," kata Galih.


"Kalau begitu lepaskan Amira dan berikan hak asuhnya pada saya," kata Mama Hasna yang datang dari arah ruang tengah menyela pembicaraan Galih dan Pak Nandar.

__ADS_1


__ADS_2