
“Den, kerjaan tolong dilanjut ya. Sekalian lo mimpin patroli kan?”
“Santai. Tapi minggu depan gantiin ya,” jawab Deden.
“Deal.”
“Ndan, mau ke mana?” kali ini Odi yang tanya.
“Bujuk ibu negara,” jawab Raihan yang sudah memulai langkahnya keluar dari ruang kerja. Sebenarnya Raihan tidak tahu Kirana ada di mana, handphonenya juga lowbat jadi dia mencoba peruntungan dengan pergi ke cafe mencari Kirana di sana. Setelah memarkir mobil di tempat yang kosong, Raihan melangkah masuk tapi tidak menemukan Kirana dimanapun.
“Mas Raihan? Cari Mbak Kirana?” tanya Dimas.
“Iya, orangnya di sini nggak?”
“Iya Mas, masuk saja. Ada di ruang staf kayaknya ngecek laporan mingguan yang dibuat sama Silma,” kata Dimas.
Raihan berjalan masuk ke dalam ruang staff dan menemukan Kirana duduk di balik meja yang biasa dia pakai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia terlihat sedang sibuk, pakaiannya berantakan dan rambutnya terikat asal. Alih-alih mendekat, Raihan justru meraih handphone dan memotret pemandangan itu. Menurut Raihan, Kirana terlihat cantik ketika sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Ya ampun Bang kok nggak bilang kalo udah sampe?" tanya Kirana.
Raihan berjalan mendekat setelah melayangkan satu senyuman pada istrinya. Raihan duduk di hadapan Kirana kemudian tangannya terangkat untuk merapikan anak rambut Kirana ke belakang telinganya, “Habis kamu lagi cantik. Abang kan juga ingin menikmati cantikmu,” kata Raihan.
“Gombal deh,” jawab Kirana yang tersipu malu.
“Gimana kondisimu? Sudah baik? Masih mual nggak?” tanya Raihan masih tetap mengelus rambut Kirana.
“Udah nggak Bang, tapi besok pagi mungkin mual-mual lagi,” keluhnya.
“Nggak papa, dinikmati berdua ya,” kata Raihan.
“Iya Bang. Kalau gitu Abang tunggu bentar aku beresin tas dulu,” kata Kirana.
“Mau ke mana?”
“Pulang kan?”
“Lanjutkan dulu saja pekerjaanmu. Abang tunggu. Sekalian saja Abang makan di sini boleh nggak?” tanya Raihan.
“Boleh Bang, boleh banget. Abang mau makan apa biar Kirana yang siapin,” kata Kirana mulai beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Spageti meatball, chicken pop yang large, vanilla latte sama green tea,” kata Raihan.
“Banyak amat?”
“Kan buat kamu juga sayangku,” kata Raihan membuat Kirana tersenyum lagi.
Setahun menikah dengannya membuat Kirana menyadari betapa baiknya Raihan Dhananjaya. Dia adalah sosok pemimpin yang humanis dan pengertian. Raihan begitu manis, menyenangkan dan lucu. Sesekali Raihan berusaha melucu walau gagal, tapi untuk Kirana itu sudah lebih dari cukup. Dia bisa merasakannya sendiri, seberapa besar usaha Raihan untuk menjaga suasana hati istrinya dan hal itu sudah cukup membuat Kirana bahagia.
Selagi Kirana membuatkan pesanan Raihan, dia terus mengamati kondisi ruang kerja istrinya. Di meja itu terdapat foto Ningrum, Lucy, dan Kirana yang kalau dia tidak salah ingat diambil di acara grand opening cafe ini beberapa tahun lalu. Raihan mengamati wajah tersenyum Kirana. Dia begitu manis dengan senyum lebar menampakkan deret giginya yang rapi.
Raihan ingat ketika itu Kirana belum menjadi miliknya, tapi dia juga ingat jika dia selalu mendoakan Kirana sejak hari dimana dia bertemu dengan adik dari sahabatnya ini. Dia tidak pernah mendoakan Kirana untuk menjadi miliknya. Dia hanya meminta agar Kirana diberikan yang terbaik dan diberikan kebahagiaan dengan siapapun yang akan bersamanya nanti. Doa itu hingga detik ini masih terucap dan akan terus dia panjatkan pada Tuhan. Bukan hanya Kirana, tapi juga anaknya. Agar kedua mutiaranya bisa terus hidup dalam kebahagiaan.
Raihan terus duduk di hadapan Kirana, dengan perlahan menyuapkan sesendok demi sesendok ke dalam mulut Kirana yang masih sibuk dengan pekerjaannya. 30 menit kemudian, semua makanan yang dia pesan tadi sudah habis semua. Raihan tersenyum karena istrinya itu tidak sadar sudah menghabiskan hampir seluruh makan malamnya, padahal selama ini Kirana tidak pernah mengutak-atik atau meminta porsi makan Raihan.
"Pinternya istriku," kata Raihan.
"Apa?"
"Kamu makannya habis," katanya sambil menunjukkan piring kosong di hadapannya pada Kirana.
"Astaga, aku yang habisin semuanya? Ih Bang kok gitu sih, jadi abang belum makan? Aku buatin lagi ya," kata Kirana langsung panik.
"Abang sudah makan sama kamu. Ini kita habiskan berdua nggak kamu sendirian yang makan kok," kata Raihan.
"Beneran?"
"Iya bener," kata Raihan sambil tersenyum.
"Makasih ya Bang."
"Buat?"
"Semuanya," kata Kirana.
"Sama-sama," Raihan membalas.
...***...
Malam sudah mulai larut, Kirana di sampingnya juga sudah lelap di dalam tidurnya. Raihan memandangi wajah Kirana yang terlihat kelelahan tapi begitu damai dalam tidurnya. Ketika tengah asik mengelus kepala Kirana, Raihan teringat dengan kata-kata Kirana pagi tadi. Dia bilang tidak suka dikekang oleh Mama Hasna dan Mama Cecil. Dia merasa tertekan dan apa yang dia lakukan seperti salah di mata Mama.
__ADS_1
Tidak dipungkiri memang mood Kirana sedang berubah-ubah. Sebentar dia senang, sebentar sedih, bisa juga tiba-tiba marah. Jika dia terganggu sedikit saja, dia bisa langsung badmood tidak peduli dia sedang tertawa. Ditambah lagi beberapa waktu belakangan Kirana sibuk membantu Adnan dan Lucy di acara pernikahan mereka. Raihan melangkah turun dari tempat tidurnya, kemudian duduk di meja kerjanya.
Raihan terlihat menghitung sesuatu dan memutuskan sesuatu. Pandangannya dia layangkan ke sekitar kamarnya. Ketika dia melangkah keluar dari kamar untuk mengambil air putih, dia juga terus memandangi setiap sudut rumah ini. Rumah yang sudah dia tempati bahkan sejak dia belum dilahirkan. Rumah ini dibangun oleh Papa dengan kerja keras sebagai modal untuk menikahi Mama 28 tahun yang lalu. Walaupun tidak lama kemudian mereka pindah pulau mengikuti panggilan dinas Papa, tapi rumah ini tetap memiliki cerita.
Raihan ingat, ketika dia berusia 5 tahun dia suka sekali memanjat meja makan di hadapannya ini. Suatu waktu, dia juga pernah terjatuh dan kepalanya membentur kursi dengan begitu keras hingga mengeluarkan darah. Mama sangat panik ketika itu. Bagaimana tidak, anak satu satunya, jagoan Mama bisa terluka karena Mama lalai menjaganya. Mama menangis dan terus bersedih selama hari-hari Raihan dirawat di rumah sakit.
Lamunan Raihan terus mengalir menghadirkan sosok baru di rumah ini. Kirana Dwi Dhanastri, yang ketika itu baru pertama kalinya datang kemari terlihat kikuk mengikuti langkah Mama kemanapun itu. Bahkan ketika Mama sedang berada di kamar, Kirana hanya akan duduk diam di sofa atau melakukan sesuatu yang bisa membunuh waktu di dapur. Raihan tersenyum, istrinya yang ketika itu masih ketakutan di dekatnya kini telah berubah 180 derajat.
Di dapur ini pula dia menerima pelukan pertama Kirana dan di hadapan dispenser hitam ini Raihan pertama kali mencumbu istrinya. Sejak malam itulah Kirana mulai terbuka dan menerima dirinya. Padahal sebelumnya memiliki wanita itu hanyalah sekedar angan untuknya.
“Han? Kamu ngapain di situ?” tanya Papa yang terbangun.
“Eh Papa, lagi minum nih. Papa belum tidur?”
“Nggak sih, Papa kebangun aja. Kamu kenapa mukanya kaya gitu? Kayak ada pikiran,” tanya Papa.
“Ya gitu deh Pa, masih bingung aja harus gimana,” kata Raihan sambil tersenyum.
“Bingung ngadepi istrimu yang moodyan? Wajar Han, selama kehamilan dia akan mengalami banyak sekali perubahan bukan hanya dari segi fisik tapi juga hati. Kamu yang pengertian ya, jangan nuntut istrimu terlalu banyak. Kasihan dia nanti tertekan,” kata Papa.
“Nah itu dia, sebenarnya yang terlalu menekan itu malah Mama,” kata Raihan.
“Kamu yang kasih pengertian ke Mama lah, kalau Papa yang ngomong ya mental semua. Kamu ngomong sama Mamamu pelan-pelan. Jangan terlalu mengekang Kirana untuk ini itu, gitu.”
“Pa, maaf banget sebelumnya. Raihan mau tanya pendapat Papa,” kata Raihan.
“Apa?”
“Aku mau ajak Kirana pindah rumah. Aku mau mengusahakan untuk beli rumah. Kalau tadinya hanya ada aku sama Kirana, tapi dalam beberapa bulan akan ada anak Raihan yang lahir. Sama seperti aku yang selalu mengagumi Papa, aku juga mau jadi sosok yang seperti itu untuk anakku. Selama ini aku merasa belum bisa kasih yang terbaik untuk keluarga kecilku,” kata Raihan.
“Kalau itu sudah jadi keputusanmu Papa mau bilang apa? Kamu laki-laki yang sudah memimpin keluarganya sendiri. Papa sudah nggak bisa nyetir kamu ini itu. Semua sudah tergantung kamu sendiri sekarang.”
“Tapi Mama gimana?” tanya Raihan.
“Soal Mama itu jadi urusan Papa. Biar Papa yang bantu kamu yakinkan Mama kamu. Tugas dan tanggung jawabmu hanya tentang Kirana dan anak-anakmu,” kata Papa.
“Makasih ya Pa, tapi tolong rahasiakan dulu. Nanti Raihan sendiri yang akan ngomong ke Mama dan Kirana. Nanti, kalau suasananya sudah lebih dingin,” kata Raihan.
“Papa bangga sama kamu,” kata Papa sambil menepuk pundak putranya.
__ADS_1