
Sisa harinya mereka habiskan sebelum kembali pulang esok pagi. Mereka seharian penuh di taman safari dan sekitarnya, menikmati jalanan kota yang asri dan penuh pepohonan dengan suasana hujan yang syahdu ditemani martabak telur dan minuman hangat. Keduanya belum makan nasi malam ini tapi berhubung sejak tadi mereka sudah terus mengunyah jajanan apapun yang menarik untuk dibeli akhirnya mereka kekenyangan.
“Dek, besok kita check out jam 6. Jadi lepas sholat subuh kita langsung siap-siap saja ya,” kata Raihan.
“Iya Bang. Ini kopernya langsung aku beresin aja ya,” kata Kirana diangguki oleh Raihan.
“Nih, Abang mandi dulu sana biar sekalian aku beresin pakaian kotornya,” kata Kirana sambil menyerahkan handuk dan pakaian bersih.
Selama menunggu Raihan selesai mandi, Kirana memberesi isi koper mereka. Dia memisahkan pakaian kotor dan pakaian bersih lalu melipatnya dengan rapi. Selesai melipat pakaiannya, dia mengecek seluruh isi kamar apakah ada barang yang masih tertinggal atau tidak. Dia mengumpulkan semuanya di meja rias agar mudah mengemasnya esok hari.
“Ok selesai,” kata Kirana begitu pekerjaannya selesai.
Karena merasa suaminya mandi terlalu lama, Kirana merebahkan diri di tempat tidur sambil bermain hp. Dia menonton apapun yang bisa dia tonton. Terkadang dia akan melihat-lihat foto mereka selama berjalan-jalan di Bogor, atau foto-foto pernikahan mereka.
“Bang Adnan pasti nggak akan nyangka kalau sekarang Kirana nggak takut lagi sama Bang Raihan,” kata Kirana yang tengah menatap fotonya yang merangkul lengan bang Raihan dengan santainya.
Hari sudah semakin malam, Raihan baru selesai sholat isya dan langsung bersiap untuk tidur. Dia meraih satu bantal dan berjalan menuju ke sofa sedangkan Kirana yang sudah merebahkan diri di tempat tidur masih asik chattingan dengan Abangnya.
“Bang Raihan…,” panggil Kirana.
“Kenapa Dek?”
“Abang tidur sama Kirana sini,” kata Kirana.
“Nggak usah Kirana, Abang tidur di sofa saja nggak papa,” kata Raihan.
“Kirana nggak enak sama Abang. Badan Abang pasti pegal-pegal kalau tidur di sofa sekecil itu. Sini Bang tidur saja di sebelah Kirana. Toh ini kasurnya besar. Selama aku nggak lihat wajah Abang terlalu dekat denganku sepertinya nggak akan jadi masalah,” kata Kirana.
“Kamu yakin?”
“Iya yakin. Kan dibilang aku mau nyoba lebih dekat sama Abang,” jawab Kirana membuat Raihan tersenyum.
Raihan berjalan mendekati tempat tidur berukuran king size yang saat ini sedang ditempati Kirana. Raihan naik dari sisi yang lainnya kemudian meletakkan sebuah bantal di antara dirinya dan Kirana. Dia berusaha menjaga jarak agar Kirana bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Raihan bukannya merasa nyaman dia malah tidak tidur karena hatinya gelisah dan membuatnya tidak mampu tidur dengan baik. Kirana memunggunginya dan sepertinya sudah tidur dengan tenang.
“Untung tidurku tidak banyak bergerak,” kata Raihan. “Hey kau tangan, jangan menjarah kemana-mana ya. Tenang saja di sini,” kata Raihan pada kedua tangannya.
Raihan kemudian mengapit kedua tangannya di antara paha dan tidur memunggungi Kirana. Diam-diam Kirana mendengar apa yang Raihan katakan tadi. Dia juga sempat melirik posisi tidur Raihan yang seperti mengunci tangannya agar tidak mengenai Kirana ketika berguling.
Kirana tersenyum. Di dalam hatinya dia sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bisa dekat dan bisa memiliki seorang pengayom dan seorang pemimpin bernama suami yang begitu gentle dan begitu baik hatinya. Raihan juga penuh pengertian dan tidak segan untuk meminta izin pada Kirana ketika akan melakukan sesuatu. Dia jadi merasa dihargai walaupun dia sendiri tidak pantas untuk dihargai.
...***...
Tadinya Raihan ingin mengajak Kirana menggunakan taksi saja tapi ternyata istrinya itu memiliki trauma lain yang belum Raihan tahu. Kirana tidak berani menggunakan kendaraan umum lagi sejak saat itu, apalagi taksi. Alhasil Raihan meminta Adnan untuk menjemput keduanya di Bandara.
Berhubung besok Kirana akan pergi ke polres untuk mengikuti acara bhayangkari, jadi terpaksa hari ini dia harus ke cafe lebih dulu. Sekalian mengecek kondisi dia juga ingin membagikan oleh-oleh untuk semuanya.
Setelah beristirahat di rumah sekitar setengah hari, Raihan dan Kirana bersiap untuk pergi. Kirana sedang memasukkan oleh-oleh yang akan dibawanya ke dalam mobil ketika si comel lewat. Raihan langsung teringat dengan kata-kata Kirana kemarin. Dia disamakan dengan si comel itu, ya imut sih tapi ah sudahlah. Selama Kirana suka dia iya iya sajalah.
“Dek, laki mu tuh lewat,” sindir Raihan yang tengah duduk di teras sembari memakai sepatunya.
“Ah comel~,” panggil Kirana dan langsung mendekati Bu Maria dan comel yang lewat depan rumahnya.
“Sudah Bu baru tadi pagi,” kata Kirana.
Gukk…!!
Kirana sempat kaget ketika tiba-tiba comel menggonggong pada Raihan yang mencoba mendekatinya. Kirana melihat Raihan mencoba mendekatinya sekali lagi dan berhasil. Comel sekarang mau dielus bulunya oleh Raihan.
“Auww pinternya,” puji Raihan pada comel.
“Bang, tengok sini dong,” kata Kirana yang ternyata sudah siap dengan handphone di tangannya.
“Tuh kan mirip,” kata Kirana menunjukkan foto Raihan dan comel yang berpose bersama.
Kirana dan Raihan kembali masuk, mencuci bersih tangannya dan memastikan tidak ada bulu comel yang menempel di pakaian baru keduanya masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada Mama. Pas ketika keduanya akan berangkat, Adnan pulang. Dia dengan memakai motor megapro kesayangannya kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya di markas.
__ADS_1
“Bang aku berangkat ya,” kata Kirana pada Abangnya.
“Ya hati-hati.”
“Nan, ntar malem tolong ya jemput Kirana jam 9. Gue patroli,” kata Raihan.
Adnan hanya membuat gesture ok sebagai tanda setuju kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Tentu saja setelah melepaskan sepatu, mencuci tangan dan kakinya di keran depan. Raihan dan Kirana kemudian berangkat menggunakan mobil Raihan. Katanya nggak papa bukan mobil baru yang penting istri tidak kehujanan. Dia dapat mobil second dari pamannya dan katanya lumayan untuk modal dia menikahi Kirana.
...***...
Ketika sampai di cafe Kirana dan Raihan disambut baik oleh semuanya. Kebetulan Lucy dan Ningrum sedang ada di cafe walau Lucy langsung undur diri karena dia sekarang sibuk setelah magang di kantor milik ayahnya.
Setelah menyapa dan membagikan oleh-oleh, Kirana dan Raihan diminta duduk oleh Ningrum yang kemudian dibuatkan minum oleh Seno. Sedang asik meneguk es bobanya, tiba-tiba pandangan Kirana langsung terfokus pada anggrek bulan yang terletak di pojok ruangan dekat dengan pintu. Dia melihat tumbuhan itu mulai layu. Kirana langsung mengambil segelas air dan menyiramnya. Setidaknya agar tanahnya sedikit basah dan dia bisa memiliki cukup pasokan air untuk bertahan hidup.
“Kalau tidak salah anggrek itu bunga kesayanganmu kan Dek?” tanya Raihan.
“Iya Bang. Maaf ya, sebenarnya bunga itu bukan hanya sekedar bunga. Ada kenangan di dalamnya. Alasan aku mempertahankannya hanya karena dia makhluk hidup yang sama punya nyawa kaya kita Bang. Rasanya nggak adil aja kalau aku menyiksa dia karena alasan pribadi. Kan dia nggak salah apa-apa,” jawab Kirana.
Raihan paham dengan apa yang dimaksud dengan Kirana. Tadinya dia akan cemburu tapi mendengar alasan Kirana membuatnya tersenyum bangga. Sungguh luar biasa istrinya ini.
“Kamu tahu nggak ada bunga yang lebih cocok melambangkan pribadimu,” kata Bang Raihan.
“Apa?”
“Dandelion,” kata Raihan.
“Dandelion?”
“Iya. Dandelion mungkin tidak secantik anggrek, tapi ada satu pembelajaran besar yang dapat diambil darinya. Kamu tahu kan, dandelion bisa hidup di segala tempat. Dia tidak perlu dirawat untuk bisa tumbuh dan berbunga. Dia mungkin tampak rapuh dan langsung hancur ketika tertiup angin. Tapi setelah terbang tertiup angin dia akan jatuh di tempat yang baru dan tumbuh menjadi bunga yang baru dan memulai kehidupannya kembali,” kata Raihan.
“Jadi aku kaya dandelion ya Bang? Yang rapuh dan mudah hancur,” kata Kirana.
“Bukan begitu sayang. Dandelion itu walaupun rapuh tapi dia tangguh. Dia bisa hidup kembali setelah terserang badai sekuat apapun. Sama seperti dirimu yang begitu tangguh dan kuat. Semua badai yang menerjang dirimu bisa kamu lawan dan akhirnya tumbuh menjadi bunga yang baru lagi,” kata Raihan akhirnya membuat Kirana tersenyum.
__ADS_1
“Dandelionku, aku janji akan jadi angin lembut yang membawamu ke tempat yang baru dan memulai kehidupan yang baru. Aku yang akan menerbangkanmu dan meletakkanmu di tempat terindah yang pernah ada,” kata Raihan.
Kirana dibuat tersipu dengan kata-kata Raihan, "Apa sih Abang gombal," katanya.