Baret Biru

Baret Biru
101. Ini Peringatan Bukan Ancaman


__ADS_3

Sejak kepergian Galih 2 minggu lalu, Kirana selalu memberikan kabar pada suaminya. Kirana tidak pernah absen mengirimkan gambar, video, maupun pesan suara pada suaminya. Dia diajari begitu bukan hanya oleh Ibunya tetapi juga oleh mertuanya. Mama dan Ibu selalu bilang kalau restu istri sedikit banyak juga berpengaruh pada keberhasilan suami. 


Bapak Aji dan Papa Bagus juga menguatkan hal itu dengan cerita-cerita yang sering beliau berdua sampaikan. Keduanya sering bercerita jika Mama dan Ibu dulu sering mengirimkan pesan-pesan yang menguatkan. Walaupun pesannya sesepele wajah Kirana yang belepot coklat atau Adnan yang mengoceh tidak jelas seakan tengah ngobrol dengan boneka monyetnya.


Kata Papa, mendengar kabar tentang keluarga di rumah memberikan sebuah semangat tersendiri. Apa lagi jika sedang bertugas di luar, rasa rindu tersebut menumbuhkan motivasi tersendiri. Motivasi untuk selalu sehat dan selamat agar bisa segera bertemu kembali dengan keluarga yang ada di rumah.


Pagi ini Kirana kembali mengirimkan foto Amira yang tengah memakai seragam barunya. Sebuah seragam hitam yang menjadi duplikat dari seragam ayahnya. Amira memberikan pose hormat yang membuatnya terlihat sangat cantik sekaligus menggemaskan. Belum sampai Kirana mematikan handphonenya, dia melihat tanda centangnya berubah biru. Kirana tersenyum ditambah masuknya panggilan video dari Galih sesaat kemudian.


“Papa~,” Amira langsung menyambutnya dengan bahagia. Dia bahkan terus meminta handphone ibunya agar dia bisa melihat wajah Papanya dengan lebih jelas.


“Pagi kakak, pagi Mama,” sapa Galih.


“Pagi pa…,” jawab Kirana dan Amira.


“Gimana kabarnya?”


“Papa, kemarin Mimi dengar suara jantungnya adek lho. Kemarin kakak temani Mama ke dokter,” lapor Amira.


“Adek sehat Ma?”


“Sehat Pa, alhamdulillah. Papa nggak usah khawatir. Aku, kakak, sama adek baik-baik saja kok. Sementara waktu aku tinggal sama Lucy. Jadi aku nggak sendirian,” kata Kirana.


“Syukur alhamdulillah. Maaf ya Papa nggak bisa lama-lama. Papa kerja lagi, bye Mama, bye kakak-adek,” pamit Galih.

__ADS_1


Walaupun singkat tapi rasanya sudah lega Kirana bisa melihat Galih baik-baik saja. Karena suaminya sedang bertugas, Kirana tidak berani menanyakan kabar atau bahkan sampai bertanya kapan dia kembali. Padahal di dalam batinnya sudah sesak dengan pertanyaan kapan Galih akan pulang dan bisa memeluknya lagi. Jujur Kirana sama risaunya dengan Galih saat ini. Bagaimana tidak, HPL sudah semakin mendekati namun belum juga datang kabar kapan Galih akan kembali ke rumah.


Berbeda dengan Mamanya dulu, Kirana justru tidak pernah menyalakan televisi sama sekali. Dia sengaja tidak mengetahui kondisi dimana suaminya tengah bertugas demi menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak seharusnya. Dia bahkan sampai mematikan notifikasi dari obrolan grup bhayangkarinya dan hanya akan muncul di sana jika sedang ada yang mencarinya.


Sebagai istri seorang komandan Kirana memiliki tanggung jawab untuk bisa menjadi tauladan, juga membantu menenangkan istri anak buah Galih terutama mereka yang ikut bertugas bersamanya. Kirana selain harus menenangkan dirinya sendiri juga dituntut untuk bisa memberikan semangat bertahan pada yang lainnya.


“Kak, ayo berangkat,” ajak Kirana.


Hari ini Kirana sengaja ikut menemani Amira di sekolahnya. Guru kelasnya berkata jika di akhir semester nanti Amira dan teman-temannya akan menampilkan sesuatu. Hari ini mereka akan mulai berlatih dan Amira ikut serta. Amira terlihat lihai memainkan keyboard dan Amira mendapatkan pujian dari guru dan teman sekelasnya.


“Ami belajar dari seorang guru yang cantik namanya Bu Gigi. Terus sekarang bu Gigi udah jadi tantenya Amira,” katanya pada Bu Guru.


“Bu Gigi adiknya Papa ya Amira?” tanya guru itu.


“Iya. Bu Gigi cantik adiknya Papa Amira,” jawab Amira dengan girangnya.


Selain itu, Amira juga termasuk dewasa. Dia terkadang bisa membantu gurunya untuk mengondisikan kelas. Dia juga tidak pernah segan membantu teman-temannya yang kesulitan mengikuti kegiatan belajar dan bermain di dalam kelas. Amira juga memiliki suara yang lembut namun terdengar tegas. Dia tidak manja namun masih bisa berbaur dan bermain dengan anak-anak seusianya.


Kirana kembali mengeluarkan handphonenya. Dia merekam Amira ketika tengah memainkan keyboard sambil bernyanyi. Lagu yang dia nyanyikan sederhana namun cukup membuat takjub teman-temannya. Ada untungnya juga Amira dia ajak untuk belajar musik sejak dini. Bahkan ketika usianya baru menginjak 4 tahun dia sudah mulai menguasai note dasar. Dia bahkan mulai belajar partitur yang Kirana saja tidak mengerti itu apa.


Selesai berlatih di sekolah Kirana dan Amira baru menuju ke cafe. Kirana dan Amira lebih dulu duduk untuk makan siang di meja pojok dekat dengan dapur. Kirana mengamati Amira yang tengah menghabiskan makannya sembari dia sendiri menghabiskan makan siangnya. Sesekali tangan Kirana akan turun ke bawah untuk mengusap perut besarnya dan menenangkan si kecil yang tendangannya semakin terasa menyakitkan.


Si pengantin baru, Ningrum dan Keenan datang ketika itu dan melihat tante Ningrum datang membuat Amira menyambutnya dengan tangan yang terangkat. Ningrum langsung mendekat dan bercanda bersama Amira sedangkan Kirana melihatnya dengan wajah tersenyum. Diakui atau tidak kecanggungan antara Keenan dan Kirana tidak pernah hilang. Aneh rasanya ketika mantan kekasih itu bertemu kembali dengan status yang berbeda.

__ADS_1


Kirana baru akan mencoba menyapa Keenan ketika seorang laki-laki dengan sengaja duduk di sebelah Kirana. Laki-laki itu mengenakan pakaian yang sama persis dengan ketika dia tengah melakukan sesuatu pada Kirana dan ketika menemui Kirana beberapa waktu lalu. Dia seperti sengaja membuat Kirana ingat jika dia tidaklah bersih.


Kirana langsung menggenggam erat sendok ditangannya. Dadanya terasa sesak tiba-tiba dan tubuhnya mulai bergetar hebat. Ditambah lagi jagoan kecilnya ikut berontak membuat perutnya terasa berdenyut.


Ningrum menyadari itu, begitupun dengan Amira dan Keenan. Mereka mulai panik ketika Kirana tidak lagi merespon pada panggilan mereka. Ningrum mencoba mengalihkan pikiran Kirana sedangkan Keenan sudah lebih dulu membawa Amira menjauh. Jujur baru ini juga Keenan melihat pelaku itu. Dalam hatinya masih ada satu bara api yang membuatnya terbakar dan hari ini api itu semakin kencang berkobar.


Dia menyerahkan Kirana pada Ningrum dan memastikan Amira ada bersama ibunya baru Keenan menyusul laki-laki itu. Keenan dengan sengaja langsung memojokkan laki-laki itu. Lengan kanannya dia gunakan untuk menekan leher pelaku ke dinding dan tangan satunya dia pakai untuk menahan tubuh si pelaku.


“Oh jadi elo orangnya,” kata Keenan.


“Hah. Mantan pacar rupanya. Kenapa? Kau tidak terima? Kau mau menyalahkanku atas perpisahanmu dengan perempuan itu?” tanya si pelaku yang sengaja mengompori Keenan.


“Mau apa lagi lo ke sini? Masih kurang puas lo bikin hidup gue dan Kirana hancur berantakan ha?!” Keenan semakin keras menekan tubuh pelaku.


“Sudah jadi polisi sudah berani. Dasar anak kemarin sore.”


“Berani lo datang lagi ke hadapan Kirana, bukan suaminya yang pertama menghabisi elo, tapi gue. Camkan,” kata Keenan.


Beruntung dia ingat dengan profesinya. Di lingkungan ini banyak yang mengenalnya dan dia tidak ingin melukai martabat profesinya. Jadi Keenan dengan berat hati harus melepaskan pelaku itu dan membiarkannya pergi begitu saja.


Keenan bergegas kembali ke dalam dan menemukan Kirana duduk diam sambil menggaruk-garuk lengannya. Ingatan Keenan kembali ke beberapa tahun silam saat dia begitu merasa jatuh dan merasa bersalah pada Kirana. Melihatnya saat ini membuat Keenan ikut merasa sesak dan tidak mampu mengatur nafasnya. Alhasil Keenan hanya bisa duduk diam.


“Tante, kok om Keenan ikut diem?” tanya Amira yang duduk di dekat Mamanya.

__ADS_1


Karena Amira berkata demikian, Ningrum jadi ingat. Bukan hanya Kirana yang terluka karena kejadian itu, tapi Keenan juga. Ningrum bergeser dan mendekati suaminya. Dia mendekapnya dan memintanya untuk tenang. 


“Akhh…!”


__ADS_2