Baret Biru

Baret Biru
35. Pertemuan


__ADS_3

“Sayangnya Abang sudah bangun?” tanya Bang Raihan melalui telepon.


“Sudah Bang, sudah cantik malah,” jawab Kirana.


“Gimana, mau Abang jemput sekarang atau masih agak nanti?”


“Hmm, kayaknya nggak usah dijemput Bang. Aku bonceng Ningrum soalnya sekalian ke mapolres. Hari ini ada kumpulan bhayangkari, nggak enak kalau nggak berangkat soalnya bulan lalu kan aku absen,” kata Kirana.


“Bener nggak papa?” tanya Raihan memastikan.


“Beneran. Kita ketemu di sana ya Bang. Kirana mau siap-siap dulu,” kata Kirana kemudian menutup panggilan.


Kirana menyelesaikan polesan make upnya yang belum sempurna selesai. Ningrum juga baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut panjangnya. Ketika Kirana berganti dengan baju serba pinknya, Ningrum dan Lucy sempat terpukau. Kirana tampak cantik dan tampak anggun dengan seragam itu.


“Oh God, cantik banget kamu Ki…,” puji Ningrum.


“Biasa aja kali,” kata Kirana.


"Merendah dia. Bismillah aku juga akan punya seragam itu, aamiin,” kata Lucy diamini oleh dua yang lainnya.


“Jangan bismillah bismillah doang Cy, realisasinya kapan? Kan kamu sama Bang Adnan udah lama pacaran. Jangan kelamaan deh, nggak berkah nanti. Kelamaan zinanya,” kata Ningrum.


“Ya anda pikir nikah itu gampang? Tuh temenmu aja stres habis nikah,” kata Lucy.


“Bener Cy. Jangan kecepetan. Kalau udah siap baru gas. Nggak usah dengerin kata orang,” jawab Kirana.


“Di saat kalian berdua jodohnya udah di depan mata ngomong begitu, ada aku yang udah pengen banget nikah tapi belum ada yang diajak. Bersyukur kalian, ngeluh aja hidupnya,” protes Ningrum.


“Nggak ngeluh kok Ning. Lagian kamu juga pasti akan datang jodohnya. Anggap saja kamu sekarang belum siap makanya jodohmu masih disimpan sama Allah. Jangan pesimis dong sayangku,” kata Lucy sambil mencubiti pipi Ningrum.


Ningrum menurunkan Kirana di gerbang masuk ke polres. Dia tidak mau masuk ke dalam karena dia memang tidak punya urusan di dalam. Kirana meletakkan helmnya di motor Bang Raihan yang dia lihat terparkir di bawah pohon. Saat ini Kirana sudah dikenal oleh kebanyakan yang kerja di sini jadi dia sudah tidak ditanya-tanya lagi ketika masuk. Paling hanya ditanya kegiatannya apa setelah itu dia diperbolehkan masuk.

__ADS_1


“Selamat pagi Bu Raihan. Kalau mau ketemu Bapak ada di ruangan,” kata Om Odi yang sedang menyapu.


“Selamat pagi Om,” kata Kirana menyapa balik.


Kirana kemudian melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya untuk setidaknya menyapa sekalian dia tanya apakah suaminya itu akan pulang atau masih ada pekerjaan. Karena tadi dia pergi bersama Ningrum kan otomatis dia membutuhkan suaminya untuk mengantar pulang nanti. 


“Abang tunggu saja Dek. Abang juga ngantuk banget, nanti kalau kamu selesai telepon saja Abang mau tidur dulu.” kata Raihan.


“Ok, kalau begitu Kirana ke ruang pertemuan dulu ya Bang,” pamit Kirana.


Kirana mencium tangan Raihan dan sebagai gantinya Raihan mencium kening istrinya. Sepertinya Raihan melakukan itu dengan setengah kesadarannya yang terus melawan kantuk. Tapi anehnya Kirana tidak ketakutan. Dia malah tersipu malu dan merasa begitu disayangi ketika kecup hangat itu mendarat di keningnya. Raihan juga mengelus kepala Kirana sebelum dia melangkah pergi. 


Sejenak Kirana melupakan pikiran-pikiran buruknya tentang sang suami. Lambat laun kehangatan seorang Raihan Dhananjaya mulai menyelimuti dirinya. Bukan hanya tentang kepercayaan, tapi juga tentang cinta kasih dan perhatian. Diakui atau tidak, pagi ini Kirana jatuh cinta pada suaminya. Untuk pertama kalinya dia hanya memikirkan tentang perasaannya sendiri ketika sedang memikirkan sang suami. Tidak ada paksaan atau tekanan. Semua perasaan hangat itu muncul dengan sendirinya dari lubuk hati Kirana.


...***...


“Ndan…,”


“Komandan…,”


Raihan sebenarnya mendengar ada yang memanggilnya, tapi dia terlalu malas membuka mata. Dia ingin tidur lebih lama lagi. Tapi baru dia akan kembali terlelap dia tiba-tiba tersadar dengan sempurna karena merasakan ada dua bola mata yang menatapnya. Moodnya untuk tidur hilang begitu saja membuatnya terbangun dan menemukan Odi tengah menatapnya dengan jarak yang cukup dekat.


“Huaa…!” kaget Raihan membuatnya berjingkat.


“Apa…, ada apa…, Ha? Maling? Mana dimana?” igau Deden yang ikut kaget karena teriakan Raihan.


“Allahuakbar,” Odi yang membangunkan Raihan malah ikut kaget hingga jatuh terduduk.


“Astagfirullah Di, Odi, tak kira siapa,” kata Raihan sambil mengucek matanya.


“Maaf ndan, itu yang dari brimob sudah datang. Kan yang tahu urusannya ndan Raihan, makanya saya bangunkan,” kata Odi.

__ADS_1


“Sekarang jam berapa?”


“Jam 11 ndan,” jawab Odi.


“Yasudah bentar aku cuci muka dulu.”


Rencananya hari ini memang ada 2 orang tahanan yang akan ditransfer dari sel di mapolres ke sel di brimob. Dua orang itu adalah pelaku pembunuhan berencana yang tidak sengaja tertangkap oleh Raihan tempo hari. Dari hasil pemeriksaan oleh reskrim, ternyata dua orang itu terlibat dalam sebuah organisasi separatis makanya brimob turun tangan. 


Raihan menemui anggota brimob yang sudah menunggu. Raihan begitu kaget ketika dia menyadari siapa yang datang. Dia sendiri tidak pernah menduga jika laki-laki itu akan mengenakan seragam hitam berbaret biru dan berdiri di hadapannya saat ini. Andai tidak dalam situasi yang semacam ini, pasti Raihan sudah menahannya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengganggunya. 


“Selamat siang Pak Raihan, saya mendapatkan mandat dari komandan untuk mengambil alih penyelidikan,” katanya membuyarkan lamunan Raihan.


“Oh…, i…, iya. Mari saya antar,” kata Raihan berusaha untuk tetap profesional.


Dia terus berusaha untuk fokus walaupun sebenarnya begitu sulit. Di tempat ini ada Keenan juga ada Kirana. Apa jadinya jika istrinya itu bertemu dengan laki-laki ini dan melihat seragam yang tengah ia kenakan. Ditambah lagi dengan pengakuan Adnan membuatnya takut setengah mati.


Beruntung urusannya segera selesai. Kedua tahanan itu segera digiring masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan kemudian dibawa ke markas brimob untuk dimintai keterangan lebih lanjut di sana.


“Bang Raihan…,” panggil Keenan sedikit berbisik.


“Lama tidak ketemu, apa kabar?,” sapa Keenan yang tidak kunjung mendapat respon.


"Jangan dekati istriku apapun yang terjadi,” kata Raihan langsung pada intinya.


“Maksudnya Bang?”


“Kirana adalah istriku. Dia milikku.”


“Kirana? Ohh Kirana adik Bang Adnan? Santai saja Bang, aku dan dia hanya saling mengenal tidak lebih. Ya karena dulu pernah sekelas. Oiya kudengar Abang baru saja menikah, selamat atas pernikahannya. Semoga langgeng, samawa ya Bang. Aku pamit dulu,” kata Keenan kemudian melangkah pergi.


Raihan masih bertahan berdiri di tempatnya menatap Keenan yang baru saja masuk ke dalam mobil. Raihan terus memandangi mobil yang mulai berjalan keluar dari markas. Dia berharap-harap cemas, semoga Kirana tidak melihat kedatangan mantan kekasihnya ini. Tapi nyatanya semesta tidak mengabulkan permintaannya. Tepat ketika itu, Raihan mendengar dari arah samping suara Kirana memanggilnya. Dia bahkan melihat Kirana yang tengah berjalan ke arahnya berpapasan dengan mobil yang dinaiki oleh Keenan.

__ADS_1


“Abang….”


   


__ADS_2