
Berkat bujukan keras dari Lucy dan Raihan, Kirana berhasil memaafkan Adnan. Lagi pula memang tidak baik kan terlalu lama marah padahal Adnan tidak salah. Dia juga sudah menjelaskan pada Kirana bahwa maksudnya baik. Tidak ada niat untuk memisahkan sedikitpun. Alasan Adnan tidak mengatakan apa-apa pada Kirana juga atas permintaan Keenan.
Malam ini Papa dan Mama mengumpulkan anak-anaknya untuk makan malam bersama di rumah. Papa baru mendengar jika Raihan menantunya sebentar lagi akan dipromosikan. Dia juga baru saja naik pangkat tempo hari.
Ketika Mama, Kirana, dan Lucy sibuk di dapur, Papa, Adnan dan Raihan hanya duduk bersantai saja di ruang tengah. Papa seperti biasa duduk tenang sambil menonton tv sedangkan dua putranya sibuk ketawa-ketiwi hanya karena satu buah handphone. Mereka sedang asik bermain dengan filter-filter lucu dari sebuah aplikasi. Kadang mereka juga akan membuat ekspresi lucu untuk membuat gambar yang lebih konyol lagi.
“Itu orang berdua, kalau udah konyol nggak pernah nanggung deh heran,” kata Kirana.
“Biarin sih Ki, lucu tahu. Lagian kita biasanya lebih konyol lagi,” jawab Lucy.
“Tiba-tiba kangen Ningrum aku,” kata Kirana.
“Oiya, dia bilang lusa mau pulang. Nanti kita ketemu di cafe ya,” kata Lucy.
Mereka tidak sadar jika selama mereka makan malam dan ngobrol, waktu sudah mulai larut malam. Kirana dan Lucy sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar karena mengantuk sedangkan Raihan dan Adnan kena hukum istri dan harus membersihkan semua kekacauan yang ada.
“Besok Kirana mau kuajak jalan,” kata Raihan.
“Kemana?”
“Kemana aja, keliling kota atau ke mana lah. Biar dia nggak stres kemarin habis lo bikin nangis,” kata Raihan.
“Hati-hati tapi. Perutnya udah gede gitu jangan pergi jauh-jauh. Jalan boleh tapi jangan sampe kecapekan. Lo harus bawa perbekalan yang lengkap. Air minum, camilan, pokoknya gue nggak mau tahu jangan sampe dia sakit. Capek istirahat, atau pulang sekalian jalannya dilanjut besok lagi,” kata Adnan.
“Bawel. Kalau Kirana denger lo ngomel, diomelin balik yakin. Lo lupa dia benci dikekang karena kehamilannya?” kata Raihan.
“Kali ini gue nggak sembarangan ngomel Han, tapi beneran ada rasa yang nggak enak di hati,” kata Adnan.
“Kirana pasti baik-baik aja. Insyaallah, selama aku masih bernafas adekmu aman sama aku,” kata Raihan.
“Aku bener-bener titip Kirana Han. Jaga dia baik-baik.”
“Pasti Nan.”
__ADS_1
...***...
Dengan mempertimbangkan saran dari saudara iparnya, Raihan batal mengajak Kirana ke luar kota. Keduanya hanya berjalan-jalan saja di sekitaran kota. Mulai dari mengelilingi keraton, hingga duduk-duduk di sambil menikmati es dawet di taman sari. Yang penting adalah Kirana bisa setidaknya melupakan sejenak kejenuhan hatinya dan bisa bersenang-senang.
“Abang, siniin tangannya,” kata Kirana.
Raihan yang mengerti langsung meletakkan tangannya di perut Kirana yang terus bergerak. Raihan tertawa, ketika dia merasakan gerakan bayi dalam perut istrinya dia merasa jika putrinya itu sedang bahagia. Kirana juga tidak merasa terganggu padahal ketika tendangannya sekeras ini Kirana bisa mengaduh kesakitan.
“Papa…, nanti waktu Mama melahirkan Papa akan temani Mama kan?” tanya Kirana.
“Papa temani kalau Mama minta ditemani, kalau tidak ya Papa akan tunggu di luar,” kata Raihan.
“Temani saja Pa. Mama mau Papa temani Mama dari awal sampai semua prosesnya selesai. Kuat nggak kuat Papa harus kuat. Pokoknya nanti harus Papa yang gunting tali pusat Amira dan langsung adzani dia, ya?”
“Kalau itu maumu, masa Papa mau nolak sih. Suatu kehormatan bisa mengadzani putri kita untuk pertama kalinya,” kata Raihan.
“Keluar yuk Pa, sudah mulai sore nih. Pindah ke alun-alun kidul ya. Mama masih pengen jajan,” kata Kirana.
“Yuk.”
Ketika sampai di alun-alun pun sama. Raihan berniat membawakan tas milik Kirana namun di cegah olehnya. Katanya tinggal saja, toh mereka tidak akan lama di sana. Kirana turun tanpa membawa apa-apa sedangkan Raihan juga hanya mengantongi dompet dan handphonenya lalu ikut turun dari mobil. Tanpa menunggu suaminya, Kirana langsung berjalan mendekati seorang penjual es potong tidak jauh dari tempat Raihan memarkirkan mobilnya.
Raihan belum sempat mendekati Kirana ketika dari balik punggung istrinya ada sebuah motor ugal-ugalan menabrak tubuh istrinya begitu saja. Raihan melihat motor itu berjalan brutal mendekati istrinya, namun langkah kaki dan teriakannya tidak secepat laju motor tersebut.
BRAK!!!
AKHH…!!!!
Kirana sudah terlanjur tertabrak. Tubuhnya terseret hingga beberapa meter dan berakhir dengan tertindih motor penabrak tadi. Selain Kirana Raihan juga sempat terkena imbasnya, dia terpental hingga kepalanya terbentur trotoar dengan cukup keras.
“Astagfirullah hal adzim, Mama…!!!” teriak Raihan begitu dia melihat kondisi istrinya sudah dikerubungi oleh orang-orang yang mulai panik. Dengan gontai Raihan bangkit berdiri berusaha mendekati Kirana. Beberapa orang membantu mengangkat motor, namun terkendala karena platnya menancap di lengan Kirana.
“Mama? Mama dengar suaraku nggak? Bangun Kirana…!” panik Raihan.
__ADS_1
Kirana langsung dibawa dengan ambulance beserta Raihan yang turut naik menemani Kirana. Kirana tidak lagi membuka matanya, tangannya bahkan tidak mampu membalas genggaman tangan Raihan dan lebih parahnya lagi, tubuh Kirana sudah mandi darah sekarang. Luka di kepala, di perut dan kaki yang patah membuat kondisinya begitu mengerikan.
Raihan hanya sempat memberi kabar pada Adnan, dan ketika mendengar hal itu dia sedang bersama dengan Keenan menggoda si anak baru yang sedang bertugas di pos jaga. Begitu mendengar kabar itu, Adnan dan Keenan tunggang langgang menuju ke rumah sakit tempat Kirana ditangani. Sesampainya di sana, Adnan dan Keenan hanya melihat Raihan yang duduk lemas dengan tangan bersimbah darah di depan ruang operasi.
“Han…,”
“Nan istriku Nan. Putriku…,” Raihan sudah tidak sanggup bicara. Dia hanya bisa menangis bersama Adnan yang sama terpukulnya saat ini.
“Maaf, keluarga dari ibu Kirana?” tanya seorang perawat yang datang mendekat.
“Ya saya?” jawab Adnan reflek.
“Pak, dengan sangat terpaksa saya sampaikan bahwa pendarahan yang dialami oleh pasien sulit untuk dihentikan. Kemungkinan ibu Kirana akan membutuhkan transfusi lebih banyak lagi. Lebih baik Bapak sekarang mencari pendonor Pak, karena bukan hanya selama operasi tapi transfusi masih akan dilakukan pasca operasi,” kata perawat itu pada Adnan.
Setelah mendengar penjelasan dsri perawat, tanpa pikir panjang Keenan langsung menelepon Aksara dan Galih untuk membantunya mencari pendonor. Sedangkan dia sendiri langsung berlari ke bank darah dan mendonorkan dua kantong darah pada Kirana. 30 menit kemudian, Galih dan Aksara sampai di rumah sakit. Mereka menemukan Keenan duduk tanpa tenaga dan nyaris pingsan di lobby rumah sakit.
“Mot, lo nggak papa?” tanya Aksara yang melihat sahabatnya sudah dalam kondisi begitu. Keenan bahkan tidak sanggup menjawab kekhawatiran Galih dan Aksara.
Baru Aksara akan berucap lagi, dia melihat bundanya berjalan masuk dengan tergesa-gesa, “Mbul lo bawa mamoth pulang biar dia istirahat,” kata Aksara.
“Eh lo mau ke mana?! Bule!” pertanyaan Galih sudah tidak diindahkan oleh Aksara yang berlari mengejar bundanya.
“Bunda!” panggil Aksara.
“Lho Abang? Kok di sini?”
“Habis donor Bunda, ada temen calling Abang butuh donor. Nah yang calling Abang tuh mantan tunangan Kirana Nda dan sekarang aku curiga nih lihat Bunda buru-buru begini. Sebenarnya ada apa?” tanya Aksara masih terus mengikuti langkah Bundanya.
“Kirana kecelakaan. Dia gegar otak dan kakinya patah. Sementara ini timnya dokter Ina sedang mencoba mengeluarkan bayinya sebelum nyawa keduanya semakin kritis. Bunda datang karena dikabarin sama om Jay. Selepas caesar Kirana akan ditangani sama om Jay,” kata Ratna.
“Astagfirullah hal adzim, terus gimana kondisinya sekarang Nda? Kirana masih bisa diselamatkan, kan?” tanya Aksara menuntut.
“Bunda juga masih belum tahu. Kalau kamu mau ikut ya sudah ikut aja jangan bawel, tapi Bunda rekomendasi kamu pulang aja. Dari pada kamu heboh nanya-nanya terus,” kata Ratna.
__ADS_1
“Maaf Bunda, Abang diem. Tapi Abang ikut, Abang sekalian nunggu Kaori lagi donor,” kata Aksara.