Baret Biru

Baret Biru
58. Adnan dan Lucy


__ADS_3

Sore harinya Kirana dan Amira pergi ke rumah Adnan. Keduanya menepati janji untuk menginap dan menemani Papa dan Mama Amira yang sedang sakit ini. Amira langsung heboh begitu tahu jika Papa Adnannya sakit. Dia beberapa kali melihat Mama Kirana pingsan karena sakit perut makanya Amira selalu takut dengan kabar bernama sakit.


“Papa…,” kata Amira langsung memeluk Adnan bersandar di sofa sambil memindah-mindahkan channel tv tanpa tujuan yang jelas.


“Halo cantiknya Papa,” kata Adnan.


“Amira, jangan peluk Papa kelamaan ya nanti kamu ketularan juga,” kata Kirana.


“Nih Bang pakai maskernya biar Amira nggak ikut-ikutan sakit,” kata Lucy menyerahkan satu buah masker.


Adnan langsung memakainya. Dia juga lebih dulu mengganti pakaiannya yang sudah beberapa kali dia pakai untuk menutupi mulut ketika bersin. Amira kan mudah sakit, kalau dia sampai tertular akan panjang urusannya.


Karena Amira sudah asik tertawa menonton sebuah acara komedi di tv Kirana dan Lucy bisa fokus menyiapkan makan malam. Lucy membantu Kirana memotong sayur-sayuran sedangkan Kirana yang sehat lebih banyak bergerak ke sana kemari membuat sayur asem yang direquest oleh Lucy.


“Ma, Dek, kalian masak apa?” tanya Adnan.


“Sayur asem sama bikin tahu isi. Kenapa, Abang pengen makan sesuatu?” tanya Kirana.


“Dek, bikin perkedel dong. Ribet nggak?” tanya Adnan.


“Nggak sih,” jawab Kirana.


“Buatin lah, pengen banget makan perkedel yang kamu bikin buat bekal Amira minggu lalu,” kata Adnan.


“Ho, ibu negaramu bagi-bagi ngidamnya ya Bang?” tanya Kirana dengan senyum nakal.


“Iya kayaknya,” kata Adnan dengan pasrah.


“Jangan banyak-banyak buatnya Ki, nanti nggak kemakan. Abang tuh kalo pengen cuma pengen doang nggak akan dihabisin jatuhnya,” kata Lucy.

__ADS_1


“Nggak bisa atuh neng kalo bikin cuma sedikit. Nggak papa nanti dibekuin, kalo kebanyakan ya setengahnya aku bawa pulang besok,” kata Kirana.


“Bahasamu kok lucu? Ohh seharian chatting sama cowok sunda jadi nyebutnya pake neng aa ya sekarang,” goda Lucy.


“Apaan sih Cy,” kata Kirana yang malu.


“Hmm, Abang…, Kirana bilang Amira mau punya Papa baru,” kata Lucy begitu saja membuat Amira yang ikut mendengar pernyataan Mama Lucy ikut tertawa dan mengangguk pada Papa Adnan dengan begitu bersemangat.


“Iya Pa, namanya Papa Galih. Olangnya baik loh, suka bantu olang,” kata Amira.


“Amira…,” tegur Kirana pada putrinya.


“Ealah Ki, di saat ada jutaan laki-laki jomblo di jagat ibu pertiwi kita tercinta ini kok ya kamu dapetnya polisi lagi polisi lagi,” kata Adnan.


“Tapi mendingan Bang, agak jauh dikit dia dapetnya cowok sunda,” kata Lucy.


“Biar seragam bhayangkarinya nggak mubazir lah Bang,” kata Lucy lagi.


“Kok kalian jadi kompak ngatain sih. Heran,” kata Kirana yang mendengar semuanya.


...***...


Malam sudah mulai larut, Amira juga sudah tidur. Seluruh isi rumah sudah hening kecuali Kirana yang masih terjaga dari tidurnya. Dengan perlahan dia keluar dari kamar dan memilih untuk duduk di halaman. Pikirannya sedang campur aduk antara dia harus setia pada suaminya atau menerima kehadiran seseorang yang baru di dalam hatinya.


Jujur saja, hanya dengan sekali mengobrol Kirana sukses terhipnotis oleh pesona Galih. Belum pernah dia merasakan yang semacam ini bahkan dengan suaminya sendiri. Senyumnya, kata-katanya. candaannya, bahkan sehelai rambutnya mampu membuat Kirana terpana.


Tanpa terasa satu tetes air matanya jatuh mengalir menyusuri pipi. Perasaan bersalah dan detak jantungnya yang terasa aneh membuat pikiran Kirana bercampur aduk tidak karuan. Ketika itulah Adnan yang juga tidak bisa tidur menemukan Kirana tengah merenung seorang diri. Adnan dengan perlahan duduk di samping adiknya dan memberikan bahunya untuk Kirana bersandar.


“Galau kenapa Dek?” tanya Adnan.

__ADS_1


“Galih Bang. Aku bingung benget. Belum pernah aku merasakan kayak gini. Waktu aku jatuh cinta sama Keenan dulu juga butuh waktu yang panjang. Cuma karena aku terbiasa sama dia dan akhirnya merasa nggak bisa hidup tanpanya. Ketika Bang Raihan hadir, aku bahkan hanya menerima apa yang dia berikan. Aku cinta sama suamiku, tapi itupun bukan hadir begitu saja. Tapi kali ini rasanya beda banget Bang,” kata Kirana.


“Dek, mau Abang ceritain nggak awal mula Abang bisa jatuh cinta sama sahabatmu itu?” tanya Adnan sambil tersenyum.


“Kenapa Bang?”


“Abang jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktu itu kalau nggak salah kalian masih SMA ya? Yang kalian heboh banget mau mempersiapkan diri untuk SBMPTN kan teman-temanmu pada datang ke rumah untuk belajar bareng. Abang ingat banget tuh, waktu itu Abang baru sampai dari akademi. Masih pakai baju taruna lengkap dan setengah mati Abang nahan malu karena tahu teman-temanmu pada bisik-bisik ngomongin Abang. Cuma satu orang yang bodo amat sama Abang waktu itu dia yang berwajah kecil, rambut hitam panjang tanpa diikat dan tetap sibuk dengan buku matematikanya yang tebal,” kata Adnan.


“Sejak saat itu Abang suka diam-diam stalking sosial mediamu dan cari tahu soal gadis itu. Baru deh kamu bilang namanya Lucy waktu kita kemah. Harusnya kamu ingat Dek, karena kemah itu juga yang pertama kalinya mempertemukan kamu sama Raihan,” kata Adnan.


“Jadi alasan Abang ngajakin Ningrum sama Lucy kemah bareng kita itu karena Abang mau lebih dekat dengan Lucy?” tanya Kirana mulai tertarik.


“Iya.”


“Bang, rasanya jadi secret admirer kayak apa Bang?” tanya Kirana.


“Ya gitu deh, asik sih tapi ada ketar ketirnya juga. Soalnya kita nggak ngomong jadi dianya nggak tahu kalau kita suka sama dia kan. Takut saja tiba-tiba dia sudah sama yang lainnya,” kata Adnan membuat Kirana tersenyum.


“Tapi ini kan perasaan Kirana Bang. Kirana nggak tahu apakah Galih memang berniat lebih atau ramah saja. Dia kan sepupunya teh Gina sedangkan teh Gina itu guru lesnya Amira. Abang juga kan seniornya di brimob. Aku takut dia hanya berusaha ramah karena aku dekat dengan kenalan-kenalannya juga,” kata Kirana.


“Abang nggak akan berusaha menjodohkanmu lagi Dek. Terakhir kali Abang mencoba membuatmu dekat dan menerima sahabat Abang kamu berakhir patah hati. Untuk kali ini Abang hanya akan memperhatikanmu dari jauh saja. Kirana, Abang hanya berpesan jatuh cintalah perlahan. Abang nggak mau kamu sakit hati lagi.”


“Kirana takut jatuh cinta Bang. Lagi pula Kirana sudah janji sama Bang Raihan kalau Kirana tidak akan mengkhianatinya. Cukup hanya Bang Raihan saja, Kirana nggak mau yang lainnya,” kata Kirana.


“Kirana ingat tidak Raihan pernah memintamu kembali pada Keenan? Dia sudah ikhlaskan kamu Dek. Raihan sudah nggak ada. Dia ada di alam yang berbeda dengan kita. Kamu yang masih di sini, kamu yang masih harus meneruskan hidupmu. Lagi pula putrimu itu memang akan membutuhkan sosok seorang ayah yang benar-benar selalu ada untuknya. Dalam 3 bulan Abangmu ini akan jadi ayah untuk jagoan kecilnya. Sengaja atau tidak Abang pasti akan condong ke salah satunya. Sudah saatnya kamu menatap masa depanmu Dek. Bahagialah demi kamu demi Amira. Abang tidak akan mengekang kamu lagi. Entah dengan Galih, Keenan atau siapapun itu, selama dia baik untukmu dan bisa menerima Amira dengan baik Abang akan memberikan restu Abang,” kata Adnan membuat Kirana berterima kasih dan memeluk Abangnya.


“Kamu adeknya Abang dan kamu adalah wanita paling kuat sedunia setelah Mama. Kirana, Abang tahu kamu rapuh, maka carilah sandaran. Maaf Abang nggak bisa selamanya sama kamu karena Abang sudah punya tanggung jawab yang lainnya,” kata Adnan lagi.


“Kirana paham Bang. Kirana juga akan merasa bersalah sama Lucy kalau Abang terlalu fokus sama aku dan Amira. Kirana ikhlas Bang, toh Kirana juga yang selalu komporin Abang dan Lucy. Kuharap rumah tangga Abang akan selalu bahagia. Doakan adikmu ini juga bisa mendapatkan kebahagiaannya ya Bang,” kata Kirana diangguki oleh Adnan.

__ADS_1


__ADS_2