Baret Biru

Baret Biru
83. Bangga


__ADS_3

Kirana dan Galih kembali ke Jogja setelah beberapa waktu berjalan-jalan. Berhubung esok pagi Galih harus kembali ke kantor dan Kirana juga harus mengurus cafe jadi tidak sampai tengah hari mereka sudah bertolak dari Bogor. Belum lama kemudian Amira yang sepertinya merindukan Mama melakukan video call dengan meminjam handphone Akungnya.


“Sayangnya Mama lagi apa?” tanya Kirana.


“Lagi nunggu Mama. Habis Mama pulangnya lama,” kata Amira.


“Maaf deh Mama lama ya, tapi Mama bawain oleh-oleh buat Amira lho,” pamer Kirana.


“Oh ya? Apa Ma? Mau mau,” jawab Amira yang dia lihat mulai berjingkrak kegirangan.


Kirana sedikit menggeser arah duduknya membuat Galih yang tengah fokus mengendarai mobil tampak dalam layar ponsel Kirana. Amira semakin berjingkrak ketika melihat Papanya memberikan gesture “V” dengan tanpa menoleh karena tetap harus fokus pada jalanan yang sedikit macet.


“Papa~”


“Hai anak baik, tunggu ya Papa lagi bawa Mama pulang,” kata Galih pada Amira.


“Iya Papa, hati-hati ya bawa Mamanya,” kata Amira


“Siap grak.”


Kirana sempat mengobrol dengan Amira sebelum akhirnya diputus karena nenek mengajaknya untuk makan siang. Berhubung Amira menyebut ingin makan siang dengan telur goreng dan bihun buatan nenek, Kirana dan Galih jadi lapar. Alhasil keduanya berbelok masuk ke dalam rest area dan sejenak beristirahat di sana.


“Katanya laper, kok malah beli mie cup sih neng?” tanya Galih.


“Ya soalnya mie cup cuma kerasa nikmat kalau dimakan di rest area gini. Lagian aku nggak cuma beli ini kok. Nih aku beli sosis, beli gorengan juga, jus juga,” kata Kirana.


“Good girl,” kata Galih sambil mengacak rambut Kirana.


“Eis, udah bukan bocah a, anakku udah gede pula masih disebut girl. Nggak pantes atuh,” jawab Kirana.


“Ututu berapa hari di Bandung kamu ngomongnya udah berasa orang Sunda,” Galih malah semakin menggoda ketika cara bicara Kirana berubah. Dia juga menggunakan aksen Sunda yang terdengar aneh tapi tetap bisa dimengerti.

__ADS_1


“Neng, nanti malam Papa ada di rumah kan ya?” tanya Galih setelah diam memandangi Kirana selama beberapa saat.


“Kayaknya ada,” jawab Kirana.


“Aa mau minta izin melamar kamu, tapi ya aa harus tanya dulu Pak Aji sama Bu Ratna ada waktunya kapan gitu. Cari hari baik juga, tapi setidaknya biar Papa sama Mama kamu nggak kaget ntar tiba-tiba ada serombongan datang ke rumah malah ditutup pintunya,” kata Galih.


“Nggak lah a masa aa datang kita malah tutup pintu mana mungkin. Tapi a, maaf banget nih maaaf banget. Sebelum kita lamaran ada satu hal yang pengen aku beresin dulu. Aa mau nggak nunggu?” tanya Kirana dengan ragu.


“Soal Keenan ya?”


“Nggak cuma soal dia a, tapi juga soal Ningrum sahabatku. Dia marah sama aku karena salah paham. Dia pikir aku mempermainkan Keenan dan dia sempat menyebut aku nggak bener karena mengira aku masih menyimpan rasa ke Keenan,” kata Kirana.


“Ok, kalau begitu segera kamu bereskan. Kalau bisa sebelum ulang tahun pernikahan Bapak sama Ibu ya,” kata Galih.


“Ulang tahun pernikahan siapa?”


“Ulang tahun pernikahan Bapak Aji sama Ibu Ratna. Mereka punya kebiasaan untuk selalu berkumpul dan makan malam bersama. Nusantara selalu menyempatkan pulang dan Aksara juga Kaori pasti datang. Biasanya aa diundang juga tapi datang seorang diri. Nah terakhir kemarin aa cerita soal kamu Ibu bilang aa harus ajak kamu juga. Karena kamu sebentar lagi akan jadi mantunya Ibu,” kata Galih.


“Apa tuh?”


“Mencuri hati mertua dan ipar,” jawab Kirana.


“Begini saja a, selama seminggu ini aku akan kosong acara setiap lepas isya. Tolong aa tanyakan sama Keenan kapan dalam seminggu ini dia ada waktu. Aku sudah tidak bisa kontak dia, lagi pula aku memang tidak mau menyembunyikan apapun dari aa. Kalau memang kita akan lamaran dan menikah artinya aku harus berusaha belajar menerima aa sebagai suami. Aku akan berusaha jadi istri yang baik a,” kata Kirana.


“Pelan-pelan saja, aa juga harus belajar banyak untuk jadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan Amira. Besok akan aa sampaikan pada Keenan. Aa juga ingin meminta maaf padanya, aa sudah salah paham dan membuat dia menyalahkan dirinya sendiri,” kata Galih.


...***...


Begitu sampai di rumah keduanya disambut oleh Amira yang berlari keluar dari rumah untuk memeluk Papa Galih yang sudah seminggu ini tidak bertemu dengannya. Seperti biasanya, Galih akan berjongkok sambil merentangkan tangannya kemudian membawa Amira masuk dalam pelukannya dan menggendongnya masuk ke dalam.


“Aduduh, anak Papa seberapa lama kita nggak ketemu kamu udah tambah berat aja,” kata Galih.

__ADS_1


“Amila kan sudah besal Pa,” kata Amira.


“Iya Amira sudah besar,” jawab Galih.


“Amira sudah malam kok belum tidur?” tanya Kirana.


“Amira maunya nunggu kamu makanya belum mau tidur padahal dari tadi sudah ngantuk,” jawab Utinya Amira.


Galih mencium tangan Papa dan Mama yang datang menyambutnya, “kalau begitu Amira tidur sama Papa mau?” tanya Galih.


“Mau.”


Kirana tersenyum ketika Amira mulai menarik Papanya masuk ke dalam kamar dan memberikan sebuah buku dongeng baru yang dibelikan Akung kemarin siang ketika mereka berjalan-jalan ke toko buku. Sekitar 15 menit kemudian Amira terlelap. Kirana mengecek apakah Amira sudah benar-benar tertidur atau belum dan meminta Galih untuk menyudahi dongengnya.


“Aa aku mau buatin mie rebus, mau mandi dulu nggak? Atau mau langsung makan?” tanya Kirana.


“Kalau boleh aa mau mandi dulu sebentar. Pinjam kamar mandinya ya,” kata Galih.


“Sudah kuduga. Nih handuk kering buat aa pakai,” kata Kirana.


“Makasih.”


Mumpung waktu belum terlalu malam dan Papa sepertinya masih asik menonton tv bersama Ibu, Galih lebih dulu meminta izin pada Papa dan Mama sebelum dia menyusul Kirana yang tengah berada di dapur mengiris bawang dan tomat untuk campuran mienya.


“Nggak papa, besok kabari Papa jadinya kapan. Justru Papa sudah menunggu kamu buat melamar Kirana. Kalian kan sudah sedekat ini, Amira juga sudah menerima kamu sebagai Papanya. Jadi lebih baik kalian menikah cepat-cepat. Selain menghindari zina, juga biar tidak jadi bahan omongan orang,” kata Papa.


“Makasih banyak ya Pa, sudah diizinkan menjadi pendamping buat Kirana dan ayah untuk Amira. Walaupun aku nggak bisa janji akan sebaik Bang Raihan memperlakukan Kirana tapi aku janji akan memberikan yang terbaik buat mereka berdua,” kata Galih.


“Jangan berusaha menjadi seperti Raihan, Galih. Raihan ya Raihan, kamu ya kamu. Kalian berdua berbeda. Kirana juga nggak akan mau kalau kamu terus ada dalam bayang-bayang Raihan. Dia sudah tenang, sudah tidak perlu dibahas. Cukup kamu dan Kirana ajak Amira untuk mendoakan dia karena apapun yang terjadi dia adalah ayah kandungnya Amira. Biar dia tidak lupa pada Ayahnya,” kata Mama.


“Pasti Ma, aku akan menganggap Amira seperti anak kandungku sendiri. Tapi aku akan tetap mengajari dia menyebut Papa pada Bang Raihan,” kata Galih.

__ADS_1


Papa dan Mama tersenyum. Papa bahkan menggeser duduknya menjadi bersebelahan dengan Galih. Papa mengelus punggung Galih kemudian dengan penuh kasih Papa memeluk Galih, “Papa bangga sama kamu. Papa bangga bisa punya menantu sehebat dan segentle kamu. Papa ikhlas menyerahkan Kirana padamu. Raihan juga pasti akan tenang melepaskan anak istrinya pada laki-laki penuh tanggung jawab sepertimu,” kata Papa sukses membuat Galih meneteskan air matanya begitu pula dengan Mama dan Kirana yang diam-diam mendengarkan pembicaraan itu dari dapur.


__ADS_2