
Pertemuan kali ini menjadi pertemuan keduanya sejak Kirana menjadi istri Galih Arsa. Semalam dia sudah menyetrika baju bhayangkarinya juga mempersiapkan sepatu dan menata tasnya. Kirana juga tidak lupa untuk membantu Amira menyiapkan buku dan seragamnya untuk esok hari baru dia menyusul Galih yang sudah lebih dulu tidur.
Pagi harinya Galih lebih dulu berangkat sedangkan Kirana harus mengantar Amira dulu ke sekolah. Seperti biasanya, Galih merelakan mobilnya dipakai oleh Kirana sedangkan dia menggunakan motor untuk berangkat ke kantor. Dia lebih senang anak istrinya mendapatkan kenyamanan lebih dari dirinya. Selain itu Bapak sering mengajarkan padanya untuk memberikan perhatian lebih terutama pada istri apalagi saat ini Kirana sedang hamil muda.
“Sayang nanti dijemput sama Papa ya, kita ketemu di kantor nanti,” kata Kirana sebelum putrinya membuka pintu.
“Iya Mama, Mama sama adek hati-hati di jalan ya,” Amira kemudian mencium tangan Mamanya baru turun dari mobil dan segera masuk ke dalam sekolahnya.
Ini hari Rabu, dan Amira tampak cantik sekali mengenakan pakaian polisi kecil yang menjadi seragam sekolah Amira. Gadis manis itu berambut panjang, lurus, dan hitam legam. Ketika dia mengenakan topi polisi dengan rambut yang terurai Amira kecil menjadi begitu cantik. Apalagi jika melihat binar mata dan senyumnya. Sungguh, Amira menuruni garis wajah tegas Papanya juga keanggunan Mamanya, tidak heran dia menjadi primadona di sekolah.
Kirana melihatnya sendiri, bagaimana ibu-ibu yang juga mengantar dan menemani anak-anaknya ke sekolah ini selalu memperhatikan Amira dan tidak segan untuk memujinya. Selain itu Amira juga tipikal anak yang cerdas, pintar membaca situasi dan begitu dewasa. Guru kelasnya bilang, Amira banyak membantu menenangkan teman-temannya yang ribut di kelas setiap mereka belajar bersama. Itulah kenapa Amira juga diberi tanggung jawab untuk memimpin doa sebelum dan sesudah belajar.
Kirana bangga sekali dengan putrinya itu, selain karena dia adalah satu-satunya memori dari suaminya yang masih hidup dan masih mampu dia genggam, Amira juga selalu memberikan warna dalam hidup abu-abunya. Kirana tidak mengelak jika dia pernah menolak kehadiran Amira, namun semakin lama dia bersama anak itu, semakin besar pula rasa sayangnya pada Amira. Itulah kenapa Kirana begitu menyayangi Amira bahkan lebih dari nyawanya sendiri.
Setelah memastikan Amira bersama dengan guru dan teman-temannya, Kirana memutarbalikkan mobil dan kembali melaju menuju ke markas brimob tempat acara pertemuan akan diadakan. Ketika sampai di pos jaga lebih dulu dia menyapa dan mengatakan kepentingannya baru dia diperbolehkan masuk ke dalam.
Kirana memarkirkan mobilnya persis di sebelah mobil Ibu. Wajar kalau Ibu sudah datang, Kirana memang sedikit terlambat. Dengan perlahan dia menaiki satu per satu anak tangga menuju ke ruang pertemuan yang ada di lantai paling atas. Ketika sampai tepat acara dimulai. Kirana mengendap masuk kemudian duduk di kursi belakang bersama dengan beberapa ibu-ibu yang belum begitu dia kenal.
Kirana sempat menunduk untuk menyapa, baru dia fokus pada acaranya kembali, indera penciumannya menangkap bau parfum orang yang duduk di sebelahnya. Tiba-tiba perutnya bergejolak dan untuk menenangkannya Kirana hanya bisa mengelus perutnya sembari menahan mual selama 2 jam acara.
Begitu acara selesai, Kirana langsung berjalan menuju ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya. Karena merasa tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri kembali, Kirana bertahan dalam kamar mandi dan duduk di toiletnya untuk setidaknya mengembalikan tenaganya kembali.
__ADS_1
Baru Kirana berjalan keluar dari toilet dan berbelok kembali ke ruang pertemuan, dia mendengar ada yang membicarakannya. Ibu-ibu yang duduk di sebelahnya tadi, yang parfumnya membuat Kirana mual-mual. Kirana tidak berniat mendekatinya namun ibu-ibu itu malah berjalan mendekat.
“Bu Galih ya?” tanyanya.
“Iya,” jawab Kirana yang masih berusaha untuk ramah.
“Oh, saya kira Bu Raihan,” katanya lagi.
Kirana langsung kehilangan senyumnya. Suasana hatinya berubah dengan begitu cepat. Kirana langsung diam dan sepanjang sesi berikutnya dia tidak sama sekali menampakkan ekspresi di wajahnya. Ibu Ratna menyadari jika wajah menantunya begitu masam saat ini jadi dia meminta Kaori untuk mendekatinya dan menemaninya. Sayangnya semakin Kaori berusaha dekat dengannya dalam kesempatan ini, Kirana semakin merasa banyak yang berbicara aneh tentang dirinya.
“Ri, mending kamu jangan deket aku deh,” kata Kirana membuat Kaori agak kaget.
“Ki, jangan didengerin yang begitu mah. Udah jangan dimasukin ke hati,” katanya.
“Memangnya kenapa kalau janda? Janda juga perempuan,” kata Ibu Ratna yang tengah menjawab pertanyaan seseorang, hanya saja timingnya begitu pas dengan apa yang barusan Kirana katakan.
“Tidak semua pernikahan sukses mencapai tujuannya. Entah karena perbedaan pendapat, pihak ketiga, atau karena kematian, tapi perpisahan dalam pernikahan itu pasti. Hanya segelintir orang yang meninggal bersamaan dengan pasangan. Pernikahan yang baik itu bukan pernikahan yang didasarkan pada perawan atau perjaka. Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bersama-sama mengejar Surga. Bukankah begitu?” tanya Ratna balik pada sang penanya.
“Salah satu menantu saya adalah janda. Ketika dia menikah dengan putra saya dia sudah memiliki seorang putri yang cantik jelita. Saya pernah bertanya pada putra saya kenapa dia memilih calonnya itu. Dia menjawab, karena hanya dia yang mampu mengobati luka di hati. Dia yang mengisi kekosongan, dia juga yang memberikan warna baru dalam hidup. Tidak peduli janda atau bukan, dia tetaplah seorang perempuan, dia adalah ibu yang baik dan putraku itu percaya jika calon istrinya akan menjadi pasangan terbaik untuknya,” kata Ibu jelas membuat Kirana terdiam. Apa lagi seluruh isi ruangan langsung memperhatikan dirinya sekarang ini.
Dari sofa pembicara Kirana bisa melihat Ibu tersenyum. Senyumnya begitu mencerahkan dan terasa begitu hangat untuk hati Kirana yang sedang dilanda hujan. Kaori yang ada di sampingnya juga menepuk-nepuk punggung tangannya membuat Kirana sekali lagi merasa dikuatkan.
__ADS_1
Pertemuan hari itu selesai sekitar pukul 1. Kirana baru akan turun ketika dia mendengar suara Amira dan Galih dari tangga menuju ke atas. Tidak lama kemudian dia melihat Amira yang masih mengenakan seragam lengkap berjalan bersebelahan dengan Galih yang memakai seragam denga warna persis sama dengan putrinya.
“Mama…, udah selesai kan? Ayo makan Ma, Ami laper,” katanya.
“Diajakin makan nggak mau, nunggu kamu katanya,” adu Galih.
“Amira kan tadi Mama bawain bekal, dimakan nggak?” tanya Kirana.
“Udah aku makan sama teman-teman tadi waktu istirahat Ma, sekarang Amira sudah laper lagi. Ayo Ma kita makan,” kata Amira mulai menarik tangan Kirana.
Galih gemas melihat anak istrinya, dia sempat mengelus pipi Kirana dengan jarinya sembari tersenyum. Saat itulah dari arah belakang ada yang berkata, “sayang ya laki-laki se gentle dan seperhatian Pak Galih harus menikah sama janda.” Naasnya Kaori mendengar itu dan dia langsung mengoreksi kata-katanya.
“Memangnya jadi janda itu dosa?” kata Kaori dengan suara yang sengaja diperjelas dengan volume yang keras.
“Iparku memang janda, tapi adikku nggak nolak tuh. Dia juga sayang banget sama istrinya yang katamu hanya janda,” kata Kaori sekali lagi berkata sarkas.
Sebelum perdebatan semakin panas, Galih dan Kirana mendekat dan mencoba untuk melerai cekcok antara Kaori dan ibu-ibu yang sejak tadi mencibir Kirana terus-terusan. Belum Kirana berhasil melerai, Amira sudah menangis karena menyadari jika Mamanya tengah dijelek-jelekkan. Mendengar Amira menangis Galih langsung turun tangan.
“Sudah membuat istri saya sedih sekarang anda buat putri saya menangis. Jangan sampai masalah ini naik ke provost ya, entah pangkat apa yang dimiliki suami anda, tapi selama dia tidak mampu mendidik mulut istrinya, dia tetap akan mendapatkan teguran dari komandan,” kata Galih.
“Itu benar,” kata Bu Ratna yang mendengar pertikaian itu.
__ADS_1
“Kita ini satu institusi, kita teman seperjuangan. Terlepas dari masalah di luar forum, kita tidak seharusnya mengatakan hal-hal buruk satu sama lain. Jangan mencoreng nama baik bhayangkari. Apalagi di depan mata saya. Saya mungkin sudah purna, tapi jiwa saya masih ada di sini. Kita semua tahu beban hati satu sama lain akibat pekerjaan suami jadi saya minta tolong untuk tidak mengatakan hal buruk tentang siapapun apalagi sampai menyakiti orang itu,” kata Ibu membuat orang itu terdiam dan memilih untuk pergi dengan rasa malu yang tidak tertahankan.