
Sudah hampir pagi namun Adnan tidak juga mampu memejamkan matanya. Karena dia tidak ingin mengganggu tidur pulas istrinya, dengan perlahan dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke ruang tengah di rumahnya. Dia duduk di sofa dengan wajah yang melamun dan mata yang seperti melihat pantulan saudara ipar sekaligus sahabat karibnya, Raihan.
Sejak beberapa hari belakangan, dia tidak bisa fokus bekerja. Dia selalu saja melihat pantulan wajah Raihan yang berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Ketika dia coba dekati, bayangan itu pasti akan semakin menjauh seakan Adnan tidak akan pernah bisa menggapainya.
“Bang?” panggil Lucy yang menyadari jika suaminya tidak ada di sampingnya.
“Hmm?”
“Bang ngapain duduk di situ? Abang masih belum bisa tidur?”
“Ya begitulah, kamu tidur lagi aja. Masih jam 3 pagi lho,” kata Adnan.
“Nggak ah, aku jadi nggak bisa tidur nggak ada Abang di sebelahku,” kata Lucy bermanja pada suaminya.
“Manjanya istriku,” jawab Adnan. Tangannya dia lingkarkan ke bahu Lucy yang duduk bersandar padanya. Ketika satu tangan sibuk mengelus kepala Lucy, satu tangannya lagi dia pakai untuk menggenggam tangan istrinya itu.
“Perutmu masih sakit nggak?” tanya Adnan.
“Udah nggak begitu kok. Maaf ya kali ini aku gagal lagi jagain anak kita,” kata Lucy yang penuh dengan penyesalan.
“Jangan minta maaf sayang. Itu bukan salah kamu. Dokter juga bilang kan, masih bisa diobati. Kita coba lagi setelah kondisinya lebih baik, ok? Sudah jangan nangis,” kata Adnan menenangkan Lucy yang mulai terisak dalam pelukannya.
“Abang, menurut Abang kalau aku sesekali bawa Amira apa Bang Raihan akan mengizinkan? Kenapa ya, aku beberapa hari ini kepikiran Amira terus Bang. Aku takut, takut kalau akan ada apa-apa sama Kirana atau Amira,” kata Lucy.
“Nggak ada Lucy. Nggak akan ada apa-apa. Kirana, Lucy, Raihan akan baik-baik saja. Percaya sama Abang. Udah jangan mikir yang aneh-aneh ya,” kata Adnan pada istrinya.
...***...
__ADS_1
Selepas shift kerjanya, Adnan menyempatkan diri menengok kondisi Kirana yang masih saja nyaman dalam tidurnya. Ketika dia dan Lucy sampai di sana, sudah ada Raihan yang baru sampai juga. Hanya Raihan yang mendapatkan akses untuk bisa masuk ke dalam ruang inap Kirana yang benar-benar harus selalu steril dan tenang. Bahkan untuk masuk ke dalam saja harus mengenakan pakaian khusus, masker, dan sarung tangan.
Adnan hanya mampu memandangi adiknya dari balik dinding kaca. Dia melihat Raihan seperti menulis sesuatu dalam sebuah buku. Sepertinya itu adalah buku harian yang dia tulis sejak tertidurnya Kirana. Dia tahu jika Raihan dan Kirana suka berbagi cerita tentang keseharian mereka masing-masing dan sejak Kirana dinyatakan koma, Raihan yang tidak memiliki teman bicara selalu mencurahkan semuanya dalam buku itu. Adnan sendiri tidak tahu apa isi bukunya, dia juga tidak perlu tahu rahasia antara adiknya dan sang suami. Yang dia tahu hanya buku itu pasti menyimpan segala kegundahan dan kegelisahan hati Raihan.
Sejak Kirana kecelakaan dan tidak membuka matanya, Raihan juga kehilangan senyumannya. Walau dia masih sanggup tersenyum dihadapan putri kecilnya, tapi Adnan tahu ada tangis dalam setiap senyum yang terlontar.
“Hai Nan, ternyata kamu. Kupikir siapa yang datang,” kata Raihan yang baru saja keluar dari ICU.
“Aku kangen sama Kirana, makanya mampir. Hey kamu jangan kelamaan di sini, sesekali istirahat di rumah, mukamu pucet banget itu,” kata Adnan.
“Nanti, setelah ini juga aku bakal istirahat kok. Tapi sebelum itu, Adnan malam ini aku titip Amira di tempatmu bisa nggak?” tanya Raihan.
“Kok tiba-tiba?”
“Ya nggak papa. Aku titip Amira ya,” kata Raihan.
“Makasih Nan, maaf ngerepotin,” kata Raihan sambil tersenyum.
“Han, lo jujur sama gue sekarang. Lo ada apa?” tanya Adnan.
“Nggak ada Nan, gue nggak ada apa-apa. Gue baik-baik aja kok,” jawab Raihan.
“Bohong. Lo nggak akan bisa bohongin gue Han. Gue jadi sahabat lo nggak cuma setahun dua tahun ya. Lo kenapa?” tanya Adnan yang mulai mendesak Raihan untuk bercerita.
“Kalau gitu jawab pertanyaan gue Nan. Apakah mungkin buat Keenan bisa kembali ke Kirana?” tanya Raihan.
“Lo apaan sih? Nggak jelas banget,” kata Adnan.
__ADS_1
“Adnan, ada penyumbatan di otakku. Harusnya aku menjalani pengobatan biar bisa sembuh, tapi ku tolak. Aku nggak mau tiba-tiba Kirana pergi ketika aku lagi pengobatan. Aku tahu waktuku udah nggak banyak. Aku harus pastikan Kirana dan Amira baik-baik saja ketika aku pergi,” kata Raihan membuat Adnan bagai disambar petir di siang hari.
“Maksud lo apa?”
“Aku tahu Keenan dan Kirana masih saling mencintai. Andai memungkinkan aku mau ketemu Keenan dan bilang sendiri sama dia. Aku titip Kirana dan Amira. Nggak, lebih tepatnya aku kembalikan Kirana padanya,” kata Raihan.
Adnan tiba-tiba merasa emosi. Tanpa pikir panjang dia mendekati Raihan dan menarik kerah sahabatnya itu tanpa ampun, “Lo bilang apa barusan? Lo pikir adek gue apaan? Han, gue udah percaya sama elo tapi apa yang lo lakuin sekarang, hah?! Lo mau ninggalin adek gue gitu aja dan bahkan lo mau minta Kirana kembali ke Keenan setelah lo sendiri selalu memaksa dia lupain Keenan? Lo gila Raihan,” kata Adnan dengan penuh emosi.
“Gue emang gila Nan. Anggap saja gue gila. Selama ini gue bertanya-tanya kenapa Keenan sengaja membuat dirinya dibenci sama Kirana. Sekarang gue paham, kita cenderung lebih mudah melupakan seseorang yang memberikan luka dan rasa kecewa dibanding melupakan orang yang membuat bahagia. Gue udah gagal jagain adek lo. Sekalian aja lo benci gue, dengan begitu lo bisa bantu Kirana buat lupain gue juga. Nan, dari awal gue tahu hati Kirana nggak pernah buat gue. Dia cuma ngomong sayang sama gue sebagai rasa terima kasihnya. Sudah cukup Nan, gue nggak sanggup menyiksa Kirana lebih lama lagi,” kata Raihan yang mulai menangis.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo Han.”
“Gue cuma minta lo bantu gue jaga Amira. Jadilah Ayah yang baik buat dia, lo nggak perlu kenalin gue ke Amira. Cukup dia tahu kalau dia adalah putri kecilnya Adnan Dzaki dan Lucyana. Gue juga minta lo lepas Kirana dan biarkan dia menjemput bahagianya. Bantu dia bersama cinta sejatinya. Please Nan, lo harapan gue satu-satunya,” kata Raihan.
Ketika itulah Adnan melihat ada cairan merah kental mengalir keluar dari hidung mancung Raihan. Darah itu terus mengalir tanpa henti walaupun Raihan sudah menghapusnya. Adnan menemani Raihan membersihkannya di kamar mandi, tapi karena mimisannya tidak berhenti, Adnan membawanya ke UGD.
“Lo sudah lihat sendiri separah apa gue sekarang. Gue mohon sama elo sebagai sahabat dan sebagai ipar lo. Bang Adnan, gue titip Kirana dan Amira,” kata Raihan.
“Udah diem. Kita omongin ini nanti. Itu mimisan lo belum berhenti Raihan,” kata Adnan setengah berteriak.
Adnan baru saja kembali setelah dijelaskan oleh dokter perihal kondisi Raihan saat ini. Tangan kirinya sudah tidak berfungsi, penglihatannya juga memburam dan seharusnya Raihan merasakan sakit di kepalanya yang begitu menyiksa tapi dokter bahkan heran bagaimana bisa Raihan menahan semuanya seperti ini. Dokter bahkan mengatakan andai Raihan berubah pikiran dan mau menjalani pembedahan, kesempatannya untuk bisa kembali sehat sangat tipis.
“Han, lo mau gue ngapain sekarang?” tanya Adnan yang sudah menyerah.
“Di jaket gue ada satu buku. Lo boleh baca semuanya, dari buku itu lo bakal tahu apa yang harus lo lakuin. Sorry Nan, gue nggak bisa jaga Kirana seperti janji gue ke elo sama Papa,” kata Raihan.
“Jangan minta maaf Han. Lo nggak salah, gue tahu lo ngelakuin ini semua demi adek gue. Gue malah mau bilang makasih karena lo udah sekuat tenaga jagain adek gue bahkan sampai mengorbankan nyawa lo sendiri gini,” kata Adnan.
__ADS_1
“Walau singkat tapi gue bahagia bisa sama-sama Kirana. Nan, adek lo pernah bilang ke gue, bisa sama-sama orang yang kita cintai adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup. Adek lo adalah cinta pertama gue Nan dan dia juga yang jadi cinta terakhir gue. Sekarang gue sudah ikhlas melepas dia. Gue balikin dia ke elo, sorry gue nggak bisa menepati janji,” kata Raihan.